Daddy My Son

Daddy My Son
89. Kunjungan Ferdinand di Rumah Sakit


__ADS_3

Tok! Tok! Tok!


Joe bergegas menuju pintu.


Cekkek!


"Tuan Ferdinand..." Joe nampak kaget melihat kedatangan ayah Verrel itu


"Selamat pagi Joe," sapa Ferdinand mengulas senyum.


"I-iya, selamat pagi tuan Ferdinand," sambut Joe kikuk merasa belum mandi dan berhadapan dengan Ferdinand yang sudah tampil sempurna dan wangi dengan jas kerjanya.


"Mari masuk," Joe tetap mempersilahkan dengan ramah.


"Terina kasih," Ferdinand ikut masuk.


"Aku membawakan beberapa hadiah buat putramu yang baru lahir, juga buat ibunya. Ini semua dari Verrel dan para putriku," ujar Ferdinand lagi, menyerahkan sebuket bunga mawar putih segar, dan beberapa paper bag.


Joe memeriksa isinya, ia melihat beberapa lembar handuk bayi, pakaian bayi, alat-alat mandi bayi, dan mainan melodi.


"Ternyata tuan Ferdinand sudah sangat hafal peralatan-peralatan yang diperlukan oleh seorang bayi," ucap Joe, begitu dirinya selesai melihat hadiah yang diberikan pria itu.


"Tentu saja Joe, walau aku belum pernah mengurus bayi, tapi aku 'kan ayah dari 1 orang putra dan 13 orang putri, dan sudah beberapa bulan ini aku mengurus para putriku itu dan membeli sendiri dengan tanganku semua kebutuhan yang mereka perlukan. Jadi aku sudah banyak belajar," ucap Ferdinand bangga dan terus tersenyum.


"Iya ya, Tuan benar juga. Bila saya perhatikan, ini bukan dari para bocah-bocah itu, tapi dari Papa mereka," lirik Joe dengan senyumnya. "Tapi terima kasih banyak untuk semua hadiah ini," ucap Joe lagi.


Ferdinand tertawa kecil, mengetahui kebohongannya dibongkar Joe, namun dirinya tidak merasa malu. "Sama-sama. Dimana bayimu dan ibunya?" tanya Ferdinand yang sedari tadi merasa ruangan itu sepi.


"Virranda masih mandi setelah menyusui bayinya. Tunggu sebentar, aku akan melihatnya dulu, mungkin saja sudah selesai," Joe berdiri, beranjak menuju kamar isterinya, beberapa menit kemudian ia kembali lagi menghampiri Ferdinand yang duduk disofa tamu.

__ADS_1


"Ayo masuk, Tuan pasti ingin melihat bayi kami kan?" ajak Joe.


"Eum," angguk Ferdinand. "Apa boleh?" tanyanya ragu. Ia ingat, bila Virranda selalu antipati padanya selama ini.


"Boleh Tuan, Virranda sendiri yang meminta Tuan masuk," ujar Joe.


"B-baiklah," walau tidak sepenuhnya percaya, namun Ferdinand yang sangat penasaran dengan penampakan adik bayi dari Verrel itu tetap saja mengekor dibelakang Joe dengan perasaan dag-dig-dug dan sedikit gugup.


Ferdinand berhenti tepat didepan pintu kamar memperhatikan sejenak tulisan yang tertera dikertas yang menempel diranjang bayi.


Nama :.Gibran Dirgantara.


Berat : 4, 2 kg


Ayah : Joe Dirgantara


Ibu : Virranda Laura


Ia melihat Virranda telah duduk rapi di pembaringannya, dengan wajah yang segar seperti baru habis mandi.


Matanya beralih pada bayi merah dan gendut di sisi Virranda, terlelap setelah kenyang menyusui ibunya.


Ingatannya melayang pada beberapa tahun silam, saat dirinya mengantar Virranda kerumah sakit untuk melahirkan Verrel, mungkin putranya itu tidak jauh beda dengan putra Joe dan Virranda saat lahir waktu itu, batinnya didalam hati mengingat dirinya yang kehilangan momen berharganya waktu itu.


"Bolehkah aku menggendong bayi Anda, nona Vorannda?" tanya Ferdinand meminta ijin, walau ia tidak yakin bila wanita itu mengijinkan drinya melakukan hal itu.


"Silahkan tuan Ferdinand. Tapi maaf, tolong berhati-hati, karena Gibran masih merah," sahut Virranda mengijinkan tanpa banyak drama seperti biasanya.


"Oh," Ferdinand kaget dan menatap cukup lama pada Virranda, tidak menduga bisa mendapat ijin dari wanita itu dengan begitu mudah.

__ADS_1


"Terima kasih," ucapnya mengalihkan pandangan pada bayi didepannya. Ferdinand mendekat dan sedikit berjongkok, dengan hati-hati diraihnya tubuh bayi merah yang terlelap itu lalu masuk dalam gendongannya.


Virranda dan Joe saling berpandangan sesaat, ketika melihat Ferdinand menimang bayi mereka, walau terlihat sedikit canggung, "Saya tidak menyangka bila tuan Ferdinand bisa menggendong bayi dengan benar, dan terlihat pantas menimang bayi lagi," ucap Joe tersenyum kecil.


Ferdinand ikut tersenyum, mendengar pujian dari Joe. "Anakku sudah 14 orang termasuk Verrel, Joe. Walau aku ingin menambah anak lagi, tidak ada induknya," ucap Ferdinand tertawa kecil, membuat Virranda dan Joe ikut tertawa pula mendengar ucapan Ferdinand diakhir kalimatnya.


"Aku harap, kalian berdua tidak akan menghilang secara tiba-tiba lagi seperti lima tahun silam dengan membawa putraku, Verrel," ujar Ferdinand menohok namun tetap bernada candaan sembari tertawa.


Joe dan Virranda kembali tertawa. Ingatan mereka kembali ke masa lalu, dimana mereka menghilang membawa Verrel karena satu alasan, melarikan diri dari kejaran para tante gi*ang.


"Tentu saja tidak Tuan. Sekarang saya tidak perlu menyembunyikan diri lagi dari para wanita masa lalu saya itu," ujar Joe masih terkekeh.


"Saya harap, dimasa yang akan datang, para mama putri-putri tuan itu tidak akan datang untuk membuat Tuan pusing tujuh keliling," balas Joe, mengingat kisah sang mantan rivalnya yang tidak jauh berbeda dengan kisahnya.


Ferdinand tidak bisa membalas lagi, ia hanya bisa tertawa sembari mencium pipi bayi merah dalam gendongannya dengan rasa gemes.


"Tuan Ferdinand."


Ferdinand mendongak, melihat kearah Virranda yang memanggil namanya.


"Terima kasih, karena sudah membantu mengasuh Verrel selama saya dan Joe berada di rumah sakit beberapa hari ini," ucap Virranda.


Laki-laki itu terpana sesaat, tidak menyangka Virranda akan bersikap baik apalagi sampai berterima kasih padanya, untuk hal kecil yang ia lakukan sebagai seorang ayah dari putranya sendiri.


"Tidak perlu berterima kasih padaku Nona, apa yang kulakukan adalah hal yang seharusnya dilakukan sebagai seorang ayah," sahut Ferdinand.


"Akulah yang harusnya berterima kasih, karena Nona sudah mempercayaiku untuk membawa Verrel tinggal dirumah kami walau hanya beberapa malam," imbuhnya lagi.


"Iya, maafkan saya Tuan, karena pernah berfikir bila Anda akan merebut Verrel dari saya," ucap Virranda dibarengi tawanya, mengingat kekhawatirannya selama ini.

__ADS_1


Ferdinand hanya menanggapi dengan anggukan dan senyumannya. Ia kembali menimang bayi Gibran dalam gendongannya, menciumnya dengan lembut, berusaha membayar semua momen yang pernah terlewatkan olehnya pada ke-14 putra dan putrinya ketika mereka masih bayi.


Bersambung...👉


__ADS_2