Daddy My Son

Daddy My Son
50. Cinta Hanya Sama Dirimu


__ADS_3

"Tuan Ferdinand, dia mengatakan kalau dirinya adalah ayah biologis Verrel," ungkap Virranda memulai pembicaraannya, wanita itu menyandarkan punggungnya pada headboard dibelakangnya. Ada sesak di dadanya, saat mengatakan hal itu.


Joe menghentikan gerakan tangannya sesaat, dirinya sedang mengompres wajahnya yang membiru dan sedikit membengkak akibat tonjokan Ferdinand yang beberapa kali mengenai wajahnya.


"Apakah kau percaya begitu saja dengan ucapannya? Bisa saja kan dia berbohong?" Joe meletakan kain kompres ditangannya begitu saja kedalam mangkuk jumbonya lalu mendekati Virranda dan duduk ditepi tempat tidur wanita itu.


"Aku memang tidak percaya begitu saja padanya Joe. Itu sebabnya dia menantangku untuk melakukan test DNA, antara dirinya dan Verrel," sahut Virranda memandang lurus kedepan dengan tatapan menerawang.


"Kau menerima tantangannya?" tanya Joe penasaran, hatinya sudah berdebar tidak karuan. Bagaimana tidak, ucapan Virranda beberapa waktu lalu kembali terlintas dibenaknya. Apakah ini jawaban dari rasa penasarannya waktu itu? Wajah Verrel yang sangat mirip dengan tuan Ferdinand karena mereka memang memiliki hubungan darah yang sangat dekat, yakni hubungan ayah dan anak.


"Tidak. Aku tidak mau menerima tantangannya Joe," lirih Virranda lagi, suaranya terdengar sedikit parau.


"Aku terlalu takut, takut kalau apa yang dikatakan tuan Ferdinand itu benar. Aku tidak mau kalau laki-laki itu yang menjadi ayah anakku Joe. Aku tidak mau!" suara serak Virranda mendadak meninggi. Wanita itu terlihat menekan emosi yang bergejolak dalam jiwanya.


Joe memandang Virranda, ada rasa nyeri didalam dadanya ketika membayangkan bila Ferdinand adalah benar ayah biologis dari Verrel, putra sambungnya itu.


Bisa saja ancaman Ferdinand diarea parkiran perusahaan ayah mertuanya beberapa waktu lalu akan benar-benar jadi kenyataan, bila statusnya sebagai suami Virranda akan berakhir. Ditambah lagi pernyataan tuan Loenhard yang kembali menggaung dalam benaknya, bahwa ayah mertuanya itu secara terang-terangan menginginkan Ferdinand, yang notabene-nya seorang pengusaha untuk menjadi menantunya.


Bila ayah mertuanya itu tahu tentang hal ini, tentu ia akan semakin memaksa dirinya untuk melepaskan Virranda. Menikirkannya saja, membuat Joe bergidik ngeri, kebenaran yang akan terungkap mungkin saja akan mengubah segala mimpi indahnya selama ini, untuk bisa tetap hidup bersama dengan Virranda hingga akhir hayat.


"Aku punya cara sendiri untuk mengungkapkan kebenaran itu." ucap Virranda kemudian.

__ADS_1


"Cara apa yang kau maksud?" tanya Joe menatap wanita itu.


"Aku sudah meminta seseorang memeriksa sidik jari siapa yang ada di segepok uang yang diberikan pria itu saat meninggalkanku dikamar hotel kala itu," sahut Virranda.


"Segepok uang?" beo Joe mengernyitkan keningnya. Ia masih memandang Virranda dari tepi tempat tidur wanita itu.


"Iya, segepok uang," mata Virranda mulai berkaca-kaca kembali. " Sidik jari yang ada di benda itu adalah sidik jari milik tuan Ferdinand," ucapnya serak.


Joe terhenyak. Yang sangat ia takutkan ternyata itulah kenyataannya. Ingin sekali rasanya ia protes pada kenyataan yang ada, dan berteriak meluapkan rasa amarahnya, tapi pada siapa? Dan apa semuanya akan mengubah kejadian masa lalu yang sudah menjadi kisah sejarah?


"Perlakuan laki-laki itu sangat menyakiti hatiku. Ia menghargai kehormatanku begitu rendahnya,." ucapan Virranda membuat Joe mengepalkan tangannya. Sekuat tenaga, ia berusaha menguasai diri dan menenangkan emosinya. Pandangannya kembali terarah pada Virranda yang mulai terisak.


Ia tidak rela, bila wanita yang selama ini ia jaga dan cintai dengan sepenuh hati akan lepas begitu saja darinya dan menjadi milik laki-laki lain.


Tangis Virranda semakin menjadi, ia mengeratkan pelukannya pada Joe yang tengah mendekapnya. Masa lalunya yang telah ia kubur dalam-dalam, kini kembali terkuak.


Sampai kini ia masih belum mengerti. Kenapa pria yang pernah dijodohkan dengan dirinya itu bisa menidurinya tanpa mereka saling mengenal satu sama lain sebelumnya. Siapa? Siapa dalang dari semuanya kisah pahitnya itu? batinnya sembari terus menangis pilu.


"Mungkin aku harus melepaskanmu dan Verrel?" ucap Joe pelan, setelah tangisan Virranda mulai mereda.


Seketika Virranda melonggarkan pelukannya, membuat jarak antara dirinya dan laki-laki itu. "Kenapa Joe?" ia menelisik wajah Joe yang terlihat masih membengkak dan menyedihkan.

__ADS_1


"Kemarin malam, aku bertemu Papi dan Mami-mu di London, pada acara pesta ulang tahun perusahaan tempatku berkerja."


"Tuan Loenhard dengan terus terang mengatakan bila beliau tidak ingin punya menantu seorang pegawai sepertiku. Ia hanya menginginkan tuan Ferdinand menjadi menantunya, karena laki-laki itu seorang pengusaha,"


"Papi langsung bilang seperti itu?" Virranda menatap Joe, tangisnya kini benar-benar sudah terhenti sepenuhnya.


"Heum," Joe mengangguk pelan. "Bisa jadi, bila hal ini diketahui tuan Loenhard, beliau akan semakin gencar memintaku untuk bercerai darimu," lanjutnya resah.


"Joe," Virranda meraih tangan suaminya itu, dan menggenggamnya erat. "Apa kata-kata cintamu dulu masih berlaku sampai hari ini?"


"Didunia ini, aku hanya punya dirimu, dan juga Verrel. Kalian yang selalu membuatku rindu untuk pulang ke rumah. Jika kalian berdua pergi dari hidupku, apa artinya hidupku nanti," wajah bengkak Joe terlihat semakin menyedihkan.


"Kalau begitu, bertahanlah Joe. Bertahanlah bersamaku dan Verrel. Kami juga ingin tetap berada disismu," ucap Virranda dengan bola matanya yang kini kembali berkaca-kaca.


"Sungguh??" wajah sedih Joe seketika memudar.


"Heum," Virranda mengangguk pasti. "Aku hanya inginkan dirimu Joe. Aku cintanya hanya sama dirimu."


Joe tak sanggup berucap, hatinya terlalu bahagia. Kata-kata keramat yang selama ini ia tunggu-tunggu akhirnya meluncur juga dari mulut Virranda, wanita yang telah mengisi hari dan mimpi-mimpinya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2