
Virranda memarkirkan mobil sport barunya tepat dihalaman rumah besar orang tuanya. Tidak biasanya ayah Virranda mau duduk dikursi taman dekat teras rumah, ditemani ibunya dan Verrel imutnya. Virranda sudah bersiap bila ayahnya melayangkan protes, marah, dan lainnya.
"Mommy! Mommy sudah pulang bawa mobil baru Verrel!" bocah itu turun dari kursinya dan berlari menghambur dalam pelukan Virranda.
Lirasa tersenyum.bahagia melihat keceriaan cucunya sore itu, berbeda dengan tuan Loenhard yang hanya melihat dengan raut datar.
"Heum, anak pintar," Virranda menggendong putranya dan mencium kedua belah pipi gembil putranya yang menggemaskan itu berkali-kali hingga membuat Verrel tergelak senang.
"Kok Verrel tahu kalau Mommy pulang akan bawa mobil baru buat Verrel?" Virranda melangkahkan kakinya sambil membawa Verrel dalam gendongannya mendekati kedua orang tuanya yang tengah memperhatikan interaksi antara dirinya dengan putranya.
"Daddy yang kasih tau ke Verrel saat di sekolah tadi siang Mommy. Katanya Verrel gak boleh nangis ditinggal Daddy, nanti Daddy kasih hadiah mobil baru untuk Verrel berangkat dan pulang sekolah," celotehnya riang. Virranda mendudukan dirinya pada kursi berhadapan dengan kedua orang tuanya, dan putranya itu duduk dalam pangkuannya.
"Ternyata si penyanyi cafe itu sanggup juga membeli mobil semahal itu," celetuk tuan Loenhard, mendengar obrolan putri dan cucunya.
"Pa-pi, ngomongnya nggak enak bener sih didengar," tegur Lirasa pada suaminya dengan wajah ditekuk.
"Siapa itu penyanyi cafe?" tanya Verrel polos, menatap penuh tanya pada sang kakek.
"Dad-dy yang kau banggakan itu! Siapa lagi?" ketus tuan Loenhard menatap sedikit tajam pada Verrel. Mendengar pertanyaan bocah lantih itu, hatinya gemes dan kesal, sekesal dirinya pada Joe yang dirinya sangka ayah kandung cucunya.
Bukannya takut, Verrel malah balas menatap tajam pada sang kakeknya, "Kenapa sih kakek uban gak suka sama Daddy-nya Verrel?! Daddy kan gak jahat. Daddy Verrel seorang pilot yang hebat." belanya.
"Siapa bilang Daddy-mu gak jahat? Daddy-mu sudah mengambil Momny-mu, putri kakek satu-satunya," ketusnya lagi meladeni ucapan Verrel cucunya.
"Papi! Sudah! Masa bertengkar sama cucu sendiri," tegur Lirasa lagi merasa gemas pada suaminya.
"Verrel, tidak boleh seperti itu ya sama kakek. Harus hornat pada orang tua. Ingatkan? Disekolah Verrel diajarin Bapak dan Ibu guru untuk menghormati semua orang tua termasuk kakek Verrel," ucap Virranda menasehati putranya.
__ADS_1
"Tapi kakek tidak menghormati Daddy Verrel Mom?" ucap Verrel berusaha protes.
"Apapun alasannya, tetap harus menghormati orang tua ya sayang. Daddy juga pernah bilang seperti itu kan ke Verrel?" ucap Virranda mengingatkan putranya.
"Heum," Verrel mengangguk mengiyakan, apapun yang diajarkan sang Daddy mentornya, baginya selalu benar.
"Maafkan Verrel Kakek uban." ucap Verrel seraya turun dari pangkuan ibunya lalu mencium punggung tangan kakeknya.
Menerima perlakuan manis Verrel, hati tuan Loenhard sebenarnya tersentuh, tapi dirinya selalu kesal bila ingat kalau cucunya yang dilahirkan oleh putrinya itu adalah anak dari Joe, laki-laki yang tidak sederajat dengan keluarganya.
"Anak pintar," Virranda mengusap lembut pucuk rambut Verrel, setelah putranya kembali kepangkuannya.
"Verrel, main sama bibi Arin disana ya? Mommy mau mengobrol dulu dengan Kakek dan Nenek," tunjuk Virranda pada bibi Arin dan beberapa asisten rumah tangga yang sedang menata dan menyiram tanaman.
"Baik Mommy," Verrel kembali turun dari pangkuan Virranda, tidak lupa mencium punggung kakek dan neneknya,.lalu berlari kecil menuju para bibi yang asik melakukan tugas sore hari mereka.
"Papi, Mami. Lusa, aku dan Verrel akan menghadiri perletakan batu pertama pembangunan rumah yang akan dibangun Joe. Kalau tidak keberatan Papi dan Mami boleh ikut bersama kami," ujar Virranda membuka obrolannya.
"Papi, berhenti meremehkan Joe. Mami memaklumi kalau Papi belun bisa menerima Joe jadi menantu Papi, tapi posisi Joe sekarang adalah suami dari putri kita, harga perasaannya Pi," tegur Lirasa lagi tanpa bosan-bosannya pada suaminya itu.
"Mami akan ikut kau dan Verrel lusa. Mami juga mau lihat dimana kalian memilih lokasi perumahan kalian," ucap Lirasa pada Virranda sambil mengulas senyum keibuannya.
...🍓🍓🍓...
Ting! Tong!
Lift terbuka. Wina terperangah saat melihat siapa yang ada didepan lift. Dirinya segera bergeser menepi, memberi ruang pada Ferdinand yang masuk satu lift dengannya.
__ADS_1
Akhir-akhir ini, Wina memang melihat Ferdinand sering berkunjung ke perusahaan dimana dirinya berkerja, karena perusaahan mereka dan perusahaan milik Ferdinand sudah menjalin kerjasama beberapa bulan terakhir.
Aura datar dan dingin sang direktur Iron Wood itu membuat Wina tidak berani bergerak dari posisinya berdiri, matanya tidak berkedip menatap angka pada tombol lift yang terasa lambat menuju angka tujuh sedari tadi. Ditambah lagi didalam lift itu hanya dirinya dan Ferdinand saja disana.
Ting! Tong!
Perasaan Wina sedikit lega, begitu angka tujuh sudah tertera dan pintu mulai terbuka. Ia bersiap untuk keluar begitu pintu lif terbuka lebar.
Tit! Tit! Tit!
Jari Ferdinand dengan cekatan menekan tombol tutup dan mengunci lift.
"Maaf tuan Ferdinand, saya sudah sampai dilantai tujuan. Saya permisi untuk keluar," ucap Wina dengan hormat, tidak berani menatap sorot mata yang sedang menatapnya tajam.
"Aku punya urusan denganmu," terdengar suara khas bariton pria itu, membuat Wina seketika merinding. Level jabatan pegawai biasa, sebagai sekretaris keuangan seperti dirinya, tidaklah pernah memiliki hubungan kerja dengan seorang direktur pemilik perusahaan.
"Jawabah dengan jujur. Kalau tidak, aku bisa membuat dirimu menderita, juga ayahmu yang sakit-sakitan itu, ibumu, juga dua adikmu yang masih bersekolah menggunakan baju putih abu-abu itu," ancam Ferdinand datar.
Wina terhenyak, ia mendekap beberapa berkas daftar gaji pegawai dalam pelukannya dengan erat sambil menyandarkan punggungnya pada dinding lift dibelakangnya. Mendengar perkataan pria itu, nyali Wina menciut. Setelah pertemuan direstoran tempo hari, Wina memang merasakan ada yang tidak beres.
"Katakan, kenapa kau tega menjual sahabatmu sendiri? Heum?" Ferdinand mendekati Wina dengan menyisakan jarak hanya beberapa senti saja.
"Maaf, saya tidak mengerti maksud Tuan," sahut Wina takut.
"Baiklah. Akan saya perjelas. Apa alasanmu menjual Virranda Laura? Putri tuan Loehanrd, pemilik perusahaan dimana kau sekarang berkerja, kepada seorang mucikari," tekan Ferdinand dengan raut dinginnya.
"Màaf Tuan, saya tidak pernah melakukan hal rendah seperti itu," elak Wina dengan wajah berubah pucat.
__ADS_1
"Masih belum mau mengaku? Aku bukan orang yang bisa berlaku lembut pada wanita berhati jahat sepertimu!" Tanpa perasaan, Ferdinand menjambak rambut Wina dan menariknya kasar kebawah hingga wajah wanita itu mendongak keatas.
Bersambung...👉