Daddy My Son

Daddy My Son
45. Tantangan Tuan Loenhard


__ADS_3

Kenapa Mami tidak bilang kalau Joe itu pilot dan berkerja di perusahaan maskapai ini?" omel tuan Loenhard pada Lirasa isterinya, saat dirinya baru saja turun dari podium, setelah menyerahkan penghargaan pada Joe Dirgantara, peraih penghargaan pilot terbaik nomor urut 2, dengan jam terbang 5.210 jam pada 5 tahun terakhir, hanya kurang beberapa angka saja dari seniornya, peraih pengharrgaan nomor urut 1, yang telah berkerja dua belas tahun lebih lama dari dirinya.


"Papi saja yang tidak ingat. Mami sudah memberitahu, begitu pula dengan Virranda dan Verrel, tapi Papi tidak memperhatikan. setiap kami berbicara. Papi hanya pokus pada tuan Ferdinand saja," sahut Lirasa melirik acuh pada suaminya, lalu kembali memperhatikan Joe yang sedang menyampaikan kesan suka dan dukanya selama menjalani pekerjaan sebagai pilot, yang terbang dari negara satu ke negara lainnya dari atas podium dengan raut bahagianya.


Merasa diacuhkan isterinya yang tengah pokus pada kelanjutan acara, tuan Loenhard ikut menyimak, memperhatikan setiap kata dan kalimat yang dituturkan oleh Joe, sang menantu.


Tepuk tangan riuh terdengar, saat Joe turun dari podium, senyumnya terus mengembang hingga sampai ketempat duduknya, deretan khusus para pilot.


Bukan hanya Joe dan seniornya saja yang mendapatkan penghargaan dimalam ulang tahun perusahaan maskapai tempatnya berkerja, tetapi semua crew hingga cleaning service yang turut memberikan prestasi kerjanya.


Untuk memeriahkan acara pesta ulang tahun perusahaan malam itu, nama Joe Dirgantara kembali menggema memenuhi aula, saat MC memanggil namanya untuk melantunkan beberapa lagu asal negaranya, sementara seluruh undangan menikmati santap makan malam mereka.


Tepuk tangan yang riuh kembali terdengar, saat Joe berdiri, lalu dengan langkah ringannya menuju podium. Selain memiliki kedisiplinan yang tinggi dalam berkerja, Joe juga dikenal sebagai salah satu pegawai yang suka menghibur rekan-rekannya.


Hobby-nya dalam bernyanyi, membuat dirinya mudah dikenal dan disukai oleh semua rekan kerjanya, termasuk para petinggi perusahaan.


"Joe!" panggil seorang pria tambun dengan kepalanya yang terlihat licin, ketika Joe baru saja turun dari podium menyelesaikan lantunan lagu-lagunya.


"Iya tuan George," Joe mendekat sambil membungkuk hormat.


"Seorang pengusaha asal Indonesia, yang tadi memberi penghargaan padamu, meminta ijin padaku untuk bertemu denganmu secara pribadi. Mereka ada disana," tunjuk tuan George pada salah satu meja tamu undangan.


"Beliau adalah salah satu pemegang saham di perusahaanku ini, dan perusahaannya juga menjalin kerjasama pada maskapai kita, karena setiap pegawainya yang melakukan perjalanan dinas keluar negeri selalu menggunakan jasa maskapai kita."


"Segera temui tuan Loenhard dan isterinya. Sepertinya mereka tertarik padamu. Tapi ingat, jangan menerima pekerjaan apapun yang mereka tawarkan. Aku masih sangat membutuhkanmu di perusahaanku Joe," ujar pria tua dan tambun itu dengan candaannya sambil mengulas senyum bersahajanya.


"Baik Tuan. Lagi pula saya belum berani pindah kerja untuk lima tahun kedepan, karena baru saja mengajukan kredit rumah impian," ucap Joe sambil terkekeh.

__ADS_1


"Ada baiknya waktu itu aku merekomendasikan dirimu untuk mengambil hunian impian itu, jadi dirimu tidak mudah berpaling ke perusahaan lain," ucap pria tua itu ikut terkekeh.


"Pergilah, dan temui mereka sekarang," ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak Joe.


"Baik Tuan," Joe kembali membungkuk hormat lalu beranjak menuju meja salah satu tamu kehormatan perusahaan yang ditunjuk oleh tuan George.


Jantung Joe berdebar, memikirkan kenapa kedua mertuanya ingin bertemu dengannya secara pribadi, mengingat selama ini, sang ayah mertuanya itu selalu memberi berbagai alasan supaya tidak bertemu dengannya.


"Selamat malam Tuan, dan Nyonya," sapa Joe dengan sikap hormatnya pada kedua mertuanya yang sedari tadi sudah menunggu kehadirannya. Joe terlihat kikuk, apalagi mendapat tatapan datar dari ayah mertuanya.


"Selamat malam Joe. Ayo, duduklah. Bergabunglah bersama kami," ucap Lirasa ramah, sambil mempersilahkan menantunya itu duduk pada kursi kosong yang ada dihadapannya dan suaminya.


"Mami turut mengucapkan selamat atas penghargaan yang kau peroleh malam ini dari hasil kerja kerasmu selama ini. Mami turut bangga padamu," ucap Lirasa lagi seraya mengulurkan tangannya.


Walau dengan perasaan ragu dan terlihat masih kikuk, Joe tetap menyambut uluran tangan ibu mertunya yang terlihat tulus padanya. "Terima kasih Nyonya," ucapnya tersenyum canggung.


"Joe, apa kau lupa harus memanggilku Mami?" protes Lirasa yang tidak nyaman mendengar panggilan berubah Joe padanya.


Lirasa menangkap pandangan canggung Joe pada suaminya. Sampai sekarang hubungan keduanya memang belum mencair, Lirasa hanya mendesah pelan memikirkannya.


"Joe, kau mau makan hidangan yang ada diatas meja ini, atau memesan lagi dari pelayan?" Lirasa menatap menantunya memberi penawaran.


"Yang ada saja Mi," sahut Joe tersenyum tipis.


Lirasa mengambil satu piring kosong didekatnya, "kau ingin yang mana Joe?" tanyanya.


"Jangan Mi, Joe bisa ambil sendiri," cegah Joe cepat. "Saya merasa tidak pantas," ucapnya segan. Ia lalu mengulurkan tangannya dengan sopan dan mengambil alih piring dari tangan ibu mertuanya.

__ADS_1


Joe mengambil kentang tumbuk, sayuran, dan sosis berbahan dasar domba, memasukkannya kedalam piring lalu menyiramnya dengan saus. Hidangan tradisional Inggris itu sudah begitu ramah di lidahnya.


"Bagaimana keadaan Verrel Mi?" tanya Joe disela-sela santap makan malam mereka.


"Verrel selalu bersemangat setiap berangkat ke sekolah. Sepertinya dia punya banyak teman anak perempuan. Walau tidak setiap hari, dia sering membawa anak perempuan pulang kerumah, dan bermain sampai sore." ucap Lirasa sambil tersenyum mengingat cucunya itu.


"Anak perempuan?" Joe mengernyitkan keningnya. Setahunya, Verrel lebih suka bermain pesawat-pesawatan bersama anak-anak lelaki tetangga saat mereka masih diluar negeri.


"Iya. Katanya ia ingin seperti Daddy-nya juga, punya banyak teman perempuan cantik yang mengelilinginya." ujar Lirasa menatap Joe penuh arti.


"Mungkin para pramugari itu yang Verrel maksud Mi, karena ia sering melihatnya saat kami sering berpindah-pindah tempat tinggal waktu itu," ujar Joe kembali canggung. Walau tidak terlalu yakin, tapi Joe dapat merasakan bila ibu mertuanya itu tahu tentang pekerjaannya dimasa lalu melalui Virranda.


"Mami harap kau bisa menjadi contoh yang baik untuk Verrel Joe, karena apapun yang kau lakukan, Verrel selalu berusaha menirumu, karena kau adalah Daddy-nya," ucap Lirasa yang sesekali membersihkan ujung bibirnya dari noda makanan yang lengket disana.


"Iya Mi, Joe akan berusaha untuk selalu menjadi Daddy yang baik buat Verrel, juga suami yang bertanggung jawab untuk Virranda," sahut Joe penuh keyakinan.


"Menjadi suami Virranda, mungkin saja kau bisa. Tapi untuk menjadi menantuku ada syarat yang harus kau penuhi," tuan Loenhard yang sedari tadi hanya menjadi pendengar kini ikut bersuara.


Joe memandang kearah ayah mertuanya, lalu beralih pada ibu mertuanya yang juga tengah memandangnya setelah mendengar ucapan suaminya.


"Syarat? Syarat apa itu Tuan?" tanya Joe kemudian.


"Aku hargai upayamu untuk membahagiakan putriku, membelikannya mobil, juga rumah. Tapi, untuk menjadi menantuku tidak cukup hanya itu. Dia haruslah seorang laki-laki yang memiliki perusahaan."


"Karena aku tahu kau bukan dari kalangan seperti kami, jadi aku berbaik hati menurunkan sedikit standarku untukmu demi putriku," ucapnya datar, menatap lekat wajah Joe yang tetap menjaga sikap tenangnya walau ucapan sang ayah mertua terdengar merendahkannya.


"Awalnya, aku berfikir menempatkan Virranda sebagai penerusku menjadi direktur di perusahaanku. Setelah aku melihat kau cukup berpotensi dengan prestasi ditempat kerjamu ini, aku fikir, bagaimana kalau kau saja yang menjadi direktur di perusahaanku setelah aku pensiun," lugasnya.

__ADS_1


Pria ubanan itu tersenyum didalam hati. Dirinya yakin, umpannya akan langsung dilahap habis oleh pria muda bodoh itu.


Bersambung...👉


__ADS_2