Daddy My Son

Daddy My Son
65. Cinta atau Obsesi


__ADS_3

"Mom, Kwang mana?" tanya tuan Toshigawa. Sore itu, dirinyapun sengaja pulang lebih awal sesuai janjinya untuk mengurus permasalahan pelik putranya.


"Tengah hari tadi Kwang minta ijin keluar Dad," sahut nyonya Toshigawa. Ia membantu suaminya melepaskan jas kerjanya lalu membawanya kekeranjang pakaian kotor.


"Keluar? Kemana? Apa dia tidak malu bila wajahnya dilihat orang masih lebam-lebam begitu?" tuan Toshigawa mengernyitkan keningnya.


"Biarkan saja Dad, Kwang butuh angin segar. Lagipula dia keluar menggunakan masker dan kacamata gelapnya, jadi orang-orang pasti tidak melihatnya. Momny juga sudah meminta Kwang jangan pulang kesorean, karena malam ini kita akan kerumah keluarga tuan Loenhard sesuai pesan Daddy ditelpon tadi." jelasnya.


"Ini, handuknya Dad," nyonya Toshigawa memberikan handuk pada suaminya, yang ia ambil dari lemari.


"Terima kasih Mom," tuan Toshigawa segera menyambutnya lalu bergegas masuk kekamar mandi. Sementara nyonya Toshigawa membereskan semua pakaian kotor suaminya, lalu memanggil asisten rumah tangga untuk mencucinya langsung.


...🍓🍓🍓...


"Dari mana saja Kwang?" tanya tuan Toshigawa pada putranya yang baru saja tiba dan duduk tepat dihadapan dirinya dan isterinya.


"Cari angin Dad," sahut Ferdinand datar.


"Kau tidak berusaha menemui nona Virranda dan putranya lagi kan?" ucap tuan Toshigawa menatap putranya.


Mendengar ucapan sang ayah, Ferdinand perlahan menegakan kepalanya, memandang lurus pada manik mata milik ayahnya, yang selama ini selalu bersikap tegas padanya.


"Bagaiman Daddy bisa tahu?" tanya Ferdinand heran.


"Apakah kau membuat masalah lagi pada mereka?" tuan Toshigawa tidak menjawab pertanyaan putranya yang ia anggap tidak perlu untuk di jawab. Ia hanya ingin memastikan bila putranya tidak menciftakan masalah baru lagi.

__ADS_1


"Daddy, jangan bicara seperti itu, putra kita bukan orang yang suka membuat onar," ucap sang isteri, sembari menepuk lengan suaminya. Sebenarnya, niatannya lebih mengarah pada menjaga situasi kondusif dalam obrolan mereka sore itu, ia tidak ingin kejadian tadi pagi terulang lagi.


"Mom, Daddy hanya tidak ingin Kwang membuat masalah baru yang akan memperumit keadaan. Putra kita sudah bersalah, dan kita sebagai orang tuannya wajib meluruskannya," tegas tuan Toshigawa dengan nada rendah.


"Kau tidak membuat masalah baru lagi kan Kwang?" ulang tuan Toshigawa menegaskan pertanyaannya sebelumnya, menelisik wajah putranya yang masih terdiam, memikirkan kata-kata apa yang tepat ia keluarkan.


"Aku--, aku menginginkan nona Virranda dan Verrel masuk dalan kartu keluargaku Dad. Aku mohon Dad, tolong aku," ucap Ferdinand akhirnya dengan raut turut memohon.


Tuan Toshigawa terhenyak sesaat, tidak menduga putranya itu bisa berpikir melawan arus seperti itu. Ia menoleh pada isterinya yang juga melihat kearahnya.


"Apa kau sadar dengan permintaanmu itu Kwang?" tanya tuan Toshigawa.


"Selama ini, aku tidak pernah meminta apapun pada Daddy dan Mommy. Aku selalu patuh dan mengikuti apapun yang Daddy dan Momny mau, termasuk mengurus perusahaan, dan menerima perjodohanku dengan nona Virranda waktu itu--," Ferdinand menghentikan kalimatnya sejenak, menarik napasnya dalam sebelun melanjutkan ucapannya yang selanjutnya.


"Aku ingin perjodohan itu tetap dilanjutkan, apalagi sekarang Verrel adalah benar darah dagingku Dad, Mom," lanjut Ferdinand menatap kedua orang tuanya secara bergantian.


"Kwang, bila Daddy menuruti sepenuhnya keinginanmu, itu tandanya Daddy bukanlah seorang ayah yang sayang padamu, karena membantu menjerumuskanmu pada masalah." ucap tuan Toshigawa datar.


"Aku sudah menduganya, jawaban Daddy pasti seperti itu," ungkap Ferdinand kecewa dengan bola mata memerah.


"Mom, kalau Daddy tidak bisa, harapan terakhirku adalah Mommy. Mommy bisakan mengabulkan permohonanku? Aku mohon Mom?" Ferdinand beralih pada ibunya.


Nyonya Toshigawa terlihat gugup, ia meremas jari-jemari suaminya, rasa ibanya pada putra kesayangannya membuatnya ingin membantu. Tapi dirinya takut bertindak sendiri, karena tidak berani menentang suaminya.


Memahami dilema isterinya, tuan Toshigawa kembali melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kwang, apa benar kau mencintai nona Virranda? Atau itu hanya obsesimu saja?" tanya tuan Toshigawa memastikan, menelisik raut putranya itu yang sempat terdiam, seolah sedang berfikir setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkannnya.


"Cinta Dad," sahut Ferdinand pelan dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Daddy ingin sedikit mengurai tentang cinta dan mencintai. Cinta biasanya lebih mengarah pada cinta buta, cinta monyet, cinta sesaat, dan lainnya yang mungkin pernah kau dengar Kwang. Berbeda halnya dengan mencintai."


"Mencintai, bisa diartikan menyayangi, mengasihi, dan juga menghargai, Kwang. Dan MENCINTAI itu butuh pengorbanan yang besar, bahkan kau sendiri seakan tidak sanggup melakukannya. Dan mencintai juga, bukan sikap yang tindakannya menentang hukum." lugas tuan Toshigawa.


Ferdinand kembali terdiam, ia berusaha memahami ucapan ayahnya yang lebih banyak mengecap asam garam kehidupan dibanding dirinya.


"Bila kau menyayangi suatu benda, kau pasti akan menjaganya dengan baik, merawatnya, dan selalu menjaga keamanannya, jangan sampai rusak, apalagi hilang," lanjut tuan Toshigawa, berusaha membuat putra yang ia kasihi itu memahami penjelasan sederhananya.


"Bila benar kau mencintai nona Virranda dan putranya, kau tidak akan membawa keduanya terkena masalah. Kau bahkan akan berusaha semampumu untuk melindungi dan menghindarkan mereka dari masalah. Benar begitu, Kwang?" tuan Toshigawa memandang lekat wajah putranya yang memperhatikan ucapannya.


"Benar Dad. Itu sebabnya aku mau nona Virranda dan putraku Verrel masuk dalam kartu keluargaku, jadi aku bisa melindungi dan menjaga mereka sepenuhnya sebagai kepala keluarga. Ya, seperti Daddy menjaga dan melindungiku dan Mommy," ungkap Ferdinand.


Tuan Toshigawa memaksakan senyumnya, menyabarkan dirinya sendiri untuk memberi pemahaman yang benar pada putranya, walau ia tahu putranya bukanlah laki-laki yang bodoh. Putranya adalah pria dewasa yang pintar dan cerdas, hanya saja sekarang tengah terobsesi oleh seorang wanita yang sudah menjadi milik orang lain, dan ia tidak ingin putra kesayangannya itu bertindak salah lagi.


"Kau benar Kwang. Itu berlaku bila nona Virranda belum menikah. Dan Daddy tidak akan pernah membiarkanmu merusak pernikahan nona Virranda dan suaminya. Apapun alasannya." tegas tuan Toshigawa.


"Daddy terlalu menyayangimu Kwang, Daddy akan menjagamu untuk tidak salah langkah lagi, Daddy harap kau mengerti," imbuh pria tua itu lagi.


Wajah Ferdinand terlihat sayu, sebenarnya ia sangat kecewa, tapi hati kecilnya membenarkan, bila apa yang dikatakan ayahnya itu adalah kebenaran.


Sejak rasa itu tumbuh, ia sebenarnya sadar bila itu salah, ketika melihat surat nikah Virranda dan Joe yang ia minta waktu itu. Namun ia berusaha menentang nuraninya yang berkata benar, menuruti kata hatinya, dan memupuk rasa sukanya setiap hari ketika Virranda waktu itu berkerja menjadi asisten pribadinya.

__ADS_1


"Kwang, mungkin Daddy bisa membantumu untuk mendapatkan kasih sayang putramu itu, tapi jangan berharap lebih dari itu, misalnya mendapat hak asuh. Mendapat maaf dari nona Virranda dan kedua orang tuanya saja sudah merupakan keberuntungan buatmu. Karena, apa yang kau lakukan pada putri mereka dimasa lalu adalah suatu kejahatan Kwang. Jadi bersiaplah, sebentar lagi kita akan kesana hanya untuk meminta maaf, bukan untuk yang lain." ucap tuan Toshigawa mengakhiri obrolan mereka.


Bersambung...👉


__ADS_2