Daddy My Son

Daddy My Son
42. Makan Siang Bertiga


__ADS_3

Ferdinand tersenyum bahagia, memandang ibu dan anak itu yang tengah menikmati makan siang mereka. Ya, ia berhasil mengajak Virranda dan Verrel makan siang bersama, khayalannya sudah melampaui batas, membayangkan begitu indahnya bila mereka menjadi satu keluarga, dirinya benar-benar menjadi suami Virranda dan ayah dari Verrel buah hatinya.


"Uncle tidak makan?" Verrel menatap sejenak pada Ferdinand, mengawasi pria dewasa itu, yang tersenyum sedari tadi membuatnya heran.


Mendengar perkataan putranya, Virranda ikut menatap kearah Ferdinand, laki-laki itu spontan salah tingkah. Ia buru-buru meraih garfu, menusuk salah satu daging yang sebelumnya sudah dirinya potong lalu mencocolnya ke dalam gelas jus disebelahnya, dan memasukkan kedalam mulutnya, dan mengunyahnya nikmat.


Begitulah, saat hati sedang bahagia, apa saja makanan yang masuk kemulut dirasa lezat dan nikmat.


Verrel memandang ibunya, begitu pula sebaliknya. "Apakah rasanya enak?" tanya Verrel kemudian, ia kembali beralih pada Ferdinand yang masih mengunyah dagingnya dengan raut nikmat.


"Enak! Enak sekali!" sahut Ferdinand dengan semangat.


"O...." Verrel melongo membayangkan rasa gurihnya daging bercampur manisnya jus buah. Tapi dirinya sama sekali tidak berniat untuk meniru Uncel-nya itu.


"Ayo, lanjut lagi makannya," ajak Ferdinand pada Virranda dan Verrel yang masih menatapnya heran.


Verrel menusuk satu potongan daging dalam pringnya, yang telah dipotong-potong oleh ibunya, lalu mencocolnya kedalam mangkuk saus. "Uncle, coba rasakan yang ini," bocah itu mengarahkan ujung garfunya kearah Ferdinand. Pria itu terpaku sejenak, sedetik kemudian ia memajukan tubuhnya lalu menerima dan menggigit daging pemberian Verrel padanya.


"Bagaimana Uncle? Apa rasanya enak?" tanya bocah itu penasaran, memperhatikan raut Ferdinand yang tengah mengunyah daging pemberiannya.

__ADS_1


"Enak! Enak banget!" sahut Ferdinand sambil mengacungkan jempolnya kearah Verrel yang langsung tersenyum renyah, menyambut respon Ferdinand.


"Kata Dadd-nya Verrel, Daddy Joe. Daging harus dicocol ke dalam saus ini Uncle," tunjuk bocah itu pada mangkuk saus didepannya. "Kalau jus buah ini, untuk diminum, bukan diubah jadi saus daging," ucap Verrel mengajari.


Wajah Ferdinand merona menahan malu, ditambah Virranda yang ikut tersenyum mendengar celoteh putranya. Walau begitu, ia tetap merasa bahagia, kesalahan tidak sengaja yang ia lakukan dimeja makan ternyata mampu membuat Virranda tersenyum menatap kearahnya, dan itu cukup membuat hatinya menghangat.


Masih dalam irama kebahagiaan yang tercifta dalam jiwanya, Ferdinand menatap kearah Virranda yang tengah melanjutkan makan siangnya dengan penuh damba.


"Nona Virranda, boleh minta tolong ambilkan menu yang itu?" tunjuk Ferdinand pada piring saji asam manis kerang laut sembari mengangkat pringnya, berniat memberikannya pada Virranda.


"Verrel saja yang ambilkan," bocah itu dengan sigap berdiri diatas kursinya.


"Hati-hati Verrel, nanti jatuh piringnya." Virranda menatap putranya dengan hati was-was.


"Masih tambah lagi Uncle?" tanya Verrel melirik kearah Ferdinand yang memperhatikannya dengan perasaan kagum. Ternyata sikap bermanja-manja yang biasa dimiliki bocah seusia Verrel, tidak terdapat pada diri anak itu, batinnya.


"Cukup sayang," sahut Ferdinand terbawa perasaan.


Verrel menyodorkan piring itu kembali kearah Ferdinand dan segera disambut olehnya, "Terima kasih anak ganteng," ucap Ferdinand menyunggingkan senyum tipisnya.

__ADS_1


"Sama-sama Uncle," Verrel balas tersenyum.


"Mommy-mu pasti sudah mengajari dan mendidikmu dengan sangat baik selama ini," puji Ferdinand, melirik kearah Verrel sambil menikmati santapan siangnya.


"Paman benar. Bukan hanya Mommy tapi Daddy juga." sahut bocah itu.


"Daddy? Memangnya Daddy-nya Verrel ngajarin apa?" perasaan Ferdinand lumayan terganggu, saat Verrel selalu menyertakan Daddy-nya dalam setiap obrolan mereka, ada rasa cemburu muncul dalam benaknya.


"Kata Daddy. Verrel harus jadi laki-laki yang mandiri. Harus bisa jagain Mommy dan lindungi Mommy, gak boleh manja dan nyusahin Mommy," jelasnya lancar.


"Misalnya?" Ferdinand ingin tahu sejauh mana bocah sekecil itu memahami apa yang ia ucapkan barusan.


"Daddy-nya Verrel itu tidak pernah meminta dilayani makan sama Mommy seperti yang dilakukan Uncle tadi. Malah Daddy yang sering menyiapkan keperluan Mommy. Kata Daddy, wanita itu harus menerima layanan dan perlakuan yang terbaik dari laki-laki." ucap bocah itu polos, mengingat apa yang pernah dikatakan Joe padanya.


Ferdinand menelan salivanya. Ucapan telak bocah itu menerobos masuk ke gendang telinganya hingga menembus hatinya. Ada rasa nyeri disana. Joe dinilai lebih baik darinya pada pemandangan Verrel, anak yang diyakininya sebagai darah dagingnya.


...🍓🍓🍓...


Tuan Loenhard tersenyum bahagia, melihat Ferdinand berhasil mengajak putri dan cucunya makan siang bersama hari itu. Ia berharap hubungan ketiganya bisa semakin dekat.

__ADS_1


Kini, bagiamana caranya dirinya menyingkirkan Joe, suami Virranda itu.


Bersambung...👉


__ADS_2