
"Kwang, duduk!" titah tuan Toshigawa pada putranya, begitu ketiganya sudah sampai dirumah.
"Daddy, ini sudah larut malam, masih ada waktu esok hari untuk mengobrol. Kita semua perlu istirahat, karena besok Daddy dan Kwang akan kembali berkerja lagi bukan?" ucap nyonya Toshigawa mengingatkan suaminya, ia melirik arloji pada pergelangan tangannya.
"Mommy, duluan saja ke kamar untuk istirahat, Daddy masih harus bicara empat mata dengan anak lucnut ini," ucap tuan Toshigawa geram.
Mendengar ucapan sang suami, nyonya Toshigawa yang sebenarnya sudah lelah dan mengantuk, mengurungkan niatnya menuju lantai atas. Wanita paruh baya dengan sanggul yang yang masih tertata rapi itu langsung mengambil tempat duduk di sebelah putra kesayangannya.
"Mom, Daddy mau bicara empat mata dengan Kwang, Mommy tidur saja duluan?" ucap tuan Toshigawa, menatap isterinya.
Nyonya Toshigawa menggeleng cepat, "Tidak Dad, Mommy disini saja. Momny tidak mau kejadian tadi pagi terulang lagi. Kasihan Kwang, luka-luka lebamnya saja belum sembuh, tapi Daddy tanpa perasaan masih menambahnya, "ungkap nyonya Toshigawa menatap datar suaminya.
Tuan Toshigawa mendesah, menghembuskan napas kasarnya melihat sikap sang isteri. Dia tahu, isterinya itu sangat menyayangi putra tunggal mereka itu, hingga tanpa disadari, kasih sayangnya lebih mengarah pada memanjakan putranya itu.
"Terserah Mommy saja," ucap tuan Toshigawa mengalah, mengingat kebiasaan sang isteri. Sejak Ferdinand masih kecil, nyonya Toshigawa tidak pernah absen mendampingi putranya saat suaminya mendidik dan mendisiplinkan putra mereka.
"Kwang, bicaralah dengan jujur pada Daddy dan Momny-mu. Apa benar kau meniduri para gadis-gadis perawan itu?" todong tuan Toshigawa tanpa basa basi, mengingat ucapan Lirasa saat di.rumah sakit.
Ferdinand menatap ayahnya sejenak, sorot mata tajam sang ayah membuat laki-laki berhati dingin itu tertunduk dalam. Sejujurnya, ia sangat malu pada kedua orang tuanya karena memiliki perilaku abnormal.
"Kwang, Daddy sangat jarang mengulang pertanyaan Daddy, dan Daddy harap kau tidak lupa itu," ucap tuan Toshigawa terus menatap putranya yang.masih bergeming ditempat duduknya. Sementara nyonya Toshigawa menyentuh lembut pundak putranya, mengisyaratkan putranya itu untuk segera menjawab pertanyaan ayahnya.
__ADS_1
Perlahan, Ferdinand mengangguk pelan sebagai jawaban, membuat nyeri di dalam dada tuan Toshigawa yang melihatnya.
"Kenapa Kwang, kenapa kau sampai melakukan hal memalukan itu?" Kali ini, nyonya Toshigawa yang merasa sangat gemes pada putranya langsung menghadiahkan satu pelintiran pada daun telinga putra kesayangannya.
"Mom, sakit.... hhsss," desis Ferdinand. Kepalanya seketika miring dengan bagian dagu sisi kanannya sedikit terangkat keatas, mengimbangi jeweran sang Momny.
Berbicara masalah jewer-menjewer, ibunya itu paling jagonya. Walau Ferdinand adalah putra kesayangannya, tapi dirinya tidak akan terbebas dari hukuman itu, bila sang ibu merasa anaknya bersalah.
"Aku, aku hanya ingin membuktikan bila apa yang mereka tuduhkan padaku itu tidak benar, kalau aku adalah laki-laki impoten," sahut Ferdnand terbata-bata, membuat tuan dan nyonya Toshigawa terperangah, dengan mulut sedikit terbuka, tidak menyangka bila alasan itu yang menjadi penyebab putra mereka bertindak tidak benar.
"Sejak SMU, beberapa teman perempuan sekelasku, mereka acap kali berkata kalau aku anak laki-laki tidak normal. Ketika mereka mendekatiku, aku selalu mengindar, itu semua karena Daddy menekanku untuk punya prestasi yang terbaik disekolah,.jadi aku selalu menghabiskan waktuku hanya untuk belajar dan belajar."
"Beberapa dari wanita yang dijodohkan padaku itu, ternyata adalah teman-teman SMU-ku Dad, dan mereka kembali mengatakan bila aku menjadi perjaka tua karena impo*en, itu sebabnya aku dijodohkan. Tentu saja aku tersinggung, marah, dan menolak semua perjodohan itu," ungkapnya.
"Bak gayung bersambut, seorang mucikari menawarkanku seorang gadis yang menjual keperawanannya. Mulai saat itu aku akhirnya meniduri beberapa gadis perawan." Raut wajah tuan Toshigawa dan isterinya berkali-kali menunjukan perubahan yang tidak terbaca, mendengar setiap detail.yang dituturkan oleh putra mereka.
"Sebelum meniduri mereka aku selalu menanyakan persetujuan mereka, dan membayar sesuai permintaan mereka, selain aku membayar penuh sang mucikarinya."
Tuan Toshigawa dan isterinya kembali mendesah berat. Pengakuan Ferdinand memang terdengar jujur, tapi sebagai orang tua yang telah mendidik anak mereka dengan baik, sepasang suami isteri itu tentu saja sangat kecewa pada putra yang mereka banggakan itu.
"Kalau semua gadis perawan itu setuju, kenapa nona Virranda tidak terima atas apa yang kau lakukan padanya? Sampai menikahi sembarang pria untuk menutupi aibnya," protes nyonya Toshigawa bingung.
__ADS_1
"Khusus untuk nona Virranda, aku memang tidak meminta persetujuannya, karena saat itu, dirinya sedang dalam pengaruh obat tidur. Aku juga tidak tahu kalau keganjilan itu karena dirinya dijual oleh temannya, dan mucikari itu tidak jujur padaku."
"Dan setelah kejadian itu, aku merasa--, kalau aku menyukainya. Awalnya, aku fikir karena dia satu-satunya perempuan yang berbeda dari para gadis yang pernah aku tiduri, dia lebih cantik, lebih menawan, dan lebih terawat--, semua yang ada padanya membuat aku selalu terbayang. Tapi aku tidak bisa menemukannya setelah itu, karena mucikari itu juga tidak tahu tempat tinggalnya,"
"Hingga akhirnya, nona Virranda datang sendiri ke kantor dan melamar pekerjaan, dan aku tanpa berpikir panjang langsung menerimanya sebagai asisten pribadiku." ucap Ferdinand mengakhiri kisah panjangnya.
"Dan akibat perbuatanku itu, yang seharusnya nona Virranda akan menjadi isteriku, dia malah menjadi milik pria lain. Aku menyesal Dad, Mom. Setelah nona Virranda, aku tidak pernah tidur lagi dengan perempuan manapun juga. Aku berani bersumpah, apa yang aku katakan ini benar," sambung Ferdinand dengan raut sedih penuh sesal. Ia kembali menunduk dalam, seperti pepatah lama mengatakan, sesal kemudian tidak berguna. Itulah yang kini tengah dialami dirinya.
Tuan Toshigawa dan isterinya saling berpandangan sesaat. Sebagai orang tua, tentu saja mereka turut merasakan kesedihan yang dialami putra mereka itu, namun mereka harus tetap berfikir bijak.
"Syukurlah bila kau sudah menyadarinya Kwang, Daddy sangat senang. Harusnya, kau tidak terpengaruh pada apapun kata orang padamu, karena hidupmu bukan berdasarkan kata orang Kwang, tapi berdasarkan perjuangan dan kerja kerasmu. Dan jangan jadikan perkataan orang itu alasan untuk dirimu bertindak salah, karena pada akhirnya, kau sendirilah yang menanggung semua akibatnya," ujar tuan Toshigawa yang masih larut dalam kesedihan putranya.
"Yang sudah lalu, biarlah berlalu, Daddy harap kau tidak mengulangi kesalahan yang sama, apalagi kau sudah berani bersumpah dihadapan Daddy dan Mommy-mu, Kwang."
"Kesalahan tetaplah kesalahan, semuanya pasti ada konsekuensinya. Daddy harap kau mencari tahu, apakah para gadis perawan yang pernah kau tiduri itu juga mengandung anakmu seperti nona Virranda. Kalau benar, kau harus berani bertanggung jawab. Setidaknya, membiayai hidup anakmu sampai mereka mandiri."
Mendengar ucapan ayahnya, Ferdinand bergidik ngeri, membayangkan bila semua gadis perawan yang pernah ia tiduri itu benar-benar mengandung benihnya, anaknya pasti lebih dari satu lusin, batinnya.
Bukan tentang biaya yang harus ia keluarkan, tapi lebih pada anak-anaknya yang ada dimana-mana, kepalanya seketika terasa pusing dan berdenyut, bayangan wajah anak-anaknya kini berputar-putar dalam kepalanya.
Bersambung...👉
__ADS_1