
Enam bulan kemudian...
Suasana resepsi pesta pernikahan antara Nickholas dan sekretaris Shen yang berlangsung meriah dan ramai dengan pengunjung undangan kini berangsur-angsur mulai sepi, karena waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Tuan Loenhard dan isterinya sudah pulang lebih dulu membawa Verrel yang tertidur di tengah keramaian pesta.
Di salah satu meja makan undangan, Joe tengah terpana, memandangi Virranda yang masih menikmati hidangan pesta. Sungguh ia tidak mengerti, dimana isterinya itu menyimpan semua makanan yang ia kunyah dan telan.
Virranda memang makannya banyak, walau tidak hamil, dan Joe tidak heran akan hal itu. Tapi kali ini, ia merasa khawatir dengan cara makan isterinya itu, sedari tadi Virranda terus saja makan tanpa merasa kenyang, bahkan ia tidak mau menggunakan piring, sehingga Joe meminta pelayan mencarikan nampan untuk pengganti piring barulah isterinya itu setuju.
Joe sedikit lega, ketika sepasang pengantin datang menghampiri mereka. Harapannya, Virranda akan segera menghentikan makan tidak biasanya itu, ketika melihat sahabatnya itu.
"Sayang, Nickholas dan isterinya datang kemari," ucap Joe memandang Virranda yang tidak menyadari kehadiran sang pemilik pesta.
"Oh..." Virranda menoleh kiri dan kanannya, ternyata sudah kosong, tidak ada siapapun lagi selain mereka berempat, hanya ada para pelayan yang sedang membereskan ruangan pesta itu.
"Hehee... Hai Nickholas! Hai sekretaris Shen! Hidangan pestanya sangat lezat, aku sampai lupa berhenti makan," ucap Virranda malu-malu dengan mulut penuhnya, hingga suaranya terdengar sedikit lucu dengan pipinya yang chubby.
Nickholas dan sekretaris Shen ikut tertawa, begitu pula dengan Joe, melihat tingkah Virranda yang memegang perutnya yang memblendung besar, karena usia kehamilannya juga sudah mencapai sembilan bulan lebih beberapa hari.
Tubuh Virranda sudah tidak langsing lagi, ia begitu berisi disana sini karena makannya yang selalu melebihi porsi makan orang normal, sehingga Joe terkadang memanggilnya gendut karena gemes. Tapi Virranda tidak keberatan, ia tahu itu panggilan sayang untuknya.
"Syukurlah kalau kau menyukai hidangannya Vir," ucap Nickholas senang.
"Suka banget malah. Boleh 'kan aku menyelesaikan makanku yang masih bersisa sedikit ini?" ucap Virranda menatap wajah Joe, Nickholas, juga sekretaris Shen.
Sejujurnya, didalam hatinya ia merasa malu, tapi selera makannya mengatasi semua rasa malunya, sehingga Virranda memasang wajah tembok saja dihadapan suami dan sepasang pengantin baru itu.
"Tentu saja Bumil, aku khawatir makanan itu akan menangis bila kau tidak menghabiskan mereka," goda Nickholas sembari terkekeh.
"Kalian berdua tidak ikut makan?" tanya Virranda di sela-sela makannya, pada Nickholas dan sekretaris Shen yang duduk dihadapannya.
"Melihat Nona makan saja saya sudah merasa kenyang," ucap sekretaris Shen jujur.
"Benarkah?" Virranda terkekeh, merasa tersindir.
__ADS_1
"Kau harus makan banyak sekretaris Shen, pergulatan malam pertamamu dan Nickholas akan menguras banyak energimu nantinya," ceplos Virranda sembari terus mengunyah.
Mendengar ucapan Virranda, wajah sekretaris Shen seketika merona menahan malu, lain halnya dengan Nickholas, pria itu bahkan menunjukan wajah antusiasnya.
"Kalau begitu, aku akan mengambilkanmu makanan yang banyak, Sayang. Ini akan menjadi malam yang panjang buat kita," ucap Nickholas menyambung ucapan Virranda.
"Akh! Sakit Sayang," pekik Nickholas dengan suara tertahan, ketika cubitan sekretaris Shen tiba-tiba mendarat di perutnya. Setelah itu seperti tidak terjadi apa-apa ia menuju meja sajian, mengambil beberapa hidangan yang masih melimpah.
Joe dan Virranda terkekeh melihat sepasang pengantin baru itu. Sang mempelai laki-laki terlihat begitu bersemangat, sementara sang mempelai wanita tekesan lebih malu-malu.
"Nick! Kau harus hati-hati dan pelan-pelan saja, seperti Joe! Karena itu sedikit sakit di awal, apalagi baru pertama kali!" celoteh Virranda setengah berteriak, supaya sahabatnya itu mendengar.
Joe kembali terpana, kenapa malam ini mulut isterinya terlalu lemes, dan perkataannya bagai ice skating yang meluncur lancar tanpa hambatan.
"Siyaapp Bumil! Aku akan mengikuti saranmu!" sahut Nickholas turut menyaringkan suaranya. Laki-laki itu tersenyum sendiri, memikirkan apa yang akan terjadi antara dirinya dan isterinya nanti.
Sementara sekretaris Shen sudah mulai panas dingin mendengarnya. Tangannya yang ada dibawah meja kini meremas gaun pengantinnya.
"Sayang, kau menakuti sekretatis Shen," bisik Joe pada telinga Virranda yang masih belum selesai juga dengan makanannya.
"Iya 'kan Misuaku?" Joe kembali terpana, ia terpaksa mengangguk, hanya itu yang mampu ia lakukan meladeni Virranda yang suka berceloteh dihamil tuanya itu.
Sementara sekertaris Shen tidak mampu berucap apa-apa, hanya wajahnya saja yang semakin merona mendengar pembahasan Virranda yang selalu mengarah pada malam pertamanya yang membuatnya semakin merasa malu.
"Ini, aku ambilkan khusus buat Bumil, aku masih ingat kau sangat menyukai jus aneka buah," ujar Nickholas, meletakan segelas jus dihadapan Virranda.
"Terima kasih Nick, kau memang sahabat yang baik," Virranda buru-buru menyambar gelas jus buahnya dan segera menyeruputnya dengan tidak sabar.
"Hati-hati Sayang," ucap Joe mengingatkan, perhatiannya terus terarah pada isterinya, takut terjadi sesuatu padanya.
"Sama-sama Vir," sahut Nicholas sembari tersenyum. 'Dan ini buat Ratuku yang cantik," Nickholas menurunkan satu persatu piring didepan isterinya dari nampan yang dibawanya.
"Ayo makan. Atau aku akan menyuapimu, Sayang" ucap Nickholas dengan tatapan penuh cintanya. Ya, cinta yang pernah ada untuk Virranda itu kini sudah beralih, dan berlabuh sepenuhnya pada wanita yang telah bersanding dengannya.
__ADS_1
"Aku, aku bisa sendiri," sahut sekretaris Shen terbata-bata, ia semakin gugup mendapat tatapan Nickholas yang terus menyunggingkan senyum penuh artinya.
"Awh! Sakit!" suara Virranda terdengar menekan, menahan rasa sakit yang kembali menyerang. Sepanjang hari ini, Virranda memang sering merasakan rasa sakit itu. Tapi ia berusaha mengabaikannya, supaya tidak tegang menghadapi apa yang akan ia jalani nantinya, yang akan kembali mengukir sejarah baru dalam hidupnya sebagai seorang wanita yang bergelar ibu, melahirkan anak keduanya.
"Apa sakit itu menyerang lagi Sayang?" tanya Joe khawatir, ia buru-buru mengambil gelas jus dari tangan Virranda dan meletakannya di atas meja.
"K-kau kenapa Vir?" Nickholas nampak kaget.
"Nona, Nona baik-baik saja," Sekrteraris Shen segera berdiri, menarik gaun pengantinnya dan segera mendekati Virranda.
"Virranda sepertinya akan segera bersalin," sahut Joe. Ia buru-buru berdiri, dan membantu isterinya itu untuk ikut berdiri bersamanya.
"K-kita bawa ke rumah sakit sekarang!" ucap Nickholas panik, wajahnya seketika pucat pasi, melebihi kepanikan Joe sebagai suami Virranda.
"Heum," angguk Joe mengiyakan, berusaha tenang.
"Sini, aku bantu kau menggendong isteri gendutmu itu, Joe!" Nickholas turut menyentuh tubuh Virranda yang akan digendong oleh Joe.
"J-jangan! Ja-ngan menggendongku!" tolak Virranda terputus-putus. "Kalian pasti tidak sanggup menggendongku. Cukup papah aku saja menuju lift," pinta Virranda, ia memeluk perutnya yang semakin sakit menekan ke jalan lahirnya.
"T-tapi Sayang," Joe tetap berusaha menggendong.
"Biarkan aku berjalan saja Joe. Dengan berjalan sendiri, akan membantu memudahkanku melahirkan nantinya," ujar Virranda lagi.
"Baiklah. Katakan padaku, kalau kau merasa tidak sanggup berjalan lagi, aku akan menggendongmu." ucap Joe.
Virranda hanya mengangguk, ia lalu berjalan mendahului suaminya menuju lift dengan tertatih-tatih, antara menahan rasa sakit yang semakin mendera, dan bobot tubuhnya yang berat akibat kegemukan dan kekenyangan.
"Joe, kami ikut," ucap Nickholas mengekor bersama isterinya.
"Tapi kalian baru menikah Nick. Tenang saja, aku bisa mengatasinya, nanti juga ada dokter yang membantu persalinan." ucap Joe melirik sepasang pengantin yang masih mengenakan pakaian kebesaran mereka.
"Tidak masalah Joe, kami khawatir pada keadaan Virranda. Iya 'kan, Sayang," ucap Nickholas meminta persetujuan isterinya.
__ADS_1
"I-iya Sayang," sahut sekretatis Shen. Ia terlihat susah payah berjalan, walau Nickholas sudah membantunya menjinjing ujung-ujung gaun pesta pernikahannya.
Bersambung...👉