
Tuan Loenhard menyapu pandangannya keseluruh penjuru deretan area perumahan para konglomerat itu. Tujuan utamanya ikut kesana hanya untuk melihat lokasi yang dimaksud Virranda sebagai alasan baginya supaya bisa menyingkirkan Joe dari kehidupan putrinya itu.
Dari jarak yang cukup jauh, ia memperhatikan upacara perletakan batu pertama yang dilakukan oleh Virranda, Verrel, Lirasa isterinya, dan beberapa pegawai dan tukang dari perusahaan properti perumahan elite itu. Bila ia melihat tata letaknya, perumahan yang akan dibangun Joe untuk Virranda dan Verrel terletak diarea khusus dalam area perumahan itu.
Diluar dugaannya, ternyata menantu yang tidak diakuinya itu memiliki kemampuan membangun diarea itu. Setahunya, hanya orang-orang tertentu yang berkesempatan membangun diarea khusus dalam area perumahan elite itu.
"Ayo Pi, buruan kita ke bandara,, Mami khawatir kita terlambat," Lirasa menghampiri suaminya yang berdiri disamping mobil sport milik Virranda yang tengah terparkir. Tapi pria ubanan itu masih saja betah termenung ditempatnya berdiri menatap lingkungan area perumahan yang sangat luas itu, tidak sadar bila acara perletakan batu pertama itu telah usai.
"Jadi nggak sih kita berangkat ke London hari ini Pi?" tanya Lirasa lagi, membuyarkan lamunan suaminya yang belum bergerak dari posisi.
"Sudah selesai?" tanya tuan Loenhard yang masih belum fokus sepenuhnya.
"Sudah, Papi sedang melamunkan apa? Heum?" Lirasa.menatapnya penuh tanya.
"Tidak ada," sahut tuan Loenhard singkat. "Ayo, nanti kita terlambat," imbuhnya lagi seraya masuk ke kabin belakang mobil.
"Pi, dibelakang kan tempat duduk Mami dan Verrel. Papi kan duduknya didepan bersama Virranda. Kok lupa sih Pi?" ucap Lirasa pada sang suami yang terlihat pikun pagi itu.
Tuan Loenhard tidak menjawab, ia masuk ke mobil bagian depan, duduk disebelah Virranda yang telah mengidupkan mesin mobilnya dan bersiap untuk berangkat.
...🍓🍓🍓...
Tok! Tok! Tok!
"Masuk!" titah Virranda yang tengah sibuk memeriksa beberapa berkas yang menumpuk diatas meja, semuanya harus siap begitu ayahnya kembali dari London beberapa hari lagi.
__ADS_1
Virranda mengendus aroma parfum pria yang tiba-tiba mengganggu indera penciumannya. Aroma itu mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun silam, saat dirinya terbangun dikamar hotel, mendapatkan bila mahkotanya sudah terenggut.
Aroma itu, ya aroma itu melekat pada sprei, selimut, bantal, bahkan pakaiannya yang tercecer dilantai waktu itu.
Virranda menengadahkan wajahnya dengan rasa takut, serasa ia tengah kembali kemasa lalu yang masih segar dalam ingatannya. Selama ini ia telah berusaha melupakan kemalangan yang sempat membuatnya down, mengobati rasa traumanya dengan berusaha tidak menyalahkan diri sendiri secara terus menerus dan berdamai dengan dirinya.
"T-tuan Ferdinand? Kenapa Anda ada disini?" Virranda berusaha menguasai dirinya supaya keterkejutannya tidak diketahui laki-laki itu.
"Bukankah kau yang mempersilahkan aku masuk? Apa kau lupa?" Ferdinand bergerak dari tempatnya berdiri, dengan langkah pelan dan pasti ia mendekati Virranda yang tengah duduk dibelakang meja kerjanya.
"Berhenti! Jangan mendekat! Kau pasti mencari Papi, Papi tidak ada dikantor," Virranda berdiri dari duduknya dan melangkah mundur kebelakang. Sikap Ferdinand yang serasa horor mendekatinya membuat dirinya merasa terancam dan takut.
"Aku tahu, Papimu sedang ke London. Aku kemari memang ingin bertemu denganmu secara pribadi nona Virranda. Hanya dirimu. Ada hal penting yang perlu kita bicarakan," ucapnya terus maju melangkah.
"Stop! Jangan maju lagi!" Virranda terus mundur hingga punggungnya terbentur pada lemari berkas-berkas penting dibelakangnya. Begitu Virranda menoleh kebelakang untuk melihat apa yang menghentikan langkah mundurnya, Ferdinand dengan sigap menguncinya disana dengan kedua tangannya yang menyangga pada lemari dibelakang Virranda.
"Terus lakukan, aku tidak akan pernah memarahimu melakukan ini padaku," gumam Ferdinand setengah berbisik, membuat Virranda merinding mendengarnya.
"Kau pasti sudah gila!" pekik Virranda lagi, ia kembali memukul berkali-kali dengan sekuat tenaganya, berharap laki-laki itu segera menjauh dari tubuhnya. Namun pria itu masih bergeming, tidak perduli akan pukulan yang terus dilancarkan Virranda padanya.
"Mungkin kau benar. Aku memang sudah gila. Gila memikirkanmu siang dan malam." ucap Ferdinand penuh tekanan dengan sorot menuntut.
"Sinting!" Virranda mengumpat, lalu mendorong kasar dada Ferdinand, tapi tenaga pria itu terlalu kuat baginya. Tubuh Ferdinand bahkan tidak bergerak sedikitpun dari posisinya berdiri. "Bagaimana Papi bisa menjalin kerjasama dengan orang sepertimu. Aku wanita bersuami! Joe suamiku!" pekik Virranda diakhir kalimatnya.
"Aku tidak perduli. Kau wanitaku, kau milikku, hanya milikku. Bukan milik Joe, bukan penyanyi cafe itu, atau siapapun namanya!" ucap.Ferdinand menggeram, hatinya meradang dan begitu panas bila mendengar nama itu, apalagi bila Virranda dan Verrel yang menyebut namanya.
__ADS_1
"Tinggalkan pria penghibur itu, dia tidak pantas untukmu. Selain dia penyanyi cafe rendahan, dia juga laki-laki yang menjijikan, menjual dirinya pada wanita-wanita kaya yang kesepian," bongkarnya.
Plak!
Wajah Ferdinand berpaling arah. Tamparan telak Virranda mengenai pipi kiri laki-laki itu.
"Bukan urusanmu!" pekik Virranda dengan wajah memerah menahan amarah. Ferdinand tersenyum smirk, mengusap pipi merahnya yang terasa panas dan perih.
"Sekarang keluar! Keluar dari ruangan ini!" usir Virranda yang kini berhasil lepas dari kungkungan Ferdinand.
"Aku belum selesai," ucap Ferdinand datar. Ia kembali mendekati Virranda dan meraih pergelangan tangan wanita itu secepat mungkin dan mendudukannya paksa dikursi kerjanya dan kembali menguncinya disana.
"Kau memang breng*ek!" umpat Virranda marah. "Dikantor Papiku, kau berani melakukan ini padaku!" kesalnya.
Ferdinand tidak menggubris, ia bahkan mendekatkan wajahnya pada wajah wanita itu, membuat Virranda menahan nafasnya, hatinya semakin berdebar tidak karuan, namun ia berusaha menenangkan dirinya dan mencari cara bagaimana untuk bisa lepas dari situasi ini.
Dilantai delapan itu, tidak ada siapapun selain dirinya dan Ferdinand, karena dilantai itu memang dirancang khusus hanya untuk ruangan direktur dan asistennya.
"Apa maumu?" tanya Virranda tetap berusaha tenang, tidak ingin rasa takutnya terlihat oleh pria kepa*at itu.
"Tinggalkan Joe, dan jadilah isteriku," sahutnya. "Kita akan bahagia hidup bersama. Aku, kau, dan Verrel," imbuhnya lagi menatap lekat wajah Virranda.
"Ambisimu tidak berdasar Tuan. Itu tidak mungkin." sahut Virranda membuang pandangannya kearah lain.
"Itu sangat mungkin, karena putramu Verrel adalah darah dagingku." ucap.Ferdinand seraya mengarahkan wajah Virranda padanya.
__ADS_1
Bersambung...👉