Daddy My Son

Daddy My Son
61. Pengakuan Wina Arauna


__ADS_3

"Kenapa? Apakah aku perlu ijinmu? Tidak bukan?" ucap Nickholas mendadak kesal.


Sejak dulu, ia memang tidak menyukai sikap Wina yang terlalu protektif padanya, padahal mereka hanya teman. Tidak, dirinya tidak berteman dengan Wina, itu terpaksa ia lakukan karena dirinya berteman dengan Virranda. Dan karena Virranda menyayangi Wina, mau tidak mau, Nickholas selalu mengijinkan Wina ikut ketaman rekreasi, bioskop, restoran, atau tempat-tempat lainnya demi Virranda.


"Kau memang tidak perlu meminta ijinku Nick, tapi aku menyukaimu sejak dulu, dan.kau tahu itu!" ungkap Wina terus terang, karena sudah tidak tahan menahan rasa cemburinya bila melihat Nickholas dekat dengan wanita manapun termasuk Virranda.


Nickholas tertawa sumbang, tapi raut wajahnya masih menunjukan raut kesalnya.


"Putuskan hubunganmu itu dan tinggalkan sekretaris Shen!" titah Wina tidak mau dibantah.


"Siapa yang memberimu hak berkata seperti itu padaku Wina?! Dan dari sejak dulu aku sudah sering kali mengatakan padamu, bahwa aku tidak menyukaimu," Marah Nickholas, suara datarnya kini berubah meninggi.


Wina menelan salivanya, perih itu kembali terasa direlung hatinya, ketika untuk kesekian kalinya ia mendengar lagi-lagi penolakan dari mulut laki-laki yang selama ini ia sukai semenjak mereka sama-sama masih mengenakan seragam abu-abu.


Dipandangnya Nickholas dengan tatapan penuh luka, "Bila aku tidak bisa mendapatkanmu, sekretaris Shen juga tidak boleh mendapatkanmu Nick. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi," ucapnya dingin.

__ADS_1


"Aku sudah terbiasa menyingkirkan orang-orang yang ku anggap sebagai pengganggu, sekalipun itu adalah sahabatku sendiri," ungkap Wina tanpa sadar.


Sebenarnya Nickholas tidak terlalu kaget dengan pernyataan Wina, sebab sedikit banyak, dirinya sudah mengetahui apa yang telah menimpa Virranda sahabatnya. Namun, keberadaan tuan Loenhard yang baru saja tiba di area parkiran itu membuatnya memiliki ide untuk memancing Wina membuka rahasia yang selama ini disimpan wanita itu dengan rapat.


"Pengganggu??" Nickholas tersenyum mengejek. "Mungkin untuk wanita kelas teri, kau akan mudah menjatuhkannya. Tapi aku tidak yakin, bila kau mampu menyingkirkan wanita sekelas nona Shen, dia wanita pintar, dan merupakan sekretaris pribadi tuan Loenhard. Aku pastikan, tuan Loenhard akan memecatmu secara tidak hormat bila tahu kau berlaku jahat pada sekretaris pribadinya itu.


Mendengar perkataan Nickholas yang seolah mengelu-elukan rivalnya, membuat hati Wina memanas, tidak bisa menahan emosinya. Ia seketika tertawa jahat.


"Jangankan sekretaris Shen, Virranda saja sanggup aku jauhkan darimu Nick. Aku tahu kau menyukainya sejak lama, itu sebabnya aku menyingkirkannya dengan menjualnya murah. Supaya kau tahu Nick, wanita yang kau puja bagai seorang puteri yang sempurna itu tidak ubahnya seperti sampah, setelah dijamah dan ditiduri laki-laki lain." ungkapnya berapi-api.


"Lalu ayahnya? Ayahnya tidak bisa berbuat apa-apa! Malah mengusir putrinya dari rumahnya! Dan wanita yang kau anggap puteri sempurna itu, akhirnya menikahi pria kelas bawah, penyanyi cafe rendahan." lanjut Wina masih berapi-api.


"Itulah salah satu contoh yang akan terjadi pada wanita yang kuanggap menjadi pengganggu yang menghalangi tujuanku," ucapnya dengan raut geramnya.


"Kata siapa? Kata siapa ayahnya Virranda Laura, tuan Loenhard, direktur sekaligus pemilik perusahaan Natural Gas, Ltd. tidak bisa berbuat apa-apa? Heuhh!!"

__ADS_1


Wina seketika terhenyak. Tubuhnya seakan membeku. Kenapa suara yang sangat dikenalnya itu tiba-tiba bisa ada dibelakang telinganya? Ini pasti mimpi! Ini pasti mimpi, batinya meyakinkan dirinya sendiri.


Nickholas yang berhasil memberi pancingan agar Wina buka suara, tetap merasa.was-was, karena kemalangan yang menimpa Virranda bermula dari perasaan cemburu wanita itu ketika dirinya dekat dengan Virranda ketika itu.


"Wina Arauna! Dan kau Nickholas! Kalian berdua harus bertanggung jawab pada apa yang baru saja aku dengar!" tegas pria ubanan itu lagi.


"T-tapi Tuan--," Nickholas dan Wina kompak mendekat, berharap diberi kesempatan untuk membela diri.


"Stop! Berhenti ditempat kalian masing-masing! Silahkan jelaskan pada pihak kepolisian yang sebentar lagi akan datang kemari!" ucap tuan Loenhard tidak memberi kesempatan Nickholas dan Wina untuk bicara.


"Security!" panggil tuan Loenhard pada pegawai keamanannya yang berada tidak jauh dari mereka.


"Iya Tuan," sahut security itu bergegas datang mendekat.


"Tahan dua manusia ini! Telepon polisi sekarang untuk datang kemari dan memeriksa keduanya!" titahnya tegas. Setelah berkata demikian, tuan Loenhard meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan permohonan Nickholas dan Wina yang terus memohon, berusaha memberikan klarifikasi mereka.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2