Daddy My Son

Daddy My Son
36. Joe Dirgantara Vs Ferdinand Kwang


__ADS_3

"Virranda, Papi perhatikan kau hari ini tidak pokus pada pekerjaanmu," tegur tuan Loenhard pada putrinya. Ia mengangkat berkas ditangannya yang sudah beberapa kali salah pengetikan nama.


"Maaf Pi, Virranda perbaiki lagi," ucap.Virranda lalu kembali membawa berkas yang ia ambil dari ayahnya untuk segera diperbaiki.


Perkataan ibunya semalam tentang Joe memang sangat mengganggu fikirannya. Dirinya sampai tidak enak tidur, dan tidak enak makan saat sarapan pagi tadi. Dan dari pagi hingga siang ini, tidak ada satupun pekerjaannya yang beres.


Drrtt. Drrtt. Drrtt.


Virranda melirik ponselnya yang bergetar diatas meja dengan raut lesu. Seketika matanya terbuka lebar, saat melihat siapa yang sedang menelpon.


📞"Joe, kau menelponku?!" seru Virranda saking girangnya. Tuan Loenhard mendongakkan wajahnya dari berkas yang sedang ia periksa dimejanya, memperhatikan putrinya yang begitu bersemangat menyambut obrolan lewat ponselnya.


📞"Aku merindukanmu," ucap Joe dari seberang sana.


📞"Bohong! Aku tidak percaya!" ucap Virranda ketus. Dirinya masih terbawa perasaan pada perkataan sang Mami semalam.


Virranda mendengar suara Joe terkekeh. Sejujurnya, dirinya sangat merindukan suaminya itu hadir dihadapannya, untuk menolongnya mengusir rasa cemburu yang bercokol didadanya setelah ucapan Maminya yang memancing nalurinya sebagai seorang isteri.


📞"Untuk membuatmu percaya, aku datang kemari supaya bisa bertemu langsung denganmu," sahut Joe dari sambungan telepon.


📞"Apa maksudmu Joe?" hati Virranda mendadak berdebar halus, tidak mungkin kan suaminya itu sudah pulang ke Indonesia, ini baru satu bulan sejak kepergiannya waktu itu, batinnya.


📞"Turunlah, aku menunggumu diparkiran. Kita makan siang sama-sama," ucap Joe lagi dari ujung sambungan telepon.


📞"Kau serius?!" Virranda kembali memekik. Tentu saja dirinya sulit mempercayai ucapan Joe. Tapi pria itu tidak pernah berbohong selama mereka bersama, itu yang membuatnya ragu harus percaya atau tidak.


📞"Iya, aku serius. Aku menunggumu diparkiran," sahut Joe lagi.


Virranda menatap ponselnya, ia segera mengubah panggilanJoe menjadi video call.


📞"Kenapa? Kau masih tidak percaya? Heum?" Alis tebal Joe nampak terangkat sebelah dengan senyum hangatnya. Virranda membekap mulutnya dengan satu tangannya lagi, saat melihat background parkiran dibelakangnya.

__ADS_1


📞"Joe, kenapa kau menunggu diparkiran? Masuklah ke lobby, dan tunggu disana. Aku tidak mau kau sakit karena kepanasan." titah Virranda, ia melihat kelopak mata Joe menyipit, tertimpa matahari siang yang terik.


📞"Tidak, aku menunggu disini saja. Aku tidak ingin kau malu didepan para pegawaimu, punya suami kalangan bawah sepertiku," tolaknya sambil tersenyum tipis.


📞"Joe, ini perintah! Masuk, dan tunggu di lobby sekarang. Aku akan segera turun." setelah berkata demikian, Virranda langsung menutup teleponnya dan bergegas bangkit mengambil tasnya.


"Mau kemana? Pekerjaanmu belum sekesai." tanya tuan Loenhard.


"Istirahat makan siang Pi. Nanti aku selesaikan setelah jam istirahat usai," ucap Virranda bergegas meninggalkan mejanya menuju pintu.


"Tidak bisa. Berkas itu penting Virranda, kau harus menyelesaikannya sebelum istirahat makan siang," pria tua itu berusaha mencegah kepergian putrinya.


"Maaf Pi, Joe lebih penting. Suamiku itu jarang-jarang pulang. Papi seperti tidak pernah muda saja," sahut Virranda tak perduli, lalu menghilang dibalik pintu.


Braakk!


Karena buru-buru, Virranda tidak sengaja membanting pintu dibelakangnya, membuat ayahnya kaget didalam sana.


"Penyanyi cafe sialan! Dia sudah membuat putriku berani bersikap tidak sopan padaku." gerutunya dengan raut kesal.


...🍓🍓🍓...


"Huffss."Joe terkesiap, saat sepasang tangan lembut sedang memeluk pinggangnya erat dari belakang.


Laki-laki itu terpaku ditempatnya, tidak berani menggerakkan tubuhnya. Bagaimana tidak, sentuhan dua benda kenyal yang menghantam punggungnya membuat naluri kelelakiannya sedang bergolak hebat, meronta-ronta ingin memberi balasan yang setimpal.


Tapi apa daya, ia masih harus berjuang mendapatkan sepenuhnya hati sang isteri pujaannya itu, begitu juga sang ayah mertua yang hingga kini belum bisa ia taklukan.


Bersabar, itu yang harus ia lakukan sekarang, jangan sampai ceroboh, apalagi salah langkah, perjuangannya selama ini bisa berakhir sia-sia.


"Aku merindukanmu Joe,"lirih Virranda masih memeluk erat dengan mata terpejam, menyalurkankan rasa rindu yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.

__ADS_1


"Okey, rindu-rindunya nanti ya, aku sudah laper," ucap Joe berusaha menahan segala rasa yang mulai menegang dititik-titik tertentu.


"Lagi pula tidak enak dilihat orang," ucap Joe masih terpaku ditempatmya, menatap seorang laki-laki berpakaian perlente berjalan mendekat kearahnya.


Virranda membuka matanya, lalu melonggarkan pelukannya. Matanya langsung membulat saat tangan seseorang menarik pergelangan tangannya menjauhi Joe.


"Papi-mu sudah menelponku untuk mengajakmu makan siang bersama," ucap Ferdinand datar. Tangannya masih mencengkram erat pergelangan tangan Virranda.


"Maafkan saya tuan Ferdinand, bukan saya yang membuat janji, tapi Papi. Jadi tuan Ferdinand makan siang saja bersama Papi," Virranda berusaha melepas paksa tangan Ferdinand yang semakin erat mencengkram pergelangan tangannya.


Joe yang sedari tadi berusaha mengingat sesuatu akhirnya menyadari, bila pria yang tengah menghampiri mereka saat ini adalah mantan bos Virranda, saat isterinya itu menyebut nama pria itu.


Beberapa kali, Joe memang pernah melihatnya, tapi dari jarak yang cukup jauh, ketika dirinya menjemput atau mengantar Virranda berkerja beberapa tahun silam.


"Tidak baik menyentuh wanita yang sudah bersuami. Apalagi didepan suaminya seperti ini. Tolong lepaskan tangan isteri saya," ucap Joe datar, berusaha tenang walau hatinya terasa panas melihat Ferdinand begitu berani melakukan hal itu didepan matanya. Sebagai laki-laki ia merasa harga dirinya saat ini sedang direndahkan.


"Suami? Oh iya, saya lupa kalau nona Virranda mempunyai suami seorang penyanyi cafe," ucapnya tersenyum sinis dengan nada sedikit mengejek.


"Sayang sekali. Status suami yang kau banggakan itu sebentar lagi akan berubah menjadi mantan suami. Sebenarnya kita tidak level bersaing. Kau pasti kalah," ucap Ferdinand datar, sambil mempertahankan senyum sinisnya.


"Bicaralah sesuka hatimu tuan. Aku tidak akan terpengaruh. Aku lebih suka berbicara tentang masa sekarang, bukan nanti, ataupun besok hari. Karena hari esok, belum tentu menghampiri kita. Kita tidak punya kuasa memegang usia kita,"


"Dan waktu sekarang, nona Virranda adalah isteri saya. Dan saya tidak akan tinggal diam bila Tuan berani menyentuhnya lagi." Joe langsung menarik dan menghempaskan tangan Ferdinand dengan kasar dan menarik Virranda masuk dalam pelukannya.


"Jaga sikap tuan. Tentu sangat memalukan, bila orang sampai tahu, seorang direktur terhormat berusaha merebut isteri seorang penyanyi cafe," setelah berkata demikian, Joe membawa Virranda ikut dengannya menuju motornya yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari mereka bersitegang.


"Kau yakin naik motor denganku dengan rokmu itu?" tanya Joe melirik rok pendek dan seksi isterinya.


"Iya, ini rok lipit-lipit, jadi tidak masalah." sahut Virranda yakin. Joe lalu mengenakan helm pada kepala Virranda dan mempersilahkan wanita itu naik dibelakangnya.


Ferdinand masih berdiri ditempatnya, mengepalkan kedua tangannya dengan geram, hatinya begitu panas saat melihat Virranda seolah sengaja memeluk mesra tubuh Joe didepannya ketika melintas tepat dihadapannya.

__ADS_1


Security yang berjaga dipos dengan sigap membungkuk hormat saat keduanya melintas. Namun naluri kelelakiannya memaksa mata mereka melirik paha mulus milik sang majikan.


Bersambung...👉


__ADS_2