Daddy My Son

Daddy My Son
78. Undangan Pertunangan Nickholas


__ADS_3

"Virranda!"


Virranda yang baru turun dari mobilnya segera menoleh kearah datangnya suara, lalu menghentikan langkahnya ketika dilihatnya Nickholas berlari kecil ke arahnya.


"Kau baru datang Vir?" tanya Nickholas begitu ia sudah berada didekat Virranda.


"Iya Nick, aku izin kerja setengah hari karena mengantarkan Joe ke bandara tadi pagi bersama Verrel." sahut Virranda.


"Trus, Verrel-nya mana? Apa dia ikut Daddy-nya?" tanya Nickholas lagi.


"Tidak Nick, Verrel sudah kuantar pulang ke rumah sebelum kemari. Ngomong-ngomong, untuk apa kau kemari, apa kau kurang pekerjaan?" ucap Virranda balik bertanya, padahal ia sudah tahu bila Nickholas sudah memiliki jadwal rutin makan siang bersama sekretaris Shen.


"Enak saja asal ngomong, aku bukan pengangguran tahu, aku ini manusia paling sibuk sejagat raya, CEO dari perusahaan Papaku," cerocos Nickholas tidak terima, membuat Virranda spontan terkekeh melihatnya.


"Nick, Nick... Kau itu sebenarnya tampan, tapi bila kumat kebawelanmu, kau terlihat jelek!" ucap Virranda semakin terkekeh.


Nickholas yang sempat menekukkan wajahnya spontan tersenyum lebar sembari menyugar rambut rapinya, dan tidak lupa membenarkan dasi dan jas mahalnya.


"Akhirnya... Kau mengakui juga kalau aku adalah laki-laki yang tampan," ucap Nickholas bangga dengan senyum yang terus mengembang.


"Tentu saja kau tampan Nick. Kalau tidak, mana mungkin sekretaris Shen mau menerimamu jadi kekasihnya." ucap Virranda dengan tawanya yang mulai mereda.


"Iya, kau benar juga ya. Ngomong-ngomong tentang sekretaris Shen, kami berdua akan bertunangan malam ini." lugas Nickholas membuat Virranda kaget dengan membulatkan bola matanya.


"Serius?!" tanya Virranda bersemangat.


"Serius-lah. Masa boong!" sahut Nickholas meyakinkan.

__ADS_1


"Wah, senangnya!" Virranda terlihat begitu senang mendengar kabar baik dari sahabatnya itu.


Dari respon yang Virranda tunjukan, Nickholas dapat merasakan bila sahabatnya itu ikut merasakan kebahagiannya. "Cukup mengagumimu saja sampai hari ini Vir, cinta itu memang tidak harus memiliki." guman Nickholas didalam hati. Ia sudah bertekad menghapus semua rasa suka, kagum, bahkan cintanya dari Virranda. Sekarang, ia hanya punya satu hati untuk melabuhkan cintanya, sekretaris Shen, wanita yang juga mencintainya.


"Kau bisa datang 'kan malam ini?" ucap Nickholas kemudian.


"Maafkan aku ya Nick, sepertinya aku tidak bisa datang bila Joe tidak bersamaku. Aku hanya takut kejadian masa lalu itu terulang lagi, semuanya berawal dari pesta," gumam Virranda dengan raut berubah sendu.


"Oh, iya. Aku mengerti, maafkan aku, karena membuatmu teringat akan masa lalumu," ucap Nickholas merasa tidak nyaman. Tangannya terangkat, berniat untuk mengusap punggung sahabatnya itu, namun ia segera tersadar dan tidak jadi melakukan niatannya itu.


"Tapi Papi dan Mami-mu bisa datang 'kan? Aku sudah menitipkan undangan khusus pada sekretaris Shen," ucap Nickholas penuh harap.


"Heum, mungkin bisa. Nanti aku sampaikan ke Papi dan Mami ya Nick. Papi sudah lumayan sehat dua hari ini."


"Sekali lagi, aku mohon maaf ya Nick, tidak dapat menghadiri pertunanganmu malam ini. Do'aku, semoga semuanya berjalan baik dan lancar sampai pada hari bahagiamu."


Virranda ikut terkekeh," baiklah Nkck! Hati-hati dijalan," ia melambaikan tangannya saat Nickholas beranjak pergi menuju mobilnya yang terparkir beberapa meter dari tempat mereka mengobrol.


...🍓🍓🍓...


"Hore! Syukurlah, assiten Gerry akhirnya kembali!" Sekretaris Linlin bersorak bahagia. Ia bergegas berdiri dari kursinya lalu tanpa sadar memeluk Gerry yang baru saja keluar dari dalam lift sambil menggendong tas beratnya.


Mendapat perlakuan istimewa sekretaris Linlin, Gerry tersenyum senang, ia bahkan ikut memeluk erat. Keduanya memang akrab, karena sama-sama menjadi pegawai terdekat Ferdinand. Kapan lagi dipeluk oleh wanita secantik dan seseksi sekretaris Linlin," batin Gerry nakal.


"Apa yang kalian lakukan! Jangan berbuat mesum dikantorku!" hardik Ferdinand yang baru saja keluar dari lift, setelah keluar istirahat makan siang.


Gerry dan sekretaris Linlin buru-buru melepaskan pelukan meraka, lalu sama-aama membungkuk hormat.

__ADS_1


"M-maafkan saya Tuan, saya terlalu senang saat asisten Gerry baru muncul hari ini," ungkap sekretaris Linlin tergagap. Berbeda dengan Gerry, laki-laki itu lebih bersikap santai.


"Heum! Kau harus lebih berhati-hati sekretaris Linlin, apalagi berhadapan dengan pria sudah beristeri seperti Gerry," ucap Ferdinand memperingatkan.


"I-iya tuan Direktur," sahut sekretaris Linlin sedikit menundukan wajahnya sambil melirik Gerry dengan ekor matanya.


"Cih!" spontan asisten Gerry mencebikan bibirnya. "Pintar sekali kalau ngomong! Anak segudang!" batin Gerry, tidak berani mengata- ngatai secara terang-terangan.


"Aku tahu, apa yang kau katakan dalam hatimu itu asisten Gerry!" ucap Ferdinand dengan tatapan tajamnya.


"T-tidak! Aku tidak berkata apa-apa dalam hatiku!" Bantah Gerry kaget, baru seminggu dia tidak bertemu Ferdinand, bagaimana mungkin sang bos-nya tiba-tiba memiliki kemampuan bisa membaca fikirannya. Dia tidak tahu saja bila Ferdinand asal bicara karena melihatnya berdecih.


"Sudahlah! Cepat masuk keruanganku! Aku mau mendengar laporanmu selama satu minggu ini," setelah berkata demikian, Ferdianand segera berlalu menuju ruang kerjanya.


"Asisten Gerry, pekerjaan apa yang kau lakukan diluar sana? Kenapa sampai satu minggu ini baru muncul dikantor?" tanya sekretaris Linlin penasaran.


"Apa kau sangat merindukanku? Heum? Apa kau tidak takut padaku, pria beristri seperti kata tuan Direktur, heum?" goda Gerry sambil menggerak-gerakan kedua alisnya turun-naik.


"Tidak takut! Karena kau belum terbukti menghamili isterimu sampai sekarang," balas sekretaris Linlin sengit. Keduanya memang sering bercanda berlebihan, namun tidak bermaksud saling menyakiti.


"Owh! Berani ya, kau akan--"


"Gerry!!" teriak Ferdinand dari dalam ruangannya.


"B-baik Direktur!!" sahut Gerry panik.


"Kau memang tidak perlu takut denganku sekretaris Linlin, kau harus takut pada yang barusan berteriak barusan, dia kebih ganas dari binatang buas," ucap Gerry setengah berbisik dengan suara pelan. Setelah itu, ia segera beranjak dengan langkah setengah berlari meninggalkan sekretaris Linlin yang ternganga mendengar ucapan Gerry yang membingungkannya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2