
"Joe, apakah kita ke apartemenmu dulu?" tanya Virranda, saat taksi pesanan Joe sudah melesat membawa mereka dengan kecepatan sedang.
"Tidak. Kita langsung kerumah sakit saja. Nanti pak supir akan membawa barang-barang kita ke apartemen dan menitipkannya pada security. Aku juga sudah memelpon pihak pengelola apartemen, agar membersihkan apartemen sebelum kita kesana," sahut Joe.
"Daddy, kenapa dada Verrel rasanya berdebar-debar saat ingin bertemu Kakek dan Nenek nanti?"ungkap bocah itu pada ayahnya yang duduk disebelah kanannya.
"Berdebar-debar? Eum, tentu saja. Mungkin karena ini adalah kali pertama Verrel bertemu dengan Kakek dan Nenek, jadi jangan khawatir," ucap Joe dengan senyuman, pria itu mengusap lembut pucuk rambut anak sambungnya lalu menciumnya dengan rasa sayang seperti biasanya.
"Verrel senang sekali. Terima kasih Daddy dan Mommy, karena mau mengajak Verrel bertemu dengan Kakek dan Nenek." ucap bocah itu dengan nada riang pada kedua orang tuannya.
"Sama-sama sayang," sahut Virranda dan Joe bersamaan. Keduanya tanpa sadar sama-sama memeluk tubuh kecil Verrel.
Akibat sentuhan tidak sengaja itu, Virranda segera melepaskan pelukannya dari tubuh anaknya, tatapannya beradu dengan netra milik Joe, rasa canggung dan gugup mendadak menguasi keduanya yang terlihat salah tingah satu dengan yang lain.
...🍓🍓🍓...
"Virranda, apa benar ini dirimu?" Lirasa menyentuh sepasang bahu putrinya yang baru saja menampakan diri setelah sekian lama menghilang.
Wanita paruh baya itu menelisik wajah Virranda, dari ujung rambutnya hingga ujung kakinya, untuk meyakinkan dirinya bila saat ini yang berdiri dihadapannya adalah benar putrinya, dan itu bukanlah mimpi.
"Ini Virranda Mami, putri Papi dan Mami," ucap Virranda meyakinkan ibunya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Akhirnya kau kembali juga sayang," Lirasa lalu meraih tubuh Virranda masuk kedalam pelukannya, tangisnya sudah tidak bisa terbendung lagi.
Sedu sedan seketika terdengar riuh. Keduanya saling mendekap erat, melepaskan rasa rindu yang terpendalam dalam isak tangis masing-masing. Untuk sekian lamanya, ibu dan putrinya itu larut dalam suasana haru, melupakan situasi yang ada disekitar mereka.
"Kau datang sendiri kemari sayang?" tanya Lirasa saat tangisnya dan Virranda sudah saling mereda. Ia melonggarkan pelukannya lalu menatap lekat wajah putri kesayangannya itu.
Virranda menggeleng, "Aku bersama mereka Mi," ucapnya menunjuk dengan wajahnya kearah belakang pundak ibunya.
Lirasa berbalik. Pandangannya bertumpu pada pria dewasa berpenampilan rapi dan seorang bocah tampan dengan pipi gembil menggemaskan. Secara kompak, kedua pria beda generasi itu membungkuk hormat padanya.
__ADS_1
"Salam Nyonya," sapa Joe sopan, saat Lirasa mendekati dirinya dan Verrel.
"Salam Nyonya," ucap Verrel kemudian, dengan suara yang sedikil cadel, meniru kata-kata Joe dan gerakan tubuh ayahnya yang menyatukan kedua belah tangan mungilnya didepan dada.
Ya, begitulah tingkah mereka. Kadang Joe yang meniru tingkah polah Verrel, kadang sebaliknya, Verrel yang meniru ayahnya, yang ia rasa selalu benar pada pemikiran kanak-kanaknya.
"Apa kau putra ibumu Virranda?" tanya Lirasa. Keberadaan Verrel seketika mengalihkan pokusnya pada setiap gerak-gerik bocah yang menyita perhatiannya itu.
"Iya Nyonya," sahut Verrel lagi.
Joe berusaha memberi kode, supaya bocah itu tidak memanggil wanita paruh baya dihadapan mereka dengan sebutan Nyonya melainkan Nenek. Verrel nyatanya tidak menurut walaupun melihat kode yang diberikan ayahnya. Bukannya tidak patuh, namun dirinya gagal faham saat melihat gerakan tubuh Joe yang terlihat kaku, dan gugup karena sedang diperhatikan oleh Lirasa.
Mendengar panggilan Nyonya yang disematkan oleh bocah itu padanya, sedikit ada rasa sakit yang menusuk dihati Lirasa, ia mengingat bagaimana dirinya dan suaminya terlalu keras pada putri mereka yang menikah tanpa seiijin mereka dan mengusirnya dari rumah. Mungkin inikah balasan yang harus dirinya terima batinya.
"Siapa namamu sayang?" tanya Lirasa. Kini dirinya berjongkok, untuk mensejajarkan dengan bocah laki-laki itu sambil menatapnya dengan penuh kerinduan.
"Verrel Dirgantara," sahut Verrel menyebut nama lengkapnya. Bocah itu memandang wajah wanita dihadapannya, yang sedang tersenyum manis padanya.
"Nenek?" beo bocah itu, meniru kata yang harus ia sematkan pada wanita paruh baya dihadapannya.
"Iya, Nenek. Aku adalah Nenekmu Verrel Dirgantara," ucap Lirasa menunjuk dirinya sendiri lalu menunjuk bocah itu.
"Boleh Nenek memelukmu, hai anak tampan?" Lirasa mengembangkan kedua tangannya pada Verrel yang masih berdiri disisi Joe. Bocah itu menoleh pada ayahnya yang masih menggandeng tangan mungilnya , seolah meminta persetujuan.
Joe yang mengerti maksud Verrel segera menggerakkan kepalanya, mengangguk setuju disertai senyumannya.
Dengan senyum riangnya, Verrel melepaskan tangannya dari gandengan Joe dan menghambur masuk kedalam pelukan Larisa.
"Ternyata Daddy dan Mommy benar. Nenek adalah orang yang baik," ucap bocah itu sambil memeluk erat leher Larisa. Tanpa sadar, ucapan Verrel membuatnya sangat terharu, air matanya menetes merasakan kepolosan cucu yang telah ia jauhkan bersama ibunya dari keluarganya.
Virranda dan Joe yang menyaksikan itu semua, turut merasakan haru, bersyukur karena Verrel kesayangan mereka bisa diterima baik oleh neneknya.
__ADS_1
Ingatan Lirasa kembali melayang pada lima tahun silam, disaat bibi Arin memberitahu bila putrinya menelpon dan merindukannya, namun ia selalu menolak mengangkat telepon dari putrinya itu, entah sudah kesekian kali banyaknya.
Setelah menghilang sekian lamanya, putrinya akhirnya kembali datang dengan membawa seorang bocah manis, tampan, dan sangat menggemaskan.
"Terima kasih sayang, sudah bersedia memanggilku Nenek," Lirasa melonggarkan dekapannya, memandangi wajah tampan cucunya lalu mencium pipi gembilnya berkali-kali.
Menerima perlakuan sang nenek, Verrel tertawa senang dan ikut membalas mencium sang nenek.
Setelah merasa puas dengan cucunya, Lirasa kembali berdiri. Ia memandang pada Joe yang berdiri beberapa langkah dibelakang cucunya. Pria itu langsung menunduk saat menyadari dirinya sedang dipandang sang ibu mertua. Ya, bisa dikatakan seperti itu, karena status pernikahannya bersama Virranda memang sah dimata hukum.
"Terima kasih Joe. Kau telah menjaga putri kesayanganku, juga cucuku selama ini. Dan hari ini, kau juga sudah membawa mereka kemari dengan selamat," ucap Lirasa dengan suara rendahnya.
Walau dahulu dirinya sempat tidak menyukai pria itu, dan suaminya sempat memukul wajahnya tanpa ampun, namun sikap hormat Joe yang ditunjukannya pada dua kali pertemuan mereka ini, sudah bisa membuatnya memberi penilaian baik pada menantu pilihan putrinya itu.
"Sama-sama Nyonya. Sebenarnya Nyonya tidak perlu berterima kasih, karena Ini adalah memang tugas saya," ungkap Joe dengan wajah masih menunduk. Rasanya, ingin sekali dirinya melompat kegirangan ketika mendengar sang ibu mertuanya itu mau menyebut namanya. Terdengar biasa, tetapi bagi Joe, itu sangat berarti.
Mendengar ucapan Joe, Lirasa semakin yakin, bila Joe memang pria yang baik.
"Ini sudah pukul sepuluh malam, Papi-mu juga sudah tidur sejak satu jam yang lalu. Dan dokter juga menganjurkan supaya Papimu harus lebih banyak beristirahat dari biasanya," ucap Lirasa beralih pada putrinya.
"Apakah kalian bertiga juga akan menginap bersama kami disini? Tapi kasihan Verrel, anak sesusianya tidak dianjurkan ada dirumah sakit, karena disini sarang kuman," ungkap Lirasa mengusap pucuk rambut cucunya dengan lembut.
"Joe, aku akan menemani Mami disini untuk menjaga Papi. Aku minta tolong padamu, ajaklah Verrel pulang bersamanu. Dia pasti lelah karena perjalanan kita," ucap Virranda pada suaminya.
Didalam hatinya, Virranda telah berencana berkisah dengan ibunya tentang dirinya dan keluarga kecilnya. Bagaimanapun juga ibunya harus tahu kisah sebenarnya tentang keputusan besar yang telah ia pilih beberapa tahun silam. Mungkin ini saatnya ia membuka rahasia yang telah ia simpan dengan rapat selama ini.
"Baiklah, aku akan membawa pangeran ini pulang. Besok kami akan kembali lagi," sahut Joe menyanggupi. Kali ini dirinya harus menahan diri untuk tidak bercanda dengan isterinya itu, mengingat sang ibu mertua yang mungkin tidak terbiasa dengan gaya humoris keluarga kecil mereka.
Virranda dan ibunya menatap kepergian Joe dan Verrel yang telah berpamitan sebelumnya. Keduanya sesekali melemparkan senyum satu sama lain saat melihat Verrel yang selalu saja meniru apa yang dilakukan ayahnya. Bocah itu memaksakan langkah kaki mungilnya selebar mungkin, supaya langkah kakinya bisa sama panjang dengan ayahnya.
Bersambung...👉
__ADS_1