Daddy My Son

Daddy My Son
86. Permintaan Verrel


__ADS_3

Verrel berlari-lari kecil menghampiri Joe dan Virranda yang masih berbincang dengan tuan Tosihagawa dan kedua orang tuanya.


"Mommy! Daddy!" teriak Verrel yang hanya beberapa langkah kaki lagi akan mencapai kedua orang tuanya.


"Ada apa Sayang? Kok berlari seperti tadi?" tanya Virranda mengusap rambut lurus putranya yang tengah memeluknya dengan nafas tersengal-sengal karena kelelahan.


"Apakah boleh Verrel mengganti panggilan uncle Kwang dengan sebutan Papa?!" tanya Verrel spontan dengan suara lantangnya, mengimbangi nafasnya yang masih memburu.


"Kata Uncle, harus minta ijin dulu sama Momny dan Daddy!" sambung bocah itu lagi.


Tentu saja semua yang ada disana saling berpandangan satu sama lain, tidak terkecuali Virranda. Wanita itu kembali merasa risau, takut putranya direbut oleh Ferdinand. "Apa dia tidak merasa puas, anaknya saja sudah 13 orang? Kenapa masih mengincar putraku?" ucap Virranda ngedumel didalam hati.


Tuan Toshigawa, hanya terdiam, begitu pula dengan tuan Loenhard dan isterinya. Mereka mengerti, bila itu tidak mudah bagi Virranda, setelah apa yang pernah dilakukan Ferdinand padanya.


Mendapat persetujuan dari Virranda saja untuk kehidupan Verrel dibiayai oleh ayah kandungnya, bagi mereka itu sudah lebih dari cukup. Para orang tua itu hanya memperhatikan interaksi antara Verrel dan ibunya yang terlihat bimbang untuk menjawab.


"Boleh 'kan Mom?" desak Verrel dengan wajah memelas, mendongakan wajahnya menatap Virranda yang masih bungkam.


Bocah itu sekecil itu memang tidak memahami dilema kehidupan para orang dewasa yang seolah dibuat rumit, dan semuanya berujung menyangkut harga diri.


"Kemarilah jagoan Daddy," panggil Joe merentangkan tangannya supaya anak sambungnya itu beralih kedalam pelukannya.


"Kenapa Verrel mau memanggil uncle Kwang Papa? Apa Verrel tahu Papa itu artinya apa?" ucap Joe ingin tahu sampai dimana pemahaman putranya itu tentang panggilan yang ingin ia sematkan pada ayah kandungnya itu.


"Tahu dong Dad," sahut Verrel menatap Joe.

__ADS_1


"Apa dong, jelasin pada Daddy," pinta Joe. Ia mengangkat tubuh mungil Verrel duduk diatas pangkuannya dan memeluknya dengan rasa sayang.


"Papa itu panggilan seorang anak pada ayahnya, sama seperti Verrel memanggil Daddy," terang bocah itu. "Verrel, mau punya Papa seperti uncle Kwang juga, boleh yah Dad?" lirihnya pada Joe.


"Boleh dong," sahut Joe tersenyum lembut sembari mengusap rambut anak sambungnya.


"Joe," mata Virranda seketika membelalak, tidak menyangka Joe akan mengatakan itu pada Verrel. Sementara bocah itu terlihat sedikit takut, karena ibunya tidak pernah menunjukan wajah ekstrim didepannya.


"Tenang Sayang," Joe melirik sekilas pada Virranda supaya isterinya tidak membantah ucapannya dalam situasi itu. Ia sadar, harusnya bukan dirinya yang mengijinkan ataupun memutuskan hal itu, melainkan Virranda ibunya. Tapi untuk hal itu, Joe punya alasannya sendiri.


"Uncle Kwang sudah punya banyak anak, sedangkan Daddy dan Mommy hanya punya Verrel," ucap Virranda berusaha bicara selembut mungkin.


"Itulah Mom, Verrel mau jadi anak uncle Kwang, selama ini Verrel kesepian, tidak punya teman main dirumah. Hanya ditemani para Bibi dan komik-komik, " keluh bocah itu jujur.


"Masih lama kata kakek Uban! Verrel maunya sekarang!" ungkap Verrel tak sabar.


Tuan Loenhard hanya bisa terbatuk-batuk mendengar dirinya dibawa-bawa sang cucu. Lirasa menahan senyumnya, melihat ulah Verrel yang menunjukan keras kepalanya, mewarisi sifat Virranda dan suaminya.


Sedangkan hobby Verrel yang suka mengumpulkan temen-temen perempuannya dari sekolah, mungkin karena bocah itu merasa kesepian dan tidak punya teman sebayanya saat dirumah, atau mungkin menurun dari Ferdinand, batin Lirasa tiba-tiba merasa ngeri membayangkannya.


"Sayang, ijinkan Verrel memanggil tuan Ferdinand Papa ya," bujuk Joe, ia tidak ingin melihat bocah itu menunjukan wajah cemberutnya ditengah-tengah kebahagiaan keluarga tuan Toshigawa siang itu, terlebih ia tahu bila Ferdinand memang ayah kandung Verrel.


Virranda hampir saja mendengus kesal, namun tatapannya tak sengaja saling bertemu dengan tuan Toshigawa. Sampai saat ini, ia memang sulit memaafkan Ferdinand, tapi sikap kedua orang tua Ferdinand yang selalu rendah hati saat meminta maaf padanya dan keluarganya, dan selalu berusaha memberi keadilan padanya dengan tidak pernah memaksakan apapun, membuat Virranda menurunkan sedikit ego-nya.


"Baiklah, Verrel boleh memanggil Papa pada Uncle," ucapnya terpaksa.

__ADS_1


"Horeee!!" Pekik Verrel gembira. Ia lalu mencium pipi kiri dan kanan Joe sebagai ungkapan rasa bahagianya, dan buru-buru melorot turun dari pangkuan ayah sambungnya itu untuk menghampiri Virranda.


"Terima kasih Mommy! Akhirnya Verrel punya Daddy dan punya Papa!" Bocah itu mencium pipi kiri dan kanan ibunya juga. Gerakan cepat Verrel membuat Virranda tidak sempat memeluknya karena sudah beralih pada tuan Toshigawa.


"Dan Verrel punya 2 kakek!" Bocah itu meraih punggung tangan tuan Toshigawa dan meninggalkan air liur-nya lagi disana seperti biasa, sang kakek hanya bisa tertawa melihat tingkah cucunya itu.


"Verrel! Kau melupakan kakek Uban-mu!" teriak tuan Loenhard tidak terima, ketika merasa dirinya tidak dihiraukan. Ia memandang Verrel yang sudah berlari menjauh menuju Ferdinand dan para putrinya berada.


"Nanti saja! Tunggu kakek Uban mandi siang dulu!" teriak Verrel lagi sambil terus berlari menjauh tanpa menoleh.


"Mandi siang?! Apa bocah nakal itu bermaksud bilang aku bau," duga tuan Loenhard tersinggung.


"Papi, Verrel tidak ada bilang begitu," bela Lirasa.


"Memang bocah nakal itu tidak bilang begitu Mi, tapi dengan mengatakan aku harus mandi siang-siang begini, sama halnya dia bilang kakeknya ini bau," debatnya lagi.


"Terserah Papi saja, udah tua memang sulit di kasih pencerahan," sindir Lirasa ngedumel, sikap keras kepala suaminya yang suka ngotot memang tiada tandingannya, batinnya.


"Mi, biar kata Papi sudah tua, jangan terlalu jujur begitu di depan Papi, ngatain Papi sudah tua segala," protesnya masih tidak puas dengan perdebatan bersama sang isteri.


Tuan Toshigawa, Joe, dan Virranda pura-pura tidak mendengar, pandangan mereka sengaja mengarah pada Verrel yang sedang bermain jungkat-jungkit bersama 3 saudarinya, sementara saudarinya yang lain ada yang bermain ayunan, perosotan, papan titian, mangkok putar, ban warna-warni, jaring laba-laba, besi panjat, dan lainnya.


Taman depan rumah keluarga Toshigawa memang sudah disulap oleh tuan Toshigawa untuk taman bermain para cucunya, agar mereka tidak merasa bosan berada dirumah seusai pulang sekolah.


Bersambung....👉

__ADS_1


__ADS_2