Daddy My Son

Daddy My Son
24. Familiar


__ADS_3

Drrtt. Drrtt. Drrt.


Ferdinand melirik ponselnya, nama Jeremias tertera disana.


"Mom, aku akan mengangkat teleponku dulu sebentar, Mommy makan duluan saja bila makan siangnya sudah datang."ujar Ferdinand meminta ijin.


"Jangan lama-lama Kwang, Mommy tidak mau makan sendirian," sahut ibunya mengingatkan. Ferdinand hanya mengangguk lalu bergegas.


Nyonya Toshigawa menatap kepergian putra kebanggaannya, ada rasa sedih dihatinya, memikirkan usia Ferdiand yang menginjak tiga puluh lima tahun tapi belum memiliki seorang pendamping hidup.


"Selamat siang Nyonya, pesanan Anda sudah siap," sapa seorang pelayan restoran dengan senyum ramahnya. Setelah mendapat anggukan tamunya, pelayan itu beserta seorang temannya langsung menyajikan menu-menu makan siang yang mereka bawa ke atas meja.


Sementara itu, Ferdinand masuk ke mobilnya, lalu menelpon balik Jeremias, orang kepercayaannya.


📞"Ada berita apa?" tanya Ferdinand datar.


📞"Nona Virranda Laura sudah ada di Indonesia Tuan," sahut Jeremias dari ujung telepon.


📞"Apa? K-kau serius?"Mendadak Ferdinand merasa gugup.


📞"Benar Tuan, Nona Virranda Laura sekarang ada dirumah sakit, menengok ayahnya, tuan Loenhard yang sedang sakit.


📞"Bagus. Awasi terus wanita itu, dan kabarkan dia pulang kemana," ucap Ferdinand berusaha menentramkan hatinya yang berdebar-debar tidak jelas begitu mendapat kabar tentang wanita yang selama ini dicarinya.


📞"Baik Tuan. Satu lagi informasi yang perlu Anda ketahui. Nona Virranda pulang bersama putranya yang berusia lima tahun dan suaminya Joe Dirgantara," sambung Jeremias lagi.


📞"Penyanyi cafe kere itu? Yang menjadi pemuas na*su para tante girang itu?" ucap Ferdinand mendadak geram.


📞"Benar Tuan," sahut Jeremias memelan, hampir saja ia tertawa bila tidak ingat dirinya sedang berkerja dan berhadapan dengan bosnya. Ternyata saingan sang bos -- yang dikenal berkharisma, kaya raya, dan diakui ketampanannya -- hanya seorang penyanyi cafe kere, juga dari kalangan strata sosial bawah, sungguh tidak seimbang batinnya.


📞"Lakukan apa yang aku perintahkan tadi. Ingat beri aku informasi selanjutnya," ucap Ferdinand membuyarkan lamunan Jeremias.


📞"Baik Tuan," sahut Jeremias sigap.


Setelah menutup teleponnya, Ferdinand menatap ponselnya sejenak, seolah sedang memikirkan sesuatu. Beberapa detik kemudian, ia keluar dari mobilnya dan kembali masuk ke restoran.

__ADS_1


Langkah Ferdinand terhenti saat pandangannya tidak menangkap sosok ibunya dimeja makan mereka sebelumnya. Dengan perasaan sedikit khawatir, Ferdinand mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh meja makan pengunjung restoran yang ada dalam ruangan itu.


Perasaan Ferdinand akhirnya lega, ketika dilihatnya sang ibu sedang berbicara akrab dengan seorang bocah laki-laki disudut kanan tak jauh dari meja makan mereka.


Ferdinand mendudukan dirinya dikursinya, menatap menu makan siang yang sudah tersaji diatas meja. Ia melihat piring ibunya yang sudah tersentuh dan masih bersisa beberapa sendok lagi.


Ia kembali memandang kearah ibunya yang masih asik mengobrol dengan bocah yang sangat familiar wajahnya dalam ingatannya, tapi siapa? Ferdinand berusaha keras mengingatnya, dimana dirinya pernah bertemu dengan sang bocah itu.


Untuk beberapa detik berlalu dirinya belum berhasil mengingat apapun.


Ferdinand mengambil ponselnya, lalu menjepret beberapa kali kebersamaan ibunya dan sang bocah yang sedang memakan ice cream-nya.


Ia tersenyum sendiri memandangi hasil jepretannya. "Putra yang dilahirkan Virranda mungkin sebesar bocah ini," batinnya.


"Kwang, kau belum makan?" tanya nyonya Toshigawa menatap piring putranya yang masih kosong.


"Mommy sudah kembali? Mana bocah yang bersama Mommy tadi?" tanya Ferdinand kaget melihat kehadiran ibunya yang tiba-tiba ada didekatnya. Ia mengedarkan pandangannya.


"Itu, dia pulang bersama Daddy-nya," tunjuk nyonya Toshigawa kearah seorang bocah yang bersama dengan dirinya sebelumnya, yang sedang menggandeng tangan pria dewasa.


"Apa ini artinya bocah itu putra Virranda yang dikatakan Jeremias di telepon tadi?" batin Ferdinand lagi.


"Kwang, kok bengong. Ayo, cepat makan," tegur sang ibu, ia memandang wajah putranya dengan raut tak terbaca.


"Kwang... Kau dengar Mommy kan?" ulang nyonya Toshigawa mengawasi wajah putranya yang masih termenung melihat kearah bocah dan ayahnya yang kini menghilang dibalik pintu keluar restoran.


"Kwang?!" Ulang nyonya Toshigawa lagi sedikit menaikan volume suaranya supaya sampai ke gendang telinga putranya yang seolah hanya raganya saja yang ada didekatnya.


"Aa, I-iya Mommy. Ada apa?" Ferdinand tergagap, ia tersadar, karena kaget mendengar suara ibunya yang lumayan melengking.


"Apa yang kau lihat dan kau lamunkan Kwang? Dari tadi Mommy bicara denganmu tapi kau tidak mendengarkan Mommy," omel wanita itu.


"Maaf Mom. Aku hanya heran saja, bagaimana Mommy bisa akrab dengan bocah itu tadi. Memang siapa sebenarnya bocah itu, apakah Mommy mengenalnya?" todong Ferdinand berusaha menggali informasi dari rasa penasarannya.


"Oh begitu. Bocah tampan itu namanya Verrel, tadi Daddy-nya ke toilet meninggalkannya seorang diri menikmati ice creamnya." sahut nyonya Toshigawa, sambil menyuapkan makanan kemulutnya, menghabiskan yang masih bersisa sebelumnya.

__ADS_1


"Mommy baru mengenalnya tadi. Dia sangat mirip denganmu Kwang, saat usiamu lima tahun sama seperti bocah itu," lanjut nyonya Toshigawa.


"M-mirip??" tanya Ferdinand dengan perasaan berdebar.


"Iya, Verrel sangat mirip denganmu Kwang, saat kau masuk TK usia lima tahun. Kau boleh melihat album poto kita bila kau lupa wajahmu semasa kanak-kanak," sahut nyonya Toshigawa tanpa melihat perubahan raut wajah Ferdinand.


"Mungkin itu yang membuatku sangat familiar saat melihat wajah bocah itu tadi," batin Ferdinand lagi.


"Buka mulutmu Kwang," titah nyonya Toshigawa, ia menyodorkan sendok ditangannya ke mulut putrannya itu.


"Mom, ingat. Ini tempat umum, jangan melakukan hal ini disini. Aku seorang direktur, bagaimana bila ada para pegawaiku yang melihat ini. Mereka pasti mengecap-ku sebagai anak Mommy. Bisa turun reputasiku sebagai pria dewasa," ucap Ferdinand menolak.


"Mommy tidak perduli. Dari tadi Mommy perhatikan, sampai makanan Mommy habis didalam piring, kau belum sama sekali memakan makan siangmu. Ayo, buka mulutmu," titah nyonya Toshigawa lagi.


"Tapi Mom, aku bisa makan sendiri," protes Ferdinand.


"Sudahlah, tidak perlu banyak drama. Buka mulutmu sekarang Kwang," paksa wanita itu lagi. Ferdinand akhirnya membuka mulutnya, walau amat terpaksa. Ya, begitulah nyonya Toshigawa, ia sangat khawatir bila putra tunggalnya itu kelaparan.


...🍓🍓🍓...


📞"Joe, kau dan Verrel dimana?" tanya Virranda dari seberang sambungan telepon.


📞"Kami baru selesai makan siang. Sebentar lagi akan meluncur kerumah sakit. Kau mau pesan apa? Kami akan membawakannya untukmu," ucap Joe, ia tersenyum melirik kearah Verrel yang turut menempelkan daun telinganya pada ponsel miliknya. Verrel memang selalu kepo bila ibu dan ayahnya saling berbicara lewat telepon.


📞"Tidak usah Joe, terima kasih. Aku juga baru selesai makan siang bersama Mami dikantin rumah sakit. Papi hari ini sudah boleh pulang, kami sudah mengurus administrasinya. Jadi, kau dan Verrel langsung kerumah Papi dan Mami saja ya Joe?" ucap Virranda. Joe tertegun sejenak, ia kembali mengingat saat dirinya datang kerumah orang tua Viranda, itu menjadi kunjungan pertama sekaligus terakhir baginya ketika itu.


📞"Joe? Kau tidak lupa kan jalan ke rumah orang tuaku?" suara Virranda kembali terdengar.


📞"I-iya, aku ingat," sahut Joe tergagap.


📞"Syukurlah kalau begitu. Sampai jumpa disana ya Joe, bye-bye," ucap Virranda bersemangat.


📞"Bye..."sahut Joe hampir tidak terdengar. Ingatannya kembali melayang ke masa lalunya itu.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2