
Lirasa mendesah berat, turut merasakan sakit yang teramat dalam, tidak menyangka bila apa yang dialami putrinya selama ini berawal dari pria misterius yang meniduri putri kesayangannya itu.
Baginya, laki-laki yang telah meniduri putrinya sudah merobek kehormatan keluarganya. Ia bertekat akan menemukan siapa pria itu dan memberinya pelajaran yang setimpal.
Lirasa mendekap erat tubuh Virranda, berusaha memberikan kehangatan kasih sayang yang sempat hilang darinya untuk putrinya karena ketidak tahuannya akan kemalangan yang telah menimpa putri tunggalnya itu.
"Harusnya, seburuk apapun, dan sesulit apapun. Kau harus cerita Virranda, kau harus terbuka, bukannya bertindak sendiri dengan menikahi pria yang tidak kau kenal dan memiliki kehidupan yang abnormal seperti Joe," sesal Lirasa,.mengingat pria yang dinikahi putrinya itu adalah laki-laki yang berkerja sebagai penghibur wanita-wanita kaya yang kesepian, seperti yang ia dengar sendiri dari Virranda sebelumnya.
"Kau tidak seharusnya menanggung aib-mu sendiri Virranda, dan menderita sendiri diluar sana. Ada kami orang tuamu, dan kau tahu sebesar apa rasa sayang kami padamu. Hanya kau putri kami satu-satunya," ucapnya sedikit terisak.
"Maafkan Virranda Mi, Virranda sudah bersalah besar pada Papi dan Mami," sahut Virranda yang sejak tadi juga sesenggukan didalam pelukan ibunya.
"Sudahlah, semuanya sudah terlanjur terjadi. Anggap lah ini semua pembelajaran bagi kita. Kedepannya, Mami harap kau mau terbuka pada Mami dan juga Papi-mu sehingga kami bisa membantumu menemukan solusimu," ungkap Lirasa lagi menghibur putrinya itu.
"Ini bukan perkara ringan sayang, laki-laki itu sudah merendahkan kehormatan keluarga kita," guman Lirasa geram.
"Mami akan berusaha mencari waktu yang baik untuk menceritakan semuanya ini pada Papimu dengan pelan-pelan sayang," ucapnya lirih.
Virranda memejamkan matanya, merasakan usapan lembut tangan ibunya pada punggungnya. Setelah sekian lamanya, ia akhirnya kembali merasakan dekapan hangat sang ibu yang selalu ia rindukan.
"Sayang, ayo kita temui dokter dulu sebelum membawa Papi-mu pulang," ajak Lirasa melonggarkan pelukannya, setelah keduanya sudah sama-sama merasa tenang.
"Iya Mi. Aku telepon Joe dulu. Semalam ia dan Verrel berencana ke rumah sakit untuk menengok Papi siang ini. Aku akan memintanya membawa Verrel langsung ke rumah Papi dan Mami saja," ungkap Virranda seraya meraih ponsel dari dalam tasnya.
"Baiklah," Lirasa tersenyun memandang putrinya yang buru-buru menelpon suami dan putranya. Virranda yang dulu, sekarang telah kembali batinnya, ia dapat melihat senyum lepas terpancar dari wajah Virranda, saat berbicara dengan suaminya lewat telepon.
"Terlepas dari kehidupan Joe dimasa lalunya, sepertinya dia lak-laki yang baik," ucap Lirasa memandang putrinya yang baru saja selesai menelpon suaminya.
"Iya Mi, Joe sudah menjagaku dan Verrel dengan sangat baik selama kami bersana," sahut Virranda menyimpan kembali ponselnya kedalam tasnya. Keduanya lalu berjalan beriringan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dokter yang telah merawat tuan Loenhard.
...🍓🍓🍓...
"Kita duduk disini dulu, Papi mau bicara penting denganmu Virranda," tuan Loenhard menunjuk sofa tamu rumahnya, meminta dua wanita kesayangannya yang sedang memapahnya itu menuruti permintaannya.
__ADS_1
"Kita baru saja tiba dirumah, Papi istirahat saja dulu, nanti saja mengobrolnya dengan Virranda, 'kan masih banyak waktu. Ingat kata dokter Pi," ucap Lirasa mengingatkan suaminya.
"Justru bila ditunda, Papi tidak akan bisa beristirahat Mi. Lagi pula Papi tidak berbicara panjang lebar, hanya sebentar dan singkat saja," tangkis tuan Loenhard.
"Terserah Papi saja," sahut Lirasa pasrah. Ia sangat kenal watak suaminya yang keras kepala dan tidak mau berkompromi dengan apapun sebelum keinginannya terlaksana.
"Hati-hati Pi," ucap Virranda. Ia bersama dengan ibunya membantu sang ayah untuk duduk disofa tamu.
"Duduklah didekat Papi," tukas pria paruh baya itu, dengan uban kepalanya yang hampir sama banyaknya dengan rambut hitamnya. Pria itu memang lebih tua dua belas tahun dari isterinya. Virranda menurut lalu duduk disisi ayahnya.
"Mami kebelakang dulu, mencari bibi Arin," pamit Lirasa, lalu beranjak pergi meninggalkan Virranda dan ayahnya berdua saja.
"Tidak mudah memafkanmu atas apa yang telah kau lakukan beberapa tahun silam Virranda. Tapi kau adalah putri Papi satu-satumya, darah daging Papi. Dan apapun yang Papi hasilkan dengan kerja keras Papi, itu semua untukmu." ungkap tuan Loenhard membuka percakapannya.
"Virranda, Papi sudah tua, tidak seperti dulu lagi. Bila berkerja mudah sekali lelah, apalagi berfikir keras." ucapnya lagi sambil terbatuk-batuk kecil.
"Papi sengaja menarik semua fasilitas yang Papi berikan padamu supaya kau tahu, hidup bersama pria miskin itu tidak mudah, dan tidak enak. Buktinya, suamimu itu membawamu kesana kemari, hidup berpindah-pindah hanya untuk sesuap nasi." ponisnya.
Virranda tidak menjawab apapun, ia hanya mampu menelan salivanya, ketika nendengar semua penuturan sang ayah. Bagaimana ayahnya itu bisa tahu bila dirinya berpindah-pindah tempat tinggal selama lima tahun terakhir batinnya. Dan memdapat kabar bila dirinya dan Joe mengalami kesulitan hidup diperantauan.
"Ceraikan Joe. Papi tidak bisa menerimanya sebagai menantu. Juga putranya itu, suruh dia membawanya saja pergi bersamanya. Papi tidak mau melihat keduanya muncul dihadapan Papi," ucapnya dingin.
Virranda terkesiap, kata-kata ayahnya terasa begitu sakit ia rasakan dihatinya. Dimata sang ayah, Joe seperti manusia yang tidak ada harganya, sehingga Verrel pun ikut terbawa. Bukan salah ayahnya batinnya, karena ayahnya tidak tahu kalau Verrel bukanlah darah daging Joe.
Ia hanya bisa berdoa didalam hati, ketika ibunya nanti membantunya menceritakan semuanya, ayahnya bisa mengerti dan menerima putranya Verrel, juga Joe.
Hidup bersama Joe, melihat bagaimana pria itu selalu berusaha bersikap bijak dan sabar dalam memerankan kehidupannya yang sulit, membuat Virranda berusaha menyabarkan dirinya sendiri saat ini.
Sudah lima tahun dirinya berusaha mencari cara memperbaiki hubungannya dengan kedua orang tuanya, ia tidak ingin gegabah, dengan menuruti rasa sakit akibat ucapan ayahnya, itu akan membuyarkan semua niatan tulusnya selama ini.
"Papi, untuk kembali berkerja di Perusahaan, sebagai seorang isteri, Virranda harus meminta ijin terlebih dahulu pada Joe sebagai suami"
"Dan permintaan Papi yang kedua. Virranda sungguh minta maaf, Virranda tidak bisa bercerai dari Joe." tegasnya pada sang ayah.
__ADS_1
Sementara itu, Lirasa yang sedang mencari keberadaan asisten rumah tangganya, bibi Arin, terpaku ditempatnya. Ketika melihat Joe berjalan gontai meninggalkan teras rumah besarnya menuju sudut taman.
Ia melirik kedalam, melihat suaminya dan putrinya masih belum selesai mengobrol.
...🍓🍓🍓...
"Mom, aku dengar tuan Loenhard sedang sakit dirumah sakit. Apa sebaiknya kita menjenguknya, bukankah beliau adalah sahabat Daddy?" ucap Ferdinand sambil menyetir.
"Benarkah? Coba Mommy telepon nyonya Lirasa dulu," nyonya Toshigawa dengan sigap segera meraih ponselnya, ia mencari nama isteri dari sahabat suaminya itu pada kontak lalu menyambungkannya begitu menemukannya.
Ferdianad masih pokus pada kemudinya sambil mendengarkan suara ibunya yang sedang menelpon disebelahnya.
"Bagaimana Mom?" tanya Ferdinand penasaran, begitu ibunya sudah selesai menelpon.
"Tuan Loenhard sudah pulang kerumah hari ini. Besok malam Mommy dan Daddy akan berkunjung kesana. Kebetulan putri mereka yang sempat menghilang beberapa tahun belakangan ini sudah pulang bersama putranya yang berusia lima tahun," jelas nyonya Toshigawa sambil menyimpan ponselnya kembali kedalam tasnya.
Detak jantung Ferdinand tiba-tiba memacu, mendengar tentang Virranda dan putranya, ia sedikit gugup hingga harus menginjak rem mobilnya secara mendadak.
Creeaaaat!
"Hati-hati Kwang!" pekik ibunya kaget.
"Lampu merah Mom. Maaf, " ucap Ferdinand tegang.
Nyonya Toshigawa menatap wajah putranya. Setahunya, putranya itu jarang sekali melakukan hal ceroboh dengan sengaja, tapi kenapa hari ini ia merasakan ada sesuatu yang aneh pada putranya itu.
"Kwang, apakah kau baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
"Aku baik-baik saja. Maafkan aku Mom, tidak pokus pada lampu merah yang ada didepan," ucap Ferdinand berusaha menenangkan detak jantungnya.
"Besok malam, aku ikut ya Mom, berkunjung kerumah tuan Loenhard?" pintanya melirik pada ibunya, lalu kembali memandang kearah lampu merah yang sebentar lagi akan berubah warna.
"Bukankah kau selalu lembur akhir-akhir ini Kwang? Selain itu, disana ada putri tuan Loenhard dan cucunya. Mommy khawatir kau merasa tidak nyaman disana nanti, karena putrinya itu adalah wanita yang sempat dijodohkan denganmu Kwang," sela nyonya Toshigawa. Keganjilan sikap putranya itu semakin membuatnya merasa aneh.
__ADS_1
"Tidak masalah Mom. Itu masa lalu. Aku hanya ingin melihat tuan Loenhard, karena kami sudah lama tidak bertemu," sahut Ferdinand beralasan, menyembunyikan niat awalnya yang memang ingin bertemu langsung dengan Virranda dan Verrel putranya.
Bersambung...👉