Daddy My Son

Daddy My Son
82. Sehangat Kasih Sayang


__ADS_3

"Aku sudah sering memperingatkannya supaya tidak menampakan batang hidungnya itu didepan Verrel, tapi kenapa dia seolah tidak mengerti apa yang aku katakan," gerutu Virranda, ketika dilihatnya Ferdinand sedang duduk diruang tunggu wali murid.


"Sabar Sayang," Joe mengusap punggung Virranda lembut. "Tuan Ferdinand, beliau pasti rindu pada Verrel, anak kandungnya." ucap Joe lagi. Keduanya berdiri didepan pintu masuk, memperhatikan Ferdinand yang sibuk menunduk, memperhatikan ponselnya.


"Tapi 'kan Joe, laki-laki itu pernah melakukan kejahatan padaku. Dan aku takut, takut bila dia melakukan kejahatan lagi dengan mengambil Verrel dariku, mengambil Verrel dari kita, Joe. Apa kau tidak takut?" ungkap Virranda menunjukan raut khawatirnya.


"Aku mengerti perasaanmu Sayang," Joe menempelkan punggung Virranda didadanya, berusaha memberi rasa tenang pada isterinya yang pernah mengalami pengalaman buruk dengan pria yang menjadi ayah biologis anaknya. Dan dirinya juga ingat, bahwa laki-laki itu pernah mengatakan bila akan merebut Virranda dan Verrel darinya.


"Aku rasa tuan Ferdinand hanya ingin menunjukan rasa kasih sayangnya saja sebagai seorang ayah, dan tidak ada niatan untuk merebut Verrel dari kita, Sayang," ucap Joe berusaha tetap menenangkan isterinya.


"Ayo kita ke sana, menemui tuan Ferdinand," ucap Joe mengajak isterinya itu.


"Tidak mau," sahut Virranda cepat.


"Jangan takut Sayang, ada aku bersamamu. Mungkin dengan mengobrol dengannya, kita bisa tahu apa maksud tujuan tuan Ferdinand datang lagi untuk menemui Verrel." bujuk Joe lembut.


"Heum," Virranda nampak berfikir sejenak, beberapa detik kemudian ka mengangguk tanda setuju. Joe lalu tersenyum dan menggandeng tangan isterinya itu dan membawanya masuk ke ruang tunggu wali murid dimana Ferdinand duduk.


"Selamat siang tuan Ferdinand," sapa Joe ramah. Ferdinand yang tengah memperhatikan ponselnya segera menengadahkan wajahnya, menatap kearah Joe yang telah menyapanya.


"Selamat siang," Ferdinand buru-buru bangkit dari duduknya.


"Apa kabarmu Joe? Kapan kau datang dari London?" Ferdinand mengulurkan tangannya sembari mengulas senyum ramahnya pada ayah sambung putranya.

__ADS_1


"Tadi pagi Tuan, dan kabar saya baik," sahut Joe menjabat tangan pria yang pernah menjadi rivalnya itu.


"Jangan panggil saya Tuan. Panggil saja saya Ferdinand atau Kwang saja." pinta Ferdinand.


"Saya tidak berani Tuan," ucap Joe sungkan. Walau ia pernah memukul laki-laki itu karena isterinya, bukan berarti sikap hornatnya luntur, ia sadar benar bila status sosialnya dengan pria parlente itu bagai langit dan bumi.


"Tidak perlu sungkan Joe. Sebenarnya, apapun yang melekat padaku itu, hanya atribut saja, tidak lebih," ucap Ferdinand lebih bijak dari pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya, seolah memahami apa yang sedang difikirkan oleh Joe. Sudah tidak ada caci maki maupun hinaan seperti yang kerap ia lakukan pada suami Virranda itu.


"Seperti yang pernah aku katakan pada pertemuan kita yang terakhir, aku sangat berterima kasih padamu karena telah menjaga dan menganggap Verrel seperti putramu sendiri."


"Aku minta maaf bila kehadiranku disini membuat kalian sebagai orang tua Verrel merasa tidak nyaman," ucapnya lagi, melirik sekilas pada Virranda yang membuang pandangannya kearah lain.


"Aku hanya ingin dekat dengan putraku." ungkapnya menatap Joe.


"Dan untuk menebus kesalahanku dimasa lalu, aku berkeinginan untuk membiayai kehidupan putraku itu, tidak masalah bila aku tidak diberi hak asuh, aku cukup tahu diri." imbuhnya lagi.


Joe menoleh kearah Virranda yang masih membuang pandangannya kearah lain, Ia tidak ingin mendahului isterinya itu, bila itu menyangkut urusan Verrel. Menurutnya, Virranda lebih berhak menanggapi apa yang diucapkan oleh Ferdinand barusan dari pada dirinya.


"Daddy!!" teriak Verrel dari depan kelasnya, begitu pandangannya menemukan Joe ada diruang tunggu. Bocah itu segera berlari, mendahului teman-temannya yang sempat hampir terjatuh karena ia tidak sengaja menyeka mereka dengan sedikit kasar, tidak sabar untuk segera sampai pada sang Daddy.


Joe, Virranda, dan Ferdinand kompak menggeleng-gelengkan kepala, rasa geli bercampur khawatir ketika melihat Verrel hampir saja membuat teman-temannya celaka.


"Hufh! Jagoan Daddy!" Joe segera menyambar Verrel yang berlari kearahnya dan menggendongnya tinggi-tinggi dengan kedua tangannya melampaui kepalanya.

__ADS_1


Bocah itu tergelak senang diperlakukan demikian untuk beberapa detik lamanya. Setelah merasa sedikit pegel, Joe lalu menurunkannya diatas pundaknya.


"Daddy kapan datang?" tanya Verrel sambil mencium pucuk rambut Joe dihadapannya.


"Tadi pagi Sayang." sahut Joe sambil tertawa kecil. "Ayo turun dulu, beri salam pada Uncle, sedari tadi sudah lebih dulu menunggu Verrel," Joe segera menurunkan Verrel dari pundaknya, dan membiarkannya menghampiri Ferdinand.


"Hai Uncle," sapa Verrel dengan wajah ceria, ia segera meraih tangan Ferdinand dan mencium punggung tangannya.


"Hai juga Jagoan, bagaimana belajarmu hari ini? Pasti menyenangkan, iya kan?" tanya Ferdinand dengan raut bahagianya. Perasaan bahagia itu selalu saja hadir saat dirinya bisa berdekatan dan mengobrol dengan putranya itu walau dirinya hanya dipanggil uncle oleh anaknya sendiri, itu saja sudah cukup baginya.


"Iya Uncle. Uncle apa kabarnya?" ucap bocah itu balik bertanya.


"Uncle baik Sayang." Ferdinand berjongkok, menyamakan dirinya dengan tinggi putranya itu. "Tujuan Uncle kemari, mau mengundang Verrel secara langsung, kalau lusa sore Uncle ada acara syukuran keluarga," ucapnya menatap maniik gelap mata Verrel, persis sama dengan manik mata miliknya.


"Syukuran apa itu Uncle?" tanya Verrel ingin tahu.


"Syukuran anak-anak adopsi Uncle," ungkap Ferdinand. Joe dan Virranda seketika saling berpandangan mendengarnya.


"Wah, asik! Verrel mau Uncle!" sambut Verrel antusias. "Verrel mau berkenalan sama anak-anak Uncle!" pekiknya kegirangan.


"Daddy dan Mommy-nya Verrel boleh ikutkan Uncle?" tanyanya penuh harap, kedua tangan kecilnya tidak sadar memegang bahu tegap Ferdinand.


"Tentu saja boleh Sayang. Kakek dan Nenek Verrel juga boleh datang, kita akan bersenang-senang bersama. Jadi, wajib datang. Jangan sampai tidak!" Ferdinand menoel pucuk hidung Verrel yang mancung, yang juga mewarisi hidungnya.

__ADS_1


"Terima kasih Uncle!" Verrel yang sangat bahagia menerima undangan Ferdinand spontan mencium pipi kanan ayah kandungnya itu. Tentu saja Ferdinand kaget dibuatnya, hatinya menghangat, sehangat kasih sayangnya pada sang buah hatinya itu.


Bersambung...👉


__ADS_2