
"Bagaimana keadaan suami saya Dok?" Lirasa buru-buru menghampiri seorang dokter yang baru keluar dari ruang tindakan.
"Syukulah pihak keluarga segera membawa tuan Loenhard ke rumah sakit, sehingga darah tinggi yang di derita tuan Loenhard tidak mengakibatkan serangan stroke pendarahan. Beliau sudah sadar dari komanya, dan memerlukan banyak istirahat."
"Untuk sementara, tolong dibantu agar tuan Loenhard bisa mengelola stresnya dengan baik. Saya harap tuan Loenhard jangan sampai pingsan lagi, karena sangat berbahaya bagi penderita darah tinggi seusia tuan Loeanhard," jelas sang dokter memberikan peringatan.
"Iya Dok," sahut Lirasa sedikit lega.
"Saya permisi dulu," ucap sang dokter sembari tersenyum ramah.
"Baik Dok, terima kasih banyak," ucap Lirasa turut tersenyum.
"Sama-sama Nyonya," setelah berkata demikian, sang dokter bergegas meninggalkan tempat itu.
"Nyonya Lirasa," tuan Toshigawa mendekati wanita paruh baya itu. Ia bersama isteri dan putranya sengaja ikut mengantarkan kerumah sakit dan turut menunggu untuk mengetahui kondisi sahabatnya itu.
"Saya turut senang karena tuan Loenhard sudah sadar dari komanya. Dan atas nama keluarga, saya mohon maaf yang tidak terhingga atas permasalahan yang ditimbulkan putra kami, Ferdinand, yang telah menyebabkan tuan Loenhard mengalami hal seperti ini," ungkap tuan Toshigawa tulus.
"Iya tuan Toshigawa. Saya juga berterima kasih atas perhatian Tuan sekeluarga, yang telah ikut mengantar suami saya hingga kerumah sakit ini. Demikian pula untuk permasalahan antara putri kami Virranda dan tuan Ferdinand dimasa lalu, sudah kita bicarakan dengan tujuan penyelesaian yang baik. Jadi, saya hanya ingin meluruskan saja, pembicaraan kita yang belum sempat selesai karena suami saya yang sempat pingsan." Lirasa melirik pada seluruh anggota keluarga Toshigawa, juga pada anak dan menantunya, sebelum melanjutkan ucapannya selanjutnya.
__ADS_1
"Saya hanya ingin menegaskan, untuk status pernikahan putri saya dengan Joe, mereka sah secara hukum dan agama. Mengenai Verrel yang adalah darah daging dari tuan Ferdinand, sesuai pengakuan tuan Ferdinand pada putri kami Virranda, bahwa dirinya sudah melakukan test DNA, mungkin kita akan bicarakan kemudian." tegas wanita itu mantap.
"Dan bila boleh jujur, saya sangat kecewa pada tuan Ferdinand yang telah merusak kehidupan putri kami dimasa lalu, sehingga dia harus menanggung penderitaannya seorang diri akibat perbuatan tuan Ferdinand yang memperlakukannya serupa wanita pe*acur," ungkap Lirasa pedas. Keluarga Toshigawa hanya bisa terdiam mendengarnya dengan wajah memerah menahan malu, tapi sepasang suami isteri itu merasa pantas menerima perkataan pedas itu oleh karena perbuatan tidak terpuji yang dilakukan putra mereka.
"Mungkin, putri saya adalah salah satu korban yang bisa tegar menghadapi perbuatan tuan Ferdinand, tidak tahu dengan korban-korban tuan Ferdinand lainnya," ucap Lirasa mengungkap apa yang mengganjal dihatinya.
"Apa maksud Nyonya tentang korban-korban lainnya? Seolah menuduh putra kami seorang penjahat wanita. Mohon penjelasannya Nyonya Lirasa," hati nyonya Toshigawa mendadak memanas. Ucapan Lirasa terasa sangat menyakitkan. Sebagai ibu yang sangat menyayangi putranya, tentu saja ia tidak bisa menerima begitu saja ucapan yang semena-mena dari wanita dihadapannya itu
"Silahkan Nyonya Toshigawa tanya sendiri pada putra Nyonya, apa yang telah ia lakukan pada gadis-gadis perawan itu. Kalau putra Nyonya tidak berani berkata jujur, saya bisa memperlihatkan buktinya, karena saya tidak ingin dicap sebagai pemfitnah," ucap Lirasa dengan nada rendahnya. Ia berani mengatakan hal itu karena telah mendapatkan pengiriman bukti-bukti tentang Ferdinand dari orang suruhannya yang telah menelponnya.
Tuan dan nyonya Toshigawa serentak menoleh kearah Ferdinand yang seketika menunduk. Takut, malu, geram, dan berbagai perasaan lainnya, itulah yang tengah dirasakan oleh Ferdinand, karena apa yang telah ia sembunyikan dan tutupi begitu rapat selam ini, akhirnya terbongkar juga dihadapan semua orang yang menganggapnya pria baik yang nyaris sempurna.
"Kwang..., apa benar yang dikatakan nyonya Lirasa itu?" Lirih nyonya Toshigawa masih menolak untuk percaya.
"Sabar Mom, kita akan membicarakan semuanya di rumah nanti," tuan Toshigawa segera meraih pundak isterinya yang nampak syok mendengar lagi-lagi berita buruk tentang Ferdinand, yang sungguh diluar dugaan mereka itu.
Sementara itu, Joe yang sudah tahu kebenaran itu dari mami Ratu segera menggenggam erat tangan Virranda yang juga ikut terkejut mendengar perkataan ibunya.
"Harusnya, saya bisa menuntut secara hukum, atas apa yang dilakukan tuan Ferdinand pada putri kami, bagi saya itu sama halnya mencoreng nama baik keluarga kami. Tapi, mengingat itikad baik yang telah disampaikan tuan Toshigawa diawal pembicaraan kita saat diruang tamu, dan mengingat hubungan baik yang sudah terjalin diantara kita, maka saya akan mempertimbangkan ulang untuk semuanya itu." lanjut Lirasa lagi menyelesaikan ucapannya.
__ADS_1
"Iya Nyonya. Dengan rendah hati, kami menerima semua yang telah Nyonya katakan. Kwang memang pantas mendapatkan ganjarannya, saya tidak akan memberi pembelaan sama sekali atas perbuatan salah yang telah ia lakukan," ucap pria itu berusaha tenang, menahan segala rasa malu akibat perbuaran putranya.
"Mengingat waktu sudah menunjukan pukul sebelas malam, saya dan keluarga mohon pamit pulang, supaya Nyonya dan keluarga juga bisa beristirahat. Sekali lagi kami mohon maaf Nyonya, atas perbuatan putra kami," ucap tuan Toshigawa tulus.
Lirasa hanya bisa mengangguk, walau hatinya masih belum bisa menerima, namun sikap dan itikad baik tuan Toshigawa yang mengakui kesalahan putranya dan tulus meminta maaf membuatnya luluh, dan membiarkan mereka meninggalkan tempat itu.
"Mi, Joe akan mengantarkan Mami pulang untuk beristirahat, Mami kan baru habis sakit kemarin malam sepulang dari London. Biar Virranda saja yang akan mengurus Papi yang sebentar lagi akan dipindahkan keruang perawatan," ucap Virranda, setelah keluarga Toshigawa sudah meninggalkan tempat itu.
"Tidak sayang, Mami mau disini saja menemani Papimu. Kau pulang saja bersama Joe, kasihan Verrel dirumah sendiri bersama para asisten rumah tangga itu. Besok dia akan ke sekolah bukan?" tolak Lirasa menampilkan senyum tipis diujung bibirnya pada anak dan menantunya.
Virranda melirik Joe sejenak, lalu beralih pada ibunya.
"Kalau begitu--, setelah Joe mengantar Virranda pulang, bolehkah Joe kembali kerumah sakit, untuk membantu Mami, mungkin saja Papi nanti kesulitan kekamar mandi, jadi Joe bisa membantu," ucap Virranda sedikit ragu, khawatir ibunya akan menolak permintaannya.
Lirasa melirik kearah menantunya, "Bila Joe tidak keberatan, tentu saja boleh." sahutnya.
"Tentu saja tidak keberatan Mami," ucap Joe cepat, membuat Lirasa dan Virranda kompak tersenyum lebar.
"Baiklah, Joe akan mengantarku pulang setelah Papi dipindahkan keruang perawatan," ucap Virranda senang, ia kembali menggenggam tangan Joe yang sempat terlepas dari tautan tangannya.
__ADS_1
Lirasa yang melihatnya hanya berdehem, membuat wajah sepasang suami-isteri muda itu merona, namun terlalu enggan melepaskan tautan tangan mereka.
Bersambung...👉