
Setelah selesai menidurkan Verrel dikamarnya, Joe kembali ke ruang keluarga, disana sudah menunggu ayah dan ibu mertuanya, juga Virranda yang sedang mengobrol.
"Jadi kapan kalian akan pindah kesana?" tanya Lirasa, setelah mendengar dari mulut putrinya itu bila rumah yang mereka bangun beberapa bulan lalu telah rampung dan menerima kuncinya siang tadi.
"Aku dan Joe akan memesan perabotan rumah tangganya dulu Mi, nanti kalau sudah siap baru kami akan pindah ke rumah baru kami, iya 'kan Joe?" ucap Virranda memegang lengan Joe yang sudah duduk disebelahnya.
"Iya Sayang," sahut Joe mengiyakan
"Apa kau yakin? Membawa putriku tinggal dirumah baru kalian, sedangkan kau akan kembali lagi ke London berbulan-bulan lamanya. Siapa yang akan menjaga Verrel dan ibunya yang sedang mengandung anakmu itu? Heum?" tuan Loenhard ikut bersuara. Seperti biasa, nada suaranya selalu ketus. Tapi Joe berusaha membiasakan diri dengan sikap sang ayah mertuanya itu.
Tapi yang membuatnya tidak bisa bersikap biasa adalah kalimat terakhir yang terlontar dari mulut sang ayah mertuanya itu.
"M-mengandung? K-kau h-hamil Sayang??" ucap Joe tergagap, ia beralih menatap Virranda yang tengah memasang senyum manisnya. Rasa kaget, senang, bercampur jadi satu. Tanpa sadar ia memegang perut Virranda yang memang terlihat lebih gemuk walau mengenakan piyama lebarnya.
"Iya Joe, aku hamil. Hamil anak kita," sahut Virranda dengan wajah berbinar, kedua tangannya memegang pergelangan tangan Joe yang tengah menyentuh perutnya.
"K-kenapa kau tidak bilang padaku sebelumnya Sayang?" Joe menatap Virranda penuh tanya.
"Surprise!" Ucap Virranda tersenyum lebar, sembari memeluk erat suaminya. Joe membalas pelukan isterinya, rasa kaget mendapat berita luar biasa itu membuat rasa bahagia dalam hatinya begitu meluap.
"Memangnya diruangan ini hanya ada kalian berdua? Heuh! Lalu Papi dan Mami-mu ini kalian anggap apa? Hhhh!" ketus tuan Loenhard mendelikan kedua biji matanya yang hampir melompat keluar dari tempatnya.
"Papi... Dimaklumi saja, mereka sedang bahagia," Lirasa menyentuh lengan tuan Loenhard, supaya suaminya itu tidak terlalu kaku pada anak dan menantu mereka.
"Bahagia sih bahagia Mi, tapi kalau pelukan itu dikamar, bukannya diruang umum seperti ini, bagaimana kalau ada orang yang melihat, apa lagi anak kecil, heuh!" ucap tuan Loenhard tak mau tahu.
Lirasa hanya bisa memijat pelipisnya. Dari dulu, suaminya memang selalu menjaga asas kesopanan dalam keluarga mereka, tidak boleh bertindak seenaknya saja.
__ADS_1
"M-maafkan kami Tuan," mendengar ucapan sang ayah mertua, Joe merenggangkan pelukannya Virranda.
"Tuan-Tuan! Siapa Tuan? Panggil Papi!" sentak tuan Loenhard ketus, tapi tersenyum geli didalam hati melihat menantunya yang serba salah dan gelagapan dibuatnya. Anehnya, melihat hal yang demikian, jiwa tua-nya begitu bahagia.
"I-iya, maafkan kami Pa-pi," Joe melirik takut-takut kearah ayah mertuanya yang kini sudah tidak setajam sebelumnya ketika melihat dirinya.
Sementara Virranda, isterinya itu tetap bersikap santai seperti biasanya. Wanita itu mengambil satu kotak kecil berpita biru langit diatas meja didepannya, yang sedari tadi memang menjadi perhatian Joe saat baru bergabung bersama kedua mertuanya dan isterinya.
"Ini, bukalah," Virranda memberikan kotak kecil berpita biru itu pada suaminya.
"Apa ini?" Joe menerima kotak itu, menatap Virranda sejenak, lalu membuka simpul pitanya. Seketika Joe merasa gugup, ketika melihat isi kotak itu.
Dengan tangan bergetar, Joe menyentuh benda pipih seukuran jarinya, mengangkatnya hati-hati dan memperhatikan dua garis merah terang, menunjukan bila sang pemiliknya positif mengandung.
"Sayang, kau benar postif hamil," ungkap Joe menatap Virranda yang mengulas senyum padanya. Laki-laki itu kembali mengalihkan pandangannya pada isi kotak berikutnya. Setelah meletakkan benda pipih itu kembali kedalam kotak, ia mengambil potongan lembaran hasil USG, memperlihatkan gambar makhluk mungil yang menggenggam telapak tangannya dengan mata terpejam, masih terlalu kecil, baru sebesar buah jeruk dengan berat sekitar 15 gram dan panjang badan dari kepala sampai kaki sekitar 5 sentimeter.
"Heum," Virranda mengangguk. "Selama kau pergi tiga bulan lalu, anak kita tumbuh dengan baik Joe," ucap Virranda ikut terharu, melihat respon ketika menerima berita bahagia itu.
"Hem!" tuan Loenhard berdehem, mengakhiri drama haru-haru-an antara putri kesayangannya dengan sang menantu. Joe yang sempat menggenggam tangan Virranda seketika melepaskan tangan isterinya, membenarkan posisi duduk mereka masing-masing.
"Apa kau tidak khawatir meninggalkan isterimu yang sedang mengandung anak kalian bersama Verrel dirumah baru kalian. Bagaimana bila terjadi apa-apa bila kau tidak ada dirumah? Heum?" ucap tuan Loenhard menandang menantunya.
"Saya sudah di mutasikan ke tanah air Pa-pi," sahut Joe canggung diujung kalimatnya saat menyebut panggilan pada sang ayah mertuanya.
"Sungguh?" tanya tuan Loenhard sembari membenarkan posisi duduknya supaya lebih tegak, raut wajahnya terlihat serius membuat Joe sedikit menegang.
"I-iya Pi," sahut Joe kikuk. "Tuan George juga memberi tugas tambahan pada saya menjadi seorang dosen pada akademi penerbangan," imbuhnya lagi.
__ADS_1
Tuan Loenhard menganggukan kepalanya pelan dengan raut terlihat berfikir. "Apa tuan George tidak mengatakan sesuatu padamu? Bila aku memintamu untuk resign dari pekerjaanmu itu. Kenapa bos-mu itu malah memindahkanmu dan menambah pekerjaan baru padamu?" ucapnya menatap Joe.
"Saya memang pernah mengajukan permohonan mutasi pada perusahaan ketika pulang dari Indonesia, setelah mengantar pulang Virranda dan Verrel ke tanah air. Dan baru sekarang dikabulkan."
"Mengenai yang Pa-pi sampaikan, tuan George juga sudah menyampaikannya pada saya, dan beliau meminta saya untuk membicarakannya dengan Pa-pi," Joe melirik kearah ayah mertuanya.
"Lalu bagaimana tanggapanmu mengenai permintaanku itu? tanya tuan Loenhard menatap Joe, masih dengan raut seriusnya. Sementara Virranda dan Lirasa hanya menjadi pendengar yang baik.
"Sebelumnya, saya sangat berterima atas kepercayaan Pa-pi pada saya, untuk mengangkat saya sebagai direktur di perusahan Pa-pi. Namun, saya mèmohon maaf yang sebesar-besarnya, saya belum bisa menyanggupinya," ucap Joe berhati-hati, berusaha memilih kata yang tepat, jangan sampai salah kata yang nantinya bisa berujung kesalah-fahaman.
"Menjadi seorang direktur, saya rasa itu sangat tidak mudah bagi saya Pi, saya hanya menguasi ilmu penerbangan. Bila menjadi seorang direktur, tentu saja saya harus belajar banyak ilmu, yang menunjang menjadi seorang direktur, tentu saja waktunya tidak singkat."
"Saya rasa, Virranda adalah orang yang tepat menjadi seorang direktur seperti yang Pa-pi harapkan, karena dia sudah memiliki banyak dasar ilmunya, Virranda sudah belajar sejak kecil dengan bimbingan Pa-pi," ungkap Joe.
Tuan Loenhard terlihat berfikir, mencermati apa yang telah dikatakan menantunya itu, ia melirik Lirasa, juga Virranda, kedua wanita kesayangannya, sebelum membuka mulutnya untuk menyampaikan apa yang sedang ia fikirkan.
"Joe, apa kau tidak merasa malu? Isterimu akan menjadi seorang direktur, dan kau--, walau pekerjaanmu adalah seorang pilot, pekerjaan yang memang cukup ber-gengsi, ditambah lagi kau dipercaya menjadi seorang dosen akademi penerbangan, tapi tetap saja kau masih seorang pegawai, bukan pemimpin. Apa kau yakin?" tuan Loenhard memberi penekanan pada ujung kalimatnya.
"Saya yakin Pi. Saya dan Virranda, kami berdua sudah membicarakannya terlebih dahulu," sahut Joe sembari meraih tangan Virranda, menggenggamnya dan meletakkannya diatas pangkuannya.
Tuan Loenhard mendesah pelan, "Awalnya, aku memang ingin menjebakmu saja, saat di London waktu itu. Aku fikir, dengan menjadikanmu direktur, aku akan mudah menyingkirkanmu dan memisahkanmu dari putriku, bila kau melakukan sedikit kesalahan saja."
"Tapi kali ini, tujuanku mengangkatmu menjadi direktur di perusahaanku bermaksud mengangkat harkat dan martabatmu sebagai seorang menantu dirumahku. Aku tidak ingin orang-orang akan memandangmu sebelah mata. Tapi bila kau menolakanya dengan alasan seperti itu, aku juga tidak bisa memaksamu, perkataanmu itu benar. Memang semuanya tidak mudah, tidak seperti membalikan telapak tangan, tapi perlu belajar yang keras sejak dini," ungkapnya.
"Aku cukup bangga padamu, karena kau punya pendirian sendiri, kau tidak sembarang menerima, walau itu hal yang sangat menjanjikan," puji tuan Loenhard untuk pertama kalinya pada menantunya.
Mendengar pujian ayahnya pada Joe, Virranda menyenggolkan sikunya pelan, membuat wajah suaminya merona menahan malu, karena baru kali ini menerima pujian.dari sang ayah mertua.
__ADS_1
Bersambung...👉