Daddy My Son

Daddy My Son
77. Merasa Istimewa


__ADS_3

Joe mengerjapkan matanya berkali-kali, rasa kantuk masih menderanya, namun ia harus bangkit karena panggilan alamnya harus ia tunaikan setiap menjelang pagi.


Dengan hati-hati Joe meletakan kepala Virranda diatas bantal. Lengannya yang dijadikan bantal oleh isterinya itu terasa kesemutan karena tertekan sepanjang malam.


Joe beringsut perlahan, ia menyibak selimut lalu turun, meraih handuknya yang teronggok dilantai dan menutupi kepolosan tubuhnya lalu masuk ke kamar mandi.


Setelah dua puluh menit berlalu, Joe telah menyelesaikan panggilan alamnya dan juga ritual mandinya. Ia melirik Virranda yang masih pulas dalam tidurnya.


Setelah melihat jam dinding yang menunjukan pukul 04:45 pagi, Joe meraih ponselnya, dirinya penasaran kenapa pesanan pakaiannya belum juga datang hingga pagi hari, karena tidak mungkin ia kembali mengenakan pakaian kotornya setelah pulang dari rumah.sakit menjemput ayah mertuanya.


📞"Hallo, selamat pagi, kediaman keluarga Loenhard, ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara bibi Arin diujung sambungan telepon.


📞"Pagi juga bi Arin," sahut Joe ramah.


📞"Oh, tuan Joe. Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya bi Arin lagi, begitu mengenal suara orang yang menelponnya.


📞"Bi, apa semalam kurir ada mengantar pesanan pakaian saya?" tanya Joe.


📞Ada.Tuan, semalan sudah saya berikan pada nona Virranda Tuan. Apa nona belum memberikannya pada Tuan?" bibi Arin sedikit ragu mengajukan pertanyaannya, namun pertanyaannya itu tetap lolos dari bibirnya.


📞"Oh, begitu. Belum Bi, mungkin Nona lupa. Baiklah Bi terima kasih," ucap Joe tidak memperpanjang ucapannya.


📞"Iya, sama-sama Tuan," sahut bibi Arin.


Joe melirik Virranda yang masih terlelap, lalu beralih pada lemari pakaian dimana dirinya melihat isterinya itu ada disana ketika ia keluar dari kamar mandi semalam.


"Apa kau sengaja menyimpan pakaianku, Sayang?" gumam Joe menduga. Ia tersenyum sendiri memikirkan tingkah isterinya itu bila itu benar seperti yang ia pikirkan. Namun tidak ada niatan dihatinya untuk mengambilnya sebelum isterinya sendiri yang memberikannya.


Joe meletakan ponselnya diatas meja rias Virranda, lalu mengambil hairdryer untuk mengeringkan rambutnya yang setengah basah.


Virranda mengerjapkan matanya beberapa kali, ia terbangun mendengar bunyi hairdryer yang digunakan Joe.


"Joe, kau sudah bangun?" tanya Virranda dengan suara seraknya, khas suara orang baru bangun tidur.


"Heum, sudah Sayang," sahut Joe sembari merapikan hair dryer yang baru selesai ia gunakan untuk mengeringkan rambut setengah basahnya, lalu menyimpannya kembali pada tempatnya.

__ADS_1


Virranda mengulas senyum memandang suaminya yang terlihat semakin tampan saja dengan rambut rapinya pagi ini. "Kemarilah Misuaku, naiklah kemari, aku masih belum puas memelukmu semalam," ujar Virranda dengan suara dibuat manja.


"Kenapa?" tanya Virranda lagi, begitu di lihatnya Joe belum juga beranjak naik ke ranjang menghampirinya.


"Ini," tunjuk Joe pada handuk yang masih menutupi bagian bawah pinggangnya.


"Kenapa memangnya dengan handukmu itu Misuaku?" tanya Virranda mengangkat kedua alisnya.


"Aku belum pake cel*na da*am," ucap Joe jujur, dengan suaranya hampir berbisik, seolah takut ada orang lain yang mendengar perkataannya. Berharap, Virranda akan segera mengambil pakaiannya dan memberikannya padanya.


Virranda kembali tersenyum. Detik selanjutnya, ia menyibak selimutnya begitu saja, lalu turun dari ranjangnya dengan tubuh polosnya.


"Astaga!" pekik Joe dalam hati, jakunnya naik turun memandang pemandangan dihadapannya. Ditambah Virranda langsung memeluknya dari samping dan menelusupkan salah satu tangannya pada belahan handuk dan berpegangan erat pada juniornya, membuat Joe seketika harus menahan nafasnya dengan mata yang mendelik.


"Kenapa sudah tegak seperti itu?" gumam Virranda setengah berbisik.


"Entahlah Sayang, setiap menjelang pagi memang seperti itu," gumam Joe ikut berbisik, gelenyar-gelenyar aneh mulai merambat pada seluruh saraf ditubuhnya.


"S-sayang, apa ini dirimu?" bisik Joe pada Virranda. Wanita itu sengaja menarik-narik bulu-bulu tipis, halus, dan lurus pada dada bidang Joe yang berkulit khas asia, seolah akan mencabutnya satu persatu dari sana.


"Heummm," sahut Joe bergumam. "Dulu, hanya meminta satu ciuman saja dipipimu ini, terlalu sulit," Joe menyentuh lembut pipi kiri Virrada sembari menyingkirkan anak-anak rambut dari wajah yang merona itu, mengingat pengalamannya bersama Virranda waktu itu, saat mereka akan terbang meninggalkan Indonesia.


"Itu dulu Misuaku," Virranda mulai menekan tenguk Joe hingga wajah mereka tidak menyisakan jarak lagi, pucuk hidung keduanya saling bertemu satu sama lain.


"Kau sudah membuatku jatuh cinta padamu Joe, dan aku tidak bisa berhenti memikirkanmu," ucap Virranda dengan nafasnya yang turut memburu seperti Joe. Sementara satu tangan lainnya turun ke bawah, mencari simpul pertahanan handuk Joe.


"Ternyata, bercinta denganmu bisa membuatku lupa diri." tangan Virranda langsung menarik paksa, begitu menemukan simpul pertahanan handuk Joe, hingga tubuh suaminya itu sama polosnya dengan dirinya. Tidak sampai disitu saja, Virranda sengaja membawa Joe jatuh bersamanya keatas ranjang mereka.


"Sayang, kita baru saja melakukannya semalam, nanti kau akan merasa tidak nyaman dengan apa yang kita lakukan." Joe menatap sepasang mata Virranda yang sudah berkabut sama seperti dirinya. Tentu saja sebagai suami, Joe tetap merasa khawatir bila kegiatan mereka yang berlebihan akan membuat isterinya itu sakit pada bagian intinya.


"Aku percaya kau akan memperlakukanku dengan baik, Misuaku," setelah berkata demikian Viranda kembali menekan tengkuk suaminya.


Kedua b*bir mereka kini sudah saling bertemu.Virranda menyesap lembut b*bir Joe, menyalurkan hasrat yang ada dalam khayalannya.


Sesa*an-sesa*an lembut Viirranda berubah menjadi gigitan-gigitan halus pada b*bir dan lid*h Joe, seakan menghantarkan gelenyar-gelenyar asmaranya untuk berpadu satu dengan has*at kelelakian Joe yang sedari tadi sudah memanas dan menggelora.

__ADS_1


Tangan Joe meraba,. Menurun, untuk menemukan benda kenyal yang bisa menjadi tumpuannya untuk berpegangan dari has*atnya yang semakin menggebu.


"Oh, Joesshh" desis Virranda terlontar, manakala merasakan tapak tangan besar Joe merangkum dan me*e*as dengan lembut satu benda ken*al miliknya.


Begitu tautan mereka terlepas, Joe dengan sigap menurunkan wajahnya, tidak rela membiarkan satu bukit ranumnya dianggurin begitu saja.


"Mmfffhh!" pekikan tertahan Virranda terdengar, manakala Joe mulai menyesap dan memberikan gigitan-gigitan halus pada kukis kesukaannya yang sudah mengeras.


Jari-jemari Virranda mulai mengacak kasar rambut rapi Joe mengekspresikan segala rasa yang membuatnya semakin terlena atas sentuhan-sentuhan nakal Joe yang menohok naluri kewanitaanya, hingga tak sadar ia menekan kepala Joe membenamkannya diantara lembah gunung berpuncak kukis kembarnya itu.


Tok! Tok! Tok!


"Daddy! Mommy! Bangun!" teriak Verrel dari luar. Kali ini Lirasa yang mengejar cucunya itu, karena suaminya tengah sakit kepala akibat ulah Verrel yang sebentar-sebentar membangunkannya sepanjang malam dengan pertanyaan yang tidak ada habisnya.


Joe mendongak, namun Virranda kembali memeluknya erat. Mulai malam hingga pagi itu, Virranda seakan egois, tidak mau berbagi barang sedetikpun dengan putranya, ia hanya ingin memiliki Joe seorang diri, apalagi di waktu-waktu mepet seperti ini, sebelum Joe pergi ke London dan meninggalkannya untuk beberapa waktu lamanya.


Memahami kehendak isterinya, Joe melanjutkan aksinya lebih gencar lagi. Sentuhan-sentuhan lembut dan nakalnya kini terasa lebih liar.


Virranda perlahan merenggangkan tubuh bagian bawahnya, saat merasakan Joe sudah memposisikan dirinya.


"Awgh!" pekikan tertahan itu terdengar lirih, saat penyatuan mereka kembali terjadi.


Pelukan erat Virranda membuat Joe harus menghentikan gerakannya sesaat, membantu isterinya itu menetral rasa perih dan keterkejutannya pada pertemuan mereka didalam sana.


"Virrandahhssss!"


Hampir saja tawa Virranda meledak. Untuk pertama kalinya ia mendengar Joe menyebut namanya sambil mendesis tidak jelas. Dengan sekuat kemampuannya, Virranda berusaha menahan rasa gelinya. Bukannya Joe tidak tahu, namun ia pura-pura saja tidak melihatnya, bahkan kelakuan isterinya itu membuatnya lebih bersemangat melanjutkan aksi berikutnya.


"Apa kau ingin mentertawai suara sumbang suamimu, heum? Lakukan saja," ucap Joe yang mulai menggerakkan pinggulnya pelan. Virranda tidak sanggup berucap, rasa penuh, sesak, dan gesekan-gesakan nik*at itu membuat ia melupakan rasa geli yang sempat membuatnya ingin tertawa beberapa detik sebelumnya.


Lengu*an dan desisan Virranda kembali mewarnai pagi yang sudah nampak terang diluar rumah, hingga akhirnya mereka sama-aama terkapar tidak berdaya pada posisinya masing-masing.


"Sayang, terima kasih untuk balasan cintamu," Joe menarik tubuh lemas Virranda masuk dalam pelukannya sembari mengecup lembut pucuk rambut istrinya itu penuh cinta.


"Aku juga Joe. Cintamu membuatku merasa jadi wanita yang istimewa," Virranda ikut mendekap erat.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2