
"T-tidak mungkin," raut nyonya Toshigawa masih nampak syok.
"Sebesar apa cintamu pada putri tuan Loenhard itu Kwang? Sampai-sampai kau harus mengarang cerita yang tidak masuk akal seperti ini?!" nalar nyonya Toshigawa belum bisa percaya, apalagi menerima ucapan putranya itu.
"Cinta? Siapa yang sedang mencintai?" celetuk tuan Toshigawa dari balik pintu, memunculkan senyumnya pada isteri dan anaknya.
Ferdinand dan ibunya seketika terdiam, raut mereka menegang, berharap sang kepala keluarga tidak mendengar obrolan mereka.
"Kok diam? Lanjutkan, Daddy juga mau dengar. Siapa yang sedang jatuh cinta? Bukan Mommy kan?" godanya sembari mendekati isterinya.
"Mommy kan selalu jatuh cinta setiap hari pada Daddy," balas nyonya Toshigawa sembari berdiri dan memberi kecupan pada pipi suaminya.
"Daddy mau berangkat sekarang?" nyonya Toshigawa merapikan dasi, juga jas yang dikenakan suaminya itu.
"Heum," sahutnya mengangguk.
Ferdinand memalingkan wajahnya kearah lain, dirinya sudah terbiasa menyaksikan keromantisan kedua orang tuanya.itu.
Drrtt. Drrtt. Drrtt.
Tuan Toshigawa segera merogoh kantong jasnya, melirik layar ponselnya yang menyala, "Sebentar ya Mom, sekretarisn Linlin menelpon." dan disambut anggukan oleh isterinya itu.
📞"Hallo, ada apa sekretaris Linlin?" tanya tuan Toshigawa begitu mengangkat teleponnya.
📞"Selamat pagi Tuan. Hari ini tuan Direktur tidak masuk karena sakit. Mohon Tuan menggantikan beliau untuk menemui tuan Mozes yang akan tiba dikantor dua jam lagi sesuai janji yang sudah dijadwalkan," sahut sekretaris Linlin dari ujung sambungan telepon.
Tuan Toshigawa melirik kearah Ferdinand yang juga sedang memandang kearahnya. Ia baru tersadar bila ada sesuatu yang tidak beres saat melihat wajah putranya yang menyedihkan pagi ini. Sebelumnya ia tidak terlalu memperhatikannya, karena menyangka putranya itu hanya kelelahan saja ketika melihatnya masih betah dikasurnya hingga waktu jam kerja sebentar lagi akan dimulai.
📞"Baiklah. Satu setengah jam lagi aku akan tiba dikantor." ucap tuan Toshigawa.
📞"Baik Tuan. Selamat pagi," tutup sekretaris Linlin, begitu mendengar sang majikan membalas salam penutupnya.
__ADS_1
"Daddy tidak jadi berangkat sekarang?" tanya nyonya Toshigawa memastikan, setelah mendengar apa yang dikatakan suaminya ditelpon pada sekretaris Linlin.
"Bukankah putra kesayangan Mommy itu sedang sakit? Tidak mungkin Daddy pergi begitu saja tanpa tahu penyebab wajahnya yang babak belur seperti itu." ungkapnya, menatap isterinya dan putranya yang saling berpandangan.
"Kenapa wajah tampanmu hari ini terlihat begitu menyedihkan Kwang?l" tanya tuan Toshigawa dengan raut dibuat setenang mungkin, walau dadanya kini tengah bergemuruh, tidak bisa menerima bila putra tunggalnya diperlakukan secara demikian oleh tangan manusia lain.
"Ini--" Ferdinand menyentuh wajahnya, rasa ragu menyelinap didadanya, saat berniat menyembunyikan apa yang terjadi.
"Katakan Kwang, kau pasti tahu konsekuensinya bila berani berdusta pada Daddy." ucap pria itu datar dan tetap tenang.
Jakun Ferdiand kembali bergerak naik turun. Sebagai anak, ia sangat mengenal sikap ayahnya. Selama ini, ayahnya itu memang mendidiknya dengan keras, tegas, dan penuh disiplin, tidak mentolerir apapun kesalahan, memberi hukuman sesuai porsinya.
Itu bukan berarti dirinya tidak menyayangi putranya. Tuan Toshigawa memang mendidik putranya berbeda dari isterinya yang selalu memanjakan putra mereka.
"Kwang? Katakan dengan jujur. Jangan sampai Daddy mencari tahu sendiri. Dan kau tahu akibatnya," ulang tuan Toshigawa menatap datar pada putranya yang masih setia membisu.
"Melihat wajah lebammu itu, pasti sesuatu serius telah terjadi," duga tuan Toshigawa menelisik wajah putranya.
"I-ini hasil dari berkelahi dengan Joe, Dad," aku Ferdinand gugup.
"Joe? Siap dia?" tanya tuan Toshigawa. Samar-samar ia pernah mendengar nama itu, namun ia tidak menemukan sosok itu dalam memorinya.
"Suami nona Virranda, seorang penyanyi cafe Dad," ungkap Ferdinand, menyebut sosok Joe pada ayahnya.
Pria tua itu mengangguk-anggukan kepalanya pelan. Sejumput ingatan muncul dikepalanya, mengingat nama itu memang pernah disebut oleh Virranda, saat dirinya bersama keluarganya menjenguk tuan Loenhard yang baru pulang dari rumah sakit beberapa bulan lalu.
Dan cucu laki-laki sahabatnya itu sempat menjadi topik pembicaraan mereka malam itu, karena begitu mirip dengan putranya. Mungkinkah itu ada hubungannya dengan perkelahian Joe dan Ferdinand putranya? batin tuan Toshigawa.
"Apa yang menyebabkan kalian berdua terlibat perkelahian? Heum?" cecar tuan Toshigawa penuh selidik.
"A-aku, datang kerumah tuan Loenhard untuk menengok nona Virranda yang sedang sakit Dad," aku Ferdinand lagi, lalu kembali diam.
__ADS_1
"Lalu?" kejar tuan Toshigawa dengan nada menginterogasi.
"Lalu, dia memukulku lebih dulu, dan kami akhirnya terlibat saling adu jotos satu sama lainnya setelah itu," ungkapnya.
Tuan Toshigawa memindai setiap gerakan tubuh putranya itu. "Kwang, apa kau yakin sudah berkata jujur dan menceritakan semuanya?" tekannya.
"Iya Dadd," sahut Ferdinand kikuk, membuat tuan Toshigawa tahu, bila masih ada yang masih disembunyikan oleh putranya itu.
"Daddy memang tidak pernah melihat suami nona Virranda yang bernama Joe itu. Menurut hemat Daddy, seorang penyanyi cafe seperti yang kau sebutkan tadi, tidak mungkin seberani itu, memukul dirimu yang bertampang parlente ini, bila tidak ada sesuatu yang menyinggung perasaannya," duga tuan Toshigawa.
"Dad sudahlah. Kasihan Kwang, jangan menyudutkannya terus, biarkan dia istirahat dulu hari ini," sela nyonya Toshigawa. Ia tidak tega melihat ketegangan yang menimpa putranya akibat pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan suaminya.
"Mom, kita harus tahu apa sebenarnya yang telah terjadi. Jangan sampai rasa sayang Mommy itu menutup sesuatu yang harusnya kita ketahui, dan itu nantinya membuat kita malu. Sikap Mommy membuatku semakin curiga, bila ada sesuatu yang tidak beres," ucapnya pada isterinya. Detik berikutnya ia beralih pada Ferdinand, menatap lekat wajah putranya.
Menerima ucapan serupa itu dari suaminya, membuat nyonya Toshigawa kembali terbungkam. Dirinya memang tidak berusaha membantah, karena ia tahu bila apa yang dilakukan suaminya selama ini hanya demi kebaikan putra mereka.
"Apa mungkin perkelahianmu dengan Joe ada hubungan dengan putra nona Virranda yang sangat mirip denganmu saat usiamu seusia anak laki-laki itu?" Pertanyaan tidak terduga tuan Toshigawa membuat Ferdinand dan ibunya saling melirik tegang, dan hal itu tidak lepas dari perhatian pria tua itu.
"Apa itu benar Kwang?" tanya tuan Toshigawa bertambah curiga. Ferdinand masih bungkam, begitu pula ibunya. Hatinya terasa ciut menerima tatapan tajam dari ayahnya.
"Daddy punya waktu sedikit saja mendengarkan jawabanmu Kwang," pria itu melirik arloji tangannya sekilas. Lalu memasukan kedua tangannya pada saku celanannya.
"Kau tahu, Daddy sangat tidak suka memaksa. Jadi bicaralah, sebelum Daddy berubah pikiran," ucap tuan Toshigawa datar.
Ferdinand mendengus, mendengar ucapan ayahnya. Ia sudah sangat hapal, sepertinya kalimat itu sudah menjadi hapalan luar kepala ayahnya yang dijadikan senjata untuk mengancamnya. Katanya tidak memaksa, tapi terus mendesak, batinnya.
"Verrel, putra dari nona Virranda, dia putraku Dad," ungkapnya.
Walau ada rasa takut mengakuinya dihadapan ayahnya, namun Ferdinand tetap melakukannya. Lambat laun, ayahnya juga pasti tahu, batinnya. Lebih baik ia mengakuinya sekarang. Juga rasa penasarannya pada respon sang ayah, mengalahkan semua rasa takutnya.
Bersambung...👉
__ADS_1