
"Ternyata mereka semua imut dan cantik-cantik ya Sayang," komentar Miera kagum, melihat dari dinding kaca pembatas, para putri Ferdinand yang sedang di persiapkan oleh para pelayan untuk syukuran hari itu.
"Iya, kau benar Sayang. Setelah hampir 3 bulan dalam pengasuhan Kwang, anak-anak perempuan itu yang awalnya dekil saat pertama kali aku menjumpai mereka, sekarang sudah lebih terawat," gumam Gerry pada isterinya.
Jujur saja, Gerry merasa gemes, melihat banyaknya anak perempuan Ferdinand, ada rasa iri disudut hatinya bila memikirkan sahabatnya itu bisa meniliki anak sebanyak itu tanpa bersusah payah seperti dirinya bersana sang isteri.
Ya, seperti permainan sulap, adakadabra! dalam sekejap mata, sahabatnya itu bisa memiliki anak sebanyak itu, yang sangat jarang dimiliki oleh keluarga lain, apalagi dirinya.
Tapi, bila mengingat apa yang telah dilalui Ferdinand, sahabat sekaligus bos-nya itu, segala lika-liku hidupnya mulai mereka mengenakan seragam putih abu-abu hingga menjadi seorang direktur beranak banyak, Gerry tetap bersyukur akan dirinya.
Bila ia di posisi sahabatnya itu, mungkin dia tidak akan sanggup, dan cerita akhirnya pasti akan berbeda, karena hatinya tidak setangguh Ferdinand, apalagi kantongnya. Menikirkan itu, Gerry hanya tersenyum dan berusaha selalu bersyukur didalam hati.
"Hai Gerry! Hai Miera!" sapa Ferdinand, laki-laki itu terlihat tampan mengenakan kemeja batik berlengan panjang. Ia baru saja turun dari lantai atas setelah bersiap, karena acara sebentar lagi akan dimulai.
"Hai juga Kwang!" balas keduanya bersamaan sembari mengurai senyum.
"Corak batik yang dikenakan para putrimu sama dengan corak batik yang engkau kenakan Kwang, hanya berbeda warna saja. Apakah kau yang memilihkannya untuk mereka?" tanya Miera merasa terkesan akan pilihan bos suaminya itu.
Sedari tadi, ia tidak bosan-bosannya memandang anak-anak Ferdinand yang terlihat cantik dan imut dengan balutan gaun batik dari balik dinding kaca pembatas dimana mereka bertiga berdiri.
__ADS_1
"Bukan aku, tapi mereka, para putriku," sahut Ferdinand ikut memandangi para putrinya dengan senyum tipisnya, sembari memasukan tangannya ke saku celananya.
"Kwang, apa kau yakin merawat semua anak-anakmu itu sendiri?" tanya Gerry, memperhatikan anak-anak perempuan Ferdinand yang berjumlah 13 anak itu.
"Apa maksudmu Gerry? Ya, tentu saja aku yakin. Mereka itu 'kan anak-anakku, siapa lagi yang harus bertanggung jawab pada mereka selain aku, cukup beberapa tahun silam aku telah menelantarkan mereka diluaran sana dengan penghidupan yang memprihatinkan." ungkap Ferdinand, ia masih memperhatikan para putrinya yang baru selesai bersiap.
"Maksudku, putrimu 'kan ada 13 orang, bagaimana kalau kau merawat 10 putrimu saja, dan aku 3 orang lainnya lagi, berikan padaku, biar aku dan Miera membantumu merawatnya." ucap Gerry dengan nada bercanda, tapi disudut hatinya berharap bila candaannya akan jadi kenyataan.
"Tidak Gerry. Aku akan merawatnya sendiri dengan tanganku, aku sudah menghadirkan mereka di dunia ini, jadi akulah yang harus bertanggung jawab mendidik, dan membesarkan mereka." ucap Ferdinand.
"Aku berharap, apa yang pernah dialami oleh ibu mereka, tidak akan pernah terjadi pada semua putriku itu. Aku memang bukan orang yang baik, tapi sebagai Papa mereka, aku selalu berharap segala yang terbaik buat semua putriku," gumam Ferdinand lirih, samar-samar rautnya berubah sedih mengingat apa yang telah ia lakukan hingga putrinya sebanyak itu.
Dari kejauhan Ferdinand dapat melihat, keluarga Verrel sedang disambut oleh kedua orang tuanya.
"Tuan, Semua Nona sudah siap," ucap seorang pelayan yang datang menghampiri.
Ferdinand berbalik, ia menatap 13 putrinya yang tengah berjejer dibelakang sang pelayan dengan kepala tertunduk menatap lantai pada ujung sepatu-sepatu mereka.
Mata Ferdinand seketika berkaca-kaca, hampir saja ia menjatuhkan buliran bening dari sudut-sudut matanya. Hatinya terharu melihat kepolosan para putrinya itu yang masih malu-malu.
__ADS_1
Dengan buru-buru, Ferdinand menengadahkan wajahnya ke atas supaya buliran bening itu jangan sampai terjatuh. Ia berusaha menyingkirkan perasaan melownya yang tidak pada tempatnya. Setelah mampu menguasai dirinya, Ferdinand kembali menegakkan kepalanya, menatap para putrinya dengan senyum hangatnya.
"Halo semua putri-putri Papa yang cantik dan pemberani! Jangan menunduk, pandanglah Papa," ujar Ferdinand memberi semangat pada semua putrinya yang terkesan malu-malu itu.
Mereka mendongakan kepalanya perlahan, saling melirik satu sama lain, dan sama-sama mengurai senyum malu-malu, lalu menatap ke arah Ferdinand, "PA-PA!" panggil mereka canggung.
Ferdinand melebarkan senyumnya, ia tahu para putrinya itu memang masih canggung dan belum terbiasa memanggilnya Papa, ia melangkah mendekat, sementara sang pelayan segera menyingkir dan memberi ruang pada Ferdinand untuk berada ditengah-tengah para putrinya.
"Jihan, Lilly, gandeng tangan Papa," pinta Ferdinand, pada dua putrinya yang berdiri di sebela kiri dan kanannya.
"Selanjutnya, Dina, Shera, Rina, Wilda, selly, juga saling perpegangan tangan disebelah Jihan," ucap Ferdinand pada para putrinya yang berdiri berjejer disebelah kirinya.
"Dan kau Tania, Anisa, Erina, Shanti, Yura, Meliana, juga saling berpegangan tangan disebelah Lilly," ucap Ferdinand lagi pada para putrinya yang berjejer disebelah kanannya.
Ke 13 anak-anak perempuan itu menganguk dan melakukan apa yang dikatakan Ferdinand pada mereka dengan patuh.
"Sekarang, kita akan bertemu semua orang didalam sana. Dan ingat, jangan ada satupun diantara kalian yang boleh merasa rendah diri, karena kalian adalah putri-putri Papa yang hebat!"
Setelah berkata demikian, Ferdinand membawa semua putrinya itu menuju ruang pesta.
__ADS_1
Bersambung...👉