
Virranda sudah lama berganti pakaian, mengenakan piyama tipis dan kurang bahannya untuk menarik perhatian Joe suaminya, setelah membersihkan dirinya dikamar mandi hampir satu jam yang lalu.
Dan selama itu pula, Joe yang masuk kekamar mandi setelah dirinya, belum kunjung keluar dari sana menampakan batang hidungnya, membuat Virranda merasa khawatir.
Tok! Tok Tok!
"Joe! Apakah kau baik-baik saja didalam sana?" tanya Virranda sembari mengetuk pintu kamar mandi dan menempelkan daun telinganya pada pintu, karena dirinya sudah tidak mendengar gemericik shower dari dalan sana, hanya keheningan saja yang ada.
"Aku, aku baik-baik saja!" terdengar teriakan suara Joe dari dalam sana. Mendengarnya, Virranda mengambil nafas lega sembari tersenyum sendiri.
"Jangan lama-lama Joe! Nanti kau kedinginan bila kelamaan didalam sana!" Virranda kembali berteriak, supaya ucapannya terdengar oleh Joe.
"Iya sayang!" sahut Joe lagi.
Virranda kembali tersenyum, ia tidak sabar menunggu Joe keluar dari dalam kamar mandi. Penasaran, seglowing apa sih suaminya itu keluar nanti. Dirinya saja tidak menghabiskan waktu selama suaminya itu saat ada dikamar mandi, batinnya.
Tok! Tok! Tok!
Virranda berbalik dari kamar mandi, ia berjalan menuju pintu kamarnya yang tengah diketuk dari luar.
Ceklek.
"Selamat malam Nona," sapa bibi Arin yang tengah berdiri didepan pintu. Ia menundukan sedikit wajahnya seperti yang biasa ia lakukan bila berhadapan dengan para majikannya. Namun ia sempat melirik sang Nona-nya yang terlihat sangat seksi malam itu tidak seperti biasanya.
"Selamat malam juga Bi, apa itu piyama pesanan Joe?" tunjuk Virranda pada tentengan yang sedang dibawa oleh bibi Arin pada tangan kanannya.
"Iya Nona. Ini," bibi Arin lalu menyerahkan tentengan paper bag ditangannya.
__ADS_1
"Terima kasih Bi," ucap Virranda sambil tersenyum dan menerima tentengan yang diberikan padanya.
"Verrel sudah tidur Bi?" tanya Virranda lagi, sebelum dirinya menutup pintu.
"Sudah Nona. Apakah masih ada yang Nona perlukan?" tanya bibi Arin sebelum meninggalkan sang nona majikan.
"Untuk sementara cukup dulu. Terima kasih banyak ya Bi."
"Iya, sama-sama Nona. Saya pamit dulu." setelah mendapat anggukan dari Virranda, bibi Arin segera beranjak dari sana.
Virranda memeriksa isi paper bag yang diberikan oleh bibi Arin, ia tersenyum sendiri memikirkan ide jahil yang muncul dikepalanya. Dengan buru-buru, Virranda menutup dan mengunci pintu kamarnya lalu cepat berlari menuju lemari pakaiannya dan menyembunyikan paper bag itu disela-sela gantungan gaun-gaunnya supaya tidak terlihat.
Sementara itu, didalam kamar mandi Virranda, Joe yang nervous merendamkan dirinya dalam bak mandi, setelah mengguyur dirinya dibawah shower. Tentu saja ia sudah mulai kedinginan setelah hampir satu jam disana, semua daki-daki-nya juga sudah luntur dari tubuhnya. Air yang semula hangat juga sudah semakin dingin.
Panggilan Virranda dari luar kamar mandi membuat nervous- nya semakin menjadi-jadi, debaran jantungnya juga semakin berpacu kencang, tapi rasa dingin pada kulitnya memaksa Joe untuk segera bangkit dari sana.
Ceklek.
Pandangan Joe tertuju pada Virranda yang tengah melakukan sesuatu didepan lemari pakaian, entah apa yang tengah dilakukan isterinya itu sampai-sampai kaget ketika melihat dirinya keluar dari kamar mandi.
"Kau sudah selesai Misua-ku," Virranda buru-buru menutup pintu lemari pakaiannya lalu menguncinya.
"Heum," sahut Joe memandang kearah Virranda yang datang mendekat, hatinya semakin berdebar-debar saat Virranda tanpa permisi mengendus-endus dada bidangnya yang berbulu tipis, halus, dan lurus.
Ini bukanlah pengalaman yang pertama untuk Joe, entah sudah berapa kali ia sudah meniduri para wanita-wanita kesepian itu dengan imbalan bayaran.
Namun kali ini, Joe merasakan ada hal yang berbeda di hatinya. Ada rasa canggung, malu, bahagia, takut, dan banyak lagi perasaan lainnya yang campur aduk. Ia takut bila tidak sesuai ekspektasi sang isteri padanya.
__ADS_1
"Tadi, aku mendengar ada yang mengetuk pintu. Apa itu bibi Arin yang membawakan pakaianku?" tanya Joe berusaha menetralkan rasa yang ada didadanya.
"Iya, tadi bibi Arin yang datang. Dia hanya mengabarkan kalau Verrel sudah tidur. Itu saja," sahut Virranda menengadah kewajah Joe yang berpostur tubuh lebih tinggi darinya.
"Oh. Tidak biasanya kurir lambat mengantar pesanan," gumam Joe tanpa curiga.
Virranda tidak menjawab, ia bahkan tertawa didalam hati melihat wajah Joe yang terus menatap kepintu kamar seolah masih menanti ada yang datang membawakan pakaian pesanannya.
"Kenapa?" Joe menatap Virranda yang tengah menempelkan daun telinganya pada dada bidangnya.
"Aku sedang menghitung bunyi detak jantungmu Misuaku," sahut Virranda, sementara telinganya masih terus menempal pada dada Joe.
"Apa, kau....bisa menghitungnya?" tanya Joe pelan. Kulit Virranda yang bersentuhan dengan tubuh bagian atasnya yang telan*ang saja sudah membuat dirinya hampir jatuh terkapar dibuat isterinya itu.
"Tidak." sahut Virranda, masih pada posisi menempelkan telinganya. "Detak jantungmu seperti orang yang baru saja selesai berlari kilo-an meter. Apa kau sedang nervous?" tanya Virranda menatap Joe yang terlihat tegang.
"Sejujurnya iya," ucap Joe nyengir, membuat Virranda sedikit tergelak. Tanpa sengaja tangan Virranda terlanggar pertahanan simpul handuk Joe hingga terlepas dan melorot kebawah.
Joe buru-buru berjongkok untuk meraih handuknya sebelum benar-benar teronggok dilantai, ia merasa belum siap asetnya dilihat oleh Virranda. Namun, Virranda yang keburu melihatnya merasa penasaran, lalu menyentuh dan menggenggam benda yang bergelantungan itu.
"Sayang, itu bahaya!" ucap Joe setengah memekik untuk memperingatkan. Seketika ia merasakan gelenyar-gelenyar yang mulai menjalar disekujur tubuhnya akibat sentuhan tangan Virranda.disana.
"Sebahaya apa sosis Daging Domba itu?" tanya Virranda asal, ini kali pertama ia melihat langsung aset pria dewasa dan menyentuhnya, tapi tidak membuatnya takut.
Virranda memang pernah ditiduri oleh Ferdinand hingga hamil putranya Verrel, namun pengaruh obat tidur yang memiliki dosis yang cukup tinggi membuatnya tidak tersadar. Dirinya hanya bisa menggeliat-geliat merasakan sakit sembari melabuhkan cakarannya dipunggung Ferdinand ketika itu.
"Baiklah," Joe seketika meraih tubuh Virranda masuk dalam gendongannya dan membawanya kepembaringan, "Akan aku tunjukan sebahaya apa sosis Daging Domba-ku," ungkap Joe menatap wajah Virranda yang sudah ada dibawah kungkungannya.
__ADS_1
Bersambung...👉