Daddy My Son

Daddy My Son
55. Kelakuan Anak Bau Kencur


__ADS_3

"Aku ikut!" Virranda mengekor Joe yang berjalan menuju pintu apartemen.


"Isteriku sayang, kau istirahat dirumah saja. Makan dan minumlah yang banyak, dan sesering mungkin, supaya kondisi tubuhmu yang lemah itu segera pulih, aku tidak ingin kau sakit lagi." larang Joe. Berusaha membujuk dengan lembut.


"Aku tidak ingin jauh," gumam Virranda menatap dengan raut dibuat sayu.


"Sebentar saja sa-yang. Aku hanya mengambil motor sportku saja yang ditinggal didealer waktu itu. Setelah itu, aku menjemput Verrel dan langsung membawanya pulang kemari. Kau pasti merindukannya bukan?" ucap Joe masih berusaha membujuk.


"Aku juga sudah menelpon kerumahmu, mengabari bibi Arin kalau keadaanmu sudah lebih baik. Dan mengatakan padanya biar aku saja yang menjemput Verrel pulang."


"Papi dan Mamimu juga sudah pulang semalam. Bibi mengatakan kalau Mami sedang sakit. Sepulang dari menjemput Verrel, aku akan mengantarkanmu pulang kerumah orang tuamu." ucapnya menyentuh kedua pundak Virranda yang berdiri dihadapannya.


"Tapi aku tetap mau ikut. Waktu kita bersama hanya sedikit. Please! Ikut ya? Ya?" rengek Virranda penuh harap.


"Oke, baiklah. Kau boleh ikut," Joe akhirnya mengalah, dirinya juga tidak tega meninggalkan Virranda seorang diri diapartemen.


"Terima kasih Misua-ku," gumam Virranda senang sembari meraih tangan Joe dan menautkan pada jari-jemarinya.


"Apa? Coba ulangi lagi?" Joe memicingkan sebelah matanya, mendengar kosakata yang terlontar dari mulut Virranda.


"Mi-su-a-ku," ulang Virranda pelan dan bernada manja.


Joe terkekeh. Kata suami yang sengaja dibolak-balik suku katanya, disematkan sebagai panggilan sayang isterinya itu padanya , sudah cukup membuat hatinya bahagia dan berbunga mendengarnya.


Keduanya melangkah bersama, menjauhi pintu apartemen Joe yang sudah terkunci rapat. Kedua tangan yang saling bertautan itu semakin erat menggengam satu sama lain. Merasakan aliran-aliran hangat dari sana, mengalirkan segala rasa yang tidak cukup diuraikan hanya dengan kata-kata.


Dilantai dasar, telah menunggu taksi online yang dipesan oleh Joe. Mereka sengaja tidak menggunakan mobil Virranda karena akan membawa pulang motor sport milik Joe yang sengaja ditinggal saat pembelian mobil Virramda beberapa waktu lalu.


Setelah menempuh perjalanan hampir empat puluh menit karena lalu lintas yang cukup macet siang itu, keduanya akhirnya tiba di dealer yang dituju. Joe membayar tagihan, lalu membawa Virranda masuk tanpa melepas tautan tangan mereka semenjak dari apartemen.


"Aku ingin ke toilet. Tiba-tiba saja kebelet," bisik Virranda ditelinga Joe, begitu keduanya memasuki lobby dealer.


"Aku temenin," ucap Joe langsung berjalan mengarah menuju toilet.


"Jangan, tunggu aku disini saja," larang Virranda masih sungkan dan malu.


"Kau tidak boleh sendiri. Aku khawatir terjadi sesuatu. Tenang saja, aku tidak akan ikut masuk. Aku akan menunggumu diluar," ucap Joe berjanji.


Tanpa berfikir panjang, Virranda langsung menyetujui. Pasalanya, rasa kebelet itu semakin menekannya, hingga tidak sadar ia menarik paksa tangan Joe yang masih menggenggam tangannya.


"Ayo, buruan! Aku sudah tidak tahan lagi!" ucap Virranda dengan suara tertahan, berusaha menahan segala rasa didalam perutnya yang berlomba-lomba ingin keluar dari tubuhnya.

__ADS_1


Joe segera mengikuti langkah Virranda yang berjalan cepat menuju toilet, melewati beberapa pengunjung dan customer service yang tengah mengobrol tentang unit mobil pesanan mereka.


"Tunggu disini! Jangan ikut masuk! Bau!" titah Virranda sambil menyerahkan tasnya pada Joe untuk menjaga barang-barangnya didalam sana.


Joe tersenyum kecil, melihat Virranda buru-buru masuk ke toilet wanita dan menutup pintu dengan suara yang cukup keras.


Ia menyandarkan punggungnya pada dinding dibelakangnya, lalu mulai berselancar dengan ponselnya.


Setelah berhasil masuk situs maskapai, perusahaan tempatnya berkerja, Joe segera memeriksa jadwal penerbangan yang diatur ulang karena cutinya yang mendadak. Ia memperhatikan beberapa nama yang menggantikan dirinya.


"Joe, akhirnya aku menemukanmu lagi disini," ucap suara itu setengah berbisik, menunjukan senyum kemenangannya.


"Tante Ayunda!" Joe terkesiap, wanita paruh baya itu sudah mendekapnya erat. Bagaiamana mungkin dirinya tidak menyadari kehadiran wanita itu? Rutuk Joe didalam hati. Ia sama sekali tidak mendengar langkah sepatu wanita itu, tiba-tiba saja muncul, dan sudah mendekapnya erat.


"Kemana saja kau selama ini berondongku sayang? Aku merindukanmu? Kau tidak tahu bagaimana kacaunya hatiku selama kau pergi." racaunya semakin erat mendekap hingga Joe hampir kesulitan bernapas.


"Tolong Tan, jangan seperti ini. Bagaiamana kalau ada orang melihat kita, bisa bahaya," ucap Joe berusaha melepaskan diri. Namun wanita itu semakin kuat menguncinya dalam pelukannya.


"Aku tidak perduli. Sebelum kau berjanji mau menemaniku malam ini ditempat biasa,.aku tidak akan melepaskanmu sayang," ucap wanita itu dengan memberi penawaran.


"Aku tidak bisa Tan, aku sudah tobat, tidak bisa seperti dulu lagi." tolak Joe beerusaha menjelaskan.


"Mba Ayunda tidak boleh membawa suamiku pergi," Virranda menatap nyalang, pada Ayunda yang masih memeluk Joe dengan membelakangi dirinya. Ia menutup pintu toilet dibelakangnya dengan rapat.


Joe sedikit salah tingkah. Walau ia tidak melakukan apapun pada Ayunda, tapi tetap saja dirinya merasa risih kedapatan isterinya itu sedang didekap wanita lain.


Mendengar ada suara orang lain dibelakangnya, Ayunda segera melepaskan pelukannya, ia berbalik dan menemukan Virranda yang tengah memberikan tatapan garang padanya.


"Suami?" Ayunda kembali terkekeh geli."Bukankah kau wanita hamil yang mengatakan kalau Joe saat itu seorang kurir?" ucapnya mengingatkan, sembari mendekati Virranda yang sedang melipat kedua tangannya didepan dada.


"Itu benar,"


"Joe bukan suamimu. Dia milik semua orang." Ayunda kembali terkekeh dengan nada mengejek. "Dia bukan tipe laki-laki yang mau diikat oleh pernikahan," imbuhnya sembari terus terkekeh.


Joe yang berada dibelakang Ayunda segera membuka mulutnya untuk menginterupsi perkataan Ayunda, namun Virranda segera menghentikannya dengan isyarat tangannya.


"Biarkan dia meneruskan perkataannya. Ini urusan sesama wanita," ucap Virranda memandang kearah suaminya. Joe kembali mengatupkan mulutnya yang sebelumnya siap menyanggah perkataan wanita paruh baya itu.


"Kau mungkin membelinya untuk dijadikan suami. Aku bisa membayarnya lebih darimu. Katakan nilainya Joe?! Seperti biasanya, aku akan membayarmu penuh," ucapnya jumawa.


Virranda menelan salivanya. Ia tahu, ucapan wanita itu bukanlah isapan jempol semata. Joe memang pria yang biasa dibeli oleh para wanita-wanita kaya serupa Ayunda, wanita dihadapannya yang memberi tatapan remeh padanya.

__ADS_1


"Aku tahu mba Ayunda punya banyak uang, dan bisa membeli banyak pria termasuk Joe. Itu hanya berlaku dimasa lalu. Sekarang Joe adalah suamiku. Dia milikku! Jangan pernah mengganggunya lagi! Atau--," tekan Virranda dengan nada geramnya.


"Atau apa??" sahut wanita itu dengan senyum mengejek.


"Aku akan memberitahukan pada tuan Johan, suami mba Ayunda. Aku dapat pastikan, mba Ayunda akan menjadi gembel setelah diceraikan oleh tuan Johan," balas Virranda dengan senyum ejekan pula.


"Kau mengancamku?" senyum wanita itu seketika sirna. Wajah suramnya lebih mendominasi.


"Tidak. Aku hanya ingin katakan, bila aku dan keluargaku adalah customer tetap pada dealer milik suami mba Ayunda, dan perusahaan kami selalu membeli product di dealer ini juga."


"Mba Ayunda bisa bayangkan, apa yang saya katakan, tidak mungkin diabaikan oleh tuan Johan."


"Aku tidak takut mendapat ancaman anak bau kencur sepertimu. Coba saja kalau berani," ucap Ayunda kembali menunjukan senyum ejekannya.


"Yah, sayang sekali. Orang yang sudah tua memang sulit diperingatkan. Kelapa yang sudah tua memang sangat bagus, karena banyak santannya. Tapi wanita tua seperti mba Ayunda, sebaiknya cepat bertobat, sebelum masuk keliang lahat," balas Virranda tak mau kalah mengata-ngatai lawan bicaranya.


Joe cukup terkejut, melihat sisi arogan isterinya. Ternyata, sifat yang suka melontarkan kata-kata pedas sang ayah mertuanya menurun pada isterinya itu, batinnya.


"Kau, berani berkata seperti itu padaku?!" geramnya langsung melayangkan tangannya keudara.


Dengan sigap, Virranda menangkap tangan Ayunda, lalu memutarnya kebelakang dan menguncinya dengan kuat.


"Akhh! Lepaskan bo*oh!! Sakit tau!!" erangnya marah.


"Kalau sudah tua, jangan sok jagoan sama anak bau kencur! Sakit bukan? Rasakan ini lagi!" Virranda menyundulkan lututnya yang menekuk kebokong wanita itu.


"Aww!! Anak kura*g ajar!! Awas kau!!" makinya kesal sambil mengusap bokongnya yang nyeri tepat ditulang ekornya.


Virranda tertawa puas, sambil mengibas-ngibaskan tangannya, seakan melunturkan debu dengan jijik dari tangannya.


"Ayo Misua-ku, kita pergi. Sudah cukup bermain-mainnya. Bila dia belum puas, aku masih bisa melayaninya dilain waktu." Virranda menarik tangan Joe untuk mengikutinya meninggalkan tempat itu.


Ditikungan lorong dekat toilet, Virranda berjongkok, meraih sepatu high heels berwarna merah maroon.


"Sepatu siapa itu?" tanya Joe heran, melihat Virranda memungutnya lalu membuangnya kedalam tong sampah didekatnya.


"Entahlah! Mungkin sepatu si santan basi itu!" ucap Virranda seenaknya, ia kembali menarik tangan Joe untuk mengikutinya.


Joe langsung teringat, ketika Ayunda datang menyergapnya secara tiba-tiba, ia sama sekali tidak mendengar langkah sepatu wanita itu, mungkin saja Virranda benar, bahwa sepatu itu adalah milik Ayunda. Joe tersenyum didalam hati, ternyata isterinya itu benar-benar mirip ayah mertuanya dalam hal berlaku kasar dan seenaknya.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2