
"Bi, kok Kwang tidak ikut turun untuk sarapan?" tanya nyonya Toshigawa pada asisten rumah tangganya yang ia perintahkan untuk memanggil putranya yang tidak biasanya molor untuk sarapan bersama.
"Saya sudah mengetuk-ngetuk pintu tuan Kwang, Nyonya. Tapi tidak ada sahutan dari dalam, saya khawatir." adu asisten rumah tangga itu dengan raut cemas.
Tuan dan Nyonya Toshigawa saling berpandangan sesaat.
"Mommy, kekamar Kwang dulu, Daddy teruskan saja sarapannya ya?" nyonya Toshigawa menyentuh lembut punggung suaminya sembari bangkit dari duduknya.
"Iya Mom," angguk tuan Toshigawa melirik isterinya yang beranjak meninggalkan meja makan.
Wanita paruh baya itu terlebih dahulu mengambil kunci duplikat kamar putranya itu dari lemarinya. Setelah mendapatkannya, dengan tergesa-gesa ia membuka kamar yang terkunci itu.
Klek! Klek! Ceklek!
"Bangun Kwang! Kau kesiangan sayang!" seru nyonya Toshigawa yang baru berhasil membuka pintu sembari melangkah masuk, menghampiri putranya yang buru-buru menarik selimutnya menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala.
Beberapa detik kemudian, terjadi tarik menarik selimut. Nyonya Toshigawa berusaha sekuat tenaga menarik selimut tebal yang tengah dipegang erat oleh Ferdinand untuk menutupi wajahnya, hingga akhirnya...
"Kwang! Apa yang terjadi dengan wajahmu?" pekik nyonya Toshigawa kaget, melihat wajah tampan putranya yang penuh lebam.
"Tidak apa-apa Mom." Ferdinand berusaha menarik kembali selimutnya yang tersingkap akibat ditarik paksa oleh ibunya, menyembunyikan wajahnya yang masih membiru akibat tonjok menonjok dengan Joe semalam.
"Tidak apa-apa bagaimana Kwang?! Wajah lebam-lebam begini masih bisa kau bilang tidak apa-apa?" omel nyonya Toshigawa panik dan khawatir.
"Akhh! Sakit Mom! Jangan sentuh disana," ringis Ferdinand merasakan sakit, saat tangan ibunya menyentuh beberapa luka lebamnya.
"Mommy obati ya Kwang?" ucap nyonya Toshigawa melembut, menatap sedih sekaligus kasihan pada putra kesayanganya yang selama ini ia manjakan bagai seorang bayi.
"Sudah di obati Bibi semalam Mom." Ferdinand bergerak, memperbaiki posisi selimutnya yang sempat berantakan akibat ulah ibunya.
__ADS_1
"Hari ini aku belum bisa kekantor Mom, sampai wajahku sembuh dulu," gumamnya menatap sang ibu yang memandangnya sayu.
"Katakan pada Mommy Kwang, siapa orang yang berani melakukan ini padamu?" tanya nyonya Toshigawa penuh selidik. Tentu saja ia tidak rela bila putranya diperlakukan semena-mena secara demikian.
Ferdinand terdiam, lidahnya terasa kelu. Tidak mungkin dirinya mengadu pada sang ibu bila dirinya berkelahi dengan Joe karena Viiranda. Tapi bila ia tidak mengatakan yang sebenarnya, bagaimana kalau ada orang yang mendahuluinya dan merusak segala rencananya, batinnya.
Semalam saja, hatinya begitu panas, saat mengetahui Virranda dibawa oleh Joe ke apartemennya, karena ia telah menguntitnya secara diam-diam.
Dan selama ini, dirinyapun sudah berusaha mendekati Virranda dengan caranya, tapi wanita itu tidak mudah untuk ia taklukan ditambah lagi statusnya yang telah menikah. Mungkin hanya ibunya yang bisa membantunya, batinnya.
"Mom, ada yang ingin aku sampaikan pada Mommy," ucap Ferdinand memandang wajah ibunya, ia bergerak untuk bangkit, lalu menyandarkan punggungnya pada headboard dibelakangnya.
"Katakan Kwang, Mommy akan menjadi pendengar yang baik seperti biasanya." nyonya Toshigawa ikut mendudukan dirinya di tepi ranjang putranya.
"Janji ya Mom, tidak akan terkejut, dan juga tidak akan memarahi aku," ucapnya mewanti-wanti.
"Tergantung sayang. Tergantung pada apa yang akan kau sampaikan," goda nyonya Toshigawa sembari tersenyum lembut. Namun hati keibuannya dapat merasakan.ada sesuatu yang serius, yang disimpan oleh putranya itu.
"Mommy bercanda sayang, gitu aja ngambekan. Ayo, cerita sama Mommy." bujuk nyonya Toshigawa mengusap pundak putranya.
Ferdinand meraih gulingnya, dan meletakan diatas pangkuannya, mendesah pelan, seakan ragu mengatakan apa yang sudah ia persiapkan sejak semalam.
"Aku, aku menyukai nona Virranda putri tuan Loenhard Mom," ungkap Ferdinand sembari melirik pada ibunya yang nampak kaget mendengar pengakuannya.
"Kwang, apa Mommy tidak salah dengar?" nyonya Toshigawa berusaha meyakinkan apa yang baru saja ia dengar dari mulut puttanya yang baru kali ini mengatakan bila dirinya menyukai seorang wanita.
Disatu sisi ia senang, ternyata putranya itu masih normal. Tapi disisi lain ia merasa khawatir, karena wanita yang disukai oleh putra kesayangannya itu adalah wanita yang telah bersuami.
Ferdinand menggeleng pelan menanggapi ucapan ibunya, ia sudah menduga bila ibunya pasti kaget mendengar pengakuannnya. "Mommy tidak salah dengar," sahutnya.
__ADS_1
"Kwang, Mommy dan Papi memang pernah menjodohkanmu dengan nona Virranda, putri tuan Loenhard. Perjodohan itu batal karena wanita itu sudah menikah duluan tanpa persetujuan kedua orang tuanya. Dan kau pasti ingan bukan, pertemuan kita tentang masalah itu? Bahkan kau juga tidak keberatan akan pembatalan perjodohan waktu itu." ucap nyonya Toshigawa mengingatkan.
"Iya, aku ingat Mom." sahut Ferdinand menganggukan kepalanya.
"Dan Mommy juga pasti ingatkan, tentang seorang pegawai wanita diperusahaan yang Mommy minta aku kenalkan?" Ferdinand balas mengingatkan.
"Heum--" nyonya Toshigawa berusaha mengingat sesuatu sampai akhirnya ia berhasil menemukan ingatannya itu.
"Ah, iya! Mommy ingat Kwang, asisten pribadimu. Kenapa kau tidak jadi mengenalkannya pada Mommy? Padahal waktu itu Mommy sempat beberapa kali menanyakannya padamu. Sekarang, apa kau masih berhubungan dengan wanita itu? Seingat Mommy kau sempat mengatakan kalau wanita itu sudah resign." ucap wanita itu kembali mengingat apa yang pernah dikatakan putranya itu.
"Wanita yang menjadi asisten pribadiku waktu itu adalah nona Virranda Mom," ucap Ferdinand.
"N-nona Virranda? Bagaimana mungkin? Kenapa kau, dan Daddy mu juga tidak pernah mengatakannya pada Mommy?" cecar nyonya Toshigawa nampak kaget.
"Sebelumnya aku juga tidak tahu Mom, begitu juga Daddy. Bukankah kita sama-sama belum pernah melihat dan mengenal nona Virranda sebelumnya? Ketika itu, hanya identitas dirinya saja yang aku tahu, sementara identitas keluarganya tidak terlacak." ucap Ferdinand memandang ibunya.
Nyonya Toshigawa terdiam sejenak, ia seolah sedang berusaha mengingat sesuatu, "Kau benar sayang, Mommy ingat, saat kita bertemu keluarga tuan Loenhard waktu itu, mereka mengatakan perjodohanmu dengan nona Virranda terpaksa dibatalkan. Karena putri mereka itu telah menikahi pemuda lain sehingga tuan Loenhard menarik semua fasilitas yang ia berikan kepada putrinya, termasuk membekukan semua identitas yang ada hubungannya dengan keluarganya."
"Lalu? Bagaimana kau bisa tahu, dan akhirnya menyukai nona Virranda Kwang? Bukankah kau juga sudah tahu kalau wanita itu telah menikah saat menjadi asistenmu waktu itu?" cecar nyonya Toshigawa. Rasa penasaran wanita itu membuatnya tidak membiarkan perhatiannya teralihkan dari gerak-gerik yang tengah dilakukan putranya saat ini.
"Saat aku tahu, kalau nona Virranda tengah mengandung anakku Mom," lugasnya datar, tanpa ekspresi sedikitpun.
Berbeda dengan Ferdinand. Nyonya Toshigawa nampak syok. Ia membekap mulutnya yang hampir saja berteriak tidak percaya mendengar statement putra kesayangannya yang ia banggakan selama ini.
Dan membuatnya tambah syok adalah Virranda. Bagaimana wanita itu bisa hamil dengan Ferdinand, putranya? Setahunya, dua muda-mudi itu tidak saling mengenal satu sama lain.
Rasanya sulit dipercaya. Tapi kenapa wajah putra Virranda itu terlalu mirip dengan putranya ketika masih seusia Verrel? Saat melihat Verrel diawal jumpa, ia merasa anak laki-laki itu ada hubungan darah dengan keluarganya, karena terlalu mirip. Namun ia buru-buru menepisnya, mengingat Ferdinand, putra tunggalnya itu tidak mungkin menabur benihnya sembarangan.
Sikap Ferdinand yang santun, berkharisma, juga dikenal sebagai direktur dingin dan tidak bergaul bebas dengan para wanita, membuat siapa saja termasuk ibunya, nyonya Toshigawa tidak bisa percaya bila pengakuan Ferdinand itu adalah fakta yang akan diketahui semua orang.
__ADS_1
Bersambung...👉