
Tepat pukull 10 pagi, satu mini bus memasuki area rumah megah milik keluarga Toshigawa. Ferdinand dan ayahnya sengaja menunda keberangkatan mereka kekantor demi menyambut rombongan keluarga baru yang baru ditemukan.
Nyonya Toshigawa terpaku ditempatnya berdiri, begitu pula suaminya, memandang pada pintu mini bus bagian depan yang terbuka. Dari sana turun seorang laki-laki berperawakan tegap dan gempal dengan pakaian gelapnya, lalu diikuti Gerry dibelakangnya.
Bukan pria itu dan Gerry yang menjadi pusat perhatian kedua pasangan suami isteri paruh baya itu, melainkan beberapa anak perempuan yang ada dibelakangnya, satu persatu turun dari sana dengan menggendong tas punggungnya masing-masing.
Beberpa diantaranya ada yang memeluk boneka usang, kemungkinan itu boneka kesayangannya, batin nyonya Toshigawa terus memperhatikan setiap gerak-gerik anak-anak perempuan kurus dan berpakaian dekil itu, yang tengah diatur oleh Gerry dan pria tegap itu.
"Dad, ternyata mereka semua anak-anak perempuan," ucap nyonya Toshigawa masih terpaku ditempatnya berdiri, menggenggam rapat telapak tangan suaminya yang berdiri disebelahnya.
Sejujurnya, ia masih sulit percaya pada kenyataan, bila Ferdinand memiliki anak sebanyak itu, dengan usia yang hampir sama seperti anak kembar.
Bila dilihat wajah mereka, anak-anak perenpuan itu rata-rata mewarisi wajah ayahnya, walau tidak sepersis Verrel yang sangat mirip dengan ayahnya diusia kanak-kanak.
Ada bagian matanya yang sangat mirip dengan ayahnya, ada keseluruhan wajahnya, ada yang hanya hidung, bibir berpadu dengan alisnya, ada cara tersenyumnya yang mirip, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sementara itu, Ferdinand segera menghampiri Gerry dan rombongan anak-anaknya itu.
"Iya Mom, bukankah Kwang juga mengatakan, kalau mereka semua adalah anak-anaknya perempuan," sahut tuan Toshigawa. "Dan mereka semua berusia enam dan tujuh tahun, lihat saja tinggi mereka yang hanya beda dua atau tiga senti saja satu sama lain," imbuhnya llagi.
...🍓🍓🍓...
"Joe..." gumam Virranda, ia menghentikan langkahnya begitu melihat suaminya sudah berdiri disisi mobilnya dengan senyum khasnya. Tidak menduga sang jantung hati tiba-tiba muncul didepan mata tanpa memberitahukan dulu rencana kedatangannya.
"Kemarilah Sayang!" panggil Joe sembari merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, meminta Virranda yang tinggal.beberapa langkah saja lagi masuk ke dalam pelukannya.
"Tidak mau!" Virranda seketika berbalik, sembari melipat kedua tangannya didepan dada dengan wajah dibuat cemberut.
Melihat tingkah Virranda Joe tertawa sendiri, ia segera mendekati wanita yang dicintainya itu lalu memeluknya dari belakang dengan mesra, mengabaikan tatapan para pegawai perusahaan ayah mertuanya yang curi-curi pandang melihat kearah mereka.
__ADS_1
"Kenapa Sayang, kok cemberut? Heum?" bisik Joe lembut ditelinga isterinya itu.
"Kesel! Sebel! Jengkel!" gerutu Virranda. "Kenapa tidak bilang-bilang kalau kau pulang hari ini waktu ditelpon kemarin," protesnya.
"Surprise Sayang," ucap Joe sembari mengecup pipi kanan Virranda, namun isterinya tetap memasang wajah cemberutnya.
"Baiklah, maafkan aku ya?" ucap Joe masih tersenyum. Ini kali pertama Virranda bersikap demikian padanya. Biasanya, isterinya itu tidak pernah terlalu mempermasalahkan hal-hal kecil seperti itu.
"Bagaimana kalau kita ulangi lagi skenarionya? Sekarang, aku kembali lagi ke London." Virranda menoleh, melonggarkan pelukan Joe dari tubuhnya.
"Apa maksudmu?" tanya Virranda menautkan kedua alisnya dengan raut tidak mengerti.
"Iya, aku pulang ke London lagi, dari sana aku akan menelponmu dengan mengatakan kalau aku akan pulang. Bagaimana?" jelas Joe, mengatakan idenya.
"Ih, tidak mau! Kau baru saja datang, kenapa harus kembali lagi kesana?" ucap Virranda kembali mendekap tubuh Joe dengan erat. "Kalau perlu, kedatanganmu kali ini tidak boleh kembali lagi kesana." pungkasnya, yang belum tahu bila Joe sudah resmi dipindahkan ke tanah air.
Sementara Joe hanya tertawa mendengar ucapan Virranda, yang tidak memberinya kesempatan untuk bicara.
"Ayo, aku kemari juga mau mengajakmu makan siang," Joe menerima kunci kontak dan menekannya untuk membuka pintu dan menpersilahkan isterinya itu masuk.
"Terima kasih Mi-sua-ku," Virranda mengulas senyumnya menatap Joe, begitu dirinya sudah duduk rapi dengan sabuk pengaman yang telah terpasang dengan bantuan Joe.
"Sama-sama Sayang," sahut Joe sembari membalas senyum isterinya dengan penuh cinta. Ia menutup pintu dengan hati-hati lalu bergegas menuju ke sisi lain, lalu duduk dibelakang kemudi.
"Kita jemput Verrel dulu ya untuk makan siang bersama, aku sangat merindukannya juga." ucap Joe sambil menghidupkan mesin.
Virranda mengangguk menyetujui. Pandangannya terus mengarah pada Joe yang kini menyetir disampingnya, membuat laki-laki itu salah tingkah.
"Sayang, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Joe membuka obrolan kembali, berusaha bersikap santai walau sedikit grogi mendapat tatapan Virranda yang terus saja memandanginya, membuat hatinya berdebar dan tidak berkonsentrasi menyetir.
__ADS_1
"Heum--, baik, lancar-lancar saja." Kini Virranda mengalihkan pandangannya kedepan, memperhatikan lalu lintas yang ramai seperti biasanya.
"Selain pekerjaan didalam kantor, akhir-akhir ini, Papi sering mempercayakanku untuk menggantikannya menemui beberapa pemilik perusahaan untuk membicarakan progres kerja yang sedang berjalan, atau kerja sama yang akan diperpanjang." jelas Virranda.
"Kenapa?" tanya Virranda, ia kembali menoleh kearah suaminya itu.
"Tidak kenapa-kenapa. Hanya ingin tahu, dan aku senang mendengarnya Sayang." sahut Joe menoleh kearah Virranda lalu kembali fokus pada jalan raya dihadapannya.
"Heem, Sayang," Joe berdehem, lalu melirik kearah Virranda, ia terkesan ragu melanjutkan apa yang tengah difikirkannya.
"Katakan saja, apa yang ingin kau katakan Joe, jangan ragu," ucap Virranda masih memandang suaminya
"Bila suatu hari nanti kau menjadi seorang direktur, apakah kau tidak malu memiliki seorang suami yang hanya mampu jadi seorang pilot?" tanya Joe akhirnya.
Walau tidak tahu pasti apa itu, tapi Virranda merasakan ada sesuatu yang dirasakan suaminya itu dibalik pertanyaannya.
"Tidak Joe." sahutnya. "Pada awalnya, kita menikah memang tanpa cinta, sama-sama memiliki kepentingan masing-masing. Tapi pada akhirnya, kita bisa saling mencintai," ucap Virranda, mengingat awal cerita pernikahan ia dan Joe yang saling membuat janji dan batasannya masing-masing.
"Joe, aku tidak memandang siapa dirimu, aku juga tidak pernah mempermasalahkan masa lalumu. Aku mencintai dirimu yang sekarang, dan yang akan datang. Aku bangga punya suami seorang pilot yang handal sepertimu Joe." ucap Virranda meyakinkan suaminya itu.
Joe meraih tangan Virranda lalu memberi kecupannya pada punggung tangan isterinya itu dengan lembut. "Terima kasih Sayang, aku sangat mencintaimu," Joe melepaskan tangan Virranda dan kembali fokus pada kemudinya.
Mendengar ucapan Virranda, kini hatinya merasa lebih lega, tinggal meyakinkan sang ayah mertuanya saja lagi, batinnya.
"Setelah kita bertiga makan siang, aku ingin mengajakmu dan Verrel sebentar melihat rumah baru kita yang sudah rampung dibangun. Aku sudah membuat janji untuk menemui pihak pengembangnya, hari ini mereka ingin menyerahkan kuncinya pada kita."
"Sungguh?! Wah, aku jadi penasaran ingin cepat melihatnya," ungkap Virranda dengan wajah berbinar.
"Iya, nanti kita kesana setelah makan siang," sahut Joe tersenyum bahagia, melihat antusias isterinya itu.
__ADS_1
Bersambung...👉