Daddy My Son

Daddy My Son
29. Berpamitan


__ADS_3

"Hallo sayang..." sapa Virranda dengan wajah sumringah keluar dari kamar Joe, saat menemukan putranya sedang asik sarapan segelas susu dan sepotong roti ditangannya sambil duduk melantai didepan televisi seorang diri menonton kartun kesayangannya.


"Hallo juga Mom," balas Verrel balik menyapa, memandang sekilas pada ibunya, menunjukan senyum terbaiknya, lalu buru-buru kembali menatap kearah televisi. Tidak ingin tertinggal cerita yang sedang dirinya simak.


Virranda mengusap pucuk rambut putranya, sekecil itu, sudah bisa menyeduh susunya sendiri. Dirinya dan Joe memang sepakat melatih bocah itu mandiri sejak dini, yang penting masih dalam batas keamanan seorang anak seusia Verrel.


"Tidak biasanya Daddy belum bangun Mom?" tanya Verrel pada ibunya yang berjalan menuju lemari pendingin, untuk mengambil bahan-bahan yang akan dimasaknya.


"Mungkin Daddy kelelahan bolak-balik kekamar mandi tadi malam," ujar Virranda, mengingat Joe semalam memang terlalu sering kekamar mandi. Entah apa yang dilakukannya didalan sana. Hingga pagi menjelang barulah suaminya itu tertidur pulas hingga sekarang.


Mendengar uraian sang ibu, Verrel hanya manggut-manggut, tapi nyatanya dirinya tidak mengerti, mengapa sang Daddy tiba-tiba punya kebiasaan rajin kekamar mandi, padahal selama ia tidur bersama sang Daddy, Daddy-nya hanya kekamar mandi sebelum tidur untuk pipis dan bangun dipagi hari, itupun juga karena ingin pipis.


...πŸ“πŸ“πŸ“...


"Mi, Joe ingin berpamitan pada Papi," ucap Virranda, saat dirinya, Joe dan Verrel baru turun dari mΓ²tor milik Joe dan menyalami Lirasa yang menyambut kedatangan mereka.


"Bibi Arin!" panggil Lirasa pada asisten rumah tangganya.


"Iya Nya," Terlihat bibi Arin tergopoh-gopoh datang mendekat menghampiri mereka.


"Tolong panggilkan Tuan dikamar ya Bi," pintanya pada sang asisten rumah tangganya itu.


"Baik Nya," sahutnya lalu bergegas. Virranda menatap langkah bibi Arin yang berjalan cepat dan meniti anak-anak tangga menuju lantai dua.


"Ayo, duduk dulu." ajak Lirasa, mempersilahkan anak-menantunya, juga cucunya untuk duduk di sofa.


"Nyonya, ini minuman dan camilannya," ucap seorang asisten rumah tangganya yang lain, menyajikan minuman dan beberapa camilan diatas meja kaca.


"Terima kasih Bi," ucap Lirasa dan Virranda hampir bersamaan. Sementara Joe dan Verrel hanya mengulas senyum pada sang bibi.


"Sama-sama Nonya, dan Nona..."sahutnya seraya tersenyum dan membungkuk sebelum pergi.


"Ayo Joe, Virranda, Verrel, dicicipi dulu camilannya." ucap Lirasa mempersilahkan.


"Iya Mi,"


"Iya Nyonya"

__ADS_1


"Iya Nek"


Sahut ketiganya bersamaan. Lirasa tersenyum, mendengar panggilan yang disematkan ketiganya pada dirinya.


"Joe, panggil Mami saja, sama seperti Virranda," titah Lirasa masih tersenyum memandang kearah Joe


"A-apa boleh?" tanya Joe sedikit gugup bercampur senang.


"Tentu saja boleh Joe," sahut Lirasa disambut senyum bahagia dari Joe dan Virranda yang saling berpandangan satu sama lain.


"Maaf Nyonya, tuan sedang istirahat, jadi tidak bisa kemari," ucap bibi Arin yang sudah kembali dari lantai dua sambil berdiri disisi sofa.


Lirasa memandang kearah Joe, ada rasa tidak enak pada menantunya itu. Dirinya tahu pasti bila suaminya masih belum mau membuka hatinya bagi Joe menjadi menantunya.


"Maaf ya Joe, sepertinya Papi masih lelah, dan perlu banyak istirahat," ucapnya pada Joe, walau ia mengetahui bila menantunya itu mengerti bahwa dirinya hanyalah basa-basi saja, dari pada tidak ada alasan sama sekali.


"Tidak apa-apa Nyonya," sahut Joe memaklumi.


"Mami Joe," Virranda menyentuh tangan pria itu untuk mengingatkannya.


Sementara Verrel yang biasanya suka mengoceh, kali ini tidak terlalu banyak bicara. Dirinya tengah asik mencomot satu persatu kue rumahan yang tersaji diatas meja, memakannya tanpa henti sedari tadi. Ia selalu penasaran melihat berbagai bentuk yang berbeda-beda, mungkin saja rasanya berbeda pula fikirnya.


"Ma-mi, hari ini aku akan kembali ke London, hanya cuti seminggu saja. Aku titip Virranda dan juga Verrel selama aku pergi. Aku khawatir meninggalkan mereka sendiri berdua saja di apartemen. Setiap tiga bulan sekali, aku ada off, baru aku akan kembali kemari," ucap Joe memandang kearah ibu mertuanya.


"Iya Joe, kau jangan khawatir. Mereka akan aman disini. Kau berkerja saja dengan baik disana. Bila kau kembali, kau boleh membawa Virranda dan Verrel pulang ke apartemenmu," sahut Lirasa membuat perasaan Joe serasa begitu lega dan bahagia.


"Kalau begitu, aku pamit dulu Ma-mi," ucap Joe masih merasa canggung, ia berdiri lalu menyalami dan mencium punggung tangan mertuanya.


"Ingat ya Dad, jangan lama-lama pulangnya, nanti Momny nangis," ucap Verrel polos, dalam genggaman kedua tangannya ia masih merangkum penuh kue-kue lezat yang disukainya.


"Benarkah? Mommy atau Verrel yang menangisi Daddy?" tanya Joe berjongkok disisi anak sambung kesayangannya itu


"Mommy Dad, bukan Verrel." celetuknya jujur. "Kan Verrel laki-laki kata Daddy, harus jagain Mommy, jadi gak boleh nangis." tambah bocah itu lagi membuat Virranda salah tingkah hingga wajahnya merona.


"Verrel, Mommy itu menangis karena merindukan kakek dan nenek Verrel," elak Virranda.


"Sudah, ngaku saja. Sama suami sendiri saja malu," Lirasa ikut nimbrung, membuat Virranda semakin merona, sambil melirik pada Joe yang tidak berkomentar apapun selain tersenyum menyaksikan ulah Virrandda yang selalu berusaha membela diri, dan tidak mengakui apa yang dituduhkan padanya.

__ADS_1


Drum. Drum. Drum.


"Sudah, pergi sana! Suamimu tiga bulan kedepan baru pulang," ujar Lirasa seraya mendorong putrinya supaya mendekati suaminya yang sudah menaiki motornya.


"ih Mami, bukan kali ini saja Joe berangkat kerja jauh," ucap Virranda dengan wajah pura-pura cemberut, tapi kakinya tetap melangkah mendekati Joe yang sudah siap melesat pergi.


"Katakan sesuatu sebelum aku berangkat," Joe memandang wajah Virranda yang telah berdiri didekatnya.


"Apa?" tanya Virranda balas memandang.


"Apa saja boleh," ucap Joe tersenyum tipis, membuat denyut jantung Viranda memompa lebih cepat dari biasanya.


"Eum, hati-hati dijalan," ucap Virranda berusaha bersikap biasa sambil meremas tangannya sendiri, mengusir rasa canggung yang tiba-tiba menyergap dirinya.


"Hanya itu?" tanya Joe.


"Iya," sahut Virranda singkat.


Joe menatap lekat wajah Virranda, wajah yang tidak akan dilihatnya secara langsung untuk beberapa hari bahkan beberapa bulan mendatang.


"Aku pasti akan merindukanmu Mommy Verrel, apalagi kita bertiga telah tidur bersama semalam, itu membuatku sangat bahagia," ucap Joe memelankan suaranya menatap dalam wajah wanita yang amat dicintainya itu.


Virranda masih berusaha mengendalikan semua perasaannya yang mulai tumbuh subur untuk suaminya itu, ia ingin lebih meyakinkan dirinya bila Joe benar-benar sudah berubah, dan meninggalkan semua kehidupan lamanya yang kelam.


"Kata orang, bila kita sudah bisa menerima sesuatu yang paling buruk dan menjijikan dari lawan jenisnya, itu tandanya, kita sudah mulai mencintainya." kembali Joe berucap penuh makna.


"Maksudmu?" Virranda mengernyitkan keningnya.


Joe mengembangkan senyumnya, memandang wajah Virranda yang terlihat penasaran pada ucapananya. "Bagaimana menurutmu aroma ileranku?" ucapnya sambil mengerak-gerakkan kedua alis tebalnya.


"Jadi kau tadi pagi pura-pura masih tidur?" tanya Virrranda memastikan dengan wajah memerah menahan malu.


"Sebenarnya iya," sahut Joe mulai terkekeh.


"Joe! Kau memang menyebalkan!" pekik Virranda kesal sambil memukul punggung suaminya yang terus terkekeh mengejeknya.


Bersambung...πŸ‘‰

__ADS_1


__ADS_2