Daddy My Son

Daddy My Son
46. Bukan Siapa-Siapa


__ADS_3

Pria ubanan itu tersenyum didalam hati. Dirinya yakin, umpannya akan langsung dilahap habis oleh pria muda bodoh itu.


Untuk beberapa saat lamanya Joe masih berfikir sembari menghabiskan makanan yang masih tersisia dalam piringnya.


"Kau tidak perlu menjawabnya malam ini. Aku memberimu kesempatan untuk berfikir dulu," kata tuan Loenhard, ketika melihat Joe tidak segera menjawab ucapannya. Ia melirik sekilas pada Lirasa yang baru menyelesaikan makan malamnya.


Joe meneguk segelas air putih hingga habis, lalu merapikan peralatan makan kotor yang telah ia gunakan supaya terlihat rapi.


"Tuan, mohon maaf. Saya tidak bisa menerima tawaran Tuan itu," Joe akhirnya bersuara, tetap menjaga sikap sopan dan hormatnya pada sang ayah mertua.


"Sudah aku katakan, kau tidak perlu menjawabnya malam ini. Kau perlu memikirkannya dengan baik kalau kau benar-benar mencintai putriku. Aku tidak ingin putriku memiliki seorang suami yang biasa-biasa saja," ujarnya menelisik raut Joe yang berusaha menjaga sikapnya.


"Maaf Tuan, saya sadar siapa diri saya, saya memang bukan siapa-siapa. Dan saya cukup tahu diri akan hal ini," ungkapnya setenang mungkin.


"Saya juga sadar benar, tidak baik menolak penawaran yang sangat berharga dari Tuan, ayah dari wanita yang saya cintai. Tapi saya tidak bisa memaksakan diri. Karena saya tidak memiliki dasar ilmu untuk menjadi seorang direktur. Itu terlampau sulit bagi saya Tuan. Saya khawatir ketidak mampuan saya bisa mempermalukan Tuan dan keluarga. Saya akan tetap menekuni pekerjaan saya sebagai seorang pilot." ucap Joe hati-hati.


"Mungkin bagi sebagian orang, menjadi seorang pilot tidaklah sulit, semudah membalikan telapak tangan karena mereka punya banyak uang. Tapi bagi saya, menjadi seorang pilot adalah anugerah yang besar. Dan saya harus menghargainya. Untuk meraihnya, saya harus melakukan pekerjaan tidak biasa sebagai seorang laki-laki."


"Tapi saya sudah bertekad bulat meninggalkan semua yang sudah lalu itu, dan pokus pada pekerjaan dan masa depan saya bersama keluarga kecil saya Tuan," ucap Joe mantap.


"Pekerjaan tidak biasa bagaimana yang kau maksud itu?" tanya tuan Loenhard menangkap sesuatu yang terkesan ganjil baginya.


"Sekali lagi mohon maafkan saya Tuan. Saya tidak sanggup untuk membukanya secara langsung pada Tuan, karena itu sangat memalukan. Saya saja sudah berusaha sangat keras melupakan hal-hal yang menurut saya sangat memalukan itu," Joe memberanikan diri melirik ke arah ayah mertuanya yang terus menatapnya penuh selidik, sedangkan ibu mertuanya sedari tadi hanya menyimak setiap penuturannya tanpa ekspresi apapun.


"Mungkinkah anak muda ini seorang maling, perampok, atau penipu," batin tuan Loenhard memikirkan kemungkinan pekerjaan yang memalukan yang dimaksud Joe.


"Dengan penolakanmu, itu artinya kau siap kehilangan Virranda? Karena suami Virranda harus lah seorang pemilik perusahaan." ucap Loenhard kemudian masih dengan nada datarnya.

__ADS_1


Joe menelan salivanya hingga jakunnya terlihat naik turun. Dirinya sudah menduga kalau penawaran sang ayah mertua tidak tulus padanya, hanya modus, mencari alasan saja supaya bisa memisahkan Virranda dari dirinya.


Menurutnya, bila ia menerima, hasilnya pun akan sama, sang ayah mertuanya itu pasti tetap akan mencari kesalahan untuk menjatuhkannya. Tujuannya hanya satu, untuk memisahkan dirinya dan Virranda.


"Saya tidak siap Tuan," sahut Joe dalam nada tenangnya.


"Saya memang tidak bisa menunjukan rasa cinta dengan gaya yang fantastis seperti orang-orang kaya pada umumnya, dengan semua kekayaan yang mereka miliki,"


"Saya hanya bisa menunjukan rasa cinta saya dengan cara saya yang sederhana Tuan. Tapi cinta saya untuk putri kesayangan Tuan sangatlah istimewa dan luar biasa," ucap Joe seadanya.


Tuan Loenhard seketka terkekeh, sesuatu yang tidak biasa ia lakukan sebagai pria kaya yang selalu menjaga sikap kewibawaannya.


"Naif sekali, telan saja cara konyolmu anak muda. Akal sehatku saja sebagai ayah putri kesayanganku, sama sekali tidak bisa menerima caramu yang sederhana itu. Kau memang tidak pantas, dan tidak layak," ucapnya meremehkan.


"Lupakan putriku mulai malam ini," putusnya dengan sorot tajamnya sembari menghentikan kekehannya.


"Cukup Mami, jangan membelanya. Ini semua juga karena Mami yang mau saja menerima laki-laki miskin ini begitu mudah, sehingga dia tidak mau berusaha keras seperti diriku membangun usaha. Hanya betah menjadi pegawai. Aku tidak mau punya menantu hanya seorang pegawai. Aku mau punya menantu pengusaha, Ferdinand misalnya." ucapnya terang-terangan.


"Cukup kau sudah merusak putri kesayanganku," ucapnya beralih pada Joe. "Dengan menyetor benih menjijikanmu lebih dulu supaya bisa dengan mudah mendapatkan putriku karena telah hamil anak nakalmu itu," ucapnya ketus dengan penuh emosi.


"Cukup Papi! Papi keterlaluan!" tanpa sadar, Lirasa menaikan nada suaranya, membuat para tamu undangan menatap kearah mereka bertiga dengan raut penuh tanya.


Joe hanya bisa memejamkan matanya, menahan dan menelan rasa sakitnya sendiri.


...🍓🍓🍓...


Setelah membersihkan dirinya dikamar mandi sepulang acara pesta ulang tahun perusahaan tempatnya berkerja, Joe meraih ponselnya yang tertinggal dikamarnya. Ia melihat panggilan tidak terjawab belasan kali dari Virranda.

__ADS_1


Kesibukannya bersama semua pegawai membuatnya melupakan ponselnya diatas meja kamarnya saat buru-buru ke acara pesta perusahaan.


Ia melirik jam disudut ponselnya, itu artinya di Indonesia sekarang sudah menunjukan pukul 5 pagi, dan Virranda pasti sudah bangun fikirnya.


Perasaan Joe mulai sore kemarin memang sudah tidak enak, ditambah Virranda tidak mengangkat telpon hingga beberpa kali. Ia segera menelpon kerumah, berharap ada asisten rumah tangga yang mengangkat teleponnya.


📞"Hallo, kediaman keluarga tuan Loenhard disini," terdengar suara seorang wanita dari ujung sambungan telepon. Hati Joe bersorak, akhirnya ada yang mengangkat teleponnya.


📞"Bibi Arin, Nona Virranda sudah bangun? Tadi beberapa kali saya telepon tidak diangkat," tanyanya buru-buru, langsung pada tujuannya.


📞"Nona Virranda sakit tuan," sahut wanita paruh baya itu. Walau sudah berkali-kali Joe melarangnya memanggilnya secara demikian, namun bibi Arin tetap melakukannya, karena Joe adalah suami anak majikannya.


📞"Sakit apa Bi?" tanya Joe cemas.


📞"Kata dokter keluarga yang memeriksa, Nona Virranda demam karena kelelahan, Nona juga tidak mau makan Tuan," jelasnya.


📞"Sejak kapan Bi?" tanya Joe semakin cemas.


📞"Sebelum sore Nona sudah pulang dari kantor, Bibi lihat wajah Nona sembab, seperti habis menangis Tuan. Nona hanya mengurung diri dikamar, hanya Bibi sesekali menjengungknya untuk mengantarkan makanan atau menanyakan keperluan Nona, karena Nona tidak mau ditemani,"" jelas bi Arin lagi.


📞"Verrel bagaimana Bi?" tanya Joe mengingat anak sambungnya itu.


📞"Den Verrel sehat tuan, kemarin Nona meminta saya ditemani supir untuk menjemputnya pulang dari sekolah," sahut bibi Arin lagi.


"📞"Titip nona Virranda dan Verrel ya Bi, besok saya sudah ada di Indonesia. Kalau Nona masih sakit, tolong katakan pesan dari saya untuk istirahat saja, jangan kekantor dulu hari ini."


📞"Baik tuan." sahut bibi Arin patuh.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2