Daddy My Son

Daddy My Son
66. Uang Penitipan


__ADS_3

Joe memarkirkan motornya disudut halaman rumah mertuanya, diarea yang kurang pencahayaan. Dari sana ia melihat satu unit mobil mewah tengah terparkir tepat didepan rumah besar sang mertua. Ia tahu benar siapa pemiliknya, Ferdinand Kwang.


Joe berjalan menuju kursi taman yang jaraknya tidak jauh dari motornya diparkir. Ia memeriksa ponselnya, melihat pesan Virranda yang masuk, memintanya untuk mengabari bila dirinya sudah tiba. Isterinya itu juga mengabarkan padanya bila Ferdinand dan kedua orang tuanya sedang bertandang kerumah orang tuanya.


Joe hanya membaca, namun tidak membalas pesan Virranda, ia tidak ingin wanita itu memaksanya masuk seperti sebelum-sebelumnya. Ia menduga bila kedatangan ayah biologis Verrel bersama kedua orang tuannya pastilah akan membahas hubungan antara Virranda dan pria itu.


Hati Joe tentu saja was-was memikirkan hal itu. Setelah insiden perkelahiannya dengan Ferdinand, ternyata pria itu dan keluarganya masih diterima baik oleh orang tua Virranda, batinnya.


Joe lebih memilih menenangkan dirinya dikursi taman tempatnya duduk sekarang sambil menunggu apa yang akan terjadi nantinya.


"Tuan Joe..."


Joe tersentak kaget, lalu mengelus dadanya dan berbalik. Bibi Arin tiba-tiba saja muncul dibelakangnya, tanpa suara langkah kaki.


"Maafkan saya Tuan, bila mengagetkan Anda," ucap asisten rumah tangga itu lagi.


"Tidak apa-apa Bi," sahut Joe kemudian, setelah dirinya mampu menetralkan rasa.kagetnya. "Ada apa Bi?" tanyanya.


"Tadi nona Virranda berpesan, kalau tuan Joe datang, disuruh masuk saja untuk bergabung dengan para tamu," ucap bibi Arin menyampaikan maksud kedatangannya.


"Memang siapa tamunya Bi?" tanya Joe pura-pura tidak tahu.


"Itu, tuan Ferdinand dan kedua orang tuanya, Tuan," sahut bibi Arin terlihat ragu-ragu mengatakan siapa tamunya. Pasalnya kemarin malam, suaminya nona majikannya itu, dan sang tamu sempat terlibat baku jotos, dan itu karena keteledorannya memperbolehkan Ferdinand menjenguk Virranda dikamarnya.


"Tuan Joe, saya minta maaf," ucap perempuan itu lagi.


"Tidak apa-apa Bi, tadi juga sudah minta maaf," kata Joe asal sambung.


"Bukan masalah yang barusan, yang mengagetkan Tuan. Tapi--, masalah kemarin malam Tuan, kecerobohan saya memperbolehkan tuan Ferdinand menjenguk Nona hingga masuk ke kamarnya," ucapnya dengan raut menyesal.

__ADS_1


Sejujurnya, ingin sekali rasanya Joe marah, dan memaki-maki perempuan paruh baya itu, tapi buat apa? Tidak ada gunanya. Walau ia tidak terima akan keteledoran perempuan itu, namun ia berusaha berfikir bila dirinya di posisi wanita itu. Virranda memang tidak menyukai Ferdinand, batinnya. Tapi ayah Virranda sangat menyukai pria itu, andai bibi Arin berani menolak, wanita paruh baya itu haruslah bersiap menerima konsekuensinya.


"Saya memakluminya bi Arin, posisi bibi memang serba salah. Tapi bila boleh jujur, saya memang tidak rela ada pria asing yang masuk ke dalam kamar isteri saya," ucap Joe.


"Iya Tuan, itu sebabnya saya mohon maaf, mohon ampun Tuan," ucap bibi Arin bersungguh-sungguh dan penuh penyesalan.


"Iya Bi, saya maafkan. Lupakan saja, semua sudah berlalu," ucap Joe dengan suara rendahnya.


"Terima kasih Tuan," bibi Arin terlihat lega.


"Saya masak banyak didapur, bagaimana kalau tuan makan malam dulu, saya akan siapkan. Setelah itu, Tuan bisa bergabung dengan para tamu," ucap bibi Arin menawarkan.


"Terima kasih Bi, aku sudah mampir makan sebelum kesini. Dan aku juga akan menunggu disini saja, sampai tamunya pulang. Tidak enak Bi, nereka pasti sedang membicarakan hal yang penting," ucap Joe pada sang bibi.


"Heum, kalau begitu, bagaimana kalau saya buatkan teh buat Tuan, supaya tidak bosan menunggu," tawarnya lagi.


Joe terdiam sejenak, sebenarnya dirinya tidak ingin minum apapun. Tapi, untuk menghargai ketulusan perempuan paruh baya itu, Joe akhirnya mengangguk setuju.


"Tunggu sebentar ya Tuan, sebentar lagi saya akan kembali. Ini, saya bawakan anti nyamuk cair. Saya sudah menduga, Tuan pasti tidak mau masuk," ucap bibi Arin sembari menyerahkan sebotol anti nyamuk beraroma lavender.


"Terima kasih Bi," Joe menerima anti nyamuk yang diberikan bibi Arin padanya, lalu segera mengoleskannya pada bagian kulitnya yang terbuka.


...🍓🍓🍓...


"Saya begitu senang, ternyata tuan Ferdinand sangat gentle, mau mengakui kesalahan dimasa lalu dan meminta maaf dengan mengajak tuan dan nyonya Toshigawa kemari." ucap tuan Loenhard bersemangat.


Virranda yang memperhatikan jalannya obrolan langsung memijat pelipisnya dengan raut kesal.


"Laki-laki seperti inilah yang saya inginkan menjadi menantu saya," ungkapnya dengan wajah sumringah membuat Virranda dan ibunya saling berpandangan dengan raut wajah yang memerah menahan kesal, marah, dan rasa malu didalam dada, melihat sikap tuan Loenhard yang tidak bisa mereka pahami.

__ADS_1


Sementara itu, Ferdinand ikut tersenyum, ia merasa bila ayah Virranda sepaham dengan dirinya.


Tuan dan nyonya Toshigawa juga saling berpandangan satu sama lain, tidak menyangka bila ayah Virranda akan berlaku lunak setelah mendengar pengakuan putra mereka yang telah merusak anak gadis kebanggannya dimasa lalu.


"Bila seperti itu, apakah perjodohan saya dengan nona Virranda bisa dilanjutkan dengan pernikahan? Apalagi kami sudah memiliki Verrel Tuan," tanya Ferdinand membuat kedua orang tuanya mendelikan kedua bola matanya.


"Kwang! Ingat, kita kemari hanya untuk minta maaf," bisik tuan Toshigawa kembali mengingatkan putranya.


"Mohon maafkan putra saya Tuan dan Nyonya, juga nona Virranda. Sebenarnya Kwang tidak pantas bicara seperti itu," ucap tuan Toshigawa merasa sangat malu pada ucapan putranya barusan.


"Tidak apa-apa tuan Toshigawa, saya sependapat dengan tuan Ferdinand, bukankah dia mau bertanggung jawab atas perbuatannya di masa lalu? Jadi saya tidak keberatan bila putra Anda bersedia menikah dengan putri saya, Virranda," ucapnya tersenyum lebar.


"Tapi Virranda yang tidak mau Papi!" Virranda tiba-tiba memekik disudut sofa, membuat semua orang yang ada diruang tamu itu kaget dibuatnya.


Virranda yang semenjak tadi mengikuti obrolan itu sudah tidak tahan lagi melihat sikap ayahnya, yang sama sekali tidak berempati pada kemalangan yang pernah menimpanya dimasa lalu. Ia berharap, setelah mendengar semuanya, sang ayah tidak lagi berkeras hati menyatukan dirinya dengan pria yang pernah membuatnya menderita dengan menyembunyikan aibnya seorang diri.


Duzzpp!!


Semua yang hadir kembali kaget, melihat benda yang terbungkus plastik transparan dihempaskan Virranda begitu saja keatas meja. Bukan berniat tidak sopan, namun ia sengaja melakukannya sebagai ungkapan rasa kecewanya atas sikap ayahnya.


"Uang apa itu sayang?" Lirasa menatap benda yang tergolek diatas meja. Dari plastik transparan itu, semua yang ada disana bisa melihat bahwa benda itu adalah segepok uang kertas pecahan seratus ribuan.


"Tuan Ferdinand! Kau ingatkan benda itu?!" tunjuk Virranda pada benda yang ia lemparkan diatas meja, membuat Ferdinand seketika gugup ditambah tatapan tajam Virranda padanya.


Virranda beralih memandang ibunya. "Itu uang senilai tiga puluh juta Mi." ucapnya dengan bola mata yang mulai berkaca-kaca.


"Dan uang itu--, uang yang diberikan tuan Ferdinand untuk penitipan benihnya dirahimku selama sembilan bulan sepuluh hari, Pi!" ucap Virranda beralih pada ayahnya. Kini, suaranya terdengar bergetar, menahan tangisnya yang hendak pecah. Hanya air matanya saja yang jatuh ke belahan pipinya, karena sudah tidak bisa terbendung lagi.


Tenggorokan tuan Loenhard seketika tercekat, melihat luka yang tergambar dari sorot mata putrinya yang terus merembeskan air mata menahan isaknya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2