
Verrel turun dari pangkuan nyonya Toshigawa dan menghampiri tuan Toshigawa yang berada disebelah isterinya.
"Tuan Toshigawa, bolehkah aku memanggilmu Opa?" tanya Verrel meminta persetujuan pria itu.
"Bagaimana kau tahu namaku? Heum?" tuan Toshigawa menatap wajah tampan Verrel penuh kekaguman, ia menundukkan wajahnya supaya lebih dekat dengan wajah bocah itu.
"Tadi aku mendengar Mommy menyebut nama Anda tuan Toshigawa," sahut Verrel ikut menatap lekat wajah pria didepannya yang spontan tersenyum mendengar jawabannya.
"Anak pintar," tuan Toshigawa terkekeh sambil mengusap pucuk rambut Verrel dengan gemas.
"Apakah karena kau memanggil isteriku Oma, jadi kau mau memanggilku Opa?" tanyanya lagi. Entah mengapa, mendengar suara bocah itu menjawab pertanyaannya, hatinya serasa bahagia.
"Iya, itupun bila Tuan tidak keberatan," sahut Verrel masih menatap lekat wajah pria tua sebaya kakeknya itu, tapi rambut putih dikepalanya tidak sebanyak yang dimiliki kakeknya.
"Tentu saja aku tidak keberatan, kau boleh memanggilku Opa pria kecil. Kau pintar sekali," puji tuan Toshigawa semakin merasa gemas dan kembali mengusap lembut pucuk rambut bocah yang mampu mencuri hatinya itu.
"Terima kasih Opa," Verrel seketika tersenyum lebar, dengan cepat ia meraih tangan tuan Toshigawa dan mencium punggung tangan pria itu hingga air liurnya menempel disana, membuat pria tua itu semakin terkekeh, karena dia melihat Verrel sengaja melakukan itu padanya.
Verrel beralih pada Ferdinand yang ada disebelah kakeknya yang tengah berdiri, ia mendongakkan wajahnya keatas, memandang pria dewasa yang menjulang tinggi dihadapannya itu.
"Uncle, bolehkah kau menekukkan lututmu ini?" pinta Verrel dengan menyentuh lutut Ferdinand yang setinggi pinggangnya.
"Aku kesulitan melihat wajah Uncle," sambungnya masih mendongakkan wajahnya.
"Tentu saja boleh," Ferdinand serta merta menuruti permintaan Verrel dengan senyum mengembang diwajahnya.
Semua yang melihat interaksi keduanya ikut tersenyum, dan tertawa kecil, khusunya nyonya Toshigawa, ia merasa terharu melihat putranya bisa seramah itu pada seorang Verrel, padahal selama ini putranya itu selalu bersikap dingin pada semua orang tanpa mengenal usia, termasuk pada dirinya dan suaminya selaku orang tuanya, Ferdinand memang memiliki sifat introvert semenjak kanak-kanak, sangat berbeda dengan Verrel batinnya.
__ADS_1
"Kenapa Uncle tidak mengajak anak Uncle kemari?" tanya Verrel menatap wajah Ferdinand yang kini sedikit sejar dengannya.
"Uncle belum punya anak. Apa Verrel mau jadi anak Uncle? Heum? Kata Oma, wajah kita mirip. Seusia dirimu, wajah Uncle sama seperti wajahmu,"ucap Ferdinand menoel puncak hidung Verrel yang mancung sambil mengembangkan senyum tipisnya.
"Benarkah?" ucap Verrel dengan raut penuh tanya.
"Iya, itu benar. Ayo sini, duduk dipangkuan Uncle," Ferdinand mendudukan tubuhnya disofa ruang keluarga lalu menepuk paha atasnya supaya bocah itu duduk disana. "Uncle akan perlihatkan sesuatu pada Verrel,"imbuhnya lagi.
Verrel mendekat. Bocah itu patuh saat Ferdinand meraih tubuh mungilnya dan mengangkatnya lalu mendudukan dipangkuannya. Aliran darah Ferdinand kembali berdesir, saat bokong Verrel mendarat sempurna diatas pangkuannya. Ada rasa bahagia yang tidak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Lihat ini," Ferdinand membuka galeri pada ponselnya yang ia keluarkan dari saku celanannya.
Semua pasang mata yang sejak tadi memperhatikan interaksi antara Ferdinand dan Verrel, semakin pokus melihat kearah keduanya yang tengah memperhatikan layar ponsel yang sedang digulir oleh Ferdinand.
"Verrel tidak pernah pakai baju seperti ini Uncle," ungkap bocah itu memandang Ferdinand yang tengah memangkunya.
"Iya, Uncle benar, kita memang mirip," sahut Verrel setuju sambil tertawa kecil.
"Jadi bagaimana? Verrel mau kan jadi anaknya Uncle? Heum?" ulang Ferdinand lagi sedikit merayu.
"No-no-no Uncle. Verrel sudah punya Daddy.," Tolak Verrel mentah-mentah sambil menggerakan jari telunjuk kecilnya rusuh.
"No? Why not baby? Heum?" Ferdinand menatap bocah tampan didepannya itu dengan raut memelas, berharap apa yang dilakukannya mendapat simpatik dari sang bocah.
"Daddy Joe tidak bisa tergantikan oleh siapapun, termasuk Uncle," tegas Verrel dengan suara cadelnya yang terdengar menggemaskan.
Keduanya terus berargunen satu sama lain, sementara Virranda yang melihat itu tersenyum sendiri, "Kau benar sayang, posisi Joe dihati kita memang tidak bisa tergantikan oleh siapapun, termasuk Uncle barumu itu."
__ADS_1
Tingkah Virranda ternyata tidak lepas dari perhatian Ferdinad, pria itu diam-diam selalu melirik kearahnya dengan ekor matanya.
Lirasa menggeser duduknya, lalu mencodongkan tubuhnya kearah kanan dimana nyonya Toshigawa duduk dekat suaminya. "Apa benar, semasa kecil tuan Ferdinand sangat mirip dengan cucu kami Verrel Nyonya?" tanyanya penasaran.
"Itu benar Nyonya," sahut wanita paruh baya itu tersenyum tipis.
"Apa Nyonya menyimpan photonya diponsel Nyonya?" raut wajah Lirasa menunjukan rasa penasaran yang besar, ia sangat berharap tamunya itu memiliki photo seperti yang diperlihatkaan Ferdinand pada Verrel.
"Ada Nyonya. Justru saya yang memphotonya dari album lama kami dan mengirimkannya pada Kwang, karena awalnya Kwang juga tidak menduganya," ujarnya bersemangat. Wanita itu segera meraih tas yang ia bawa dan mengambil ponsel dari dalamnya.
Setelah beberapa detik kemudian, nyonya Toshigawa mendekatkan ponselnya pada Lirasa."Bukankah mereka sangat mirip Nyonya?" ucapnya sambil tesenyum tipis.
"Hauhh!" Lirasa spontan membekap mulutnya, sementara tangan satunya lagi semakin mendekatkan ponsel milik nyonya Toshigawa yang tengah dipegangnya kewajahnya.
Melihat respon wajah ibunya yang menegang kaget, Virranda segera menggeser duduknya untuk merapat.
"Bagaimana mungkin bisa begitu mirip?"lirih Virranda tidak kalah kagetnya dengan wajah ikut menegang, setelah melihat photo pada layar ponsel milik nyonya Toshigawa
"Sepertinya tuan Ferdinand dan Virranda memang berjodoh." timpal tuan Loenhard tiba-tiba, membuat semua orang melihat kerahnya dengan penuh perhatian.
"Papi, jangan bicara seperti itu." tegur Larisa pada suaminya. "Maafkan suami saya tuan Ferdinand Kwang, Tuan dan Nyonya Toshigawa,"ucap Lirasa merasa sangat tidak enak pada para tamunya.
"Bukankah mereka berdua memang sudah kita jodohkan sebelumnya," ucap Loenhard memandang isterinya.
"Maksud Papi apa?" Virranda memandang ayanya, meminta penjelasan.
"Pi, disini ada Verrel, tidak pantas membahas hal itu, apalagi putri kita sudah menikah," tegas Lirasa menatap suaminya. Suasana ruang keluarga mendadak serasa horror.
__ADS_1
Bersambung...👉