Daddy My Son

Daddy My Son
30. Pertemuan


__ADS_3

Verrel tidak henti-hentinya berdecak kagum, saat diajak sang nenek mengunjungi kamar barunya dirumah besar itu. Kasur yang besar, dan jauh lebih empuk dibanding kasur miliknya,. Juga kamar yang empat kali lipat lebih luas dibandingkan kamarnya diapartemen bersama Joe, belum lagi ada meja belajar dan buku-buku komik kesukaannya diatas meja.


"Bagaimana nenek bisa tahu, kalau Verrel suka komik-komik ini?" tanya bocah itu girang, sambil melepaskan plastik transfaran yang membungkus komik-komik barunya itu.


"Mommy Verrel yang beritahu, jadi nenek langsung memesannya semalam sebelum kau kemari bersama Daddy dan Mommy-mu," sahut Lirasa turut membantu menyusun komik-komik itu dirak buku mini yang ada diatas meja.


"Nah sudah selesai," Lirasa dan Verrel sama-sama tersenyum, memandang susunan komik yang sudah tersusun rapi dirak buku.


"Sekarang waktunya Verrel mandi, ini sudah sore. Malam ini kita akan kedatangan tamu. Verrel harus jadi anak yang manis dan tuan rumah yang ramah ya," Lirasa bergerak menuju lemari pakaian, mengambil handuk baru untuk cucunya itu.


"Memang siapa tamunya Nek?" tanya Verrel yang sedari tadi belum berhasil melepas bajunya.


"Teman kakek dan keluarganya. Mereka berniat menjenguk kakek yang baru pulang dari rumah sakit. Nanti Nenek perkenalkan sama Verrel, mau?" jelas Lirasa, sambil membantu cucunya itu yang kelihatan kesulitan melepas baju atasannya.


"Iya, mau Nenek," sahut Verrel antusias, berfikir bila akan ada anak-anak sebayanya yang juga akan datang.


...🍓🍓🍓...


"Mommy cantik sekali," puji Verrel, ketika ibunya baru selesai berdandan dimeja riasnya.


"Terima kasih sayang. Verrel juga sangat tampan," Virranda balas memuji putranya yang berusaha melihat wajahnya dari pantulan cermin rias ibunya.


"Verrel sudah siap?" Virranda memperhatikan penampilan putranya yang memang terlihat tampan dengan setelan kemeja biru gelapnya.


"Siap Mom," sahut Verrel mengangguk rusuh dengan wajah cerianya.

__ADS_1


"Nanti Verrel tidak boleh nakal ya didepan tamu Nenek dan Kakek," pesan Virranda.


"Iya Mommy, tenang saja. Verrel pasti ingat pesan Mommy. Juga pesan nenek supaya Verrel jadi anak yang manis dan tuan rumah yang ramah," sahut bocah itu sambil menganggukan kepalanya.


"Anak pintar. Ayo," Virranda mencubit pipi gembil putranya sekilas, lalu bangkit dari kursi meja riasnya, menggandeng tangan Verrel dan membawanya keluar dari kamarnya.


Verrel dengan patuh mengikuti langkah ibunya yang sengaja berjalan lambat disampingnya, mengimbangi langkah kakinya yang masih kecil.


Dengan hati-hati, Virranda menuntun langkah kaki putranya menuruni puluhan anak-anak tangga itu menuju lantai bawah. Verrel sampai berkeringat, karena jarak dari kamar menuju ruang makan cukup jauh. Rumah nenek kakeknya itu terlalu besar menurutnya, namun dirinya terlihat tetap bersemangat bertemu tamu kakek dan neneknya diruang makan sana.


Langkah kaki Virranda terhenti sesaat, ketika dirinya tidak sengaja beradu pandang dengan pria yang sangat dikenalnya.


"Bagaimana tuan Ferdinand bisa datang kemari? Batin Virranda berkecamuk. Pasalnya, dirinya masih terikat kontrak kerja saat pergi bersama Joe meninggalkan Indonesia. Ia berdoa didalam hatinya, supaya mantan bosnya itu, tidak membahas perihal itu malam ini.


"Mommy kenapa?" tanya Verrel ikut berhenti melangkah dan mendongakkan wajahnya pada ibunya yang membeku memandang lurus kedepan.


Sementara itu, Ferdinand menahan nafasnya, melihat dua manusia yang selama ini dicarinya dengan segala daya upayanya. Sayangnya, ia baru menemukan jejak keduanya bila mereka telah meninggalkan kota, atau negara lainnya.


Melihat putranya yang begitu tampan, juga Virranda yang sudah membuat dirinya jatuh hati sejak dirinya menerima wanita itu menjadi asistennya, Ferdinand bertekat pada dirinya sendiri, akan berusaha apapun caranya untuk mendapatkan keduanya dalam satu paket.


"Tuan dan Nyonya Toshigawa, dan tuan Ferdinand, ini putri kami, Virranda Laura dan putranya, Verrel Dirgantara, cucu kami," ucap Lirasa memperkenal putrinya dan juga cucunya.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya Toshigawa, Tuan Ferdinand Kwang," sapa Virranda sambil membungkuk hormat diikuti si imut Verrel yang mengikuti apa yang dilakukan ibunya.


"Verrel, ayo salim dulu--," titah Virranda, namun ucapannya terputus saat putranya sudah lebih dulu berlari.

__ADS_1


"Oma!" seru bocah itu seraya berlari mengitari meja untuk mendapatkan nyonya Toshigawa dan merengkuh kakinya lalu naik ke pangkuannya.


Gerak cepat Verrel membuat Virranda terperangah, tidak menduga putranya sudah ada dalam pangkuan tamu keluarganya, begitu pula halnya dengan tuan Loenhard dan isterinya.


"Maaf Nyonya, Verrel memang lumayan aktif," ucap Virranda merasa tidak nyaman atas kelakuan putranya itu, padahal sebelumnya dirinya sudah mewanti-wanti agar putra itu tidak berbuat sesuka hatinya.


"Tidak masalah Virranda," respon nyonya Toshigawa lembut.


"Ternyata Verrel adalah putramu, pantas dia tampan sekali," puji nyonya Toshigawa yang sudah mengenal Verrel lebih dulu saat direstoran.


"Bagaimana Oma bisa tahu Verrel ada dirumah Nenek?" tanyanya dengan wajah polos.


"Kebetulan Oma dan suami Oma juga anak Oma, mau menjenguk kakeknya Verrel, jadi kita bertemu lagi disini sayang," ucap nyonya Lirasa sambil mengusap lembut pipi gembil Verrel yang sedang memandang wajahnya.


"Kakek?" Verrel memalingkan wajahnya dari wajah nyonya Toshigawa dan memandang berkeliling. Pandangannya terhenti pada tuan Loenhard, mengingat wajah pria tua itu sama persis pada photo yang terpampang di dinding lantai dua dekat kamar barunya, kecuali warna rambutnya.


"Kakek uban itu? Apa dia kakekku?" tunjuk Verrel dengan jari telunjuknya pada tuan Loenhard yang langsung membulatkan bola matanya ketika mendengar panggilan yang disematkan padanya oleh cucunya sendiri seenak jidatnya saja.


Semua yang berada disana terpana dan hampir tertawa lepas mendengar panggilan unik Verrel pada kakeknya, termasuk Virranda. Hanya saja, ia sedikit khawatir bila ayahnya akan memarahi putranya atas perkataannya itu.


"Apa Verrel tidak mengenal kakek?" nyonya Toshigawa mengernyitkan keningnya tak mengerti.


"Verrel hanya melihat kakek dari photo didinding. Kakek terlalu banyak alasan untuk bertemu Verrel dan Daddy." ucap bocah itu polos, mengungkapkan apa yang memang dirinya alami bersama sang Daddy.


"Maksudnya, Verrel dan ibunya baru pulang dari luar negeri saat kakeknya dirumah sakit, dan saat mereka kemari, kakeknya yang baru pulang tidak bisa bertemu karena kelelahan," ucap Lirasa cepat, dirinya tidak ingin masalah intern keluarganya diketahui pihak luar.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2