
Ferdinand memandang lesu, kepergian Virrnada. Ia mengacak rambutnya frustrasi. Entah cara apa lagi yang harus ia tempuh demi mendapatkan Virranda dan Verrel, dua manusia yang kini menjadi sumber semangatnya.
...🍓🍓🍓...
Joe dan Virranda tengah menggandeng tangan Verrel memasuki salah satu restoran dikota itu. Mereka memilih satu meja tak berpenghuni. Seorang pelayan datang untuk mencatat daftar pesanan makan siang dari ketiganya, termasuk ice cream kesukaan Verrel.
"Momny, kenapa Uncle Kwang tidak jadi ikut? Bukankah tadi, Uncle sudah janji akan ikut makan ice cream?" tanya Verrel, begitu sang pelayan meninggalkan mereka.
"Uncle sedang ada keperluan mendadak sayang," dusta Virranda. Joe yang mendengarnya hanya berdiam diri, dan memperhatikan wajah Verrel yang tidak puas pada jawaban ibunya. Ia merasa iba melihat anak sambungnya itu, masih sekecil itu sudah terlibat masalah pelik ibunya.
Seorang pelayan sudah kembali membawa satu cup ice cream berukuran sedang pesanan Verrel dengan senyum ramahnya." Ice cream-nya sudah datang adik kecil," ucap pelayan itu disambut senyum ceria Verrel.
"Terima kasih kakak," ucap Verrel senang.
"Sama-sama adik kecil," sahut pelayan wanita itu dengan gaya bicaranya yang meniru Verrel. Setelah tugasnya selesai ia kembali lagi kebagian dapur.
"Mommy mau?" Verrel menawarkan pada ibunya.
"Mau," ucap Virranda sembari mendekatkan mulutnya pada Verrel yang hendak menyuapi dirinya.
"Virranda!"
Panggilan itu membuat Virranda segera menoleh kearah datangnya suara, begitu pula dengan Joe dan Verrel.
"Nickholas! Sekretaris Shen!" Virranda cukup kaget, ketika melihat sahabatnya Nickholas datang bersama sekretaris Shen direstoran itu. "Apa kalian pacaran?" todong Virranda menatap keduanya penuh selidik.
__ADS_1
Nickholas tersenyum, melirik pada sekretaris Shen yang juga ikut tersenyum bersamanya, "Tebakanmu benar Vir." ucapnya kemudian, dan senyumnya terlihat semakin lebar, sementara sekretaris Shen terlihat malu-malu.
"Wah! Bagus sekali! Kalian memang cocok, selamat ya, semoga tetap bertahan sampai menikah," Virranda yang nampak senang dengan kabar yang ia dengar langsung mengulurkan tangannya memberi ucapan selamat pada keduanya.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kalian berdua bergabung bersama kami? Kita makan siang bersama, ya anggap saja ini perayaan kecil-kecilan," ungkap Virranda memberi ide dengan raut penuh harap.
"Apa kami tidak mengganggu kalian?" Nickholas melirik Joe yang sedang tersenyum tipis ditempat duduknya.
"Bagaimana Misua-ku?" Virranda ikut memandang kearah Joe.
"Aku tidak keberatan sayang, malah akan lebih menyenangkan bila kita bisa makan siang bersama," ucap Joe tetap mengembangkan senyum tipis dan ramahnya.
"Oh ya Misua-ku. Perkenalkan, ini Nickholas, sahabat lamaku, dan ini sekretaris Shen, sekretaris pribadi Papi," Virranda yang baru tersadar bila suaminya belum mengenal dua orang teman bicaranya itu langsung berinisiatif memperkenalkan mereka.
"Nickholas," sahabat Virranda itu juga menyebutkan namanya dan balas tersenyum pada Joe. "Aku sering melihatmu di beberapa bandara," imbuh Nickholas lagi.
"Benarkah?" Joe nampak tertawa kecil.
"Iya," Nickholas ikut tertawa."
Setelah bertutur sapa ringan dengan Nicholas, Joe beralih pada sekretaris Shen, mengulurkan tangannya pada wanita itu, yang tengah berdiri disebelas Nickholas.
"Shen," ucap wanita itu, menyambut uluran tangan Joe, sembari tersenyum tipis.
"Joe," ucap Joe singkat, tidak lupa mengulas senyumnya
__ADS_1
"Mari, silahkan duduk," ucap Joe lagi, mempersilahkan sepasang kekasih itu untuk duduk bersama mereka dalam satu meja. Ia melambaikan tangannya, dan seorang pelayan segera datang, dan mulai mencatat beberapa pesanan makan siang Nickholas dan sekretatis Shen.
"Hallo Verrel," sapa Nickholas pada Verrel yang tengah asik dengan ice cream-nya, ia sempat beberapa kali bertemu bocah tampan itu dikantor milik kakeknya.
"Hallo juga uncle Nickho. Uncle mau ice cream?" tawar bocah itu ramah.
"Tidak, terima kasih anak baik," ucap Nickholas dengan senyum hangatnya, tangannya menoel hidung mancung milik Verrel dengan gemas dan dibalas tawa renyah bocah itu.
Pelayan restoran akhirnya datang, membawa pesanan makan siang mereka. Sembari menikmati makan siang bersama, pasangan Joe-Virranda dan pasangan Nickholas-Shen yang baru menjalin hubungan lebih serius mereka, kini tengah terlibat obrolan ringan. Sementara Verrel, hanya mendengarkan mereka saja. Sesekali, bocah itu terlihat menggamit lengan Joe, bila ingin menambah menu yang jaraknya jauh darinya.
"Vir, boleh aku pinjam suamimu sebentar?" ijin Nickholas, begitu ia melihat Joe telah menyelesaikan makan siangnya.
Virranda menatap Nickholas yang duduk dihadapannya dan Joe dengan raut heran, "Untuk apa?" tanyanya curiga.
"Aku hanya ingin mengajak suamimu membakar tembakau sebentar. Biasa, laki-laki," sahut Nickholas dengan gaya santainya.
Virranda melirik kearah Joe, ia tahu, bila suaminya itu bukan seorang perokok. Perasaannya mengatakan bila ada sesuatu yang ingin disampaikan Nickholas pada suamknya itu.
"Terserah Joe saja, apa dia mau membakar tembakau bersamamu," ucap Virranda kemudian.
"Bagaimana Joe, bisa temani aku sebentar ya? Tidak asik mengisap tembakau seorang diri," ucap Nickholas meminta persetujuan, rautnya seakan menunjukan tidak menerima penolakan.
Joe mengangguk menyetujui, ia merasakan ada sesuatu yang ingin Nickholas sampaikan padanya,. Pasalnya, ia merasa bila ia dan pria itu tidaklah akrab, dan seingatnya, ini kali pertama mereka bertemu dan mengobrol bersana.
Bersambung...👉
__ADS_1