
Drrt. Drrt. Drtt.
Lirasa melirik ponselnya, mengabaikan panggilan masuk ketika melihat nama nyonya Toshigawa yang tertera dilayar ponselnya itu.
Kepalanya masih berdenyut sejak semalam, memikirkan apa yang telah terjadi pada putri tunggalnya.
"Siapa yang telepon Mi? Kenapa tidak diangkat?" tanya tuan Loenhard pada isterinya. Ia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Itu--, dari nyonya Toshigawa. Mami sedang tidak ingin bicara dengan semua anggota keluarga mereka, Pi" ungkap Lirasa dengan raut ditekuk.
Mendengar perkataan isterinya, tuan Loenhard segera mendekatinya, berencana untuk mengatakan apa yang dikandung hatinya. Belum sempat ia membuka mulutnya untuk bicara, kini giliran ponselnya yang berdering.
"Siapa Pi?" tanya Lirasa penasaran melirik ponsel suaminya.
"Dari nyonya Toshigawa Mi," sahut tuan Loenhard begitu melihat nama yang tertera dilayar ponsel miliknya.
"Jangan diangkat Pi," larang Lirasa. Ia sudah menduganya, karena dirinya tidak mengangkat, maka wanita itu beralih nenelpon suaminya.
"Tidak boleh begitu Mi, kita tidak tahu, nyonya Toshigawa ada keperluan apa menelpon Papi sebelum kita mendengar ia mengutarakan maksudnya," ucap tuan Loenhard pada isterinya.
"Huh! Jelas-jelas putra dari keluarga Toshigawa itu telah melakukan hal buruk pada putri kita, Papi tetap saja bersikap baik. Papi sungguh aneh!" kesal Lirasa.
"Mi, persoalannya belum begitu jelas. Belum ada penjelasan dari keluarga Toshigawa. Kita hanya mendengar dari bibi Arin saja, gimana sih Mami!" ucap tuan Loenhard langsung mengangkat panggilan nyonya Toshigawa.
"Terserah Papi saja," Lirasa kembali menekuk wajahnya, begitu mendengar suara suaminya mengudara, mengangkat panggilan telepon nyonya Toshigawa.
Drtt. Drtt. Drtt.
Lirasa meraih ponselnya yang kembali berdering. Begitu dilihatnya panggilan dari orang suruhannya, Lirasa buru-buru mengangkatnya, mengabaikan suaminya yang tengah menerima telepon dari nyonya Toshigawa.
📞"Apa ada berita baru?" tanya Lirasa ridak sabar, begitu dirinya sudah mengangkat telepon.
📞"....."
__ADS_1
Lirasa mendengar dengan penuh perhatian. Sesekali ia melirik kearah suaminya yang juga sedang berbicara dengan nyonya Lirasa ditelepon.
📞,"Apa kau yakin? Itu sepertinya tidak mungkin!" Lirasa menegang, ia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Logikanya benar-benar tidak bisa menerima apa yang tengah ia dengar sekarang.
Namun berita itu tidak mungkin ia kesampingkan, karena dirinya sendiri yang telah meminta orang suruhannya itu untuk mendapatkan informasi apapun itu tentang seseorang yang ia curigai.
📞"...."
📞"Baiklah. Kapan aku bisa menerima semua bukti yang kau temukan itu?" ucap Lirasa.
📞"...."
"Terima kasih untuk kerja kerasmu," Lirasa menutup sambungan teleponya.
"Ada apa Mi, siapa yang menelpon?" tanya tuan Loenhard yang sudah lebih dulu selesai dengan ponselnya. Wajah tegang dan gugup isterinya tidak luput dari perhatiannya.
Sejenak Lirasa diam seribu bahasa, ingin mengutarakan apa yang didengarnya dari orang suruhannya, namun ia tahu suaminya tidak akan mudah percaya apa yang akan ia sampaikan, ia memutuskan untuk menundanya, sampai orang suruhannya itu memberikan apa yang telah ia minta.
"Nanti malam tuan dan nyonya Toshigawa akan bertandang kerumah kita Mi," ucap tuan Loenhard memberi tahu, setelah menunggu isterinya itu tidak kunjung membuka suaranya.
"Iya. Papi seruju, Mi." sahut tuan Loenhard
Lirasa melengos mendengar jawaban suaminya yang tidak sesuai keinginannya.
"Mi, Papi hanya ingin semuanya jelas. Supaya tidak terjadi kesalah fahaman. Bukankah hubungan keluarga kita dengan keluarga Toshigawa sudah terjalin baik selama ini? Jadi, apa salahnya kita saling bicara dari hati ke hati." ucapnha memberi alasan.
"Terserah Papi saja, bukankah kepala keluarga dirumah ini adalah Papi?" ucap Lirasa sudah tidak ingin berdebat.
Tuan Loenhard mendesah berat, lalu mendekati isterinya. "Papi kekantor dulu Mi, ada beberapa berkas yang perlu Papi periksa dan tanda-tangani. Tadi pagi sekretaris Shen sudah menyiapkan semuanya.
"Baiklah Pi, hati-hati dijalan," Lirasa mengantarkan suaminya itu hingga kedepan pintu kamar mereka. Tuan Loenhard memang sengaja berangkat kekantor setelah makan siang, karena tidak tega meninggalkan isterinya yang kurang enak badan sejak semalam.
...🍓🍓🍓...
__ADS_1
Virranda dan Verrel turun dari motor suaminya Joe. Bibi Arin segera membawa bocah kecil itu masuk untuk berganti pakaian sekolahnya.
"Maaf, aku tidak mampir. Ada urusan yang harus aku urus, sebelum kembali ke London. Nanti malam aku akan nenjemputmu dan juga Verrel," ucap Joe dari atas motornya yang masih menderum.
"Apa ini ada hubungannya dengan pertemuanmu dengan Nickholas?" tanya Virranda menduga. Semenjak keluar dari ruang smoking area, Virranda melihat Joe lebih banyak diam, dan terlihat sedih. Ditambah lagi Nickholas tidak membawa Joe bersamanya, saat menghampiri mereka.
Joe mematikan mesin motornya, membuka kaca helm, dan memandang manik bening milik Virranda, "Aku melakukan semua ini demi dirimu. Aku akan pergi ke suatu tempat yang sudah lama aku tinggalkan. Untuk menemukan kebenaran yang entah aku bisa mendapatkannya atau tidak," ucap Joe lirih.
"Kebenaran apa itu? Dan tempat seperti apa yang akan kau datangi?" tanya Virranda penasaran.
"Kebenaran--, kalau aku sangat mencintaimu,"ucap Joe sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia tersenyum ketika melihat wajah isterinya seketika merona, mendengar ucapannya.
Virranda sadar, bila suaminya itu sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
"Aku juga penasaran, apa yang membuat para tante paruh baya itu terus mengejarmu sampai sekarang. Apa rasanya serupa buah strawberry? Manis-asem-kecut," ceplos Virranda, membuat Joe mengerjap-ngerjapkan matanya kaget. Tidak biasanya isterinya itu berani bicara sevulgar itu padanya.
Joe menempelkan punggung tangannya pada dahi Virranda, merasakan suhu tubuh isterinya lewat sentuhan kulitnya. "Masih normal, tidak panas."ucap Joe kemudian.
"Tentu saja kau tidak merasakannya, karena bukan disitu yang sakit, Misua-ku. Tapi disini," Virranda meraih tangan Joe dan memindahkannya kedadanya. Joe kembali terkesiap, saat Virranda sengaja menyentuhkan tangannya pada dua gunung kembarnya yang sedikit berguncang akibat pergerakan isterinya itu.
"Astaga! Kenapa Virranda lebih agresif dari para tante itu?" batin Joe sembari menelan salivanya hingga menimbulkan pergerakan pada jakunnya yang naik turun.
"Sakit apa disitu?" tanya Joe pura-pura tidak terpengaruh.
"Sakit Malarindu," bisik Virranda, masih menggenggam tangan Joe yang menempel didadanya.
"Perbuatanmu ini bisa membuatku ingkar janji, Sayang," ungkap Joe sok kuat, dan menampilkan raut datarnya.
"Ingkar janji pada siapa?" Virranda semakin menekan tangan Joe kedadanya, membuat laki-laki itu mulai panas dingin, merasakan benda kenyal yang berguncang lembut dibalik blouse longgar Virranda.
"Janji pada ayah mertuaku. Papimu, Sayang," sahut Joe berusaha menahan segala rasa dan degup jantungnya yang terus saja berdetak bertalu-talu.
Virranda terkekeh. Mendengar ucapan Joe, membuat wanita itu akhirnya memutuskan untuk tidak menggodanya lagi. Perlahan ia melepaskan tangan asuaminya itu, dan kembali tertawa kecil, begitu melihat Joe menghembuskan napasnya lega.
__ADS_1
Bersambung...👉