Daddy My Son

Daddy My Son
60. Nickholas dan Sekretaris Shen


__ADS_3

Nickholas buru-buru turun dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk sekretaris Shen.


"CEO Nick, terima kasih untuk makan siangnya," ucap sekretaris Shen sembari turun dari mobil Nickholas.


"Tunggu! Kau melupakan sesuatu," cegah Nickholas. Pria itu buru-buru beranjak ke pintu bagian tengah. Dari sana ia mengambil sesuatu dan membawanya mendekati sekretaris Shen yang masih berdiri disisi mobilnya.


"Kau meninggalkan ini di mobilku," ujar Nickholas sembari memberikan sebuket bunga pada sekretaris Shen.


"Bunga mawar merah segar?" Sekretaris Shen memandang benda itu sesaat, lalu menautkan kedua alisnya, menandakan dirinya tengah bingung akan keberadaan sebuket bunga itu, dan tangannya masih terkunci tidak berani menerima benda itu, yang secara jelas ia tahu bila itu bukanlah miliknya.


"Maaf CEO Nick, sepertinya bunga ini bukan milik saya," ungkap sekretaris Shen masih merasa bingung.


"Iya, ini milikmu sekretaris Shen, aku sengaja membawakannya untukmu," ucap Nickholas akhirnya.


Sekretaris Shen menatap Nickholas sesaat, pria itu buru-buru menampilkan senyum terbaiknya. "Ini untukku?" tanya wanita itu memastikan.


Nickholas mengangguk cepat. "Iya, ini untuk kekasihku, nona Shen," ucap Nickholas membuat wajah wanita itu seketika merona, menahan malu.


"Heum, terima kasih CEO Nick." Sekretaris Shen menerimanya lalu mencium aroma wangi mawar itu.


"Kau suka?" tanya Nickholas memastikan.


"Iya, aku sangat suka mawar segar, aromanya begitu wangi, dan warna merahnya terlihat begitu indah dan cantik," ungkap sekretaris Shen kembali mencium aroma segar yang menguar dari mawar itu.


"Sewangi, seindah, dan secantik dirimu nona Shen," ucap Nickholas kembali melontarkan pujiannya.


"CEO Nick terlalu berlebihan, saya tidak secantik bunga ini," ucap wanita itu merendah, gelagatnya menampilkan rasa.canggung dan malu-malunya.


"Aku rasa tidak berlebihan. Kau bahkan jauh melebihi kecantikan bunga itu." sambung Nickholas terus melancarkan pujiannya.


"Panggil aku Nick saja, bukankah kita sudah jadi sepasang kekasih, jangan bersikap formal padaku." pinta Nickholas, senyum tipisnya terus mengembang diwajah tampannya.


"Eumm, baiklah" angguk sekretaris Shen setuju, ia turut mengukir senyum manisnya yang masih terlihat sedikit canggung. Tidak percaya, bila pria dihadapannya itu sudah menjadi kekasihnya.


"Aku akan mengantarkanmu sampai kedepan lobby sana," ucap Nickholas masih menatap wanita cantik yang baru beberapa hari ini resmi menjadi kekasih hatinya.

__ADS_1


"Heum," sekretaris Shen kembali mengangguk menyetujui.


"Boleh aku menggengam tanganmu sampai kedepan lobby sana," pinta Nickholas.


Sekretaris Shen terkesiap, wajah meronanya yang belum sempat memudar seketika terlihat gugup mendengar permintaan tidak terduga dari kekasihnya itu.


"J-jangan Nick! S-saya malu. Apa kata orang-orang yang melihatnya nanti," Ucap sekretaris Shen semakin gugup. Bukan rahasia lagi, bila kekasihnya itu memiliki banyak penggemar, khususnya para pegawai wanita di perusahaan tempatnya berkerja, ia hanya belum siap mendapat masalah dengan para wanita itu.


"Kenapa? Apakah kau malu punya kekasih sepertiku? Apakah aku terlihat jelek? Tidak seperti teman-temanmu, pegawai pria yang berkerja disini?" tebak Nickholas asal. Ia sengaja membuat wanita itu merasa tidak nyaman bila menolak pernintaannya.


"B-bukan seperti itu Nick," ucap sekretaris Shen semakin gugup.


"Lalu? Apa alasannya?"cecar Nickholas.


"Aku, aku belum siap saja, menghadapi wanita-wanita yang menyukaimu Nick," ungkap sekretarus Shen sembari menunduk, memeluk erat buket bunga pemberian Nickholas.


Nickholas tersenyum geli mendengar ucapan gadis itu. Jujur saja, ia tidak tahu kalau dirinya setenar itu di perusahaan milik ayah Virranda, khusunya dikalangan para pegawai wanitanya.


Lagi pula, hal itu tidak lantas membuat dirinya berbangga hati. Baginya, cukup hanya satu wanita yang menyukainya, dan ia pun menyukainya, itu sudah cukup. Ia tidak ingin disukai banyak wanita, apa lagi sengaja tebar pesona. itu sebabnya ia sengaja bersikap dingin pada beberapa wanita yang ia temui.


"Nick! Apa yang kau lakukan?!" sekretaris Shen yang kaget berusaha melepaskan tautan tangan mereka.


"Kumobon, ijinkan aku menggandeng tanganmu sampai ke Lobby sana, bila aku berarti buatmu," ucap Nickholas bernada menyudutkan, tatapannya membuat sekretaris Shen segera menundukan kepala, tidak sanggup bersitatap lama dengan pria itu.


"Tapi, aku--" ucap Sekretaris Shen menggantung, dengan kepalanya yang masih menunduk.


"Jangan hiraukan apa kata orang. Aku kekasihmu, dan kau kekasihku. Kita perlu memproklamirkannya bukan? Ayo, jam istirahat makan siangmu akan segera usai." Nickholas lalu menarik lembut tangan sekretaris Shen untuk mengikuti langkahnya. Kali ini wanita itu tidak membantah apapun lagi, ia hanya menurut, merasakan genggaman hangat tangan pria pujaannya itu


Semenjak tadi, hati sekretaris Shen terus saja berdebar tidak karuan, ditambah lagi tatapan dan lirikan yang diarahkan padanya oleh beberapa pegawai pria maupun wanita yang melihat kearahnya dan Nickholas sepanjang keduanya melangkah menuju lobby sambil bergandengan tangan.


"Aku hanya mengantarmu sampai disini saja." ucap Nickholas, begitu keduanya sudah tiba didepan lobby.


"Terima kasih banyak," sahut sekretaris Shen sembari mengulas senyum yang terlihat canggung karena masih malu-malu.


"Satu minggu lagi, aku kan datang bersama kedua orang tuaku untuk melamarmu," ungkap Nickholas menyampaikan rencananya.

__ADS_1


"S-seminggu lagi? Apa itu tidak terlalu cepat?" wajah sekretatis Shen nampak kaget dan semakin gugup mendengar apa yang dikatakan Nickholas padanya.


"Iya. Aku bahkan inginnya malam ini sudah melamarmu. Tapi, kau kan perlu bicara dulu dengan keluargamu," sahut Nickholas membuat sekretaris Shen makin terpana, lidahnya terasa kelu mendengar pernyataan yang mengejutkannya itu.


"Shen, Shen...." Nickholas melambaikan satu tangannya yang lain, untuk menyadarkan wanita itu yang tengah membeku menatap wajahnya cukup lama.


"Shen... apakah pesonaku terlalu kuat hingga membuatmu tidak bisa berpaling?" Nickholas kembali melambaikan tangannya sembari menarik pucuk hidung sekretaris Shen yang lancip supaya wanita itu segera tersadar.


"A-aku...." akhirnya wanita itu tersadar. Suara sekretaris Shen terdengar terbata-bata, dengan wajah semakin merona. "Aku masuk dulu," kata wanita itu kehabisan kata-kata, lalu melangkah terburu-buru.


Langkah sekretaris Shen seketika terhenti karena tangannya dan Nickholas masih bertautan erat.


"Aku mohon, lepaskan tanganku, aku mau masuk, nanti aku terlambat," ucap sekretaris Shen memelas dengan wajah semakin gugup.


Nickholas kembali mengulas senyumnya, hatinya menghangat melihat pemandangan dihadapannya, "Aku rasa--, kaulah yang seharusnya melepaskan genggaman tanganmu Shen," ungkap Nickholas memasang senyum menggodanya.


"Apa?!" Seketika mata sekretaris Shen mendelik, spontanitas ia menunduk, melihat tangannya.


"OMG!!" pekik sekretaris Shen.Seketika wanita itu melepaskan tangannya, ia memukul dahinya sendiri berkali-kali, bagaimana mungkin bisa dirinya yang menggenggam erat tangan pria itu? Bukankah sebelumnya pria itu yang menggandeng dan menggenggam erat tangannya? batinnya bingung dengan perasaan malu yang sudah menggunung.


Nickholas hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, saat melihat wanita yang baru menjadi kekasihnya itu pergi meninggalkannya tanpa berpamitan. menaiki beberapa anak tangga menuju lobby.


Setelah sekretaris Shen hilang dari pandangannya, Nickholas segera berbalik. Senyumnya masih mengembang, memikirkan kekasihnya yang sering salah tingkah didepannya, dan itu sudah membuatnya merasa bahagia, cinta itu ternyata begitu sederhana fikirnya, sambil terus melangkah ke arah mobilnya yang sedang terparkir.


"Nickholas!"


Panggilan seseorang padanya, mengentikan langkah pria itu. Ia memandang kearah datangnya suara, nampak Wina mendatanginya dengan langkah setengah berlari.


"Ada apa Win?" tanya Nickholas, begitu wanita itu sudah berada pada jarak yang cukup dekat dengannya.


"Apakah kau sedang menjalin hubungan dengan sekretaris Shen?" tanya Wina tanpa basa basi. Sedari tadi ia memang mengawasi apa yang dilakukan Nickholas dan sekretaris Shen dari kejauhan, termasuk saat keduanya saling bergandengan tangan.


"Iya. Aku bahkan akan melamarnya dalam waktu dekat," lugas Nickholas datar.


"Tidak Nick! Kau tidak boleh melakukannya," raut Wina menerah, menahan sesak didadanya yang sudah ia tahan beberapa hari ini, ketika sering memergoki Nickholas sering menjemput sekretaris Shen untuk keluar kantor disaat jam istirahat makan siang.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2