Daddy My Son

Daddy My Son
48. Ibu Dari Putraku


__ADS_3

"Maaf Tuan, Nona sedang beristirahat," sahut bibi Arin memberi alasan. Dirinya memang telah menerima pesan, bila Nona majikannya itu tidak ingin menerima tamu. Walau dirinya sungkan berkata demikian dengan pria yang memilki hubungan yang cukup dekat dengan keluarga majikannya, tapi sebagai seorang asisten rumah tangga dirinya harus mematuhi perintah Nona majikannya.


"Saya hanya ingin menjenguk nona Virranda saja Bi, memastikan bila dia baik-baik saja. Hari ini saya dengar dia tidak masuk kantor, jadi sepulang berkerja saya langsung mampir kemari," jelasnya memohon.


"Tapi Tuan, Nona benar-benar sudah tidur, sesuai anjuran dokter, Nona diharuskan banyak istirahat," ucap bibi Arin tetap bersikeras.


"Saya mengerti Bi, orang yang sedang sakit memang harus banyak istirahat. Saya hanya ingin melihatnya, itu saja. Bibi boleh mengawasi saya. Setelah itu, saya akan pulang. Saya mohon Bi," pinta Ferdinand terus memohon, dirinya memang bukan orang yang mudah menyerah sebelum keinginannya tercapai.


Bibi Arin nampak bingung, sedari tadi ia sudah memberi banyak alasan, tapi sang tamu tetap masih bersikeras.


"Baiklah tuan," setelah berfikir beberapa detik lamanya, bibi Arin akhirnya mengalah.


"Mari, ikutlah saya Tuan. Sesuai janji, Tuan cukup melihatnya saja," ucap bibi Arin menegaskan, menatap lekat pada wajah Ferdinand.


"Janji Bi," sahut Ferdinand mengacungkan dua jarinya keudara sembari tersenyum senang.


Ferdinand pun mengekor bibi Arin dibelakangnya, menaiki anak-anak tangga menuju lantai atas dimana kamar Virranda berada.


"Mohon tunggu sebentar Tuan, saya pastikan dulu bila selimut Nona menutupi seluruh tubuhnya." bibi Arin menyentuh knop pintu kamar Virranda dan memutarnya. Ia mendorongnya pelan dan masuk kedalam.


Ferdinand mengangguk. Ia memandang berkeliling dan patuh menunggu didepan pintu. Suasana kediaman tuan Loenhard sudah sepi, para asisten yang biasanya berlalu lalang membereskan rumah sudah tidak nampak. Ia melirik arloji ditangannya yang kini baru menunjukan pukul 20:05 malam.


"Silahkan Tuan," ujar bibi Arin yang sudah kembali muncul didepan pintu kamar.


Ferdinand bergegas, kembali mengekor bibi Arin dibelakangnya. Aroma wangi khas wanita seketika menguar dari dalam kamar. Ferdinand menghirupnya dalam sembari mengedarkan pandangan menyapu seluruh sudut ruangan kamar Virranda yang tertata rapi.


Ferdinand menghentikan langkahnya disisi tempat tidur, memandang wajah pucat Virranda yang sedang tertidur. Ada rasa sesal dalam benaknya, mengingat pengakuannya yang menyebabkan wanita yang terbaring lemah dihadapannya itu sakit.


Namun dirinya memang harus mengatakan semuanya. Tidak mungkin ia menyimpannya terus seperti yang pernah ia lakukan dulu. Walau terlambat, ia ingin memperbaiki semuanya. Dirinya juga ingin seperti orang lain pada umumnya, memiliki keluarga, dimana ada yang menyambutnya pulang setelah berlelah-lelah berkerja sepanjang hari.


Membayangkannya saja, sudah membuat laki-laki itu bahagia, senyumnya mengembang dibibir tipisnya. Serasa begitu manis dalam angannya.


"Terima kasih Bibi, sudah mengijinkan saya menjenguk nona Virranda." lirih Ferdinand. "Hanya melihatnya saja, hati saya sangat bahagia," imbuhnya lagi.


"Iya Tuan." sahut bibi Arin. "Sebaiknya Tuan segera pulang. Saya takut Nona terbangun dan saya akan dimarahi karena melanggar perintahnya." usirnya secara halus.


"Baiklah." sahut Ferdinand tidak membantah lagi. Sebenarnya dirinya ingin berlama-lama dikamar itu, namun ia juga tidak ingin menyulitkan asisten rumah tangga itu yang telah membantunya melihat keadaan Virranda yang dua hari terakhir membuatnya sangat khawatir setelah pengakuanya pada Virranda kemarin.


Ia kembali menatap lekat wajah wanita yang tertidur tenang itu sebelum meninggalkan kamar, "Saya pamit Bi," Ferdinand berbalik perlahan menuju pintu.

__ADS_1


Bibi Arin mengangguk, lalu mengekor Ferdinand dari belakang ikut keluar kamar.


Langkah Ferdinand terhenti sejenak. Tepat diujung anak tangga lantai dua itu Joe menatap dingin ke arahnya. Beberapa detik kemudian, kedua pria itu saling melangkah maju dengan pasti.


Bibi Arin yang baru saja menutup pintu kamar Virranda dengan rapat mendadak pucat pasi. Rasa bersalah seketika menyerangnya karena telah mengijinkan Ferdinand masuk ke kamar Nona majikannya dan tertangkap basah oleh Joe.


Wanita paruh baya itu berdiri mematung didepan pintu. Berharap sesuatu yang sangat ia takutkan tidak akan terjadi pada dua pria yang kini sudah berdiri saling berhadap-hadapan.


Bila itu sampai terjadi, orang yang paling pantas di persalahkan adalah dirinya karena telah lancang memberi ijin laki-laki lain masuk ke dalam kamar wanita yang telah bersuami.


Burghh!


Burghh!


Burggh!


Entah siapa yang pertama kali memulai, kini kedua pria itu saling memberi pukulan. Lutut bibi Arin terasa lemas, yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Betapa bodohnya dirinya, padahal ia tahu Joe sudah memberitahunya kalau malam itu, suami majikannya itu akan pulang berkenaan dengan kabar sakitnya Virranda, nona majikannya itu.


"Toloong!"


"Toloong!"


Mendengar teriakan sang bibi, dua security dan beberapa asisten rumah tangga berlarian masuk dari pintu depan dan naik kelantai dua untuk memisahkan dua pejantan tangguh yang unjuk kebolehannya masing-masing.


"Berhenti Tuan-Tuan!" lerai dua security itu. Seorang security menyergap Ferdinand dan yang satunya lagi menyergap Joe.


Burgghh!


Akhhh!


Burgghhh!


Aakkhhh!


Dua bogeman mentah bersarang sempurna di perut masing-masing dua security itu, membuat keduanya terpental jatuh kelantai.


Joe dan Ferdinand kembali melanjutkan pertarungan mereka, setelah menyingkirkan dua security pengganggu. Keduanya masih bersemangat dan sama-sama kuat, walau wajah mereka sudah babak belur, merah dan membiru disana sini.


Sementara bibi Arin dan beberapa asisten rumah tangga lainnya terus berteriak gaduh, meminta kedua pria tampan itu menghentikan aksi mereka bak di film-film laga.

__ADS_1


Joe Dirgantara, laki-laki itu terbiasa berkelahi dengan para berandalan yang sering mengusiknya bila ia pulang dini hari setelah menemani para wanita-wanita kesepian itu dimasa lalu. Ia memang membekali dirinya dengan keahlian ilmu bela diri, untuk melindungi dirinya yang sering ditindas para berandalan yang selalu saja ingin merampas paksa hasil kerja kerasnya.🤣


Ferdinand Kwang, dirinya memang bukan seorang petarung sejati seperti Joe. Namun laki-laki itu sangat rajin secara terus menerus melatih pukulannya ditemani belasan samsak yang bergelantungan kesana kemari menyerangnya.


"Stop!"


"Stooop!"


"Kalian pikir rumah ini gelanggang tinju!"


Seketika Joe dan Ferdinand menghentikan aksi mereka. Mengarahkan pandangan mereka pada sumber suara.


Disana, Virranda berdiri, berpegangan erat pada knop pintu, menatap nanar kedua pria yang baru saja menghentikan perkelahian mereka, entah memperebutkan piala apa.


"Mommy Verrel!"


"Nona Virranda!"


Kedua pria itu sama-sama mendekati Virranda dan saling menyikut satu sama lain.


"Kau stop disana!" titah Virranda dengan suara lemahnya, berusaha terlihat kuat, menujuk Ferdinand dengan isyarat tangannya supaya tidak mendekat.


Ferdinand patuh, wajahnya yang membengkak dan membiru terlihat jelek dan semakin menyebalkan dimata Virranda.


"Bagaimana keadaanmu?" Joe yang berhasil mendekat segera menggendong isterinya itu.


Pemandangan itu membuat panas hati Ferdinand, "Wanita itu, ibu dari putraku Verrel," ungakpnya datar. Tentu saja para asisten rumah tangga, security, Joe, dan Virranda tercengang mendengarnya, dan saling berpandangan sesaat satu sama lain.


"Kau--" suara Virranda tercekat ditenggorokannya. Tidak menyanggka Ferdinand akan sengaja membuka begitu saja didepan para pekerja dirumahnya, rahasia yang ia simpan begitu rapat selama ini.


"Aku, aku benci padamu! Pergi kau!" pekik Virranda. Tangisannya yang ia tahan akhirnya pecah, meluapkan rasa kesal, amarah, dendam, jijik, benci, dan masih banyak lagi. Dua security yang panik melihat kondisi sang majikan dengan sigap menarik pergelangan tangan Ferdinand.


"Maafkan kami Tuan. Mohon kerja samanya," ucap keduanya tetap hormat, mereka tidak berani bersikap kasar karen tahu siapa pria itu.


Tidak seperti sebelumnya, Ferdinand kini hanya pasrah. Tangisan Virranda membuat lututnya lemas tidak berdaya. Sudah dua kali ia melihat wanita yang dikejarnya itu menangis akibat ucapan yang memang harus dikatakannya, karena waktunya selalu tidak tepat.


Beberapa meter dari kejadian itu, tidak seorangpun menyadari kehadiran seorang bocah yang memeluk guling kecilnya, berdiri didepan pintu kamarnya. Ya, bocah itu adalah Verrel. Dia terbangun dari tidurnya saat mendengar kegaduhan yang sangat mengganggu.


Bingung🤔, tentu saja. Bocah seusianya memang sering dibuat bingung oleh para orang dewasa yang memiliki kehidupan yang kadang sengaja dibuat rumit.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2