
"Besok, aku sudah harus kembali ke London, untuk berkerja," Joe kembali menyesap minumannya.
"Tidak bisakah kau pindah kemari, dan terbang dari Indonesia saja?" tanya Virranda memandang Joe yang sedang meletakkan cangkirnya yang sudah kosong diatas meja.
"Tidak bisa sekarang, tapi aku akan mengurusnya." sahut Joe memandang kearah Virranda.
"Bagaimana kalau Verrel merindukanmu? Aku harus bilang apa?" tanya Virranda turut memandang suaminya.
Joe langsung terkekeh, menyilangkan kedua tangannya didepan dada sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dibelakangnya.
"Kenapa kau tidak jujur saja, kalau kau yang akan merindukanku nanti?" Joe menatap wajah Virranda yang langsung bersemu merah mendengar ucapannya.
"Aku serius Joe, jangan bercanda," ketus Virranda pura-pura marah.
"Aku juga serius, aku tidak sedang bercanda mommy Verrel," ledak tawa Joe kembali membahana, melihat wajah pujaan hatinya yang semakin merona. Sebenarnya, bisa saja ia menahan tawanya, namun ia tidak ingin Virranda tegang saat berada bersamanya, ia lebih rela bila wanita itu merasa kesal padanya.
Virranda segera bangkit lalu membawa cangkir-cangkir kosong ke wastafel untuk membersihkannya dengan wajah dibuat cemberut. Joe memang suka bercanda tidak pada tempatnya saat dirinya sedang serius.
"Biar aku saja yang membersihkannya ratuku, kau tidur saja duluan," Joe mengambil nampan dari tangan Virranda dan meletakkannya diatas Westafel.
"Tapi Joe, tadi sudah kau yang menyiapkan minuman kita. Sekarang giliranku yang membersihkannya," protes Virranda lagi saat pria itu menarik pergelangan tangannya dan mengantarkannya hingga didepan pintu kamarnya.
"Kau tidur saja duluan. Ini sudah larut malam," Joe mendorong Virranda masuk kedalam kamarnya lalu menutupnya rapat. Sejenak ia berdiri didepan pintu memastikan wanita itu tidak keluar lagi dari kamarnya. Beberapa detik kemudian ia menyunggingkan senyum diujung bibirnya lalu kembali ke wastafel untuk mencuci peralatan dapur yang kotor.
Seperti biasanya, Joe mendendangkan lagu romantisnya sambil membereskan dapur mininya itu. Begitulah Joe, dirinya selalu berusaha menciftakan kebahagiaan dengan hal-hal sederhana, seperti saat ini, membersihkan cangkir milik Virranda sambil senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang ada didalam kepalanya.
🎵Kau mampu membuatku tersenyum, dan
Kau bisa membuat nafasku lebih berarti (oooh)🎶
🎵Kau jaga selalu hatimu saat jauh dariku, Tunggu aku kembali, Ku mencintaimu selalu, Menyayangimu sampai akhir menutup mata🎶
__ADS_1
Virranda tersenyum sendiri mengintip dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka, melihat tubuh Joe meliuk-liuk mengikuti irama lagunya sambil membereskan dapur, tanpa disadari oleh pria itu.
"Heum, udah bersih, udah rapi, dan semuanya sudah beres," gumam Joe memperhatikan dapurnya. "Sekarang waktunya tidur." Ia lalu melenggang menuju kamarnya, membayangkan tidur memeluk bocah kesayangannya.
Ceklek!
Joe mengunci pintu kamarnya, lalu menuju tempat tidurnya dan Verrel.
"Kenapa guling Verrel terlihat lebih panjang dan besar?" gumam Joe curiga, memeriksa sisi tempat tidur disebelah Verrel, sambil menekan-nekan pelan dengan tangannya dibawah pencahayaan lampu tidur yang temaram.
Detak jantung Joe berpacu sangat cepat, saat dirasanya benda lembut dan kenyal yang tengah disentuh jari-jarinya.
"Joe! Kau mesum!" pekik Virranda keluar dari dalam selimut sambil memeluk dadanya sendiri begitu erat.
Tubuh Joe langsung lemas melorot kelantai dibawahnya, kemunculan Virranda dari balik selimut tebal dan teriakan wanita itu membuat jantungnya hampir kehilangan fungsinya.
"Mommy berisik! Verrel ngantuk!" omel bocah itu langsung duduk dengan wajah bantalnya yang masih sangat mengantuk memandang wajah ibunya.
"Maafin Mommy ya sayang. Ayo, tidur lagi," bujuknya lembut pada putranya.
"Mommy ingat Verrel, tapi ada pengecualiannya. Malam ini Mommy takut tidur sendiri," ungkapnya beralasan.
"Takut? Takut apaan sih Mommy?" tanya Verrel dengan raut keheranan.
"Takut, takut...." Virranda mulai bingung memberi alasan pada anak pintarnya itu. "Haduh, Verrel bikin Mommy pusing," batin Virranda.
"Mommy takut hantu?" tanya Verrel memastikan, dengan sedikit memicingkan matanya, berusaha menahan rasa kantuknya.
"Eh-Iya, Eh-bukan!" Mommy takut yang lainnya," ucap Virranda cepat. Membuat Verrel bertambah keheranan. Bila dirinya mengatakan hantu, bocah itu pasti akan mentertawainya, karena dirinya sendiri mengatakan hantu itu tidak ada.
Joe tersenyum didalam hati, mendengar interaksi ibu dan anak itu, setelah dirinya berhasil meredakan rasa kagetnya. Ia membiarkan saja sampai dimana Virranda dapat mengatasi putranya yang tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawaban yang bisa memuaskan keingin tahuannya.
__ADS_1
"Yang lainnya? Apa maksud yang lainnya Mommy?" Verrel masih penasaran.
"Verrel, jangan banyak tanya, ini sudah larut malam. Ayo, tidur lagi," bujuk Virranda sambil mengusap lembut rambut putranya itu, dirinya sudah kehabisan kata membujuk anaknya yang terlalu kritis itu.
"Verrel mau Daddy Mom," rengek bocah itu, saat tangannya tidak menemukan Joe berbaring disebelahnya.
"Joe, naiklah cepat!" titah Virranda setengah berbisik, pada Joe yang masih selonjoran dilantai.
Pria itu bangkit, berjalan memutar, lalu naik keranjang dan merapat pada tubuh kecil Joe.
"Kenapa bangun lagi jagoan Daddy? Heum?" ucap Joe mengusap rambut Verrel, yang lurus, bagaikan ijuk.
"Teriakan Mommy mengagetkan Verrel Dad. Daddy dari mana aja tadi?" tanya bocah itu seraya berbalik dan memeluk tubuh Joe disebelahnya.
Joe melirik sekilas pada Virranda yang berbaring disebelah Verrel dan tengah memperhatikan dirinya dan Verrel.
"Daddy tadi terjatuh kelantai, kaget dengar Mommy-mu teriak," sahut Joe jujur seraya tersenyum saat melihat Virranda menunjukan wajah cemberutnya.
"Momny memang mengganggu saja. Bukan kah tidak boleh perempuan masuk kekamar laki-laki kan Dad?" ucapnya lagi bergumam dalam dekapan Joe.
"Itu benar. Tapi Kalau Mommy boleh masuk kedalam kamar Daddy dan Verrel, karena kita adalah satu keluarga." jelas Joe lembut.
"Tapi kenapa selama ini Verrel tidak pernah lihat Daddy masuk kekamar Mommy?" cecar bocah itu lagi dengan pertanyaannya.
"Pernah dong saat Verrel masih baby, Verrel saja yang tidak ingat," sahut Joe terus mengusap lembut kepala anak kesayangannya itu.
"Tapi kenapa sekarang tidak pernah Dad, kita kan keluarga?" bocah itu mendongakkan wajahnya menatap wajah Joe, mengingat perkataan ayahnya barusan.
"Itu, itu karena Daddy punya kamar sendiri. Mubazir kan kalau tidak ditempati. Sudahlah, ini sudah larut malam. Simpan dulu semua pertanyaan Verrel, lain kali Daddy akan jawab. Kalau kita membahasnya malam ini, sampai pagi tidak akan selesai, dan kita kehilangan waktu untuk istirahat," ucap Joe berusaha memberi pengertian. Ia membaringkan kembali kepala bocah itu diatas lengannya.
Sebenarnya, dirinya sudah kehabisan jawaban. Tidak mungkin ia menceritakan alasan mengapa dirinya dan Virranda tidak tidur ditempat tidur yang sama, mengingat usia Verrel yang terlalu muda, belum memahami sepenuhnya permaslahan orang dewasa yang rumit.
__ADS_1
Verrel yang masih ingin bertanya langsung mengatupkan mulut dan memejamkan matanya, patuh pada perkataan sang Daddy. Tangan kecilnya naik ke perut Joe dan memeluknya erat.
Bersambung...👉