
Virranda membeku, menatap wajah Joe di atasnya yang begitu dekat dengan wajahnya. Debaran-debaran didadanya semakin terasa mendebarkan. Hal itu telah ia rasakan saat dirinya memasuki kamar pribadinya bersama Joe.
Semua sikap dan tingkah beraninya yang ia lakukan sebelumnya, hanya sebagai kamuflase demi meredakan debaran-debaran di dadanya yang baru kali ini ia rasakan.
Sepasang mata Virranda spontan terpejam, tatkala b*bir Joe mendarat pada belahan ranum b*birnya. Terasa basah, manis dan begitu menghangatkan, ditambah sikap Joe yang memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian, membuai angan hingga membuatnya mulai terlena.
"Joe...." gumam Virranda, tatapannya sayu dan mulai berkabut, saat suaminya itu melepaskan tautan b*bir mereka. Dirinya tidak bisa membayangkan bila bagian tubuhnya yang lain disentuh oleh Joe, ini saja sudah membuatnya hampir hilang kewarasannya.
"Kau tidak takut sayang?" bisik Joe pelan, menelisik wajah Virranda yang setengah memejamkan matanya. Bukan tanpa alasan dirinya bertanya demikian, mengingat masa lalu Virranda yang bisa membuat isterinya itu trauma.
"Tidak," sahut Virranda sembari menggeleng pelan. Sepasang tangannya terangkat ke udara lalu memeluk leher Joe dan menariknya hingga tautan mereka kembali terjadi.
VIirranda mulai mengikuti nalurinya. Walau ini kali pertama ia melakukannya dengan kesadaran penuh, Virranda tidak merasa canggung, ia mulai membalas pagu*an demi pagu*an lembut Joe yang seakan menjadi mentornya.
Joe yang merasakan apa yang dilakukannya berbalas, mulai menelusupkan jarinya pada piyama Virranda yang tersingkap.
"Joe..." lenguh Virranda, saat merasakan rabaan lembut jari Joe naik ke puncak bukitnya yang bersembunyi dalam pembungkus ketatnya, mengulir dan mulai me*e*as.
Tangan Joe lainnya melepas tali simpul piyama Virranda yang bersembunyi dibalik pinggangnya, hingga kain berbahan halus itu melorot, menampilkan kulit mulus menggoda yang membuat jakun Joe berlomba naik turun.
Tok! Tok! Tok!
"Daddy! Mommy! Verrel mau masuk!" teriak Verrel dari luar.
Seketika aksi Joe terhenti. Ia menatap Viranda, begitu pula sebaliknya. Keduanya sama-aama menoleh kearah pintu kamar yang tengah diketuk dari luar.
"Itu Verrel, Sayang?" gumam Joe setengah berbisik.
Virranda buru-buru menahan Joe yang akan beranjak dari posisinya, tidak rela apa yang sedang sibuk mereka kerjakan berhenti begitu saja oleh gangguan ringan diluar.
Bukannya tidak perduli pada putranya, Virranda yakin, pasti akan ada seseorang yang menghampiri putranya dan membawanya pergi. Benar saja, tidak lama berselang terdengar suara seseorang berbicara pada putranya.
__ADS_1
Virranda dan Joe sama-sama tersenyum saat mengetahui bila itu adalah suara ayah Virranda yang menghampiri putra mereka Verrel yang berdiri di depan pintu kamar mereka.
Sementara itu, diluar sana.
"Verrel, apa yang kau lakukan disini?" tanya tuan Loenhard yang berniat ke ruang kerjanya mengambil beberapa berkas yang ingin ia berikan pada Viranda besok saat putrinya itu kekantor.
"Verrel tiba-tiba terbangun kakek Uban. Verrel mau tidur sama Daddy dan Mommy. Besok Daddy pulang lagi ke London, pasti lama baru akan kembali," ucap bocah itu sambil mengucek-ucek kedua matanya yang masih mengantuk.
Mendengar perkataan Verrel, hati tuan Loenhard merasa iba, bocah sekecil itu memang masih sangat membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya yang harusnya tinggal bersama dalam satu atap dengannya, bukan seperti yang tengah di jalani putri dan menantunya.
Tuan Loenhard berjongkok, menyamakan dirinya dengan tinggi badan sang cucu. "Verrel ikut kakek Uban saja ya, kita tidur bertiga dengan nenek. Bagaimana? Kan--, selama disini, Verrel belum pernah menemani kakek dan nenek," ucapnya membujuk.
"Tapi Kakek, Verrel maunya tidur sama Daddy dan Mommy," rengek bocah itu kembai mengetuk-ngetuk pintu kamar ibunya.
"Stop! Stop! Kalau Verrel masih mengetuk pintu, Verrel bakalan tidak punya adik!" ucap tuan Loenhard yang kehabisan kata-kata untuk membujuk.
"Adik?" Verrel menatap kakek ubannya, memastikan bila ia tidak salah dengar.
"Mau!" sahut Verrel bersemangat. Ia seketika teringat beberapa teman sekolahnya, memiliki adik bayi yang gembul dan suka tertawa saat diajak bermain. Ia sering mendatangi beberapa bayi yang diajak ibunya menjemput teman sekolahnya.
"Apa adik bayi besok sudah boleh Verrel gendong Kek?" tanya Verrel tidak sabar. Kantuknya menguap begitu saja, karena pembahasan tentang adik bayi begitu menyita perhatiannya.
"Belum bisa Verrel, pembuatan adik bayi perlu proses yang panjang. Daddy dan Momny harus sering tidur bersama. Ayo, ikut kakek sekarang, kita ngobrolnya dikamar saja, ceritanya panjang sekali," ucap tuan Loenhard yang mulai bingung memberi penjelasan pada cucunya yang banyak tanya itu.
Berharap, Lirasa akan membantunya memberi penjelasan pada bocah itu saat mereka sudah berada dikamar nanti.
Verrel mengangguk setuju, sebelum pergi ia menoleh kearah pintu kamar ibunya, ia tersenyum-senyum sendiri membayangkan bila sebentar lagi adik bayinya akan merangkak keluar dari dalam kamar ibunya.
...🍓🍓🍓...
"Joeehhss..." lenguhan panjang Virranda kembali terdengar seksi, saat jari Joe menelusup dalam pembungkus segitiga bermuda-nya, dan mulai memberikan sentuhan-sentuhan lembutnya disana.
__ADS_1
Sementara diatas sana, lid*h Joe sedang memilin dan mengul*m pucuk-pucuk kukis yang sudah semakin mengeras, menandakan hasrat dalam dada sang dewi-nya sedang bergejolak menggelora.
Dalam panasnya ga*rahnya, Virranda sadar bila hanya suaranya saja yang menggema memenuhi kamar itu, sementara Joe --, pria itu tidak mengeluarkan suaranya sama sekali, persis seperti seorang pemeran pantomim.
Karena penasaran, Virranda segera merangkul erat tubuh suaminya itu dan membawanya berguling-guling kesana kemari untuk beberapa saat hingga tubuhnya berada tepat diatas Joe, barulah ia menghentikan kegiatan guling mengguling itu.
Virranda mengangkat wajahnya, keduanya saling memberi tatapan penuh ga*rah.
"Aghs" Joe menge*ang tertahan saat tangan Virranda tanpa permisi mengulur ke bawah sana tanpa sepengetahuannya.
"To-to-long," gumam Joe tertahan lagi, merasakan genggaman Virranda menekan dan memijat.
"Tolong apa?" tanya Virranda menatap wajah suaminya, sementara fokusnya ada pada benda dalam genggamannya, merasakan ukuran yang kini mengembang secara ajaib, juga tegang berotot, membuat dirinya mendadak panas dingin membayangkan bentuk benda yang sedang dipegangnya itu.
Joe tidak menjawab, untuk beberapa detik beralu, tubuhnya sibuk menggeliat-geliat, menahan sejuta rasa yang tidak mampu ia uraikan pada sang isteri yang terus melakukan aksinya.
"Hufhhs" Joe yang sudah tidak tahan menahan gejolak yang dirasakannya, dengan sigap berhasil mengubah posisinya, kembali mengungkung tubuh se*si isterinya.
Joe kembali melancarkan aksinya, menimbulkan le**uhan-le**an se*si Virranda yang kembali menggema memenuhi kamar mereka.
Kaki Virranda yang perlahan meren**ang memberi isyarat pada Joe melakukan tahapan lebih lanjut. Suara pekikan tertahan dari mulut Virranda membuat Joe mènghentikan sejenak aksinya, saat penyatuan mereka terjadi.
Virranda memeluk erat tubuh Joe, berharap perih itu segera sirna. Lu*a*an b*bir Joe yang lembut kembali membuat Virranda terbuai.
Rasa perih itu sudah berangsur sirna saat Joe kembali mengayun lembut miliknya. Untuk beberapa saat lamanya mereka saling terbuai satu sama lain, menikmati berbagai rasa yang memberikan kenikmatan yang mereka ciftakan.
Kini, bukan Virranda saja yang menyanyikan lagu cintanya, tapi juga Joe. Duet maut keduanya membuat riuh suasana kamar malam itu. Entahlah, apakah diluar sana ada orang yang mendengarkan nyanyian mereka atau tidak.
Untuk sesaat mereka melupakan apapun yang ada disekitarnya, hanya ada mereka berdua, yang sedang mabuk dalam dendang asmaranya.
Bersambung...👉
__ADS_1