
"Aku tidak bisa menyetir," tolak Joe, ketika Virranda terus memaksanya duduk dibelakang kemudi.
"Aku tidak percaya, masa seorang pilot yang handal tidak bisa mengemudikan mobil. Ayo masuk!" Virranda masih memaksa.
"Tidak bisa mommy Verrel, bisa-bisa aku akan membuat jalan baru," ujar Joe masih menolak dan sedikit terkekeh.
Drrt. Drrt..Drrt.
"Angkat saja teleponnya," ujar Joe, saat Virranda melirik kearahnya.
π"Hallo Pi," ucap Virranda.
π"Ini jam berapa? Kenapa belum kembali juga?" terdengar suara omelan tuan Loenhard dari seberang sambungan telepon.
π"Tuan Ferdinand masih menunggu berkas yang kau perbaiki tadi. Cepat kembali," titah tuan Loenhard, berusaha tidak meninggikan suaranya.
Virranda kembali melirik kearah Joe yang tengah menatapnya.
π"Maaf Pi, aku minta ijin sore ini. Besok aku akan membereskan pekerjaanku. Aku harus mengantar Joe ke bandara sekarang," Virranda lalu memutuskan ponselnya.
Dirinya yakin, ayahnya pasti sedang marah-marah diseberang sana karena sikapnya itu. Bukannya sengaja berbuat tidak sopan pada ayahnya, saat mendengar nama Ferdinand disebut ayahnya, dan pria itu masih ada dikantor, membuat Virranda memutuskan tidak bertemu pria itu dulu untuk hari ini.
"Kenapa kau bersikap seperti itu? Papi-mu pasti marah?" ucap Joe menduga, ia masih menatap Virranda. Walau ia tidak sepenuhnya tahu apa yang dibicarakan Virranda dan ayahnya, ia dapat menduga ada sesuatu yang membuat wanita itu memutuskan untuk menghindar dan tidak kembali kekantor sore itu.
"Jarak menuju bandara cukup jauh. Jadi kau tak perlu mengantarku. Aku bisa kesana dengan mengendarai motorku itu," tunjuk Joe pada motor sport andalannya yang terparkir diantara motor-motor para pegawai dealer.
"Kau akan kembali dua bulan lagi. Jadi ijinkan aku mengantarmu ke bandara Joe. Lagi pula aku tidak ingin bertemu tuan Ferdinand, dia masih dikantor bersama Papi," Virranda mendekati Joe, meraih tangan pria itu dan meletakan kunci kontak mobil digenggaman tangan suaminya.
"Ayo berangkat sekarang. Kau bisa terlambat sampai dibandara bila mengulur waktu lagi. Nanti aku akan menelpon tuan Johan untuk meminta tolong pegawainya yang mengurus motormu itu," Virranda lalu beranjak masuk ke mobil barunya.
Joe menatap kunci kontak ditangannya. Mendengar nama mantan bos isterinya itu disebut, dan mengingat apa yang dikatakan pria itu, juga yang dilakukannya pada isterinya siang tadi saat dihalaman parkir perusahaan ayah mertuanya, membuat Joe lupa kalau ia baru saja mengaku tidak bisa menyetir.
Beberapa detik kemudian, Joe bergegas masuk, dan duduk dibelakang kemudi, sementara Virranda sudah siap disebelahnya, lengkap dengan sabuk pengaman yang telah terpasang.
"Suara mesin mobil baru enak didengar ya?" ucap Joe sambil terkekeh, begitu tangannya baru saja menghidupkan mesin dan menjalankannya perlahan, meninggalkan area dealer.
"Dan orang yang tadinya mengaku tidak bisa nyetir, tiba-tiba langsung bisa menyetir seperti pembalap kaya gini," ledek Virranda ikut terkekeh.
Mendengar ledekan Virranda, Joe semakin terkekeh seraya menyugar rambut rapinya. Ia baru tersadar saat Viiranda berkata demikian padanya.
Ingatanya kembali melayang pada apa yang dilakukan pria itu siang tadi, juga perkataamnya, sampai kini ia masih menduga-duga, kenapa pria itu berkata demikian pada Virranda batinnya.
__ADS_1
Joe melirik Virranda yang duduk tenang disebelahnya, wanita itu tidak terlihat takut walau Joe menambah kecepatannya. Lalu lintas arah bandara yang cukup lengang membuat Joe semakin leluasa menambah kecepatan mengemudinya karena beberapa menit lagi, arloji ditangannya akan menunjukan pukul tiga sore.
Begitu bandara terbentang didepan mata, Joe mulai mengurangi kecepatannya, memasuki bandara, menuju salah satu lahan parkir yang tidak jauh dari lounge milik maskapai dimana dirinya berkerja.
"Boleh aku tahu, kenapa tuan Ferdinand mengatakan status suamiku akan berubah menjadi mantan suami?" tanya Joe, sesaat setelah ia memarkirkan mobil baru Virranda. Rasa penasarannya memaksanya harus melontarkan pertanyaan itu sebelum ia meninggalkan Indonesia.
Virranda menoleh, membalas tatapan lekat Joe padanya, "Dia pria yang pernah Papi jodohkan denganku sebelum aku menikah denganmu Joe?" sahut Virranda pelan.
"Dijodohkan?" gumam Joe ikut memelankan suaranya. Perubahan raut wajah pria itu menunjukan perasaan dalam dadanya yang mendadak merasa tidak aman. Saat mereka akan meninggalkan Indonesia kala itu, Virranda memang pernah menceritakan hal itu padanya, tapi belum memberitahukan siapa nama laki-laki itu.
"Heum," Virranda mengangguk pelan.
Joe menelisik wajah wanita yang selama ini sudah menjadi penyemangat hidupnya. Rasa tak aman itu semakin terasa menekan. Bagaimana bila Virranda tiba-tiba memutuskan hubungan mereka, dan lebih memilih pria yang dijodohkan dengannya. Membayangkannya saja, membuat hati Joe begitu sesak.
"Tuan Ferdinand, dia pria yang kaya, juga tampan dan mapan. Tidak salah bila Papi-mu menjodohkannya denganmu. Seorang ayah pasti menginginkan yang terbaik untuk putrinya, apalagi kau adalah anak tunggal dalam keluargamu," ucap Joe berusaha berkata bijak, tapi tidak sejalan dengan apa yang tengah dirasanya saat ini.
"Lalu kenapa kau tidak menerimanya, malah mengajakku menikah saat itu?" Joe mengernyitkan sedikit keningnya.
"Karena sudah ada Verrel dalam rahimku Joe," sahut Virranda seraya melepas sabuk pengaman dari tubuhnya. "Aku tidak yakin, kalau pria itu mau menerimaku saat tahu keadaanku sudah berbadan dua waktu itu." imbuhnya lagi.
"Iya, aku ingat. Kau pernah cerita tentang perjodohan yang kau tolak itu. Berarti laki-laki yang dijodohkan itu adalah tuan Ferdinand, mantan bosmu dulu."
"Iya, itu benar." sahut Virranda singkat.
"Kalau menurutmu? Aku harus bagaimana?" Virranda balik bertanya.
"Jangan terima. Aku pasti patah hati," sahut Joe cepat, raut wajahnya nampak serius.
"Kalau itu jawabanmu. Buat apa kau memberi pertanyaan padaku seperti tadi," Virranda tersenyum lebar melihat raut Joe yang menegang menunggu jawaban dari pertanyaannya.
"Iya juga ya," Joe spontan memasang wajah cengir kudanya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lagi pula, Verrel tidak mau Daddy yang lain, dia hanya mau dirimu Joe," ucap Virranda disela-sela senyumnya.
"Benarkah? Verrel bilang begitu?" ucap Joe semakin senang. Tidak terasa ia meraih tangan Virranda kepangkuannya.
"Iya, Verrel bilang begitu. Saat Ferdinand bertandang kerumah bersama kedua orang tuannya untuk menjenguk Papi yang baru pilang dari rumah sakit waktu itu. Kata tuan Ferdinand karena wajahnya mirip Verrel saat masih kanak-kanak, tapi memang mirip sih," ujar Virranda mengingat pertemuan mereka malam itu.
"Mirip?" Joe kembali mengernyitkan keningnya.
"Iya, mereka memang mirip. Aku melihat sendiri photonya Joe. Aku juga heran, kenapa mereka seperti pinang dibelah dua?" Virranda nampak berfikir sejenak.
__ADS_1
"Memang aku pernah dengar ada mitos mengatakan. Saat hamil, kita tidak boleh membenci seseorang secara berlebihan, nanti bayi yanΔ£ kita lahirkan bisa mirip dengan orang yang kita benci," ucap Virranda tertawa kecil.
"Entah kenapa, aku selalu kesal dan bemci melihat wajahnya yang suka melihatku diam-diam saat itu. Aku fikir karena bawaan hamil. Tapi sekarang, aku masih benci melihatnya, selalu saja membahas masalah perjodohan yang telah lalu itu dengan Papi," imbuhnya lagi dengan raut kesal.
Joe termenung, kemiripian Ferdinand dengan Verrel sangat mengusik hatinya, mungkinkah mereka memiliki hubungan ayah dan anak batinnya, mengingat sampai sekarang Virranda belum tahu siapa ayah putranya itu. Ditambah lagi laki-laki itu begitu getol mengejar Virranda yang nyata-nyatanya telah menikah dengan alasan perjodohan mereka dimasa lalu.
"Joe, cukup melamunnya. Ini sudah pukul tiga sore, kau sudah terlambat," Virranda menggoyang-goyangkan tangannya yang dipegang Joe hingga beberapa kali.
"Oh, Iya, kau benar. Aku harus pergi sekarang. Boleh aku minta satu ciuman dipipi kiriku sebelum aku pergi? Dulu kan hanya disebelah kanan," pinta Joe penuh harap dengan raut konyolnya yang nyengir kuda.
"Kenapa kau tidak minta yang ini saja," tunjuk Virranda pada dua belahan bibir seksinya.
"A-apa boleh?" detak jantung Joe spontan berdetak lebih cepat dari biasanya. Tangannya semakin menggenggam erat tangan Virranda yang sedari tadi ada diatas pangkuannya.
"Heum," sahut Virranda berguman lembut sambil mengangguk pelan.
Anggukan Virranda membuat detak jantung Joe semakin berdetak tidak karuan, ditambah lagi wanita itu telah memejamkan matanya dengan bibir ranumnya sedikit terbuka.
Wajah Joe semakin mendekat. Virranda membeku, merasakan sentuhan nafas Joe yang hangat menyapu wajahnya. Ini untuk pertama kalinya Virranda mengijinkan seorang pria dewasa menyentuh bibirnya, hatinya berdebar dan menghangat, menantikan bibir Joe mendarat pada bibirnya.
"Maafkan aku," Joe tiba-tiba menjauhkan wajahnya.
Virranda spontan membuka matanya dengan wajah merona menahan malu, ia turut menjauh dan bersandar pada sandaran kabin dibelakangnya dengan membuang pandangannya kearah jendela mobil disampingnya.
Wanita itu merutuk kebodohannya yang terlalu percaya diri dengan semua kata manis dan perhatian Joe padanya selama ini.
"Mommy Verrel, jangan salah faham. Aku takut kebablasan." ucap Joe merasa bersalah.
"Tidak perlu minta maaf. Sekarang pergilah, kau sudah lambat Joe," sahut Virranda tanpa menoleh. Rasa malu masih menguasai dirinya.
"Aku tidak akan pergi sebelum mengclearkan kesalah fahaman kita," ucap Joe belum mau beranjak.
"Kau tidak perlu menjelaskan apa-apa Joe. Pergilah sekarang, kau sudah terlambat." usir Virranda lagi, masih belum mau melihat pada Joe.
"Lihat aku mommy Verrel."Joe meraih pundak Virranda dan mengarahkan wajah isterinya itu padanya.
"Aku harus bolak balik masuk kamar mandi malam itu, ketika kau memintaku menggengam tanganmu disaat pertama kali kita bertiga tidur bersama." Virranda menatap Joe, ia memang ingat, pria itu bolak balik kamar mandi hingga dini hari.
"Tidak mudah bagiku menahan hasrat kelelakianku. Aku laki-laki yang terbiasa tidur dengan banyak wanita berumur. Apalagi denganmu, wanita muda, cantik, menarik, dan yang memang aku dambakan, bisa membuatku lepas kendali mommy Verrel."
"Aku bertekad untuk menjagamu dan Verrel seumur hidupku. Aku mau menyentuhmu bila telah mendapat restu orang tuamu. Bagiku, kau dan Verrel sangatlah berharga." bola mata Joe memerah, menahan luapan hatinya.
__ADS_1
Virranda bergeming, menatap haru wajah laki-laki yang selama ini memang menjaganya dan Verrel dengan sangat baik. Ia pun tidak menyangka bila seorang Joe bisa menghargainya begitu tinggi, dirinya yang pernah ternoda oleh seorang laki-laki bajin*an.
Bersambung...π