
"Agghh! Sakit Tuan," erang Wina meringis kesakitan.
"Cepat katakan! Sebelum aku melakukan tindakan yang lebih dari ini!" suara datar Ferdinand kini terdengar meninggi.
"Saya butuh uang Tuan. Jadi saya terpaksa melakukannya," Wina turut memegang rambutnya yang masih ditarik oleh Ferdinand untuk mengurangi rasa sakit pada saraf-saraf kulit kepalannya.
"Bohong! Kalau kau butuh uang, kau tidak akan menjualnya hanya seharga tiga juta rupiah!" Ferdinand kembali menarik rambut wanita itu semakin menekan kebawah.
"Awwhh! Sakit Tuan! M-maafkan saya!" Wina meringis, menahan sakit yang teramat sangat pada kulit kepalanya, wajahnya memerah, menahan tangis yang hampir meledak.
"Cepat! Katakan alasanmu!" pekik Ferdinand semakin tidak sabar.
"Balas dendam!" sahut Wina ikut memekik karena sudah tidak tahan merasakan sakit dikepalanya. Ferdinand akhirnya melepas jambakan tangannya pada rambut panjang sebahu milik Wina.
Wanita itu segera berdiri tegak, merapikan rambut kusutnya. Sementara wajahnya masih memerah, rasa sakit pada kulit kepalanya masih terasa nyeri.
"Balas dendam apa?" kejar Ferdinand, laki-laki itu melepas beberapa helaian rambut panjang Wina yang melilit dijarinya.
"Gara-gara tuan Loenhard, perusahaan ayahku bangkrut, hingga ayahku jatuh sakit sampai sekarang tidak pernah pulih. Ibuku harus membanting tulang, membiayai hidup kami, juga biaya perobatan ayahku."
"Sementara Virranda, dia hidup nyaman, mewah, bagaikan seorang putri. Selalu mendapatkan semua yang dia mau," ucapnya berapi-api, mengingat kemalangan yang menimpa keluarganya pasca kebangkrutan perusahaan ayahnya.
__ADS_1
"Dasar ayahmu saja yang bo*oh! Kalah bersaing dalam dunia bisnis itu biasa. Harus kerja keras untuk bangkit lagi, bukannya meratapi nasib hingga sakit," timpal Ferdinand tanpa belas kasihan.
"Dan kau, beralasan melakukan balas dendam pada Virranda. Itu bukan urusanmu, tapi urusan orang tuamu. Perbuatan jahatmu itu sungguh tidak termaafkan." bentak pria itu.
"M-maafkan saya Tuan. Tolong jangan katakan ini pada nona Virranda, apalagi tuan Loenhard, saya takut dipecat," ucap Wina memohon dengan wajah memelas.
Ferdinand tertawa sumbang, "Sungguh lucu, perempuan jahat sepertimu bisa takut dipecat juga," Ferdinand menghentikan tawanya. Ia kembali memasang wajah datar dan dinginnya.
"Saya tidak bisa berjanji untuk tidak mengatakan semuanya." setelah berkata demikian, Ferdinand menekan tombol, dan lift perlahan terbuka lebar.
"V-Virranda?!" wajah Wina semakin pucat pasi, melihat Virranda tengah berdiri tepat di depan pintu lift.
Sementara itu, Ferdinand menekan tombol supaya pintu lift tidak tertutup.
"A-aku baik-baik saja Vir." sahut Wina tergagap. Ferdinand tersenyum sinis mendengar ucapan Wina, wanita itu pasti sangat takut bila kejahatannya terbongkar batinnya.
"Apa tuan Ferdinand menyakitimu? Katakan padaku Wina, bila dia berani melakukannya padamu?" ucap Virranda melirik tajam pada Ferdinand yang kedapatan tersenyum sinis.
"T-tidak Vir, tuan Ferdinand tidak melakukan apa-apa padaku." ucapnya melirik takut pada Ferdinand.
"Sahabatmu itu sedang menyimpan suatu rahasia besar. Aku tidak yakin bila kau mengetahui kebenarannya. Persahabatan kalian masih bisa terjaga dengan baik." celetuk Ferdinand penuh teka-teki.
__ADS_1
"Rahasia besar apa itu?" tanya Virranda penasaran. Ia menatap Wina dan Ferdinand bergantian.Berharap mendapat penjelasan dari salah satunya.
"T-tidak ada Vir. Aku permisi dulu, mau mengantar semua berkas ini, yang diminta manager keuangan," sahut Wina masih gugup, sambil memperlihatkan berkas-berkas ditangannya.
"Baiklah," walau masih keheranan Virranda tetap melepaskan kepergian Wina dengan setumpuk pertanyaan yang ingin dirinya ketahui. Namun kegugupan dan wajah pucat pasi Wina membuatnya mengurungkan niatnya itu untuk saat ini.
"Tunggu, mau kemana?" Ferdinand dengan cepat meraih pergelangan tangan Virranda agar tidak ikut keluar bersama Wina.
"Mengambil berkas yang kemarin. Bukankah tuan Ferdinand kemari untuk mengambilnya," ucap Virranda menatap Ferdinand.
"Nanti saja. Kita makan siang bersama dulu. Tadi aku menjemput Verrel disekolahnya, sekarang dia ada di lobby ditemani seorang resepsionis," ucap Ferdinand datar. Pria itu memang sengaja meninggalkan putra Virranda itu disana karena mengejar Wina yang sudah masuk lift terlebih dahulu.
"Apa? Tuan menjemput Verrel?" Virranda membulatkan matanya, merasa aneh kenapa pria itu melakukannya.
"Iya, ini kan memang jam makan siang. Aku ingin kita makan siang bertiga. Bukankah Verrel menganggapku uncle-nya?" Virranda terdiam. Walau sebenarnya dihati kecilnya menolak, tapi secara sadar ia membiarkan Ferdinand menekan tombol untuk menutup pintu lift dan menekan tombol lantai dasar, dan lift itu meluncur turun.
"Tolong lepaskan tangan saya tuan Ferdinand," Virranda melirik pergelangan tangannya yang masih dipegang erat oleh pria itu.
"Maafkan saya," ucap Ferdinand segera melepaskan tangan Virranda. Wanita itu tidak berkata apa-apa lagi. Matanya hanya tertuju pada angka-angka yang berubah pada dinding lift didepannya.
Bersambung...👉
__ADS_1