
"Nick, sekretaris Shen, terima kasih sudah mengantarkan kami sampai kemari. Sebaiknya kalian berdua pulang saja, kalian pasti lelah." ujar Joe pada kedua pengantin baru itu.
"Tidak mengapa tuan Joe, kami disini saja menunggu sampai Nona melahirkan. Mungkin saja Tuan butuh sesuatu, karena disini tidak ada siapa-siapa," ucap sekretaris Shen memberi alasan, wanita itu sudah terbiasa dikantor, tidak akan pulang begitu saja sebelum ia memastikan semuanya beres.
"T-tapi--," Joe merasa.tidak enak, ia melirik pula pada Nickholas, sementara itu suara-suara eran*an kesakitan Virranda terus terdengar.
"Jangan sungkan Tuan, saya sudah terbiasa dengan keluarga Nona, dan segala tugas yang ada. Saya dan suami akan tetap ada disini sampai Nona melahirkan. Bila ada yang dibutuhkan katakan saja pada kami," ucap sekretaris Shen lagi.
"Iya Joe, isteriku benar. Nanti kami yang akan memberitahukan pada keluarga tuan Loenhard, kalau sekarang Virranda ada disini," ucap Nickholas pula.
"B-baiklah kalau begitu, terima kasih banyak. A-aku masuk dulu," ucap Joe gugup, ia segera beranjak masuk kedalam ruang tindakan.
Begitu Joe masuk, Nickholas segera menuju tempat duduk yang terdekat dengan ruang tindakan, Ia memperhatikan sekretaris Shen yang nampak sibuk dengan ponselnya.
"Sayang, duduklah disini," panggil Nickholas, setelah ia melihat isterinya selesai menelpon beberapa orang.
"Kau sakit?" tanya sekretatis Shen, memperhatikan wajah Nickholas yang nampak pucat. Punggung tangannya dengan lembut menyentuh dahi pria yang baru 7 jam yang lalu resmi menjadi suaminya, setelah diadakan pemberkatan nikah sebelum mereka menggelar resepsi.
"Tidak, aku hanya cemas," ucap Nickholas dengan suara pelan.
"Cemas? Apa yang kau cemaskan Sayang?" tanya sekretaris Shen lembut, dengan dua alis nya yang sedikit terangkat.
"Suara itu," ucap Nickholas masih pelan.
Sekretaris Shen memasang indera pendengarannya dengan baik. "Apa maksudmu suara nona Virranda?" ucap sekretaris Shen, mendengar eran*an-eran*an sang nona majikannya dari dalam ruang tindakan.
"Eum," angguk Nickholas pelan. "Aku membayangkan kalau itu dirimu, Sayang. Aku pasti pingsan, tidak seperti Joe yang berani masuk kedalam sana," tunjuknya dengan bibirnya yang memancung.
"Semuanya berawal dari malam pertama," gumam Nickholas sambil melongo, "Dan sungguh akibatnya begitu sangat mengerikan," imbuhnya lagi sambil bergidik ngeri, menatap pintu ruang tindakan yang masih tertutup rapat, dan membayangkan Virranda yang tengah terguling-guling di ranjang pasien sambil menggeliat-geliat kesakitan.
"Kenapa? Apa ada yang lucu?" tanya Nickholas heran sembari mengernyitkan kedua keningnya, memandang sekretaris Shen yang tengah tergelak disampingnya.
"Tentu saja. Ucapanmu sangat lucu, Sayang." sekretaris Shen masih menyambung tawanya, menatap raut suaminya yang masih bingung memikirkan dimana letak perkataannya yang dianggap lucu oleh isterinya itu.
"Sayang, baru satu jam yang lalu kau begitu bersemangat dengan malam pertama kita yang panjang, tapi kenapa mendengar suara nona Virranda kau langaung melupakan semangatmu itu," goda sekretaris Shen masih terkekeh geli.
__ADS_1
"Oohh..." Seketika, raut pucat Nickholas berubah merona, rasa malu mendadak menyerangnya, hingga membuatnya salah tingkah dan menggaruk-garuk tengkuknya yang belum tentu gatal.
"Selamat malam nona Shen, Tuan. Saya membawakan pesanan Nona" seorang pria, mengenakan jaket kulit hitam dan berkacamata gelap, menghampiri sekretaris Shen dan Nickholas yang masih berbincang, dengan membawa beberapa tentengan paper bag ditangannya.
"Oh, selamat malam," sekretaris Shen segera berdiri. "Terima kasih Dion," ucapnya sembari menerima tentengan paper bag yang disodorkan pria itu.
"Sama-sama Nona. Apa masih ada yang bisa saya bantu?" tanya pria itu lagi, tanpa melepas kaca mata gelapnya.
"Iya, tunggu sebentar. Saya akan berganti pakaian bersama suami saya, nanti kau boleh membawa pakaian pengantin kami ini ke laundry." ucap sekretaris Shen pada orang kepercayaan keluarga Loenhard itu.
"Baik Nona," sahut pria itu.
"Ayo Sayang, kita berganti pakaian dulu disana," tunjuk sekretaris Shen pada satu bangunan rawat inap VIP rumah sakit yang tidak jauh dari ruang tindakan dimana Virranda berada.
"Apa boleh kita masuk kesana?" tanya Nickholas ragu, melihat pintu ruangan VIP yang tertutup rapat.
"Tentu saja boleh. Aku sudah memesannya untuk nona Virranda bila ia sudah selesai bersalin diruang tindakan. Kita bisa meminjamnya sebentar untuk bergantian pakaian. Setelah itu, aku bisa leluasa mengurus administrasi nona Virranda," jelas sekretaris Shen.
"Baiklah kalau begitu," Nickholas bangkit, ia lalu membantu sekretaris Shen memegangi ujung-ujung gaun sang isteri agar tidak terinjak oleh sepatu high heels-nya, dan kembali meminta Dion membawa beberapa tentengan paper bag yang diletakan diatas kursi dimana mereka duduk sebelumnya.
🍓🍓🍓
"Sayang, kau yakin tidak mau operasi? Bayi kita terlalu besar didalam rahimmu," gumam Joe, ia merasa tidak tega melihat Virranda menggeliiat-gelit kesakitan diatas ranjang pasiennya.
Berkali-kali ia mengusap keringat dingin yang membasahi wajah dan leher isterinya, begitu pula rambutnya dengan menggunakan handuk kecil yang diberikan oleh perawat.
"Aku masih sanggup Joe..Kau lihatkan tenagaku cukup kuat menghadapi ini semua, makanku tadi sangat banyak," tolak Virranda, ia tidak mau terlihat lemah, walau sebenarnya ia sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang sebentar-sebentar menderanya dengan durasi setiap 3 menit sekali, ya waktu yang semakin mendekat untuk dirinya melahirkan bayinya.
"Kalau begitu, kita berdoa saja Sayang. Kiranya apa yang tengah kau jalani ini segera berlalu. Aku, aku tidak tega melihatmu seperti ini." Berkali-kali Joe mencium pucuk rambut Virranda yang menyandarkan punggungnya di dada bidangnya.
Virranda dapat mendengar suara Joe yang memanjatkan doanya dengan suara lirih didekat telinganya sembari mengusap lembut perutnya yang semakin bergolak hebat didalam sana. Wanita itu dapat melihat pergerakan perutnya yang menonjol kesana-kemari menandakan bila bayinya itu semakin aktif menjelang kelahirannya.
"Akh! Awh! J-Joe! S-sa-kit lagi!" eran*an Virranda kembali terdengar. "Aku sepertinya ingin BAB!" ucap Virranda setengah berteriak.
"Aduh, bagaimana ini!" ucap Joe panik.
__ADS_1
"Dokter! Isteri saya mau BAB! Bagaimana caranya membawa dia ke toilet!" Teriak Joe semakin panik.
Dokter yang dipanggil buru-buru mendekat, "Permisi Nona, saya akan memeriksa Anda," setelah berkata demikian ia lalu melihat jalan lahir Virranda , dan tersenyum melirik ke arah Joe.
"Tiba waktunya Nona akan melahirkan Tuan, rasa BAB yang dimaksud Nona itu adalah ingin mengeluarkan bayinya," jelas sang dokter cantik itu singkat, membuat raut wajah Joe menegang mendengarnya.
"Suster! Segera bawa peralatan kemari!" titah sang dokter pada dua suster yang sudah siap sedia.
"Nona Virranda, apa Anda sudah siap?" tanya sang dokter.
"S-siap Dok!" sahut Virranda sambil menahan rasa sakit yang luar biasa didaerah perut bawah dan pinggulnya.
"Bagus! Sekarang, tarik nafas dalam, lalu hembuskan lewat mulut perlahan. Lakukan itu berulang kali. Dan bila ada rasa ingin BAB, mengejan saja. Tapi ingat! Mata Nona jangan sampai terpejam," pandu sang dokter.
Virranda mengikuti semua yang dikatakan dokter, walau terkadang nafasnya harus tersengal-sengal menahan rasa sakit yang luar biasa.
"Anak Pintar, ayo bantu Mommy untuk segera melewati masa-masa ini," ucap Joe lembut, berusaha bersikap setenang mungkin, walau sebenaranya rasa tegang, panik, takut, semuanya bercampur aduk jadi satu sedang melandanya.
Joe terus mengelus lembut perut Virranda, agar isterinya itu dapat merasakan dukungannya, sambil terus melafalkan doa terbaiknya buat sang isteri.
"Bagus Nona! Sedikit lagi! Ayo, semangat!" ucap sang dokter terus memandu dan memberi semangat.
Oeekk! Oeekk! Oeekk!
Seorang bayi meluncur sempurna ditangan sang dokter. "Dia bayi laki-laki, sangat gemuk dan besar," ucap sang dokter merasa gemes, sembari membersihkan darah dari tubuh sang bayi.
"Selamat ya Tuan dan Nyonya," ucap sang dokter lagi, ia lalu meletakan bayi laki-laki itu perlahan diatas dada ibunya, sebagai inisiasi menyusui dini, langkah penting untuk memudahkan bayi dalam memulai proses menyusui.
"Terima.kasih banyak Dok," ucap Virranda dan Joe bersamaan. Keduanya sama-sama mengusap lembut punggung bayi merah yang tengah telungkup mencari sumber ASI ibunya dengan mulutnya yang terus bergerak menyesap kesana-kemari.
"Selamat ya Sayang," Joe mengecup pucuk rambut isterinya dengan rasa sayang.
"Kau sangat hebat," puji Joe kagum, ia telah menyaksikan perjuangan isterinya yang luar biasa, seorang wanita yang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan manusia baru ke dunia.
"Terima kasih, telah melahirkan buah cinta kita," ungkap Joe semakin haru, menitikkan air mata disudut kelopak matanya.
__ADS_1
"Eum," angguk Virranda ikut terharu. "Selamat juga buatmu, Misuaku. Daddy my son, I love you," ungkap Virranda sembari memejamkan matanya, saat satu kecupan Joe kembali mendarat dikeningnya.
Bersambung...👉