
📞"Hallo jagoan Daddy, pagi ini kau tampan sekali, memang mau kemana?" tanya Joe dengan senyum yang mengembang, memandang anak sambungnya lewat layar video call.
📞"Hallo juga Dad, Verrel hari ini diajak Mommy mendaftarkan diri ke sekolah yang baru." sahut Verrel antusias.
📞"Heum, ternyata jagoan Daddy sudah semakin besar. Ingat ya, harus berteman baik, dengan teman-temannya yang baru" ucap Joe menasehati putra kesayangannya itu.
📞"Tentu saja Dad, Verrel pasti ingat. Kok Daddy belum bangun dari kasur? Nanti Daddy terlambat." bocah itu mengerutkan keningnya.
📞"Daddy bahkan bersiap akan berangkat tidur sekarang? Daddy mau mimpiin Verrel." godanya sambil memeluk erat gulingnya.
📞"Kata Mommy gak boleh malas bangun pagi Dad, nanti Daddy bisa terlambat berangkat berkerja," Verrel menatap gemas pada sang Daddy yang bermalas-malasan diatas kasurnya.
📞"Kalau begitu, mana Mommy-mu biar nasehatin Daddy yang malas ini," ucap Joe masih menggoda putranya itu.
📞"Sebenatar ya Dad," Verrel membawa ponsel ditangannya, mendekati Virranda yang baru saja selesai memoles riasan pada wajahnya didepan meja rias.
"Mom ini Daddy mau bicara. Yang adil ya Mom, jangan Verrel saja yang di disiplinkan, Daddy juga tuh," ujar Verrel menunjuk pada layar ponselnya.
Ucapan Verrel membuat Virranda tersenyum, merasa lucu pada tingkah polah Verrel. Putranya itu memang sangat sulit bangun pagi, sampai Virranda terpaksa harus mendudukannya walau sedang tidur pulas.
Joe tertegun menatap wajah Virranda, yang beberapa hari ini baru dilihatnya lagi. Wanita itu tengah menyisir rambutnya yang menjuntai hitam hingga kepunggungnya.
📞"Hallo Joe, kenapa menatapku seperti itu, heum?" tanya Virranda melirik layar ponselnya, yang disandarkan diatas meja riasnya.
📞"Bertambah hari, kau bertambah mempesona mommy Verrel, membuatku ingin selalu pulang dan melihatmu lebih dekat," ucapnya dengan raut terpana.
📞"Dasar gombal. Kau selalu saja berkata seperti itu. Kalau begitu pulang sekarang," tantang Virranda menatap kearah Joe yang langsung mengaruk-garukan kepalanya tidak jelas.
📞"Kenapa? Tidak bisa kan?" ejek Virranda sambil terkekeh geli.
__ADS_1
📞"Aku takut dipecat Mommy Verrel. Dan kalau aku dipecat, kesempatanku mendapatkan cintamu akan semakin jauh," ujar Joe ikut terkekeh bersama Virranda.
📞"Tapi benaran. Kau memang bertambah cantik setiap harinya, membuatku semakin merindukanmu. Aku pasti banyak memiliki rival untuk mendapatkan cintamu mommy Verrel," ucap Joe dari seberang sambungan teleponnya.
📞"Apa benar aku secantik itu? Sampai kau harus memiliki banyak rival? Oh Joe, ucapanmu terlalu berlebihan. Tidak ada laki-laki yang mau memperebutkan wanita yang sudah bersuami," ungkap Virranda memandang Joe yang terus memandang kearahnya tanpa sekejap pun mau berpaling.
📞"Apakah itu adalah statement dari seorang Virranda Laura, bahwa dirinya hanya milik Joe Dirgantara," Joe mengunci ucapannya.
📞"A--ah itu---," Virranda nampak gelagapan mendengar tanggapan suaminya atas ucapannya barusan.
📞"Kalau begitu, aku bisa tidur lebih pulas malam ini, dan memimpikan keindahan cinta kita. Bye-bye my wife. I love you so much."
Virranda hanya bisa membeku. Joe sama sekali tidak memberi kesempatan pada dirinya untuk bicara sepatah katapun, walau hanya untuk mengucapkan kata perpisahan saat menutup telepon seperti biasa. Pria itu memutuskan sambungan vidoe call mereka secara sepihak.
Hal itu tidak membuatnya marah, Virranda malah tersenyum-senyum sendiri menatap ponselnya yang sudah berwarna gelap, memikirkan perkataan Joe yang teramat manis menyentuh hatinya yang terdalam.
"Kenapa Daddy tidur lagi Mom? Mommy pasti lupa ya nasehatin Daddy," tuduh Verrel. Rupanya sedari tadi dirinya ikut menguping obrolen kedua orang tuanya itu.
"Verrel sayang, Indonesia-London beda enam jam sayang. Itu sebabnya Daddy masih tiduran dikasurnya," jelasnya pada bocah itu.
Verrel terdiam, menatap wajah ibunya yang tersenyum lembut padanya. Beberapa detik kemudian, ia menatap kearah jam dinding lalu mengembangkan lima jari kirinya dan menjulurkan jari telunjuk tangan kanannya lalu mulai menghitung.
"Kalau disini pukul 6.30 pagi, berarti di tempat Daddy sana pukul 00.30 ya Mom?" tanya Verrel memastikan.
"Iya bener. Kamu pintar sayang." Virranda menoel hidung mancung putranya itu dengan pucuk hidungnya. "Ayo, kita sarapan dulu, takut terlambat." ucap Virranda segera bangkit dari jongkoknya, dan menggandeng tangan kecil putranya.
Keduanya lalu beranjak dari sana, menuju ruang makan yang ada dilantai dasar.
...🍓🍓🍓...
__ADS_1
Lirasa menatap langkah Virranda dan Verrel menuju mobil.
"Sayang, kenapa 'kebetulan' ini tidak bisa aku terima sedikitpun?" batin Lirasa seraya mendesah berat.
"Bagaimana mungkin kau bisa begitu mirip dengan tuan Ferdinand Kwang? Padahal kalian bukan ayah dan anak," desahnya lagi.
"Apa mungkin pria yang meniduri Virranda malam itu adalah tuan Ferdinand? Tidak. Tidak mungkin. Pria itu begitu pendiam dan terlihat sangat terhormat. Tidak mungkin melakukan hal hina seperti itu," tepis Lirasa tidak mempercayai nalurinya.
"Mami yakin tidak mau ditemani Papi?" tanya tuan Loenhard mengejutkan isterinya yang sedari tadi sedang berdialog dengan dirinya sendiri.
""Ah, Papi. Ngagetin aja." gerutu Lirasa sambil mengusap dadanya.
"Memangnya Mami sedang memikirkan apa? Dua hari ini Papi perhatikan, Mami banyak melamun, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikiran Mami."
"Cerita pada Papi, supaya beban Mami lebih ringan,"bujuk tuan Loenhard menatap lekat wajah isterinya.
"Tidak ada Pi. Mami cuma kurang enak badan saja," kilah Lirasa. Untuk saat ini, dirinya belum bisa mengatakan apapun tentang rasa curiganya pada kemiripan wajah cucunya Verrel dengan Ferdinand yang bukan ayahnya, apalagi ia belum punya kesempatan yang baik menceritakan tentang kemalangan Virranda dan masa lalu putri mereka itu.
Pria tua itu menyentuh pundak isterinya dan memberikan tatapan teduhnya, "Kita sudah menikah hampir setengah abad Mi, jadi Mami tidak bisa membohongi Papi. Tapi Papi tidak akan memaksa, Mami boleh cerita pada Papi, saat Mami sudah benar-benar siap mengatakan apa yang menjadi beban pikiran Mami itu."
"Papi berangkat kerja dulu. Kalau Mami merasa semakin tidak baik, suruh bi Arin menelpon Papi atau Virranda," ucap tuan Loenhard sambil melepaskan sepasang tangannya dari pundak isterinya. Tidak lupa ia mendaratkan kecupan pada kening isterinya sebelum beranjak menuju mobilnya.
Tin! Tin! Tin!
Virranda dan Verrel melambaikan tangan mereka pada Lirasa. Mobil sedan berwarnah putih yang dikemudikan Virranda perlahan merangkak pergi, meninggalkan rumah besar orang tuanya.
Beberapa detik kemudian, tuan Loenhard turut membunyikan klakson mobilnya. Setelah mendapat lambaian tangan Lirasa, ia lalu menjalankan mobilnya dengan pelan.
Setelah mobil Virranda dan mobil suaminya sudah menghilang dibalik pagar kokoh rumah megah mereka, Lirasa kembali masuk kerumahnya, berniat menuju kamarnya untuk beristirahat.
__ADS_1
Sudah dua hari ini, dirinya belum mendapatkan kabar dari orang kepercayaan yang mencari tahu siapa pria yang telah tidur dengan putrinya dimalam itu.
Bersambung...👉