Daddy My Son

Daddy My Son
37. Ingin Memantaskan Diri


__ADS_3

"Menurutmu, mana yang paling bagus dan cocok untuk kita?" tanya Joe, ketika Virranda baru selesai melihat berkas yang keempat.


"Sepertinya gambar yang ada diberkas ketiga ini, dengan luas bangunan 930 meter persegi berlanta tiga, ada kolam renangnya, taman yang lengkap dengam air mancurnya, ada kebunnya juga." ucap Virranda mengemukakan pendapatnya.


Joe tersenyum mendengar pendapat Virranda, "Ternyata sama, aku juga menyukai yang itu," ucap Joe menunjuk pada berkas yang dipegang oleh Virranda. Pria itu memang telah memesan beberapa desain dari seorang arsitek perusahaan properti untuk mendesain rumah impiannya yang akan ia hadiahkan untuk Virranda sang pujaan hatinya.


"Sehati," ujar seorang pria yang turut duduk berrsama Virranda dan Joe dimeja yang sama dengan senyumnya.


"Bagaimana? Deal tuan Joe? tanya pria itu lagi memastikan.


"Deal. Isteriku suka, itu yang terpenting tuan Mario." sahut Joe yakin.


"Baiklah, kami akan mempersiapkan pembangunannya. Dan sesuai permintaan, tiga hari lagi akan dilakukan perletakan batu pertama." ujar tuan Mario, seorang arsitek sekaligus marketing perumahan elite.


"Nanti akan dihadiri isteri dan putra saya saja tuan Mario." ujar Joe.


"Tidak masalah tuan Joe. Kami akan melakukan yang terbaik. Saya permisi dulu, masih ada janji bertemu seseorang," marketing itu segera bangkit dan berjabat tangan dengan Joe, juga Virranda.


"Bagaimana kalau tuan Mario makan siang dulu bersama kami," ujar Joe menawarkan.


"Terima kasih banyak tuan Joe. Maafkan saya, karena sekarang saya sedang ditunggu klien. Dan berkas itu saya tinggal saja untuk Nona Virranda, file-nya ada dikantor kami. Sedangkan yang tiga ini saya bawa pulang kembali," sahutnya lagi dengan sopan.


"Baiklah. Terima kasih banyak tuan Mario."


"Sama-sama tuan. Terima kasih kembali karena telah mempercayai perusahaan kami untuk mendesain dan membangun rumah impian Tuan dan keluarga," setelah berkata demikian, pria itu berbalik, senyum terus mengembang diwajahnya karena berhasil memasarkan satu unit perumahan elit dari perusahaan dimana dirinya berkerja.


Dua pelayan restoran menghampiri meja makan mereka, menyajikan dengan rapi setiap menu diatas meja.

__ADS_1


"Terima kasih," ucap Virranda seraya tersenyum pada dua pelayan yang akan meninggalkan meja mereka.


"Sama-sama Nona, Tuan. Selamat menikmati makan siangnya," kedua pelayan itu lalu undur diri dengan sopan.


"Joe," panggil Virranda sebelum memulai makan siangnya.


"Heum?" sahut Joe bergumam sambil mengambil beberapa menu diatas meja, memasukannya kedalam piring dan meletakannnya dihadapan Virranda.


"Apakah kau yakin membangun rumah di kawasan perumahan elite itu Joe?" tanya Virranda hati-hati.


"Yakin. Menurutmu?" Joe balik bertanya. Ia merasakan ada keraguan yang terkandung dari pertanyaan isterinya itu.


"Perumahan dikawasan itu, nilainya sangat fantastis Joe. Dan yang berdomisili disana juga para elite sesuai nama kawasannya. Tapi maaf, kau jangan tersinggung dengan ucapanku barusan. Aku berbicara seperti ini, bukan berarti merendahkanmu Joe, aku hanya tak mau kau merasa tidak nyaman ada dilingkungan seperti itu kelak." ujar Virranda berusaha memberi penjelasan dengan sangat hati-hati. Cukup ayahnya saja yang pernah memperlakukan Joe tidak baik, ia tidak ingin ada orang kaya lain lagi yang merendahkan pria itu.


"Terima kasih, karena mengkhawatirkan diriku," Joe meraih tangan Virranda dari antara piring-piring saji diatas meja dan menggenggamnya erat.


"Setidaknya, dengan membangun rumah dikawasan elite itu, aku bisa membuatmu dan Verrel bisa hidup lebih layak seperti duniamu yang dulu sebelum menikah denganku. Apalagi sekarang kau sedang dipersiapkan ayahmu menjadi penerusnya dimasa yang akan datang,"


"Mengenai dananya, aku sudah mempersiapkannya dengan baik. Selama lima tahun berkerja, aku bisa mengumpulkan uang untuk enam puluh persen dari total nilai harga perumahan impian kita, diluar pemberian bulananku padamu."


"Sisa empat puluh persennya lagi, aku akan mencicilnya. Tidak mengapakan, seorang calon direktris memiliki rumah hasil cicilan?" ucap Joe berusaha mencairkan suasana yang sedikit tegang sambil tertawa kecil. Virranda yang terharu mendengar niat tulus Joe, ikut tertawa kecil sambil memainkan salah satu jari Joe yang tengah menggenggam eret tangannya.


"Terima kasih Joe. Kau sudah melakukan semua yang terbaik untukku dan Verrel. Harus dengan apa kami membalasnya," ucap Virranda masih dengan rasa harunya yang menggunung.


"Cukup bayar dengan cinta. Selesai." ucap Joe ringkas seraya mengerlingkan matanya.


"Cinta? Dasar genit." Virranda memukul tangan Joe hingga membuat pria itu pura-pura meringis kesakitan, berharap wanita itu akan mengusap atau meniup-niup tangannya yang dianggap cedera setelah menerima pukulan.

__ADS_1


Melihat Virranda yang tidak perduli, Joe akhirnya terpaksa menghentikan aksi kepura-puraanya, lalu menarik tangan yang sejak tadi menyebrang meja untuk menggenggam tangan sang pujaan hati. Sabar Joe! Wanita memang begitu, kadang jinak-jinak merpati, dipepetin malah mengganas lagi batinnya.


"Ayo makan, nanti keburu dingin," ajak Joe mempersilahkan.


"Joe, semalam Verrel menanyakanmu. Dia merindukanmu," ucap Virranda di sela-sela santapan siang mereka.


"Tadi aku sudah ke sekolah Verrel untuk menemuinya terlebih dahulu sebelum menemuimu," sahut Joe sambil menikmati makan siangnya.


"Jam tiga sore ini, aku harus kembali lagi ke bandara, karena jam enam sore ada penerbangan kembali ke London."


"Kalau begitu, kau belum sempat istirahat?" Virranda menghentikan aktifitas makannya sejenak, memperhatikan Joe yang tetap asik mengunyah makanannya.


"Semalam aku tiba dibandara sekitar pukul dua pagi, langsung ke apartemen lalu tidur dan baru bangun pukul sebelas siang tadi."


"Maaf ya, tidak sempat memberitahumu sebelumnya. Penerbanganku ke Indonesia juga mendadak, menggantikan seorang pilot yang sedang berhalangan." jelasnya.


"Syukurlah," ucap Virranda merasa lega. "Aku fikir kau tidak sempat beristirahat," imbuhnya sambil menyunggingkan senyumannya.


"Kalau istirahat, aku tidak akan lupa, karena itu penting. Aku tidak mau membawa para penumpang terjun bebas bersamaku kehutan, kelaut, atau padang gurun," ucap Joe kembali terkekeh diikuti Virranda.


"Karena aku ingin pulang kerumah dengan selamat, bertemu dengan putraku Verrel, dan isteri yang aku cintai dengan sepenuh jiwaku," lanjut Joe lagi, menatap lekat wajah Virranda yang tengah merona mendengar ucapannya.


"Ayo, lanjut lagi makannya. Setelah ini aku ingin mengajakmu kesuatu tempat," ucap Joe mengalihkan pandangannya pada arloji tangannya, " Masih ada cukup waktu." imbuhnya seraya meneguk segelas air putihnya.


"Kemana?" tanya Virranda penasaran.


"Ra-ha-sia," ucap Joe kembali mengerlingkan matanya.

__ADS_1


Bersambung...👍


__ADS_2