
3 bulan kemudian...
"Silahkan duduk Joe." tuan George mempersilahkan dengan ramah, ketika pegawainya itu datang keruangannya memenuhi panggilannya.
"Terima kasih Tuan," ucap Joe hormat, lalu duduk pada kursi yang telah disediakan untuknya tepat dihadapan meja sang pemilik perusahaan tempatnya berkerja.
"Joe, kenapa kau tidak cerita kalau sebenarnya tuan Loenhard adalah ayah mertuamu," ucap tuan George menatap pegawainya itu.
Dirinya penasaran saja, sebab sebagian besar orang akan berlomba memamerkan siapa dirinya, pasangannya, mertuanya, bila mereka adalah orang-orang yang berkelas dan ternama. Berbeda dengan Joe, pegawainya itu terlihat terlalu sederhana dalam pemandangannya.
Joe tertawa kecil, menanggapi ucapan bosnya itu.
"Kenapa Joe, apa pertanyaanku terdengar lucu? Apa kau merasa rendah diri dan tidak percaya diri?" ucap tuan George melihat tanggapan Joe atas pertanyaaannya. Ia teringat bagaimana ketegangan wajah Joe ketika sedang makan malam bersama kedua mertuannya itu disaat pesta ulang tahun perusahaan miliknya beberapa bulan lalu, ketika itu dia belum tahu bila Joe memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kedua tamu istimewanya.
"Itu salah satu alasannya tuan George." ucap Joe terlihat santai, namun tidak mengurangi rasa hormatnya. Ia memang cukup dekat dengan tuan George, sang pemilik perusahaan dimana dirinya berkerja karena prestasinya dalam berkerja membuat sang pemilik menyukainya.
"Saya memang merasa rendah diri dan tidak percaya diri. Tuan juga sudah tahu siapa saya dimasa lalu. Saya ini, bukanlah apa-apa, dan bukanlah siapa-siapa Tuan," lanjut Joe menarik senyum di ujung bibirnya.
"Tapi saya berkhayal terlampau tinggi tentang hidup saya," Joe membenarkan posisi duduknya sebelum melanjutkan kalimatnya selanjutnya, sementara tuan George memperhatikannya dengan penuh perhatian, sembari bersandar pada kursi dibelakangnya.
"Saya seolah tidak tau diri, mencintai putri tuan Loenhard, seorang pengusaha yang kaya raya. Memang beberapa kali saya sudah menyadarkan diri saya sendiri kalau itu tidak akan mungkin terjadi. Tapi semakin hari, rasa cinta itu terus bertambah, yah... Saya mencintai putri tuan Loenhard seperti saya mencintai diri saya sendiri." ungkap Joe tersenyum getir diujung kalimatnya, mengingat perjuangannya mendapatkan cinta sang isteri dan restu kedua mertuanya, namun ia tidak ingin berbagi dengan siapapun, cukup dirinya saja yang menyimpan semua ceritanya itu.
Mendengar penuturan Joe, tuan George nampak mengangguk-anggukan kepalanya. Pria tambun itu yakin, pastilah perjuangan Joe mendapatkan cinta dan restu mertuanya tidaklah mudah, sedikit banyak ia juga tahu tentang Joe dan masa lalunya yang mungkin akan sulit diterima oleh pengusaha kaya sekelas tuan Loenhard batinnya.
__ADS_1
"Tapi kau layak mendapatkan semua hasil perjuanganmu Joe," ucap tuan George memberi pujian.
Sebagai pemilik perusahaan yang cukup mengenal pribadi Joe yang sudah berkerja di perusahaannya selama hampir 6 tahun, ia tahu bila Joe adalah seorang pekerja keras, itu terbukti dalam kurun waktu 5 tahun, pegawainya itu sudah bisa meraih penghargaan pilot terbaik kedua, melampaui belasan seniornya. Belum lagi sikap ramah dan suka meolong Joe pada rekan-rekan kerjanya yang membutuhkan bantuannya, membuat dirinya disukai dan diandalkan oleh para rekan sejawatnya.
"Sepertinya, mertuamu itu sudah sangat menyukaimu," lanjut tuan George lagi. "Tadi siang beliau menelponku, memintaku untuk mengijinkanmu untuk resign dari perusahaanku ini," ungkap tuan George menatap Joe yang seketika menatap serius kearahnya, sembari menegakkan posisi duduknya.
"Me-resign-ku?" tanya Joe memastikan.
"Iya, ayah mertuamu ingin kau berkerja menggantikan dirinya yang sudah tua untuk menjadi seorang direktur di perusahaannya," jelas tuan George.
Joe terpaku sesaat, memikirkan apa yang dikatakan tuan George. Beberapa bulan yang lalu, saat makan malam di pesta ulang tahun perusahaan maskapai tuan George, ayah mertuanya memang pernah membicarakan hal itu padanya.
"Apa tuan George akan memecat saya dari pekerjaan saya?" Joe melontarkan pertanyaannya.
"Kau tahu Joe, ayah mertuamu itu memiliki 40 persen saham di perusahaanku ini. Ditambah lagi, semua pegawainya yang melakukan dinas kerja ataupun liburan, menggunakan maskapai kita."
"Bila aku menolak permintaannya, mungkin dia tidak menarik sahamnya, tapi aku khawatir hubungan kerjasama kami akan sedikit terganggu karena rasa ketidak-nyamanku padanya."
Joe kembali terdiam, ia kembali memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi bila dirinya menerima ataupun menolak penawaran dari ayah mertuanya itu.
"Tapi bagaimana kalau aku yang ingin bertahan disini Tuan?" tanya Joe menatap pimpinannya itu.
"Apa kau yakin Joe? Perusahaan ayah mertuamu lebih menjanjikan dari pada disini. Di perusahaan ayah mertuamu, kau akan diangkat sebagai direktur, dan disini kau hanya sebagai pegawai," ucap tuan George menasehati.
__ADS_1
"Saya tidak punya kemampuan jadi seorng direktur Tuan, tapi seorang pilot. Dan itu adalah diri saya, tidak masalah walau saya hanya jadi seorang pegawai." ungkap Joe bersungguh-sungguh, supaya dirinya masih diberi kesempatan untuk berkerja pada pria tambun dihadapannya itu.
Tuan George terdiam sejenak, memikirkan apa yang akan dikatakannya pada pegawainya itu.
"Begini saja Joe. Sebenarnya tujuan utamaku memanggilmu kemari karena ingin memberikan ini padamu." Tuan George menarik laci meja kerjanya dan mengambil satu amplop berwarna putih lalu menyerahkannya pada Joe.
"Apa ini?" tanya Joe dengan perasaan yang deg-degan, menerina amplop putih dari tuan George.
"Buka dan bacalah dulu," ucap tuan George menatap wajah Joe yang berubah tegang.
Walau nampak ragu, Joe tetap menurut. Ia membuka amplop ditangannya dan mengeluarkan lipatan kertas dari dalamnya. Perlahan, dibacanya kata demi kata pada lembaran kertas putih dengan penuh perhatian.
"I-ini serius Tuan?" Joe menunjukan kertas yang baru ia baca pada bosnya itu dengan raut tak percaya, perasaannya tiba-tiba berubah bahagia.
"Iya Joe. Seperti apa yang tertulis disana. Kau dimutasikan kembali ke negeri asalmu, Indonesia--, sesuai permintaanmu. Juga, dalam seminggu sekali kau akan mengajar di akademik penerbangan, tempat kau didik dulu." jelas tuan George mengulas senyumnya.
"Syukurlah, terima kasih banyak tuan George," ucap Joe penuh haru dengan rasa bahagia yang tidak terkatakan. Akhirnya, apa yang didoakannya selama ini bisa terkabulkan. Bayangan untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya kini bukan hanya impian belaka, tapi sebentar lagi akan menjadi kenyataan, membuat matanya berkaca-kaca.
"Sama-sama Joe. Aku harap, saat kau sampai di Indonesia nanti, kau bisa berbicara secara baik-baik dengan ayah mertuamu."
"Bila boleh jujur, aku berharap kau masih bisa berkerja di perusahaanku, karena perusahaan masih sangat membutuhkanmu. Itu sebabnya, kami menutasikanmu kembali ke Indonesia dengan harapan kau bisa berkumpul dengan keluargmu."
"Dan mertuamu bisa mempertimbangkannya, dan masih mengijinkanmu berkerja pada perusahaan kami." ucap pria itu berharap.
__ADS_1
Bersambung...👉