Daddy My Son

Daddy My Son
58. Joe dan Nickholas


__ADS_3

Joe sengaja mengambil tempat duduk disudut ruangan smoking area. Dari sana ia masih bisa mengawasi Virranda yang sedang mengurus Verrel yang belum selesai makan siang.


"Maaf, aku tidak merokok," tolak Joe, ketika Nickholas menyodorkan sebungkus rokok padanya.


Nickholas termangu, tangannya yang sempat terulur ia tarik kembali, lalu memasukan bungkusan rokoknya kedalam saku celananya.


"Kau tidak merokok? Atau tidak punya uang lebih untuk membelinya?" ucap Nickholas dengan senyum terkesan mengejek, namun tidak ada niatan untuk meremehkan.


Seulas senyum tipis terbit diujung bibir Joe, menanggapi ucapan Nickholas. Ia mengalihkan pandangannya dari Virranda dan Verrel yang selalu menyita perhatiannya. Ia menatap wajah Nickholas, menelisik wajah pria itu yang terkesan santai menerima tatapannya.


"Kau benar Nick, aku memang tidak punya uang lebih untuk membelinya. Sejak kecil, aku terbiasa memanfaatkan setiap rupiah yang aku miliki hanya untuk kebutuhan hidup. Kerasnya hidup, dan sulitnya mencari makan setiap hari membuatku tidak berani membakar uang dengan sia-sia,".sahut Joe seadanya. Sekilas, perjuangannya dimasa lalu untuk bisa bertahan hidup kembali terlintas dalam benaknya.


Nickholas terdiam sesaat. Dirinya yang terlahir dalam keluarga kaya, memang tidak pernah merasakan sulitnya mencari makan. Setiap jam makan, ia selalu melihat para asisten tumah tangganya menyiapkan makanan yang lezat dan bergizi untuk dirinya, saudara-saudaranya juga orang tuannya.


Tapi bukan berarti dirinya tidak memahami kehidupan sulit yang dijalani orang-orang yang memiliki taraf hidup ekonomi menengah kebawah. Ia memiliki beberapa teman sekolah, termasuk Wina yang mengalami kesulitan ekonomi saat orang tuanya mengalami kebangkrutan. Dirinya dan Virranda-lah yang sering diminta bantuan.


"Sebenarnya aku sudah mengenalmu lama Joe?" ucap Nickholas mengakhiri keheningan diantara mereka.


Joe menatap Nickholas, perkataan pria itu cukup membuatnya heran, karena ia merasa bila mereka berdua sama-sama belum pernah saling mengenal sebelumnya.


"Kau sudah mengenalku?" tanya Joe masih dengan raut herannya.

__ADS_1


"Iya. Aku sering melihatmu mengisi acara di cafe-cafe saat aku dan beberapa temanku ngumpul." sahut Nickholas, membuat Joe akhirnya mengerti mengapa pria itu mengenalnya. Ia memang sering diminta beberapa pemilik cafe untuk mengisi acara, khusunya bila ada pelanggan cafe yang membuat acara mereka disana.


"Dan aku juga tahu kalau kau adalah salah satu berondong bayaran para wanita kaya yang kesepian," imbuh Nickholas menatap lekat wajah Joe yang tidak terkejut sama sekali mendengar ucapannya.


"Lalu, apa maksudmu memanggilku kemari? Apa hanya ingin membahas masalah pribadiku?" tanya Joe datar. Ternyata sahabat isterinya itu hanya ingin membongkar sisi gelap hidupnya dimasa lalu saja batinnya.


"Tidak. Tidak sama sekali. Aku tidak tertarik pada masa lalumu Joe," ungkap Nickholas tidak kalah datarnya.


"Aku hanya ingin menastikan bila Virranda memiliki suami yang bisa diandalkan, bisa melindungi dirinya dari orang-orang yang bisa mencelakai dirinya kapan saja," ujar Nickholas menatap lurus pada manik gelap milik Joe.


"Bicaramu seolah mengatakan, kalau kau memiliki perhatian lebih pada wanita yang berstatus isteriku itu. Apa kau menyukainya?" tekan Joe ikut menatap lurus pada manik mata lawan bicaranya.


"Kau benar Joe. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku bukan termasuk laki-laki yang suka merusak rumah tangga wanita yang sudah menikah. Apalagi itu sahabatku sendiri."


"Setahuku, suami Virranda seorang penyanyi cafe, itu kudengar dari Wina. Begitu aku melihatmu waktu itu, aku ingat kalau kau adalah penyanyi cafe yang sering kulihat itu."


"Sejak saat itu, aku lalu berusaha mencari tahu tentang siapa kau sebenarnya Joe. Ternyata, kau pria breng*ek, rasanya ingin sekali aku menghajarmu saat itu. Tetapi, ternyata aku menemukan ada hal lain yang lebih mengejutkan dari dirimu. Aku sungguh tidak menduganya--," Nickholas menghentikan ucapannya, mengela nafas, mengingat nasib malang yang menimpa Virranda, sahabat baiknya, yang pernah menempati bagian hatinya.


Membuka diri, dan membangun hubungan dengan sekretaris Shen, adalah upayanya untuk melepaskan perasaannya yang tidak pernah berbalas, karena ia dapat melihat, selama ini Virranda hanya menganggapnya sahabat, tidak lebih, dan tidak akan pernah lebih fikirnya.


"Aku ingin kau datang ke alamat ini," Nickholas mendekatkan ponselnya pada Joe.

__ADS_1


"Aku yakin kau sangat kenal siapa pemiliknya. Karena dulunya kau adalah salah satu bagian dari mereka," ucap Nickholas lagi, sambil menarik kembali ponselnya yang telah selesai dilihat oleh Joe.


"Aku masih belum mengerti apa yang kau maksud?" ucap Joe tidak berminat. Ia curiga bila Nickholas ingin menjebaknya, dengan menyuruhmya datang ketempat seperti itu lagi, batinnya.


"Kemarin, ketika aku akan mengajak sekretaris Shen untuk makan siang, aku melihat wajah sembab Virranda. Dan itu terjadi setelah tuan Ferdinand menemuinya., itu yang kudengar dari sekretaris Shen." ucap Nickholas, ia menatap kearah Virranda yang tengah mengobrol dengan sekretaris Shen.


Joe terdiam sejenak, ia kembali teringat perkelahiannya dengan Ferdinand semalam. Hatinya begitu panas dan geram, gara-gara menangkap basah pria itu keluar dari kamar isterinya dengan tampang tak bersalahnya.


"Aku rasa, bukan hal yang kebetulan aku bertemu dirimu disini Joe. Aku ingin kau sendiri yang tahu, siapa orang yang telah menjual isterimu? Dan siapa orang yang membelinya?" Nickholas kembali memandang wajah Joe yang masih dihiasi beberapa luka memar diwajahnya.


"Apa kau bilang?" Joe terkesiap, perkataan itu terlalu sakit didengarnya, serasa menembus hingga ke jantungnya, isteri yang ia cintai pernah dianggap serupa barang yang diperjual belikan.


"Aku tidak perlu mengulangi kata-kataku lagi Joe. Kalau aku jadi dirimu. Aku akan mencari tahu kebenarannya. Karena itu adalah harga dirimu sebagai seorang suami. Suami yang harus menjaga kehormatan isterimu," tunjuk Nickholas, tepat didada Joe yang terpaku ditempat duduknya.


"Aku permisi dulu. Mereka pasti sudah lama selesai makan siang dan menunggu kita. Ingat Joe, kau harus kesana." Nickholas berdiri, tanpa menunggu jawaban Joe, ia segera berlalu.


Joe menatap nanar kepergian Nickholas. Rasa sakit itu masih begitu terasa didalam dadanya, mengingat kehormatan isterinya yang diperjual-belikan secara demikian.


Virranda mungkin tidak mengetahui hal ini, batinnya. Karena seingatnya, isterinya itu hanya menceritakan padanya bila ada seorang laki-laki yang tidur dengannya hingga ia mengandung Verrel didalam rahimnya.


Apakah ini salah satu hukuman untuknya? Batin Joe, karena pernah menjual dirinya? Sehingga ia mendapatkan seorang isteri yang diperlakukan seperti itu. Entahlah, Joe berusaha menampik semua pikiran itu dari kepalanya.

__ADS_1


"Virranda, kasihan sekali kau?" batin Joe. Ia berusaha menata hatinya, tidak ingin terlalu larut dalan perasaannya, juga tidak terlalu ingin berlama-lama disana, Virranda dan Verrel pasti sudah menunggunya, batinnya, sembari melirik keluar kaca. Benar saja Virranda dan Verrel sedang menatap kearahnya dari meja makan mereka.


Bersambung...👉


__ADS_2