
"Nick!"
Nickholas menghentikan langkahnya. Pria itu mengedarkan pandangannya, mencari sumber suara. Pandangannya terhenti pada sosok wanita berpakaian seksi dan berkulit khas asia yang tengah melenggang kearahnya. Senyum maut terus mengembang sempurna diwajah cantiknya.
"Kau kemari pasti akan menjemputku kan?" ucap wanita itu yang kian mendekat.
Nickholas tertawa kecil, menanggapi ucapan wanita itu yang terlalu percaya diri.
"Sayangnya kau salah Wina. Aku kemari ingin menjemput Virranda makan siang," sahut Nickholas lugas. Ya, wanita itu adalah Wina Arauna, sahabat baik Virranda dan Nickholas semasa masih bersekolah di sekolah menengah kejuruan.
"Virranda? Dia ada dikantor ini?" Cecar Wina nampak kaget.
"Iya. Aneh sekali, kau teman sekantornya sampai tidak tahu," sindir Nickholas sambil tersenyum tipis.
"A-aku baru turun berkerja hari ini Nick. dua belas hari yang lalu aku sedang cuti," kilah Wina yang memang cuti selama dua minggu.
"Itu, Virranda sudah tiba," tunjuk Nickholas dengan isyarat wajahnya.
Wina berpaling, mengikuti arah yang ditunjuk oleh Nickholas, ia nampak terpana, sosok Virranda nampak berbeda dari enam tahun silam, langkahnya lebih tegas dan lebih elegan menuruni tangga lobby menuju kearah mereka yang saat ini berada diparkiran.
"Hai," sapa Virranda dengan senyum manisnya.
"Hai juga Putri Virranda Laura," Nickholas balas menyapa dengan senyumnya yang kembali mengembang. Begitulah panggilan akrab yang disematkan pria berwajah oriental itu. Baginya, Virranda bukan hanya sekedar sahabat dihatinya, tapi bak seorang putri dalam impiannya.
"H-hai V-Virranda!" rasa gugup tiba-tiba menguasai wanita itu.
"Apakah kau tidak merindukanku Wina?" Virranda mengembangkan kedua tangannya lebar-lebar, siap menyambut sahabat lamanya masuk dalam pelukannya.
"T-tentu saja aku merindukanmu," ucap Wina masih gugup, ia lalu menghambur masuk kedalam pelukan Virranda.
"Kau kemana saja selama ini?" tanya Wina. Ia melonggarkan pelukannya dan menatap lekat wajah Virranda.
"Aku?" Virranda menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Tentu saja dirimu. Kau pergi tanpa memberitahuku," ucap Wina dengan raut dibuat cemberut.
"Aku lapar. Buruan pergi yuk?" putus Nickholas. Pria itu menarik tangan Virranda menuju mobilnya yang tidak jauh dari tempat ketiganya berdiri.
__ADS_1
"Aku ikut!" pekik Wina yang tertinggal.
"Jangan! Aku hanya ingin makan dengan Virranda saja!" balas Nickholas terus membawa Virranda pergi bersamanya.
Dor! Dor! Dor!
Wina menggedor kaca jendela disamping kemudi Nickholas, sambil terus memelas untuk ikut bersama kedua sahabatnya itu.
"Nick, sudahlah. Jangan mengerjai Wina terus." lerai Virranda. Sedari dulu, Nickholas selalu saja memperlakukan Wina bagai anak tiri, padahal mereka bertiga adalah sahabat.
"Aku tidak sedang mengerjainya Virranda, tapi aku memang tidak suka dia ikut dengan kita," ujar Nickholas jujur.
"Ayolah Nick, dia sahabat kita sejak dulu. Apalagi kita lama sudah tidak bertemu satu sama lain," bujuk Virranda.
"Bukan kita. Tapi kau Virranda. Hanya kau yang mau berteman dengannya tapi aku tidak," protes Nickholas.
"Baiklah, katakan saja seperti itu. Tapi tolong Ijinkan dia siang ini ikut dengan kita, please?" bujuk Virranda lagi.
"Baiklah," Nickholas akhirnya setuju, setelah melewati perdebatan dengan Virranda.
Ceklek.
"Kau boleh ikut, masuklah!" ucap Nickholas dengan nada terpaksa.
"Terima kasih," Wina tersenyum lebar. Dia fikir, dengan perjuangan tidak tahu malunya yang terus menerus menggedor kaca jendela pria itu, Nickholas akhirnya luluh.
Jebleb.
Sekali tarikan, pintu mobil Nickholas tertutup rapat disampingnya. "Aku akan terus berjuang untuk mendapatkanmu Nick," Wina tersenyum sendiri dibelakang kabin.
"Kita makan dimana?" tanya Wina, sesaat kemudian, ketika mobil Nickholas telah melaju dijalan raya.
Virranda melirik Nickholas yang tengah pokus pada kemudinya dan lalu lintas jalan yang ada dihadapannya. Begitulah pria itu, tidak mau terganggu saat sedang menyetir.
"Nick yang mentraktir kita, kita ikuti saja kemana dia membawa kita," ujar Virranda menoleh pada Wina yang duduk tepat dibelakang Nickholas.
"Oke, baiklah," ucap Wina setuju, senyun terus mengembang diwajahnya. Bukannya tidak tahu, tapi Virranda pura-pura tidak mengerti saja, bila Wina selama ini telah menyukai Nickholas, sahabat mereka. Dan terus mengejar, tanpa mengenal lelah, hingga terpaksa Nickholas harus berganti nomor ponsel baru berkali-kali, dan mendapat teguran dari ayahnya yang sering kesulitan menghubungi dirinya.
__ADS_1
...🍓🍓🍓...
"Jadi kau sudah punya anak berusia lima tahun?" tanya Wina kaget.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"A-ir!" ucap Nickholas dengan susah payah. Virranda buru-buru memberi gelas air putih pada pria itu untuk melegakan tenggorokannya.
"Tuh liat, Nickholas ikut kaget mendengar kau tiba-tiba punya anak Vir," ungkapnya melirik kearah Nickholas.
"Bukan Wina. Tapi pekikanmu itu yang membuatku tersedak karena kaget," sahut Nickholas dengan raut sebel, setelah meletakkan gelasnya yang sudah kosong.
"Aku sudah tau kalau Virranda telah memiliki seorang putra sejak lima tahun lalu. Apakah kau lupa, bila dirimu yang mengatakan padaku Virranda sudah menikah dengan penyanyi cafe? Orang yang memiliki suami sangat wajar kalau sudah punya anak Wina," jelas Nicholas panjang lebar.
"Iya, kau benar. Aku lupa," ucap Wina tertawa canggung.
"Virranda? Kau ada disini?" terdengar suara khas yang sangat dikenalnya. Virranda mendongakkan wajahnya, memandang kearah sumber suara.
"Papi? tuan Ferdinand?" ucap Virranda dengan raut heran, melihat ayah dan mantan bosnya itu bisa kebetulan ada disatu restoran yang sama dengannya.
Nickholas dan Wina spontan berdiri lalu membungkuk hormat pada kedua pria itu. "Selamat siang tuan Loenhard, dan tuan Ferdinand Kwang," sapa mereka hormat.
Siapa yang tidak kenal Ferdiand Kwang pengusaha muda yang cukup terkenal dalam kepiawaiannya mengembangkan bisnis keluarganya hingga berada dipuncak. Tuan Loenhard, pengusaha senior yang banyak mengukir perstasinya hingga di usia senja.
Selain itu, baik Nickholas dan Virranda sudah sering bertemu dengan ayah Virranda karena bersahabat baik dengan putri pengusaha kaya itu sejak lama.
"Selamat siang, duduklah kembali," sahut tuan Loenhard balas menyapa denga ramah. Sementara Ferdinand Kwang yang berdiri disisi tuan Loenhard, hanya menyunggingkan senyum diujung bibirnya, nyaris tidak terlihat bila dirinya sedang tersenyum.
"Setelah makan siangmu selesai, bergabunglah dengan kami diruang VIP," ucap tuan Loenhard beralih pada Virranda putrinya.
"Tapi Pi, aku kemari bersama Nick dan Wina?" ucap Virranda memberi alasan, berharap ayahnya tidak memaksanya untuk ikut bersama mereka.
"Nick, kau tidak keberatan kan kalau Virranda tidak ikut kalian pulang?" ucap tuan Loenhard pada Nickholas. Selain mengenal pemuda itu sebagai sahabat Viirranda, tuan Loenhard juga mengenal ayah Nickholas, sesama pembisnis yang memiliki segudang prestasi.
"Tentu saja Tuan," sahut Nickholas hormat.
"Baiklah kalau begitu, terima kasih." ucap tuan Loenhard tersenyum tipis pada Nickholas. Ia melirik kearah Wina sekilas, sahabat putrinya, sekaligus pegawainya yang berkerja sebagai sekretaris manager keuangan di perusahaan miliknya.
__ADS_1
"Kami permisi dulu. Dan jangan lupa, segeralah menyusul Virranda," ucap tuan Loenhard.
Bersambung...👉