Daddy My Son

Daddy My Son
49. Aku Tidak Sakit


__ADS_3

"Bawa aku ke dokter," pinta Virranda disela-sela tangisnya.


"Baik," sahut Joe sigap.


"Bi Arin, tolong ambilkan kunci mobil Nona," pinta Joe pada asisten rumah tangga paruh baya itu. Setelah berkata demikian ia buru-buru membawa Virranda dalam gendongannya menuruni lantai dua menuju mobil yang ada digarasi.


"Baik Tuan," sahut bibi Arin, walau ia tahu Joe belum tentu mendengar ucapannya karena sudah menjauh darinya. Ia masuk kekamar Virranda untuk mengambil apa yang diminta oleh Joe.


"Daddy! Verrel ikut!" bocah itu berlarian mengejar Joe dibelakangnya, sementara beberapa asisten rumah tangga ikut mengejarnya menuruni tangga, khawatir anak majikannya itu terjatuh.


Ferdinand yang akan meninggalkan rumah tuan Loenhard mengurungkan niatnya, ketika dilihatnya Joe membawa Virranda keluar dari rumah dengan terburu-buru.


Dari dalam mobilnya, ia hanya memperhatikannya dari jauh. Jujur saja, ia masih khawatir pada kondisi Virranda, ia berharap bila dirinya-lah yang ada di posisi Joe sekarang ini.


Ferdinand teringat, ketika terakhir kali ia juga pernah menggendong Virranda dengan posisi yang sama, yang seperti Joe lakukan saat ini, ketika wanita itu ia bawa kerumah sakit untuk melahirkan.


Laki-laki itu memijit keningnya yang sedikit terasa pusing. Juga rasa nyeri begitu terasa dibeberapa bagian wajahnya yang membiru akibat pukulan Joe yang berhasil mendarat disana.


Joe meletakan tubuh Virranda dengan hati-hati dikabin depan mobil, setelah seorang security membantu membukakan pintu dengan kunci kontak yang diberikan oleh bibi Arin.

__ADS_1


Joe memasang sabuk pengaman ditubuh Virranda. Begitu selesai, ia berjongkok disamping mobil berusaha membujuk putra sambungnya yang terus merengek ingin ikut.


"Jagoan Daddy dirumah saja ya? Pihak rumah sakit tidak memperbolehkan anak kecil berkunjung kesana kalau sedang sehat, banyak kuman penyakit." ucap Joe sembari mengusap pucuk rambut Verrel dengan sayang.


"Daddy minta tolong, Verrel jagain para bibi dirumah ini dengan baik selama kakek dan nenek belum pulang. Daddy janji akan cepat bawa Mommy pulang, begitu Mommy sudah sehat. Oke? Mau bantu Daddy kan?" imbuh Joe lagi menatap sorot mata Verrel yang ingin menangis karena akan ditinggal.


"Heum," Verrel terpaksa mengangguk, walau sebenarnya ia tidak rela. Baginya, kesehatan ibunya tetaplah lebih penting.


"Anak pintar," puji Joe lalu memeluk tubuh mungil anak sambungnya dengan penuh kasih sayang.


"Janji ya Dad?" Verrel memajukan jari kelingkingnya didepan wajah Joe, begitu pria itu mengurai pelukannya dari tubuh mungilnya.


"Daddy janji," sahut Joe sembari ikut mengangkat jari kelingkingnya dan mengaitkannya pada kelingking mungil Verrel membuat bocah itu tersenyum senang.


"Bi Arin, saya titip Verrel ya," ucap Joe menatap pada bibi Arin yang berdiri tidak jauh dari dirinya dan Verrel, bersama para asisten rumah tangga lainnya dan juga dua security.


"Iya Tuan," sahut bibi Arin sambil membungkukan sedikit tubuhnya, sementara yang lainya juga berdiri sambil menundukan kepala mereka.


Joe masuk dan duduk dibelakang kemudi disebelah Virranda. Ia menghidupkan mesinnya, membiarkannya beberapa saat lamanya, setelah dirasa cukup, ia mulai menjalankannya perlahan, meninggalkan halaman rumah besar mertuanya.

__ADS_1


"Joe, aku tidak ingin ke rumah sakit," lirih Virranda, setekah mereka sudah berada dijalan raya. Ia melirik Joe yang tengah berkonsentrasi pada jalan didepannya.


Joe mengernyitkan keningnya, ia melirik sekilas pada Virranda disebelahnya lalu menatap jalan didepannya lagi. "Kenapa?" tanya Joe tidak mengerti.


"Bukankah tadi kau memintaku mengantarmu ke rumah sakit?" imbuhnya lagi.


"Itu hanya peralihan saja. Aku ingin kita ke apartemenmu saja. Ada hal yang harus aku katakan padamu Joe," ucap Virranda menatap serius pada Joe.yang terus pokus pada kemudinya.


Joe terdiam sejenak, tentulah itu ada hubungannya dengan apa yang dikatakan Ferdinand batinnya.


"Kau yakin tidak ingin kerumah sakit dulu untuk memeriksakan kesehatanmu? Mengenai apa yang ingin kau bicatakan itu, bagaimana kalau setelah dari rumah sakit saja," ucap Joe hati-hati, melirik kembali kearah Virranda yang masih menatapnya.


"Aku tidak sakit," ucap Virranda singkat, lalu mengalihkan pandangannya kedepan, menantap lalu lintas yang masih cukup ramai didepan mereka.


"Tapi kau terlihat pucat dan lemas," Joe sesekali menoleh kearah Virranda dan tetap pokus pada jalan didepannya supaya tidak tersenggol apalagi tertabrak kendaraan lain.


"Aku hanya kurang tidur Joe. Sebelum aku bisa menceritakannya, aku pasti sulit tidur," ungkap Virranda kembali menoleh kearah Joe.


"Baiklah, kita ke apartemenku," sahut Joe akhirnya, setelah ia memikirkan apa yang dikatakan Virranda barusan.

__ADS_1


Joe memelankan laju kendaraan yang ia kemudikan, pada putaran didepan, dengan hati-hati ia membelokan kemudinya untuk berbalik arah, menuju lokasi apartemennya berada.


Bersambung...👉


__ADS_2