Daddy My Son

Daddy My Son
67. Pingsan


__ADS_3

Wajah tuan dan nyonya Toshigawa memerah, menahan rasa malu, mendengar penuturan Virranda, yang menceritakan semuanya secara Jelas.


Sementara Ferdinand, laki-laki itu hanya bisa menunduk lesu, mengingat bahwa memang benar dirinya pernah meletakan uang itu diatas bantal Virranda saat wanita itu masih tertidur ketika ia beranjak pergi.


Ketika itu, dirinya benar-benar tidak tahu bila wanita yang ia tiduri adalah putri dari sahabat ayahnya, yang telah dijodohkan dengannya. Itu sebabnya, seperti biasa, dirinya selalu memberikan sejumlah uang setelah meninggalkan wanita yang ia tiduri.


Sesal, itulah yang tengah Ferdinand rasakan saat ini. Tidak sanggup lagi menegakkan kepalanya, hanya bisa terpaku diam ditempat duduknya dan mendengar semua penuturan Virranda yang masih terus berlanjut.


"Dalam kekalutanku, aku terpaksa membayar Joe supaya bersedia menjadi suamiku, untuk menutupi aibku, ketika Papi dan Mami membahas perjodohanku dengan putra sahabat Papi." ucap Virranda terbata-bata, mengingat keputusan berani yang telah ia tempuh waktu itu.


"Memutuskan untuk menikah tanpa persetujuan Papi dan Mami adalah kesalahan besar, dan aku menyadari hal itu. Dan itu terpaksa aku lakukan karena takut, bila kehamilanku diketahui oleh laki-laki yang dijodohkan denganku, dan juga orang tuanya. Aku khawatir, mereka akan menolakku, dan itu akan membuat malu Papi dan Mami." ujar Virranda terus berusaha tegar menceritakan semuanya.


Sementara itu, tuan dan nyonya Toshigawa melirik Ferdinand yang masih menunduk diam ditempat duduknya. Ternyata putra mereka sendiri yang menyebabkan perjodohan itu gagal, batin keduanya.

__ADS_1


"Dan karena pernikahan itu, Papi mengusirku dan menarik semua fasilitas yang pernah Papi berikan padaku. Aku terpaksa menumpang hidup pada Joe, dan berkerja pada tuan Ferdinand, karena aku tidak tahu kalau dia laki-laki yang pernah berlaku laknat padaku dimalam itu!" ketus Virranda diakhir kalimatnya.


Tuan Loenhard kembali merasakan sesak dalam dadanya, seakan ada yang menusuk hingga menimbulkan rasa nyeri disana. Ada sesal dalam benaknya, kenapa selama ini ia tidak mau mendengar hingga selesai bila isterinya berusaha membicarakan masalah putrinya yang ada kaitannya dengan Ferdinand. Ia tidak mau mendengar sedikitpun hal buruk tentang calon menantu yang ia anggap paling tepat buat putrinya.


"Hidup bersama Joe, ternyata tidak mudah." Virranda menyeka air matanya sebelum melanjutkan kata-katanya.


"Laki-laki itu ternyata adalah simpanan para wanita-wanita kaya. Mereka sering menyerangku di apartemen, saat tidak menemukan Joe disana." ungkap Virranda mengingat masa-masa itu.


Tuan Loenhard menekan dadanya yang semakin terasa sakit. Ucapan Virranda barusan mengingatkannnya pada laporan orang suruhannya yang memberikan informasi kehidupan gelap Joe dimasa lalu.


Ferdiand sedikit mendongakkan wajahnya, memandang Virranda yang terus mengeluarkan semua isi hatinya. ia juga ingat kejadian waktu itu, juga dua wanita yang sempat ia interogasi ternyata isteri dari mitra bisnisnya. Kedua orang tua Virranda dan Ferdinand juga sempat menahan napas, membayangkan betapa sulit dan peliknya kehidupan Virranda ketika itu.


"Untuk menghindari para wanita itu, dan membantu Joe meninggalkan kehidupan lamanya, aku akhirnya memutuskan membawa Verrel yang masih bayi ikut dengan Joe keluar negeri. Kami berpindah-pindah dari satu kota ke kota lainnya, di beberapa negera yang kami kunjungi hanya untuk mengindari para wanita itu."

__ADS_1


"Joe, laki-laki yang sering Papi hina, juga tuan Ferdinand, dialah yang menjagaku dan Verrel dengan baik selama hampir enam tahun ini. Dan dia juga yang membawaku pulang saat kami tahu Papi sakit,"


Bruukk!!


"Papi!" pekik Lirasa kaget, ia segera menahan tubuh suaminya yang tiba-tiba saja jatuh menimpa pundaknya.


Virranda segera membantu ibunya, membaringkan ayahnya yang sudah tidak sadarkan diri disofa tempatnya duduk.


"Kita bawa kerumah sakit saja," saran tuan Toshigawa yang ikut panik. Virranda lalu berteriak memanggil para asisten rumah tangga untuk membantu.


"Joe! Kau sudah pulang?" ucap Virranda kaget, antara panik dan senang, begitu melihat Joe berlari masuk kearah mereka. Panik, memikirkan kondisi ayahnya yang pingsan. Dan senang, karena Joe sudah kembali.


"Iya sayang," sahut Joe yang tidak bisa mengabaikan ucapan Virranda padanya, namun tangannya dengan cekatan turut membantu Ferdinand untuk mengangkat tubuh ayah mertuanya itu.

__ADS_1


Syukurnya, kedua laki-laki itu tidak banyak drama, dan segera membawa tuan Loenhard menuju mobil untuk segera berangkat kerumah sakit.


Bersambung...👉


__ADS_2