
"Bukankah itu mobil tuan Ferdinand yang menyusul mobil Virranda?" ucap Lirasa memandang belakang mobil Ferdinand yang baru keluar dari gerbang kokoh rumah mereka.
"Iya Mi, kau benar." tuan Loenhard turut memperhatikan mobil Ferdinand yang semakin menjauh, dan menghilang dibelokan jalan bersama mobil putrinya.
"Jadi bagaimana tuan? Apa kita perlu menyusul mereka?" tanya sang sopir yang turut melihatnya.
"Jangan, jangan. Mungkin mereka ingin keluar bersama dan tidak ingin diganggu." duga pria ubanan itu. "Langsung masuk saja Pak, saya sangat lelah karena perjalanan yang melelahkan hari ini," ucapnya pada sang sopir.
"Baik Tuan," sang sopir lalu membelokan kemudinya dan masuk ke pagar kokoh yang masih terbuka didepan mobil mereka.
"Papi senang sekali Mi, ternyata sepeninggal kita ke London, Virranda dan tuan Ferdinand bisa semakin dekat. Papi sudah tidak sabar melihat mereka berdua bersatu," sambung tuan Loenhard dengan senyum bahagia mengembang diwajahnya.
"Sadar Pi, itu tidak mungkin terjadi. Virranda sudah bersuami." Lirasa bergumam kesal.
"Siapa bilang tidak mungkin. Suami tidak berguna Virranda itu akan aku buang bersama anak nakalnya itu. Merekalah yang menjadi penghalang bersatunya Virranda dengan tuan Ferdinand." ucap tuan Loenhard gusar.
Sang sopir.yang telah memarkirkan mobil dihalaman depan rumah besar itu, pelan-pelan mengundurkan diri, meninggalkan kedua majikannya yang sepertinya akan terus melanjutkan perdebatan sengit mereka didalam mobil.
"Mami tahu kan? Penyebab Virranda menolak perjodohan dirinya dengan tuan Ferdinand enam tahun silam karena ia telah hamil anak laki-laki sialan itu?" ungkitnya geram.
"Jadi, kali ini, Papi tidak mau ambil resiko lagi. Secepatnya, Papi akan ceraikan mereka, supaya Virranda bisa menikah dengan tuan Ferdinand," putusnya.
"Papi salah! Verrel bukan anak Joe!" Lirasa menekan suaranya yang meninggi, dirinya sudah tidak kuat melihat suaminya yang terus menyalahkan Joe dan ingin menyingkirkan cucunya yang tidak tahu apa-apa.
"Apa maksud Mami?" wajah tuan Loenhard menegang.
"Virranda hamil diluar nikah dengan pria lain yang tidak ia kenal. Dan sampai sekarang, ia tidak tahu siapa laki-laki bajin*an itu. Itu sebabnya ia meminta Joe menikahinya untuk menyembunyikan aibnya, supaya keluarga kita tidak malu pada keluarga tuan Toshigawa," jelas Lirasa.
"Tidak mungkin. Papi tidak percaya." tuan Loenhard menggelengkan kepalanya syok. "Apa Mami sadar, ucapan Mami itu seolah-olah mengatakan kalau putri kita seperti perempuan jala*g, tidur dengan sembarang laki-laki," ucapnya salah faham.
"Papi, bukan itu maksud Mami! Putri kita memang bukan perempuan jala*g, tapi laki-laki bajin*an itulah yang telah merusak putri kita! Sehingga Verrel lahir!" ucap Lirasa berusaha menjelaskan.
"Selama ini Mami sudah berusaha mengajak Papi bicara masalah ini, tapi kondisi kesehatan Papi, juga kesibukan Papi mengurus perusahaan membuat Mami sangat sulit mencari waktu yang tepat membicarakan masalah serius ini," ucap wanita itu menggebu.
__ADS_1
"Tidak, Papi tidak bisa menerima cerita yang tidak masuk akal ini," tuan Loenhard mencengkram kepala penuh ubannya yang mendadak terasa pening. Ia membuka pintu mobil disebelahnya, lalu keluar tanpa mengajak isterinya.
"Pi, tunggu Mami Pi!" kejar Lirasa.
"Cerita Mami belum selesai Pi," ucap Lirasa terus mengejar menaiki tangga, menyusul suaminya yang tidak perduli pada teriakannya.
"Apa yang terjadi??" tuan Loenhard menghentikan langkah cepatnya, ketika melihat beranda lantai dua rumahnya berantakan.
Bibi Arin dan beberapa asisten rumah tangga lainnya yang membantunya nampak pucat dan takut. Kedua majikannya sudah tiba dirumah tapi kegiatan beres-beres mereka belum kelar pasca keributan Joe dan Ferdinand yang menimbulkan kekacauan diberanda lantai dua itu.
"I-itu Tuan," bibir bibi Arin terlihat bergetar.
"Bi Arin, kenapa bisa seberantakan ini?" Lirasa yang baru tiba juga terlihat kaget, ia maju perlahan sambil memperhatikan beberapa guci mahalnya yang tergelatak dilantai dan dan ada beberapa yang pecah pula.
"I-itu Nyonya. Tuan Joe dan tuan Ferdinand berkelahi," ucap bibi Arin terbata-bata, berdiri terpaku sembari menunduk, demikian pula beberapa asisten rumah tangga yang bersamanya, berdiri berjejer dibelakangnya dengan wajah menunduk menatap lantai.
"Joe? Bukankah dia ada di London?" gumam Lirasa bingung.
"Kenapa mereka berkelahi?" tanya tuan Loenhard masih dengan mode kagetnya, kebingungan yang sama juga masih menguasai dirinya. Bagaimana mungkin Joe bisa tiba-tiba ada di Indonesia. Apakah laki-laki itu punya ilmu menghilang, yang bisa ada dimana saja sesuka hatinya? batinnya.
"Sakit??" ucap Lirasa.dan suaminya bersamaan.
"Iya, Tuan dan Nyonya. Nona sedang sakit. Tadinya sudah mulai membaik. Tapi--," bibi Arin nampak ragu meneruskan ucapannya, takut salah bicara.
"Tapi apa Bi? Katakan!" desak Lirasa.
"Nona tidak terima mendengar ucapan Tuan Ferdinand yang mengatakan--," bibi Arin kembali ragu mengatakan kelanjutan kalimatnya.
"Mengatakan apa Bi? Cepat katakan, jangan ada yang disembunyikan!" desak Lirasa.lagi semakin tidak sabar dan terlihat gemas pada asisten rumah tangganya itu.
"Tuan Ferdinand mengatakan, kalau den Verrel, adalah anaknya Nyonya," ungkap bibi Arin tersendat-sendat. Begitu kentara bila ia sangat takut mengatakannya, karena ini adalah hal yang terlalu pribadi dan sensitif.
"Apa?!" raut tak percaya sama-sama ditunjukan kedua suami isteri itu sembari menatap satu sama lain dengan mulut sedikit terbuka.
__ADS_1
"Tuan Ferdinand bilang begitu?" ucap Lirasa lagi dengan raut yang menunjukan ketidak percayaannya pada apa yang ia dengar. Kakinya mendadak tidak bisa menahan tubuhnya yang mendadak serasa lemas.
"Mi-Mi! Mami tidak apa-apa kan?" tuan Loenhard segera menyergap tubuh isterinya supaya tidak melorot kelantai.
"Bi! Cepat tolong bawa Nyonya ke kamar!" titahnya pada para asisten rumah tangganya yang terlihat ikut panik.
"I-iya Tuan," mereka beramai-ramai membantu memapah Lirasa masuk kekamar dan membaringkannya diatas tempat tidur.
"Cepat! Ambil air untuk Nyonya!"titah tuan Loenhard yang masih panik.
Seorang asisten rumah tangga buru-buru mengisi air putih kedalam gelas yang ada diatas nakas lalu membawanya pada sang majikan.
"Ayo, minum dulu Mi," tuan Loenhard membantu isterinya itu untuk minum.
"Bibi Arin, tolong telepon dokter keluarga sekarang untuk memeriksa kesehatan Nyonya," titahnya lagi, setelah menyerahkan gelas yang masih bersisa setengah pada bibi Arin.
"Baik Tuan," Bibi Lirasa buru-buru beranjak diikuti para asisten rumah tangga lainnya, meninggalkan kedua majikannya yang masih belum percaya akan apa yang mereka dengar.
"Pi," lirih Lirasa menatap suaminya yang duduk disisinya.
"Iya, kenapa Mi?" tuan Loenhard menggenggam tangan isterinya yang duduk sambil menyandarkan punggunya pada headboard sama seperti dirinya.
"Apa benar? Laki-laki yang tega merusak putri kita enam tahun silam adalah tuan Ferdinand?" tanya Lirasa dengan mata berkaca-kaca. Hatinya begitu perih memikirkan bila hal yang ia dengar itu adalah benar.
"Kita tidak bisa gegabah Mi, itu juga masih katanya," ucap tuan Loenhard berusaha menenangkan isterinya. Dirinya masih tidak percaya, mengingat Ferdinand adalah pria baik dimatanya, dan merupakan menantu idamannya.
"Papi ini gimana sih! Itu bukan katanya Pi. Itu pengakuan tuan Ferfinand. Tidak mungkin bibi Arin mengarang cerita," timpal Lirasa kesal.
"Giliran Joe yang salah, Papi mati-matian menghinanya. Giliran tuan Ferdinand, Papi seolah tidak perduli. Nyata-nyata dia sudah merusak putri kita dimasa lalu!" geram Lirasa semakin kesal pada suaminya.
Pria ubanan itu terdiam mendengar kekesalan sang isteri. Ia seolah bersikap berat sebelah, tapi bukan berarti tidak perduli pada putrinya, tapi lebih bertindak hati-hati, demi menjaga hubungan baiknya dengan keluarga Toshigawa.
Lalu, mobil yang ia lihat keluar dari halaman rumahnya, apakah didalam mobil itu Joe dan Virranda? Lalu mengapa Ferdinand menguntit dibelakangnya? Dan apa yang mereka lakukan diluar sana? Apakah mungkin cerita yang ia dengar itu benar? tanyanya bingung tanpa tahu jawabannya.
__ADS_1
Bersambung...👉