Daddy My Son

Daddy My Son
74. Ancaman Kebiri


__ADS_3

"Security!!!" teriak tuan Loenhard memanggil pihak pengamanan runahnya. Tidak lama, security yang berjaga didepan pintu segera datang.


"Bawa nyonya Arauna keluar, dan katakan pada bibi Arin untuk memberinya ongkos pulang," titahnya.


"Baik Tuan," dua security itu lalu membawa nyonya Arauna pergi. Sementara itu, nyonya Arauna tidak berkata apa-apa lagi, perbuatan-perbuatan putrinya sungguh membuatnya malu dan kehilangan muka dihadapan keluarga Loenhard yang selama ini memang sangat membantu keluarganya.


"Kau, kenapa masih ada disini?" tanya tuan Loenhard memandang Joe dengan tatapan datarnya, setelah dua security dan nyonya Arauna meninggalkan ruang tamu itu.


Joe seketika tergagap, lidahnya terasa kelu ingin menjawab, takut salah kata lagi, pasalnya dirinya berada disana atas perintah ayah mertuanya yang memiliki sikap membagongkan itu.


"Papi ini gimana sih! Bukannya Papi yang meminta kami berdua duduk disini? Sekarang kenapa Papi bertanya seperti itu?" ucap Virranda sewot, dengan wajahnya yang ikut menekuk.


"Maksud Papi, kenapa suamimu itu belum kembali ke London, bukankah dia harus berkerja? Bagaimana kalau dia dipecat? Papi tidak mau punya menantu pengangguran!" ucapnya ketus dengan mulut dibuat mencucu setelah mengakhiri kalimatnya.

__ADS_1


"Joe kemari juga mau berpamitan Pi, besok pagi-pagi dia akan pulang ke London. Iya kan Joe?" ucap Virranda mewakili suaminya itu.


"I-iya Tuan, besok saya akan kembali ke London. Disini saya sudah empat hari, jadi sisa cuti saya tinggal 2 hari lagi," ucap Joe ikut bicara dan terdengar sedikit kikuk.


"Karena Papi sudah lelah dan ingin istirahat, aku dan Joe juga mau pamit pulang," ucap Virranda sembari berdiri, ia menarik pergelangan tangan Joe supaya ikut berdiri bersamanya.


"Pulang kemana?" tanya tuan Lienhard memandang pada Virranda dan Joe yang tengah berpamitan pada Lirasa.


"Iya ke apartemen merekalah Pi.. Papi ini gimana sih, kok pelupa banget akhir-akhir ini," kata Lirasa menimpali ucapan suaminya itu.


Belun sempat ucapan Lirasa mengudara, tuan Loenhard sudah lebih dulu menyambung ucapannya.


"Virranda, ajak suamimu itu tidur di kamarmu mulai malam ini dan seterusnya bila ia pulang dari London nanti. Dan kalian boleh pindah dari sini, setelah rumah yang kalian bangun itu sudah selesai." ucapnya lagi.

__ADS_1


Virranda tercengang sesaat, begitu pula dengan Joe, tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Berbeda dengan Lirasa, ia sudah bisa merasakan perubahan suaminya saat sedang dirawat dirumah sakit.


"Papi memang yang terbaik," Virranda segera menyergap dan mendekap tubuh tua ayahnya, hatinya begitu bahagia. Baginya, ucapan sang ayah sama halnya dengan sebuah kata restu yang selama ini ia harapkan.


"Hei kau! Menantu lucnut, kenapa masih mematung disana? Tidak maukah kau memeluk ayah mertuamu ini seperti yang dilakukan putriku?" ungkapnya pura-pura kesal. Yah, sedikit ada gengsilah, supaya tidak dibilang ayah mertua murahan, batinya.


"I-iya Tuan," Joe masih saja tergagap. Ia mendekat lalu ikut memeluk tubuh sang ayah mertua dengan sedikit ragu.


Tangan tuan Loenhard bergerak perlahan. Dengan hati-hati dan penuh perasaan, pria tua dan ubanan itu lalu membalas pelukan Virranda dan Joe.


Lirasa yang menyaksikan semuanya itu, mengusap bulir air matanya yang sempat gugur ke pipinya karena rasa haru bercampur bahagia.


"Awas! Bila kau berani meniduri wanita-wanita lain lagi selain putriku, aku sendiri yang akan mengebiri burung tanpa sayapmu itu! Kau mengerti?!" Bisik tuan Loenhard ditelinga Joe, membuat menantunya itu bergidik ngeri mendengarnya.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2