Daddy My Son

Daddy My Son
70. Angin Segar


__ADS_3

"Mi, Papi kebelet pipis," ucap tuan Loenhard , ia mengerak-gerakan tubuh Lirasa, membangunkan isterinya yang ikut tertidur diranjang pasien.


"Kenapa anak itu ada disini?" tunjuk tuan Loenhard pada Joe yang tengah ketiduran di sofa, dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran dibelakangnya, sementara ponselnya tergeletak begitu saja dipangkuannya.


Lirasa mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya memandang jam dinding yang sudah menunjukan pukul 5 pagi. Ia ikut melirik kearah Joe.


"Joe sengaja tinggal, untuk menemani Mami mengurus Papi," jelas Lirasa sembari bangkit. Ia turun dengan hati-hati, berniat untuk membangunkan menantunya itu.


"Mau kemana?" tanya tuan Loenhard.


"Membangunkan Joe. Bukankah Papi mau ke toilet? Biar Joe yang memapah Papi kesana," ujar Lirasa menatap suaminya.


"Jangan, aku tidak mau. Mami saja yang memapahku," cegahnya cepat, sembari memegang pergelangan tangan isterinya, menunjukan raut tidak sudinya.


"Kata dokter, Papi tidak boleh terjatuh, apalagi sampai pingsan lagi, nanti bisa terkena stroke, bahaya Pi. Apa Papi mau setengah tubuh Papi tidak berfungsi dan bibir Papi miring saat berbicara?" cecar Lirasa memperingatkan suaminya.


"Iya tidak maulah Mi," sahut tuan Loenhard merasa ngeri pada ucapan isterinya.


"Kalau tidak mau, tidak perlu pakai gengsi-gengsian sama menantu sendiri," omel Lirasa dengan wajah menekuk sebel.


"Menantu?" tuan Loenhard tersenyum sinis. "Siapa bilang dia menantuku?" ucapnya lagi.


"Mami yang bilang. Apa Papi masih berharap tuan Ferdinand menjadi menantu kita? Setelah tahu apa yang telah dia lakukan pada putri kita Virranda dimasa.lalu. Tidak, Pi. Mami tidak mau punya menantu seperti itu." tegas Lirasa ketus.

__ADS_1


"Apa Mami fikir Joe lebih baik dari tuan Ferdinand? Tidak Mi, dia simpanan para isteri orang kaya itu. Kita bisa malu, kalau suami-suami mereka tahu. Putri kita bisa terkena masalah," ucapnya.


"Mami tidak bilang Joe lebih baik Pi. Tapi Joe sudah mulai memperbaiki dirinya setelah menikahi Virranda. Dan selama ini, dia yang menjaga Virranda dan Verrel dengan baik."


Joe sebenarnya sudah terbangun, mendengar kedua mertuanya yang sedang berdebat tentang dirinya dan Ferdinand. Ia ingin bangkit tapi terlalu sungkan untuk beranjak, jadi dirinya pura-pura masih terlelap saja, tidak ada niatan untuk menguping.


"Papi tidak tahu saja, kalau bukan hanya Virannda yang direnggut mahkotanya, masih banyak gadis-gadis perawan yang menjadi korbannya," ungkap Lirasa membuka rahasia calon menantu idaman suaminya.


"Mi, tidak baik bicara seperti itu. Tuan Ferdinand laki-laki terhornat, jangan memfitnahnya Mi," tuan Loenhard menatap isterinya, tidak percaya pada apa yang baru saja ia dengar dari mulut isterinya.


"Papi tahu benar, kalau Mami bukan perempuan yang suka bicara tanpa bukti," sahut Lirasa membela diri.


"Apa Papi mau, setelah tuan Ferdinand jadi menantu Papi, akan banyak anak-anak tidak jelas mengaku kalau mereka adalah anak kandung tuan Ferdinand," ucap Lirasa terus nyerocos tanpa memperdulikan perkataan suaminya. Wanita paruh baya itu sudah membayangkan hal yang terlalu jauh.


"Jadi Papi mau kalau Mami yang memapah seorang diri, lalu kita berdua sama-sama terjatuh, lalu Papi kena stroke. Atau minta bantuan Joe?" tanya Lirasa memberi pilihan, mengingat hal itu yang menjadi awal perdebatan panjang mereka.


"Baiklah-baiklah, Papi menyerah! Panggil dia, Papi gak mau lumpuh karena terjatuh dipapah oleh Mami," ucapnya terpaksa.


Lirasa segera mendekati Joe dan membangunkan menantunya itu. Joe yang sebenarnya sudah lama terbangun, tanpa banyak drama, langsung membuka matanya dan segera beranjak untuk membantu, karena dirinya tidak tega membiarkan mertuanya itu menahan air seninya lebih lama lagi.


Ia yakin, kedua mertuanya pasti heran melihat kesigapannya yang seolah tidak menunjukan gejala orang yang baru bangun dari tidur, bisa jadi mereka akan curiga bila dirinya mendengar semua percakapan mereka. Tapi Joe tidak terlalu ambil pusing bila itu benar, itu urusan nanti, sekarang bagaimana caranya ia membantu sang ayah mertua untuk bisa ketoilet dan membuang sampah dari dalam tubuhnya.


"Permisi Tuan," Joe memegangi tubuh tuan Loenhard yang lumayan berat, membantu ayah mertuanya itu untuk turun dari ranjang pasiennya.

__ADS_1


"Berpegangan saja yang kuat Tuan," ucap Joe, ketika ia melihat sang ayah mertua agak ragu memegang lengannya. Dengan hati-hati ia memapah ayah mertuanya itu menuju kamar mandi. Sementara Lirasa, mengikuti keduanya dari belakang dengan membawa tongkat infus suaminya.


Setelah menunggu sekian menit, Joe kembali masuk kekamar mandi, ketika mendengar Lirasa meemanggilnya. Dengan hati-hati dan pelan ia memapah ayah mertuanya itu menuju ranjang pasien.


Setelah berhasil mendudukan ayah mertuanya diranjangnya, Joe kembali beranjak, hendak keluar karena suasana pagi diluar ruangan sudah terang benderang.


"Mau kemana kau? Main pergi saja tanpa pamit dulu pada mertuamu," ucapan tuan Loenhard mengejutkan Joe, juga Lirasa yang mendengarnya.


Hati Joe berdebar, apa dirinya salah dengar? Tapi ia yakin, ayah mertuanya itu memang berkata seperti yang ia dengar. Joe perlahan berbalik, untuk menghadap ayah mertuanya yang masih setia melihat kearahnya dari ranjang pasiennya.


"M-maafkan saya Tuan. Saya.hanya ingin menghirup udara segar sekalian berolah raga," Ucap Joe mendadak.kikuk, tidak seperti sebelumnya.


"Menantu tidak sopan. Jadi maksudmu didalam ruangan ini udaranya tidak segar, karena ada orang tua pesakitan seperti diriku, begitu?" ketus tuan Loenhard.


Sementara Lirasa hanya memperhatikannya saja tanpa bereaksi apa-apa. Ia ingin melihat, bagaimana cara menantunya itu menghadapi kebawelan suaminya yang ubanan itu.


"B-bukan itu maksud saya Tuan. M-maafkan saya bila salah bicara," Joe semakin serba salah, ia bingung harus menjelaskan apa, dirinya takut salah berucap lagi.


"Kalau bukan itu maksudmu, sekarang duduk disana." tunjuk tuan Loenhard pada kursi sofa dimana Joe sempat ketiduran. "Aku mau bicara," ucapnya lagi,


"B-baik Tuan," Joe menurut. Ia segera menuju sofa dan duduk disana dengan patuh. Hatinya semakin berdebar, menanti pembicaraan apa yang mereka bahas kali ini.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2